Breaking News
light_mode
Beranda » Humaniora » Pemuda dari Pesantren yang Berperan dalam Sumpah Pemuda 1928

Pemuda dari Pesantren yang Berperan dalam Sumpah Pemuda 1928

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Selasa, 28 Okt 2025
  • visibility 102
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kisah pemuda dari pesantren yang ikut berperan penting dalam lahirnya Sumpah Pemuda 1928.

albadarpost.com, CENDIKIA — Di balik gema ikrar Sumpah Pemuda 1928, ada kisah tentang para pemuda dari pesantren yang ikut menyalakan semangat persatuan Indonesia. Mereka bukan sekadar saksi sejarah, melainkan penggerak sunyi yang membawa nilai-nilai Islam, moralitas, dan nasionalisme ke dalam denyut pergerakan pemuda. Dari ruang-ruang belajar pesantren, lahirlah generasi yang bukan hanya taat beragama, tetapi juga sadar kebangsaan.


Akar Gerakan dari Dunia Pesantren

Sejarah mencatat, pada masa pra-kemerdekaan, pesantren menjadi salah satu pusat perlawanan intelektual terhadap kolonialisme. Di sinilah ide-ide kebebasan, keadilan, dan kesetaraan tumbuh bersamaan dengan pendidikan agama. Para santri muda mulai membaca dunia, tidak hanya kitab kuning. Mereka menafsirkan ajaran Islam sebagai dorongan moral untuk menegakkan kemerdekaan dan persatuan.

Salah satu figur penting pemuda dari pesantren yang terlibat dalam semangat Sumpah Pemuda adalah KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, dan KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Meskipun keduanya tidak hadir langsung dalam kongres pemuda di Batavia (Jakarta sekarang), gagasan-gagasan mereka tentang kebangsaan, pendidikan, dan persaudaraan umat menjadi fondasi intelektual bagi para pemuda yang hadir.

Banyak peserta kongres kala itu merupakan didikan pesantren atau aktif di organisasi kepemudaan bercorak Islam seperti Jong Islamieten Bond (JIB). Tokoh seperti Agus Salim dan Haji Agus Salim muda, meskipun dikenal sebagai diplomat dan jurnalis, juga pernah merasakan atmosfer pendidikan keislaman yang kuat dalam masa mudanya. Nilai-nilai inilah yang mereka bawa ketika merumuskan arah perjuangan bangsa.

Kongres Pemuda II yang berlangsung pada 27–28 Oktober 1928 itu bukan sekadar pertemuan para aktivis pelajar dan mahasiswa. Ia adalah pertemuan gagasan besar antara modernitas dan spiritualitas. Para pemuda dari pesantren menegaskan bahwa semangat kebangsaan tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Justru, ajaran Islam yang menekankan ukhuwah (persaudaraan) menjadi landasan etis bagi tekad “satu nusa, satu bangsa, satu bahasa”.


Islam dan Nasionalisme dalam Ikrar Pemuda

Nilai-nilai pesantren terlihat jelas dalam cara para pemuda waktu itu membingkai nasionalisme. Nasionalisme yang tumbuh dari lingkungan pesantren tidak sempit, tidak eksklusif, dan tidak berjarak dengan agama. Sebaliknya, ia menempatkan agama sebagai sumber moralitas perjuangan.

Para pemuda dari pesantren berperan menyatukan pandangan antara kaum modernis dan tradisionalis, antara pemuda sekuler dan religius. Mereka menjadi jembatan yang memudahkan dialog lintas organisasi seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Batak, hingga Jong Islamieten Bond. Semangat kebersamaan itulah yang akhirnya melahirkan Sumpah Pemuda sebagai pernyataan kebangsaan pertama yang mengikat seluruh suku dan agama di Nusantara.

Dalam beberapa catatan sejarah, forum-forum diskusi antar-pemuda kala itu kerap dilakukan di rumah para tokoh Islam atau di ruang-ruang belajar pesantren perkotaan. Di situ, pemuda berdiskusi tentang arti “bangsa Indonesia” yang masih baru tumbuh sebagai konsep. Para santri muda memahami, perjuangan bukan hanya soal politik dan kekuasaan, tetapi juga perjuangan moral melawan kebodohan dan penjajahan pemikiran.

“Nasionalisme yang hidup di pesantren adalah nasionalisme yang berakhlak,” ujar sejarawan UIN Syarif Hidayatullah, Asep Saefuddin, dalam wawancara akademiknya. Menurutnya, gagasan tentang kemerdekaan Indonesia tidak akan sekuat itu jika tidak ditopang oleh nilai-nilai spiritual dari pesantren yang menumbuhkan disiplin, kesederhanaan, dan tanggung jawab sosial.


Pesantren dan Regenerasi Semangat Pemuda

Setelah Sumpah Pemuda 1928, peran pesantren dalam membentuk karakter bangsa tidak berhenti. Pesantren menjadi lembaga yang melahirkan ribuan pemuda pejuang di masa pendudukan Jepang dan perang kemerdekaan. Dari sanalah muncul generasi ulama-muda yang terjun langsung di medan tempur, baik melalui perjuangan bersenjata maupun dakwah moral.

Kini, hampir seabad setelah peristiwa bersejarah itu, pesantren tetap menjadi tempat yang subur bagi lahirnya semangat kebangsaan. Gerakan santri masa kini, seperti Hari Santri Nasional, pada dasarnya merupakan kelanjutan semangat yang sama dengan Sumpah Pemuda: memperkuat identitas bangsa tanpa meninggalkan akar spiritualnya.

Pendidikan pesantren yang mengajarkan kemandirian, disiplin, dan cinta tanah air menjadi bekal penting bagi generasi muda menghadapi tantangan zaman. Dunia modern yang sarat dengan arus informasi dan teknologi membutuhkan nilai dasar yang kuat agar pemuda tidak kehilangan arah. Di sinilah nilai “ikhlas dan istiqamah” ala pesantren menemukan relevansinya kembali.

Pesantren bukan sekadar institusi keagamaan, tetapi juga sekolah kebangsaan yang melahirkan pemimpin-pemimpin moral. Dalam konteks masa kini, semangat para pemuda dari pesantren menjadi inspirasi untuk membangun bangsa yang moderat, adil, dan berkeadaban.


Pesan Abadi dari Sumpah Pemuda

Sumpah Pemuda 1928 menunjukkan bahwa persatuan tidak bisa lahir tanpa dasar nilai yang kuat. Para pemuda dari pesantren telah meletakkan fondasi moral dalam perjalanan panjang bangsa Indonesia. Mereka membuktikan bahwa iman dan nasionalisme dapat berjalan seiring — bahwa cinta tanah air adalah bagian dari iman.

Generasi muda masa kini mewarisi semangat itu. Mereka hidup di zaman yang berbeda, tetapi tantangannya tetap sama: bagaimana menjaga Indonesia agar tetap satu, berdaulat, dan bermartabat di tengah perubahan dunia.

Melalui semangat Sumpah Pemuda, pesantren mengajarkan bahwa perjuangan tidak harus selalu dengan senjata, tetapi dengan ilmu, kesabaran, dan pengabdian.

Pemuda pesantren menjadi ruh moral di balik Sumpah Pemuda 1928, meneguhkan bahwa iman dan nasionalisme dapat berjalan seiring. (Red/Arrian)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • hak ahli waris menggugat tanpa surat kuasa

    Ahli Waris Bisa Menggugat Tanpa Surat Kuasa

    • calendar_month Senin, 5 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 122
    • 0Komentar

    Putusan MA menegaskan ahli waris berhak menggugat pihak ketiga tanpa surat kuasa demi melindungi harta warisan. albadarpost.com, PERSPEKTIF – Putusan Mahkamah Agung Nomor 838 PK/Pdt/2017 menegaskan satu hal penting dalam hukum perdata waris: seorang ahli waris tidak harus membawa surat kuasa dari ahli waris lain untuk menggugat pihak ketiga yang menguasai harta warisan secara melawan […]

  • Gedung Bank Syariah Indonesia Tasikmalaya sebagai simbol layanan publik perbankan yang dituntut transparansi informasi.

    Ketika Amanah Diuji di Bank BSI Tasikmalaya

    • calendar_month Jumat, 30 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 83
    • 0Komentar

    albadarpost.com, EDITORIAL – Dalam Islam, amanah bukan sekadar istilah etis. Ia adalah perjanjian antara manusia dan Allah. Setiap harta yang dikelola, terlebih yang bersumber dari dana publik, kelak akan dimintai hisab. Karena itu, lembaga keuangan syariah tidak cukup hanya berlabel “Islam”, tetapi wajib menjelmakan nilai-nilai Islam dalam praktik nyata. Peresmian gedung megah Bank Syariah Indonesia […]

  • artis Indonesia terjerat narkoba

    Deretan Artis Indonesia Terjerat Kasus Narkoba: Dari Andrew Andika hingga Ibra Azhari

    • calendar_month Rabu, 30 Okt 2024
    • account_circle redaktur
    • visibility 95
    • 0Komentar

    Daftar artis Indonesia terjerat narkoba kian panjang, dari Andrew Andika hingga Ibra Azhari. Ini rinciannya. albadarpost.com, LENSA – Fenomena artis Indonesia terjerat narkoba kembali mencuri perhatian publik. Kasus terbaru menimpa aktor Andrew Andika, yang ditangkap aparat Polres Metro Jakarta Barat atas dugaan penyalahgunaan narkoba jenis sabu. Penangkapan ini menambah panjang daftar figur publik yang harus […]

  • korban TPPO

    Pemkab Tasikmalaya Percepat Pemulangan Korban TPPO

    • calendar_month Kamis, 25 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 101
    • 0Komentar

    Pemkab Tasikmalaya ajukan pemulangan tujuh warga diduga korban TPPO di Kamboja dan perkuat pencegahan. albadarpost.com, BERITA DAERAH – Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya memastikan tujuh warganya diduga menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di Kamboja. Pemerintah daerah langsung mengajukan permohonan pemulangan dan berkoordinasi lintas instansi untuk memastikan perlindungan warga berjalan sesuai prosedur. Langkah cepat ini penting […]

  • Situasi keamanan WNI di Meksiko meningkat pascakerusuhan kartel, Kemlu imbau waspada dan jaga komunikasi KBRI.

    WNI di Meksiko Diminta Siaga, Kerusuhan Kartel Meluas

    • calendar_month Selasa, 24 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 76
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DUNIA – Situasi keamanan WNI di Meksiko kembali menjadi sorotan setelah kerusuhan kartel meningkat di sejumlah wilayah. Pemerintah memastikan warga negara Indonesia atau diaspora Indonesia di Meksiko dalam kondisi aman. Meski demikian, Kemlu meminta seluruh WNI di Meksiko meningkatkan kewaspadaan dan menjaga komunikasi intensif dengan KBRI Mexico City. Sejak eskalasi keamanan terjadi, pemerintah […]

  • kisah Mushab bin Umair

    Kisah Haru Mushab bin Umair: Kaya Raya Hingga Gugur Tanpa Kafan

    • calendar_month Minggu, 12 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 95
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Kisah Mushab bin Umair yang mengharukan menjadi salah satu cerita paling menyentuh dalam sejarah Islam. Sosok Mushab bin Umair dikenal sebagai pemuda tampan, kaya, dan terpandang di Makkah. Namun, perjalanan hidupnya berubah drastis setelah mengenal Islam. Kisah Mushab bin Umair ini bukan sekadar cerita sejarah, melainkan inspirasi tentang keimanan, pengorbanan, dan keteguhan […]

expand_less