Breaking News
light_mode
Beranda » Humaniora » Pemuda dari Pesantren yang Berperan dalam Sumpah Pemuda 1928

Pemuda dari Pesantren yang Berperan dalam Sumpah Pemuda 1928

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Selasa, 28 Okt 2025
  • visibility 206
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kisah pemuda dari pesantren yang ikut berperan penting dalam lahirnya Sumpah Pemuda 1928.

albadarpost.com, CENDIKIA — Di balik gema ikrar Sumpah Pemuda 1928, ada kisah tentang para pemuda dari pesantren yang ikut menyalakan semangat persatuan Indonesia. Mereka bukan sekadar saksi sejarah, melainkan penggerak sunyi yang membawa nilai-nilai Islam, moralitas, dan nasionalisme ke dalam denyut pergerakan pemuda. Dari ruang-ruang belajar pesantren, lahirlah generasi yang bukan hanya taat beragama, tetapi juga sadar kebangsaan.


Akar Gerakan dari Dunia Pesantren

Sejarah mencatat, pada masa pra-kemerdekaan, pesantren menjadi salah satu pusat perlawanan intelektual terhadap kolonialisme. Di sinilah ide-ide kebebasan, keadilan, dan kesetaraan tumbuh bersamaan dengan pendidikan agama. Para santri muda mulai membaca dunia, tidak hanya kitab kuning. Mereka menafsirkan ajaran Islam sebagai dorongan moral untuk menegakkan kemerdekaan dan persatuan.

Salah satu figur penting pemuda dari pesantren yang terlibat dalam semangat Sumpah Pemuda adalah KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, dan KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Meskipun keduanya tidak hadir langsung dalam kongres pemuda di Batavia (Jakarta sekarang), gagasan-gagasan mereka tentang kebangsaan, pendidikan, dan persaudaraan umat menjadi fondasi intelektual bagi para pemuda yang hadir.

Banyak peserta kongres kala itu merupakan didikan pesantren atau aktif di organisasi kepemudaan bercorak Islam seperti Jong Islamieten Bond (JIB). Tokoh seperti Agus Salim dan Haji Agus Salim muda, meskipun dikenal sebagai diplomat dan jurnalis, juga pernah merasakan atmosfer pendidikan keislaman yang kuat dalam masa mudanya. Nilai-nilai inilah yang mereka bawa ketika merumuskan arah perjuangan bangsa.

Kongres Pemuda II yang berlangsung pada 27–28 Oktober 1928 itu bukan sekadar pertemuan para aktivis pelajar dan mahasiswa. Ia adalah pertemuan gagasan besar antara modernitas dan spiritualitas. Para pemuda dari pesantren menegaskan bahwa semangat kebangsaan tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Justru, ajaran Islam yang menekankan ukhuwah (persaudaraan) menjadi landasan etis bagi tekad “satu nusa, satu bangsa, satu bahasa”.


Islam dan Nasionalisme dalam Ikrar Pemuda

Nilai-nilai pesantren terlihat jelas dalam cara para pemuda waktu itu membingkai nasionalisme. Nasionalisme yang tumbuh dari lingkungan pesantren tidak sempit, tidak eksklusif, dan tidak berjarak dengan agama. Sebaliknya, ia menempatkan agama sebagai sumber moralitas perjuangan.

Para pemuda dari pesantren berperan menyatukan pandangan antara kaum modernis dan tradisionalis, antara pemuda sekuler dan religius. Mereka menjadi jembatan yang memudahkan dialog lintas organisasi seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Batak, hingga Jong Islamieten Bond. Semangat kebersamaan itulah yang akhirnya melahirkan Sumpah Pemuda sebagai pernyataan kebangsaan pertama yang mengikat seluruh suku dan agama di Nusantara.

Dalam beberapa catatan sejarah, forum-forum diskusi antar-pemuda kala itu kerap dilakukan di rumah para tokoh Islam atau di ruang-ruang belajar pesantren perkotaan. Di situ, pemuda berdiskusi tentang arti “bangsa Indonesia” yang masih baru tumbuh sebagai konsep. Para santri muda memahami, perjuangan bukan hanya soal politik dan kekuasaan, tetapi juga perjuangan moral melawan kebodohan dan penjajahan pemikiran.

“Nasionalisme yang hidup di pesantren adalah nasionalisme yang berakhlak,” ujar sejarawan UIN Syarif Hidayatullah, Asep Saefuddin, dalam wawancara akademiknya. Menurutnya, gagasan tentang kemerdekaan Indonesia tidak akan sekuat itu jika tidak ditopang oleh nilai-nilai spiritual dari pesantren yang menumbuhkan disiplin, kesederhanaan, dan tanggung jawab sosial.


Pesantren dan Regenerasi Semangat Pemuda

Setelah Sumpah Pemuda 1928, peran pesantren dalam membentuk karakter bangsa tidak berhenti. Pesantren menjadi lembaga yang melahirkan ribuan pemuda pejuang di masa pendudukan Jepang dan perang kemerdekaan. Dari sanalah muncul generasi ulama-muda yang terjun langsung di medan tempur, baik melalui perjuangan bersenjata maupun dakwah moral.

Kini, hampir seabad setelah peristiwa bersejarah itu, pesantren tetap menjadi tempat yang subur bagi lahirnya semangat kebangsaan. Gerakan santri masa kini, seperti Hari Santri Nasional, pada dasarnya merupakan kelanjutan semangat yang sama dengan Sumpah Pemuda: memperkuat identitas bangsa tanpa meninggalkan akar spiritualnya.

Pendidikan pesantren yang mengajarkan kemandirian, disiplin, dan cinta tanah air menjadi bekal penting bagi generasi muda menghadapi tantangan zaman. Dunia modern yang sarat dengan arus informasi dan teknologi membutuhkan nilai dasar yang kuat agar pemuda tidak kehilangan arah. Di sinilah nilai “ikhlas dan istiqamah” ala pesantren menemukan relevansinya kembali.

Pesantren bukan sekadar institusi keagamaan, tetapi juga sekolah kebangsaan yang melahirkan pemimpin-pemimpin moral. Dalam konteks masa kini, semangat para pemuda dari pesantren menjadi inspirasi untuk membangun bangsa yang moderat, adil, dan berkeadaban.


Pesan Abadi dari Sumpah Pemuda

Sumpah Pemuda 1928 menunjukkan bahwa persatuan tidak bisa lahir tanpa dasar nilai yang kuat. Para pemuda dari pesantren telah meletakkan fondasi moral dalam perjalanan panjang bangsa Indonesia. Mereka membuktikan bahwa iman dan nasionalisme dapat berjalan seiring — bahwa cinta tanah air adalah bagian dari iman.

Generasi muda masa kini mewarisi semangat itu. Mereka hidup di zaman yang berbeda, tetapi tantangannya tetap sama: bagaimana menjaga Indonesia agar tetap satu, berdaulat, dan bermartabat di tengah perubahan dunia.

Melalui semangat Sumpah Pemuda, pesantren mengajarkan bahwa perjuangan tidak harus selalu dengan senjata, tetapi dengan ilmu, kesabaran, dan pengabdian.

Pemuda pesantren menjadi ruh moral di balik Sumpah Pemuda 1928, meneguhkan bahwa iman dan nasionalisme dapat berjalan seiring. (Red/Arrian)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • suasana masjid dengan nuansa renungan spiritual Islami.

    Amal Shalih di Tengah Dunia yang Ramai: Masihkah Ikhlas Jadi Pegangan?

    • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 131
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Amal shalih atau amal saleh dalam Islam sering dibicarakan dengan semangat yang tinggi, tetapi tidak selalu dipahami dengan tenang. Makna amal shalih dalam Al-Qur’an sebenarnya sederhana, namun dalam praktik sehari-hari, ia sering berbenturan dengan kebiasaan baru: kebaikan yang ingin terlihat. Di sinilah istilah amal shalih atau amal saleh dalam Islam perlahan berubah […]

  • Ilustrasi perempuan muda berjalan di kawasan sepi dengan bayangan pria mengintai, menggambarkan ancaman penculikan oleh penagih bank keliling.

    Modus Penagih Bank Keliling: Dari Utang ke Dugaan Penculikan

    • calendar_month Rabu, 11 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 138
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – Kasus dugaan penculikan dan penyekapan yang melibatkan penagih bank keliling memicu kekhawatiran publik. Peristiwa tersebut tidak hanya mengguncang keluarga korban asal Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, tetapi juga membuka diskusi serius tentang keamanan gadis remaja di daerah lain. Di tengah aktivitas ekonomi informal yang berkembang, masyarakat kini menghadapi risiko baru yang sebelumnya jarang […]

  • Korupsi Pengadaan

    Terungkap! Korupsi Pengadaan Sudah Diatur Sejak Awal

    • calendar_month Selasa, 21 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 162
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Korupsi pengadaan kembali menunjukkan wajah aslinya. Data Komisi Pemberantasan Korupsi mengungkap bahwa sekitar 25 persen perkara korupsi berkaitan dengan pengadaan barang dan jasa (PBJ). Namun, temuan ini bukan sekadar angka. Di baliknya, ada pola yang berulang dan terstruktur. Dalam kurun 2004 hingga 2025, KPK menangani 1.782 perkara korupsi. Dari jumlah itu, 446 […]

  • Audit PDAM Subang

    Dedi Mulyadi Minta BPK Audit PDAM Subang Terkait Penerimaan Rp 600 Juta dari Aqua

    • calendar_month Jumat, 31 Okt 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 211
    • 0Komentar

    Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi minta BPK audit PDAM Subang soal penerimaan Rp 600 juta per bulan dari Aqua. albadarpost.com, LENSA – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi berencana meminta Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk melakukan audit terhadap PDAM Subang. Langkah itu diambil setelah muncul temuan adanya penerimaan dana sebesar Rp 600 juta per bulan dari […]

  • evaluasi kinerja desa

    Wabup Garut Dorong Evaluasi Kinerja Desa untuk Perkuat Pemberdayaan

    • calendar_month Sabtu, 6 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 205
    • 0Komentar

    Garut sambut tim evaluasi kinerja desa dan dorong penguatan pemberdayaan serta inovasi masyarakat. albadarpost.com, LENSA – Pemerintah Kabupaten Garut menegaskan kembali pentingnya evaluasi kinerja desa sebagai fondasi pembangunan berbasis masyarakat. Penegasan itu disampaikan saat Wakil Bupati Garut, Putri Karlina, menerima Tim Klarifikasi Lapangan Evaluasi Kinerja Desa Anugerah Gapura Sri Baduga Jawa Barat 2025 di Desa […]

  • Pencak Silat Militer

    Pangdam Siliwangi Kukuhkan PSM, Bentuk Generasi Berkarakter

    • calendar_month Rabu, 10 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 78
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – Pencak Silat Militer tidak lagi dipandang sekadar seni bela diri atau aktivitas olahraga. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini, Pencak Silat Militer (PSM) justru didorong menjadi wadah pembinaan karakter, disiplin, dan semangat kebangsaan. Pesan itulah yang mengemuka saat Panglima Kodam III/Siliwangi Mayor Jenderal TNI Kosasih, S.E., M.M., mengukuhkan […]

expand_less