Lifestyle

Saat Amal Tak Lagi Dirindukan dan Dosa Tak Lagi Disesali

albadarpost.com, LIFESTYLE Hati manusia hidup bukan karena detaknya, melainkan karena rasa. Selama hati masih mampu merindu pada kebaikan dan bergetar saat jatuh dalam dosa, selama itu pula iman masih bernapas di dalam dada. Namun ketika rasa itu menghilang, di situlah para ulama memberi peringatan paling sunyi dan paling menakutkan: hati mulai mati.

Syekh Athaillah As-Sakandari, seorang sufi besar, mengingatkan umat dalam Kitab Al-Hikam. Beliau berkata bahwa sebagian tanda matinya hati ialah ketika seseorang tidak lagi merasa sedih karena tertinggal dari perbuatan baik dan kewajiban. Lebih dari itu, ia juga tidak merasa menyesal saat melanggar larangan Allah.

Peringatan ini tidak datang dalam bentuk ancaman keras. Ia hadir sebagai bisikan lembut, namun menusuk ke dalam relung jiwa.

Baca juga: Bismillah dalam Aktivitas Harian

Ketika Kebaikan Tak Lagi Membuat Gelisah

Dahulu, hati mudah bergetar hanya karena satu rakaat yang tertinggal. Satu sedekah yang tak sempat dilakukan mampu membuat dada terasa sempit. Kini, banyak yang melewati hari tanpa amal, tanpa rasa kehilangan.

Bukan karena hidup terlalu sibuk, melainkan karena hati kehilangan kepekaannya. Kebaikan tidak lagi dirindukan. Kewajiban terasa seperti beban, bukan panggilan cinta. Padahal, kerinduan kepada amal adalah tanda bahwa hati masih hidup dan terhubung dengan Tuhannya.

Syekh Athaillah tidak sedang menghakimi. Ia sedang mengajak kita bercermin. Apakah kita masih merasa sedih ketika melewatkan kebaikan? Atau kita justru merasa biasa saja?

Dosa yang Tak Lagi Menghadirkan Penyesalan

Lebih berbahaya dari meninggalkan kebaikan adalah melakukan dosa tanpa rasa bersalah. Dosa yang diiringi penyesalan masih membuka pintu taubat. Namun dosa yang terasa biasa menandakan hati yang mengeras.

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Siapa yang merasa senang oleh amal kebaikannya dan merasa sedih menyesal atas perbuatan dosanya, maka ia adalah seorang mukmin yang sejati.” Hadis yang diriwayatkan oleh At-Thabarani ini menegaskan bahwa iman hidup melalui rasa.

Mukmin sejati bukanlah mereka yang tak pernah salah. Mukmin sejati adalah mereka yang hatinya terluka saat jatuh dalam dosa dan merasa bahagia ketika mampu berbuat baik.

Antara Mati dan Hidupnya Sebuah Hati

Hati tidak mati secara tiba-tiba. Ia mati perlahan. Diawali dengan menunda kebaikan, lalu terbiasa. Dilanjutkan dengan melakukan dosa kecil, lalu merasa wajar. Hingga akhirnya, rasa takut dan penyesalan menghilang tanpa disadari.

Baca juga: Jurusan Favorit Tapi Sulit Dapat Kerja, Ini Tips Menentukan Masa Depan

Namun kabar baiknya, hati juga bisa hidup kembali. Selama masih ada rasa gelisah ketika membaca peringatan ini, selama dada masih terasa sesak saat mengingat dosa, di situlah harapan tetap menyala.

Allah tidak pernah menutup pintu bagi hamba-Nya yang ingin kembali.

Menghidupkan Kembali Hati yang Lelah

Menghidupkan hati tidak selalu membutuhkan perubahan besar. Ia dimulai dari langkah kecil yang jujur. Mengakui kelalaian. Menangisi dosa dalam doa yang sunyi. Memaksa diri kembali pada kebaikan meski terasa berat.

Hati yang hidup akan kembali peka. Ia akan menangis karena dosa dan bersyukur atas kesempatan beramal. Ia akan merasa takut jauh dari Allah, namun tenang ketika mendekat kepada-Nya.

Dalam dunia yang bising dan penuh distraksi, menjaga hidupnya hati menjadi perjuangan paling sunyi. Namun justru di sanalah iman menemukan maknanya.

Karena pada akhirnya, yang Allah nilai bukan seberapa banyak amal kita, melainkan apakah hati kita masih hidup ketika melangkah kepada-Nya. (ARR)


Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button