Breaking News
light_mode
Beranda » Lifestyle » Tunduk yang Bukan Takut: Menjawab Tuduhan Feodalisme di Dunia Pesantren

Tunduk yang Bukan Takut: Menjawab Tuduhan Feodalisme di Dunia Pesantren

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Selasa, 14 Okt 2025
  • visibility 237
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Cinta yang Bukan Asmara menggambarkan adab santri pada kiai atau ajengan sebagai wujud cinta ilmu, bukan feodalisme.


Tunduk yang Lahir dari Cinta, Bukan dari Ketakutan

albadarpost.com, CENDIKIA – Di tengah arus perdebatan publik tentang modernisasi lembaga pendidikan Islam, pesantren kembali menjadi sorotan. Sebagian kalangan luar menilai pesantren sebagai tempat yang masih memelihara sistem feodal, di mana santri harus tunduk tanpa kritik kepada kiai.
Namun bagi kalangan pesantren, anggapan itu jelas keliru. Tunduknya santri bukan tanda ketakutan, melainkan bagian dari Cinta yang Bukan Asmara — cinta yang dilandasi penghormatan pada ilmu dan sang pembawanya.

Tradisi mencium tangan kiai, menunduk ketika berbicara, atau tidak berani menyela ucapan guru bukanlah bentuk penindasan simbolik. Itu adalah ekspresi penghargaan terhadap ilmu dan sumber kebijaksanaan. KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) pernah mengatakan dalam ceramahnya di NU Online (2023), “Santri tidak menghormati manusia, tapi menghormati ilmu yang diamanahkan kepada gurunya.”
Kalimat sederhana itu menjelaskan bagaimana pesantren memaknai adab bukan sebagai alat penundukan, tetapi sebagai jembatan menuju keberkahan ilmu.


Pesantren, Sekolah Kehidupan yang Mengajarkan Rasa

Pesantren telah lama menjadi bagian dari kebudayaan Nusantara. Di sana, hubungan antara guru dan murid tidak sekadar intelektual, tapi juga spiritual. Kiai adalah teladan yang menunjukkan bagaimana ilmu hidup dalam laku keseharian.
Mencium tangan, duduk sopan, dan menjaga tutur kata bukanlah sisa feodalisme, melainkan refleksi kesadaran moral: bahwa ilmu tidak dapat tumbuh di hati yang sombong.

KH. Maimoen Zubair pernah berpesan, “Ilmu itu tidak akan masuk ke hati yang tidak menghormati gurunya.” Pesan itu menjadi prinsip yang diwariskan turun-temurun di pesantren besar seperti Lirboyo, Tebu Ireng, dan Ploso.

Dalam dunia modern yang kian mengagungkan kesetaraan tanpa batas, penghormatan semacam ini sering disalahartikan. Banyak yang lupa bahwa adab dan kebebasan berpikir tidak bertentangan.
Dalam forum bahtsul masail, misalnya, para santri bebas berdebat soal hukum, sosial, hingga politik. Namun semua dilakukan dengan sopan, dalam batas etika dan tata krama. Di sinilah keseimbangan khas pesantren: adab dan ilmu berjalan beriringan.


Menepis Tuduhan Feodalisme dalam Dunia Pesantren

Tuduhan bahwa pesantren bersifat feodal muncul karena pandangan luar yang gagal memahami konteks spiritualnya. Feodalisme menuntut kepatuhan buta, sementara pesantren mengajarkan ketaatan sadar.
Santri taat bukan karena takut dihukum, tapi karena mencintai kebenaran yang diajarkan gurunya. Cinta yang Bukan Asmara, Tunduk yang Bukan Takut adalah bentuk tertinggi dari penghormatan terhadap ilmu — suatu cinta yang melahirkan kebebasan batin.

Menurut laporan Tempo.co (2021) berjudul “Menjaga Adab Pesantren di Tengah Zaman”, banyak santri yang justru tumbuh menjadi pemikir kritis, dosen, dan aktivis sosial setelah menimba ilmu di pesantren. Mereka membawa nilai kesantunan dan kebijaksanaan dalam kehidupan publik, membuktikan bahwa adab tidak menumpulkan daya pikir.

Pesantren adalah ruang pendidikan yang memadukan logika dan rasa. Ketika dunia modern sibuk mencetak individu pintar tapi miskin empati, pesantren justru melahirkan pribadi yang sadar akan pentingnya etika dan cinta.


Cinta dan Tunduk yang Melahirkan Kebijaksanaan

Di tengah kehidupan yang serba cepat, nilai-nilai seperti kesabaran, penghormatan, dan keikhlasan semakin jarang ditemukan. Pesantren mempertahankan semua itu melalui tradisi kecil namun bermakna: menunduk, bersalaman, dan menghormati guru.
Inilah Cinta yang Bukan Asmara, Tunduk yang Bukan Takut — cinta yang tidak menuntut balasan, ketundukan yang tidak merendahkan.

Sebagaimana diungkap KH. Afifuddin Muhajir, “Adab mendahului ilmu. Orang yang berilmu tapi tanpa adab akan tersesat oleh kepandaiannya sendiri.”
Pesantren memahami prinsip ini secara mendalam. Maka tak heran, lulusan pesantren dikenal memiliki keseimbangan antara intelektualitas dan moralitas. Mereka tak sekadar cerdas, tapi juga bijak dan rendah hati.

NU Online (2024) juga menulis bahwa relasi santri dan kiai dibangun atas dasar saling mencintai, bukan menindas. Banyak kiai yang hidup sederhana, tidur di bilik bambu bersama santrinya, tanpa jarak kekuasaan sedikit pun. “Kami menghormati kiai karena beliau menyalakan jalan hidup kami,” ujar Fathur, santri asal Madura dalam laporan tersebut.


Kesimpulan: Adab Sebagai Cinta yang Menumbuhkan Ilmu

Hubungan santri dan kiai bukan relasi kuasa, tetapi perjumpaan batin yang melahirkan cinta dan kebijaksanaan.
“Cinta yang Bukan Asmara, Tunduk yang Bukan Takut” adalah simbol bahwa penghormatan tidak meniadakan kebebasan, dan ketaatan tidak menumpulkan nalar.

Dalam masyarakat yang sering kehilangan rasa hormat, pesantren justru menjaga api adab agar tidak padam. Karena tanpa adab, ilmu hanya akan melahirkan kesombongan; tetapi dengan adab, ilmu menjelma menjadi cahaya yang menuntun peradaban.


Kesimpulan
Tradisi pesantren mengajarkan bahwa tunduk bukan berarti takut, melainkan cinta kepada ilmu dan penghormatan pada guru. (AlbadarPost/Arrian)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Display Rokok

    Tasik Mulai Perang Display Rokok di Toko

    • calendar_month Senin, 29 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 97
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Suasana sebuah hotel di Jalan Yudanagara, Kota Tasikmalaya, pada Senin (29/6/2026), tampak berbeda dari biasanya. Puluhan aparatur pemerintah dari berbagai daerah di Jawa Barat memenuhi ruang pelatihan. Mereka bukan sedang membahas pajak, investasi, atau pembangunan infrastruktur. Fokus mereka hari itu adalah satu hal yang selama ini selalu berada di depan mata […]

  • Hari Pantai Nasional

    Hari Pantai Nasional 30 Agustus, Pesan Penting dari Pangandaran

    • calendar_month Senin, 31 Agt 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 24
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – Hari Pantai Nasional atau National Beach Day diperingati setiap 30 Agustus. Momentum ini mengajak masyarakat menghargai pantai sekaligus menjaga kebersihan kawasan pesisir. Bagi masyarakat Priangan Timur, pesan tersebut terasa dekat karena Pantai Pangandaran menjadi salah satu kawasan wisata pesisir penting di Jawa Barat. Namun, ada satu hal yang perlu diluruskan agar tidak […]

  • Ilustrasi seseorang berdoa di pagi hari dengan cahaya lembut sebagai simbol tanda rezeki menurut ulama sedang terbuka

    9 Tanda Rezeki Dibuka Menurut Ulama, Nomor 1 Paling Jarang Disadari

    • calendar_month Selasa, 28 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 238
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Ada satu hal yang sering luput dari perhatian banyak orang. Tanda rezeki menurut ulama tidak selalu hadir dalam bentuk uang yang tiba-tiba bertambah atau usaha yang langsung besar. Justru, dalam banyak kajian para ulama, tanda rezeki dibuka sering muncul dalam bentuk yang sangat halus—bahkan kadang tidak dianggap sebagai rezeki sama sekali. Beberapa […]

  • tata kelola masjid

    Muhammad Jazir dan Warisan Tata Kelola Masjid

    • calendar_month Kamis, 25 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 190
    • 0Komentar

    Muhammad Jazir wafat, meninggalkan warisan tata kelola masjid terbuka yang berpihak pada pelayanan dan pemberdayaan umat. albadarpost.com, HUMANIORA – Tokoh pembaru tata kelola masjid, Muhammad Jazir, wafat di Yogyakarta pada Senin, 22 Desember 2025. Kepergiannya meninggalkan jejak penting dalam perubahan cara masjid berfungsi, dari ruang ibadah tertutup menjadi pusat layanan umat yang inklusif dan berorientasi […]

  • Jam Malam Media Sosial

    Inggris Batasi Media Sosial Remaja, Patut Jadi Contoh?

    • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 71
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DUNIA – Ketika banyak negara masih mencari cara terbaik melindungi anak di ruang digital, Inggris memilih langkah yang berbeda. Mengutip Reuters dan keterangan resmi Pemerintah Inggris, pemerintah berencana menerapkan pengaturan bawaan (default) yang membatasi akses media sosial bagi remaja berusia 16 hingga 17 tahun mulai pukul 00.00 hingga 06.00. Kebijakan yang dikenal sebagai […]

  • penyerahan 6 triliun

    Penyerahan Rp6,6 Triliun dan Masa Depan Penindakan Korupsi SDA

    • calendar_month Rabu, 24 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 195
    • 0Komentar

    Editorial Albadarpost menilai penyerahan Rp6,6 triliun harus diikuti penegakan hukum konsisten dan pemulihan ekologi nyata. Uang Negara Kembali, Kepercayaan Publik Dipertaruhkan albadarpost.com, EDITORIAL – Kejaksaan Agung menyerahkan Rp6,6 triliun kepada pemerintah. Angka ini bukan kecil. Ia mencerminkan hasil penagihan denda kehutanan dan penyelamatan keuangan negara dari perkara korupsi. Peristiwa ini disaksikan langsung Presiden Prabowo Subianto, […]

expand_less