Lifestyle

Tunduk yang Bukan Takut: Menjawab Tuduhan Feodalisme di Dunia Pesantren

Cinta yang Bukan Asmara menggambarkan adab santri pada kiai atau ajengan sebagai wujud cinta ilmu, bukan feodalisme.


Tunduk yang Lahir dari Cinta, Bukan dari Ketakutan

albadarpost.com, CENDIKIA – Di tengah arus perdebatan publik tentang modernisasi lembaga pendidikan Islam, pesantren kembali menjadi sorotan. Sebagian kalangan luar menilai pesantren sebagai tempat yang masih memelihara sistem feodal, di mana santri harus tunduk tanpa kritik kepada kiai.
Namun bagi kalangan pesantren, anggapan itu jelas keliru. Tunduknya santri bukan tanda ketakutan, melainkan bagian dari Cinta yang Bukan Asmara — cinta yang dilandasi penghormatan pada ilmu dan sang pembawanya.

Tradisi mencium tangan kiai, menunduk ketika berbicara, atau tidak berani menyela ucapan guru bukanlah bentuk penindasan simbolik. Itu adalah ekspresi penghargaan terhadap ilmu dan sumber kebijaksanaan. KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) pernah mengatakan dalam ceramahnya di NU Online (2023), “Santri tidak menghormati manusia, tapi menghormati ilmu yang diamanahkan kepada gurunya.”
Kalimat sederhana itu menjelaskan bagaimana pesantren memaknai adab bukan sebagai alat penundukan, tetapi sebagai jembatan menuju keberkahan ilmu.


Pesantren, Sekolah Kehidupan yang Mengajarkan Rasa

Pesantren telah lama menjadi bagian dari kebudayaan Nusantara. Di sana, hubungan antara guru dan murid tidak sekadar intelektual, tapi juga spiritual. Kiai adalah teladan yang menunjukkan bagaimana ilmu hidup dalam laku keseharian.
Mencium tangan, duduk sopan, dan menjaga tutur kata bukanlah sisa feodalisme, melainkan refleksi kesadaran moral: bahwa ilmu tidak dapat tumbuh di hati yang sombong.

KH. Maimoen Zubair pernah berpesan, “Ilmu itu tidak akan masuk ke hati yang tidak menghormati gurunya.” Pesan itu menjadi prinsip yang diwariskan turun-temurun di pesantren besar seperti Lirboyo, Tebu Ireng, dan Ploso.

Dalam dunia modern yang kian mengagungkan kesetaraan tanpa batas, penghormatan semacam ini sering disalahartikan. Banyak yang lupa bahwa adab dan kebebasan berpikir tidak bertentangan.
Dalam forum bahtsul masail, misalnya, para santri bebas berdebat soal hukum, sosial, hingga politik. Namun semua dilakukan dengan sopan, dalam batas etika dan tata krama. Di sinilah keseimbangan khas pesantren: adab dan ilmu berjalan beriringan.


Menepis Tuduhan Feodalisme dalam Dunia Pesantren

Tuduhan bahwa pesantren bersifat feodal muncul karena pandangan luar yang gagal memahami konteks spiritualnya. Feodalisme menuntut kepatuhan buta, sementara pesantren mengajarkan ketaatan sadar.
Santri taat bukan karena takut dihukum, tapi karena mencintai kebenaran yang diajarkan gurunya. Cinta yang Bukan Asmara, Tunduk yang Bukan Takut adalah bentuk tertinggi dari penghormatan terhadap ilmu — suatu cinta yang melahirkan kebebasan batin.

Menurut laporan Tempo.co (2021) berjudul “Menjaga Adab Pesantren di Tengah Zaman”, banyak santri yang justru tumbuh menjadi pemikir kritis, dosen, dan aktivis sosial setelah menimba ilmu di pesantren. Mereka membawa nilai kesantunan dan kebijaksanaan dalam kehidupan publik, membuktikan bahwa adab tidak menumpulkan daya pikir.

Pesantren adalah ruang pendidikan yang memadukan logika dan rasa. Ketika dunia modern sibuk mencetak individu pintar tapi miskin empati, pesantren justru melahirkan pribadi yang sadar akan pentingnya etika dan cinta.


Cinta dan Tunduk yang Melahirkan Kebijaksanaan

Di tengah kehidupan yang serba cepat, nilai-nilai seperti kesabaran, penghormatan, dan keikhlasan semakin jarang ditemukan. Pesantren mempertahankan semua itu melalui tradisi kecil namun bermakna: menunduk, bersalaman, dan menghormati guru.
Inilah Cinta yang Bukan Asmara, Tunduk yang Bukan Takut — cinta yang tidak menuntut balasan, ketundukan yang tidak merendahkan.

Sebagaimana diungkap KH. Afifuddin Muhajir, “Adab mendahului ilmu. Orang yang berilmu tapi tanpa adab akan tersesat oleh kepandaiannya sendiri.”
Pesantren memahami prinsip ini secara mendalam. Maka tak heran, lulusan pesantren dikenal memiliki keseimbangan antara intelektualitas dan moralitas. Mereka tak sekadar cerdas, tapi juga bijak dan rendah hati.

NU Online (2024) juga menulis bahwa relasi santri dan kiai dibangun atas dasar saling mencintai, bukan menindas. Banyak kiai yang hidup sederhana, tidur di bilik bambu bersama santrinya, tanpa jarak kekuasaan sedikit pun. “Kami menghormati kiai karena beliau menyalakan jalan hidup kami,” ujar Fathur, santri asal Madura dalam laporan tersebut.


Kesimpulan: Adab Sebagai Cinta yang Menumbuhkan Ilmu

Hubungan santri dan kiai bukan relasi kuasa, tetapi perjumpaan batin yang melahirkan cinta dan kebijaksanaan.
“Cinta yang Bukan Asmara, Tunduk yang Bukan Takut” adalah simbol bahwa penghormatan tidak meniadakan kebebasan, dan ketaatan tidak menumpulkan nalar.

Dalam masyarakat yang sering kehilangan rasa hormat, pesantren justru menjaga api adab agar tidak padam. Karena tanpa adab, ilmu hanya akan melahirkan kesombongan; tetapi dengan adab, ilmu menjelma menjadi cahaya yang menuntun peradaban.


Kesimpulan
Tradisi pesantren mengajarkan bahwa tunduk bukan berarti takut, melainkan cinta kepada ilmu dan penghormatan pada guru. (AlbadarPost/Arrian)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button