Breaking News
light_mode
Beranda » Lifestyle » Tunduk yang Bukan Takut: Menjawab Tuduhan Feodalisme di Dunia Pesantren

Tunduk yang Bukan Takut: Menjawab Tuduhan Feodalisme di Dunia Pesantren

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Selasa, 14 Okt 2025
  • visibility 19
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Cinta yang Bukan Asmara menggambarkan adab santri pada kiai atau ajengan sebagai wujud cinta ilmu, bukan feodalisme.


Tunduk yang Lahir dari Cinta, Bukan dari Ketakutan

albadarpost.com, CENDIKIA – Di tengah arus perdebatan publik tentang modernisasi lembaga pendidikan Islam, pesantren kembali menjadi sorotan. Sebagian kalangan luar menilai pesantren sebagai tempat yang masih memelihara sistem feodal, di mana santri harus tunduk tanpa kritik kepada kiai.
Namun bagi kalangan pesantren, anggapan itu jelas keliru. Tunduknya santri bukan tanda ketakutan, melainkan bagian dari Cinta yang Bukan Asmara — cinta yang dilandasi penghormatan pada ilmu dan sang pembawanya.

Tradisi mencium tangan kiai, menunduk ketika berbicara, atau tidak berani menyela ucapan guru bukanlah bentuk penindasan simbolik. Itu adalah ekspresi penghargaan terhadap ilmu dan sumber kebijaksanaan. KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) pernah mengatakan dalam ceramahnya di NU Online (2023), “Santri tidak menghormati manusia, tapi menghormati ilmu yang diamanahkan kepada gurunya.”
Kalimat sederhana itu menjelaskan bagaimana pesantren memaknai adab bukan sebagai alat penundukan, tetapi sebagai jembatan menuju keberkahan ilmu.


Pesantren, Sekolah Kehidupan yang Mengajarkan Rasa

Pesantren telah lama menjadi bagian dari kebudayaan Nusantara. Di sana, hubungan antara guru dan murid tidak sekadar intelektual, tapi juga spiritual. Kiai adalah teladan yang menunjukkan bagaimana ilmu hidup dalam laku keseharian.
Mencium tangan, duduk sopan, dan menjaga tutur kata bukanlah sisa feodalisme, melainkan refleksi kesadaran moral: bahwa ilmu tidak dapat tumbuh di hati yang sombong.

KH. Maimoen Zubair pernah berpesan, “Ilmu itu tidak akan masuk ke hati yang tidak menghormati gurunya.” Pesan itu menjadi prinsip yang diwariskan turun-temurun di pesantren besar seperti Lirboyo, Tebu Ireng, dan Ploso.

Dalam dunia modern yang kian mengagungkan kesetaraan tanpa batas, penghormatan semacam ini sering disalahartikan. Banyak yang lupa bahwa adab dan kebebasan berpikir tidak bertentangan.
Dalam forum bahtsul masail, misalnya, para santri bebas berdebat soal hukum, sosial, hingga politik. Namun semua dilakukan dengan sopan, dalam batas etika dan tata krama. Di sinilah keseimbangan khas pesantren: adab dan ilmu berjalan beriringan.


Menepis Tuduhan Feodalisme dalam Dunia Pesantren

Tuduhan bahwa pesantren bersifat feodal muncul karena pandangan luar yang gagal memahami konteks spiritualnya. Feodalisme menuntut kepatuhan buta, sementara pesantren mengajarkan ketaatan sadar.
Santri taat bukan karena takut dihukum, tapi karena mencintai kebenaran yang diajarkan gurunya. Cinta yang Bukan Asmara, Tunduk yang Bukan Takut adalah bentuk tertinggi dari penghormatan terhadap ilmu — suatu cinta yang melahirkan kebebasan batin.

Menurut laporan Tempo.co (2021) berjudul “Menjaga Adab Pesantren di Tengah Zaman”, banyak santri yang justru tumbuh menjadi pemikir kritis, dosen, dan aktivis sosial setelah menimba ilmu di pesantren. Mereka membawa nilai kesantunan dan kebijaksanaan dalam kehidupan publik, membuktikan bahwa adab tidak menumpulkan daya pikir.

Pesantren adalah ruang pendidikan yang memadukan logika dan rasa. Ketika dunia modern sibuk mencetak individu pintar tapi miskin empati, pesantren justru melahirkan pribadi yang sadar akan pentingnya etika dan cinta.


Cinta dan Tunduk yang Melahirkan Kebijaksanaan

Di tengah kehidupan yang serba cepat, nilai-nilai seperti kesabaran, penghormatan, dan keikhlasan semakin jarang ditemukan. Pesantren mempertahankan semua itu melalui tradisi kecil namun bermakna: menunduk, bersalaman, dan menghormati guru.
Inilah Cinta yang Bukan Asmara, Tunduk yang Bukan Takut — cinta yang tidak menuntut balasan, ketundukan yang tidak merendahkan.

Sebagaimana diungkap KH. Afifuddin Muhajir, “Adab mendahului ilmu. Orang yang berilmu tapi tanpa adab akan tersesat oleh kepandaiannya sendiri.”
Pesantren memahami prinsip ini secara mendalam. Maka tak heran, lulusan pesantren dikenal memiliki keseimbangan antara intelektualitas dan moralitas. Mereka tak sekadar cerdas, tapi juga bijak dan rendah hati.

NU Online (2024) juga menulis bahwa relasi santri dan kiai dibangun atas dasar saling mencintai, bukan menindas. Banyak kiai yang hidup sederhana, tidur di bilik bambu bersama santrinya, tanpa jarak kekuasaan sedikit pun. “Kami menghormati kiai karena beliau menyalakan jalan hidup kami,” ujar Fathur, santri asal Madura dalam laporan tersebut.


Kesimpulan: Adab Sebagai Cinta yang Menumbuhkan Ilmu

Hubungan santri dan kiai bukan relasi kuasa, tetapi perjumpaan batin yang melahirkan cinta dan kebijaksanaan.
“Cinta yang Bukan Asmara, Tunduk yang Bukan Takut” adalah simbol bahwa penghormatan tidak meniadakan kebebasan, dan ketaatan tidak menumpulkan nalar.

Dalam masyarakat yang sering kehilangan rasa hormat, pesantren justru menjaga api adab agar tidak padam. Karena tanpa adab, ilmu hanya akan melahirkan kesombongan; tetapi dengan adab, ilmu menjelma menjadi cahaya yang menuntun peradaban.


Kesimpulan
Tradisi pesantren mengajarkan bahwa tunduk bukan berarti takut, melainkan cinta kepada ilmu dan penghormatan pada guru. (AlbadarPost/Arrian)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • reintroduksi banteng jawa

    BBKSDA Jabar Perkuat Reintroduksi Banteng Jawa di Pangandaran

    • calendar_month Rabu, 3 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 15
    • 0Komentar

    BBKSDA Jawa Barat memperkuat reintroduksi banteng jawa di Pangandaran guna menekan ancaman kepunahan. albadarpost.com, HUMANIORA — Program reintroduksi banteng jawa kembali menjadi fokus konservasi Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat. Langkah ini dilakukan untuk mengatasi ancaman kepunahan banteng jawa (Bos javanicus) yang statusnya meningkat menjadi “sangat terancam punah”. Intervensi dilakukan di Pusat […]

  • teror air keras

    Terungkap! Teror Air Keras Andrie Yunus, CCTV Bongkar Wajah Pelaku

    • calendar_month Rabu, 18 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 5
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Kasus teror air keras, penyiraman air keras, dan aksi brutal terhadap aktivis Andrie Yunus akhirnya memasuki babak baru. Sejak awal, publik terus mengikuti perkembangan kasus ini. Kini, rekaman CCTV dan investigasi ilmiah membuka jalan untuk mengungkap identitas pelaku secara lebih jelas. Perkembangan tersebut langsung menyita perhatian. Selain itu, temuan terbaru mengindikasikan […]

  • Ilustrasi mushaf Al-Qur’an terbuka pada Surat Yasin dengan cahaya lembut sebagai simbol keutamaan Surat Yasin.

    Surat Yasin: Jawaban Langit atas Keraguan Manusia

    • calendar_month Sabtu, 14 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 19
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Keutamaan Surat Yasin selalu dikaitkan dengan sebutan hati Al-Qur’an, sebuah istilah yang membuat banyak orang penasaran. Fadilah Yasin, keistimewaan Surah Yasin, dan sebab turun Surat Yasin menjadi pembahasan yang terus dicari setiap waktu. Surat ini bukan sekadar rangkaian ayat, melainkan jawaban tegas atas keraguan yang pernah diarahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Surat […]

  • kenaikan UMK Cimahi

    Pemkot Cimahi Tunggu Kebijakan Pusat Soal Kenaikan UMK 2026

    • calendar_month Selasa, 25 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 13
    • 0Komentar

    Pemkot Cimahi menunggu keputusan pusat terkait kenaikan UMK 2026, serikat buruh diminta menjaga situasi kondusif. albadarpost.com, LENSA – Pemerintah Kota Cimahi belum memutuskan besaran kenaikan UMK Cimahi tahun 2026. Keputusan masih menunggu arahan pemerintah pusat yang tengah merumuskan formula upah minimum secara nasional. Di lapangan, tuntutan kenaikan dari serikat buruh mulai menguat, namun Pemkot Cimahi […]

  • Passport Index 2026

    Kini, WNI Bisa Keliling Dunia Tanpa Visa

    • calendar_month Jumat, 9 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 15
    • 0Komentar

    Passport Index 2026 membuka akses bebas visa ke 43 negara, memberi kemudahan perjalanan internasional bagi WNI. albadarpost.com, LIFESTYLE – Bagi banyak warga Indonesia, bepergian ke luar negeri selama ini identik dengan antrean visa, biaya tambahan, dan ketidakpastian. Mulai Januari 2026, situasi itu perlahan berubah. Passport Index 2026 mencatat paspor Indonesia kini mendapat akses bebas visa […]

  • rotasi kajari

    Kejaksaan Agung Mutasi Puluhan Kajari

    • calendar_month Jumat, 26 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 21
    • 0Komentar

    Kejaksaan Agung merotasi 43 kajari akhir 2025 untuk menjaga efektivitas dan integritas penegakan hukum daerah. albadarpost.com, FOKUS – Kejaksaan Agung Republik Indonesia kembali melakukan rotasi kajari secara besar-besaran menjelang penutupan tahun 2025. Sebanyak 43 kepala kejaksaan negeri resmi diganti dari total 68 pejabat kejaksaan yang dimutasi melalui Surat Keputusan Jaksa Agung Nomor KEP-IV-1734/C/12/2025 tertanggal 24 […]

expand_less