Breaking News
light_mode
Beranda » Lifestyle » Tunduk yang Bukan Takut: Menjawab Tuduhan Feodalisme di Dunia Pesantren

Tunduk yang Bukan Takut: Menjawab Tuduhan Feodalisme di Dunia Pesantren

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Selasa, 14 Okt 2025
  • visibility 184
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Cinta yang Bukan Asmara menggambarkan adab santri pada kiai atau ajengan sebagai wujud cinta ilmu, bukan feodalisme.


Tunduk yang Lahir dari Cinta, Bukan dari Ketakutan

albadarpost.com, CENDIKIA – Di tengah arus perdebatan publik tentang modernisasi lembaga pendidikan Islam, pesantren kembali menjadi sorotan. Sebagian kalangan luar menilai pesantren sebagai tempat yang masih memelihara sistem feodal, di mana santri harus tunduk tanpa kritik kepada kiai.
Namun bagi kalangan pesantren, anggapan itu jelas keliru. Tunduknya santri bukan tanda ketakutan, melainkan bagian dari Cinta yang Bukan Asmara — cinta yang dilandasi penghormatan pada ilmu dan sang pembawanya.

Tradisi mencium tangan kiai, menunduk ketika berbicara, atau tidak berani menyela ucapan guru bukanlah bentuk penindasan simbolik. Itu adalah ekspresi penghargaan terhadap ilmu dan sumber kebijaksanaan. KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) pernah mengatakan dalam ceramahnya di NU Online (2023), “Santri tidak menghormati manusia, tapi menghormati ilmu yang diamanahkan kepada gurunya.”
Kalimat sederhana itu menjelaskan bagaimana pesantren memaknai adab bukan sebagai alat penundukan, tetapi sebagai jembatan menuju keberkahan ilmu.


Pesantren, Sekolah Kehidupan yang Mengajarkan Rasa

Pesantren telah lama menjadi bagian dari kebudayaan Nusantara. Di sana, hubungan antara guru dan murid tidak sekadar intelektual, tapi juga spiritual. Kiai adalah teladan yang menunjukkan bagaimana ilmu hidup dalam laku keseharian.
Mencium tangan, duduk sopan, dan menjaga tutur kata bukanlah sisa feodalisme, melainkan refleksi kesadaran moral: bahwa ilmu tidak dapat tumbuh di hati yang sombong.

KH. Maimoen Zubair pernah berpesan, “Ilmu itu tidak akan masuk ke hati yang tidak menghormati gurunya.” Pesan itu menjadi prinsip yang diwariskan turun-temurun di pesantren besar seperti Lirboyo, Tebu Ireng, dan Ploso.

Dalam dunia modern yang kian mengagungkan kesetaraan tanpa batas, penghormatan semacam ini sering disalahartikan. Banyak yang lupa bahwa adab dan kebebasan berpikir tidak bertentangan.
Dalam forum bahtsul masail, misalnya, para santri bebas berdebat soal hukum, sosial, hingga politik. Namun semua dilakukan dengan sopan, dalam batas etika dan tata krama. Di sinilah keseimbangan khas pesantren: adab dan ilmu berjalan beriringan.


Menepis Tuduhan Feodalisme dalam Dunia Pesantren

Tuduhan bahwa pesantren bersifat feodal muncul karena pandangan luar yang gagal memahami konteks spiritualnya. Feodalisme menuntut kepatuhan buta, sementara pesantren mengajarkan ketaatan sadar.
Santri taat bukan karena takut dihukum, tapi karena mencintai kebenaran yang diajarkan gurunya. Cinta yang Bukan Asmara, Tunduk yang Bukan Takut adalah bentuk tertinggi dari penghormatan terhadap ilmu — suatu cinta yang melahirkan kebebasan batin.

Menurut laporan Tempo.co (2021) berjudul “Menjaga Adab Pesantren di Tengah Zaman”, banyak santri yang justru tumbuh menjadi pemikir kritis, dosen, dan aktivis sosial setelah menimba ilmu di pesantren. Mereka membawa nilai kesantunan dan kebijaksanaan dalam kehidupan publik, membuktikan bahwa adab tidak menumpulkan daya pikir.

Pesantren adalah ruang pendidikan yang memadukan logika dan rasa. Ketika dunia modern sibuk mencetak individu pintar tapi miskin empati, pesantren justru melahirkan pribadi yang sadar akan pentingnya etika dan cinta.


Cinta dan Tunduk yang Melahirkan Kebijaksanaan

Di tengah kehidupan yang serba cepat, nilai-nilai seperti kesabaran, penghormatan, dan keikhlasan semakin jarang ditemukan. Pesantren mempertahankan semua itu melalui tradisi kecil namun bermakna: menunduk, bersalaman, dan menghormati guru.
Inilah Cinta yang Bukan Asmara, Tunduk yang Bukan Takut — cinta yang tidak menuntut balasan, ketundukan yang tidak merendahkan.

Sebagaimana diungkap KH. Afifuddin Muhajir, “Adab mendahului ilmu. Orang yang berilmu tapi tanpa adab akan tersesat oleh kepandaiannya sendiri.”
Pesantren memahami prinsip ini secara mendalam. Maka tak heran, lulusan pesantren dikenal memiliki keseimbangan antara intelektualitas dan moralitas. Mereka tak sekadar cerdas, tapi juga bijak dan rendah hati.

NU Online (2024) juga menulis bahwa relasi santri dan kiai dibangun atas dasar saling mencintai, bukan menindas. Banyak kiai yang hidup sederhana, tidur di bilik bambu bersama santrinya, tanpa jarak kekuasaan sedikit pun. “Kami menghormati kiai karena beliau menyalakan jalan hidup kami,” ujar Fathur, santri asal Madura dalam laporan tersebut.


Kesimpulan: Adab Sebagai Cinta yang Menumbuhkan Ilmu

Hubungan santri dan kiai bukan relasi kuasa, tetapi perjumpaan batin yang melahirkan cinta dan kebijaksanaan.
“Cinta yang Bukan Asmara, Tunduk yang Bukan Takut” adalah simbol bahwa penghormatan tidak meniadakan kebebasan, dan ketaatan tidak menumpulkan nalar.

Dalam masyarakat yang sering kehilangan rasa hormat, pesantren justru menjaga api adab agar tidak padam. Karena tanpa adab, ilmu hanya akan melahirkan kesombongan; tetapi dengan adab, ilmu menjelma menjadi cahaya yang menuntun peradaban.


Kesimpulan
Tradisi pesantren mengajarkan bahwa tunduk bukan berarti takut, melainkan cinta kepada ilmu dan penghormatan pada guru. (AlbadarPost/Arrian)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • literasi digital

    Pemkab Tasikmalaya Perkuat Literasi Informasi untuk Bendung Hoaks

    • calendar_month Kamis, 20 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 175
    • 0Komentar

    KIM Tasikmalaya memperkuat literasi digital untuk menekan laju hoaks yang menyebar lebih cepat dari informasi benar. albadarpost.com, LENSA – Arus informasi yang bergerak tanpa jeda kembali menjadi sorotan pada Bimbingan Teknis Pengelolaan Informasi bagi Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) di Kecamatan Cisayong, Kamis, 20 November 2025. Agenda ini digelar untuk memperkuat literasi digital warga, terutama di […]

  • Jembatan Cirahong

    Warga Syok, Pria Santai Jajan Lalu Lompat ke Citanduy

    • calendar_month Jumat, 22 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 136
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Jembatan Cirahong kembali menjadi sorotan setelah seorang pria misterius diduga melakukan aksi bunuh diri dengan melompat ke Sungai Citanduy, Jumat (22/5/2026). Peristiwa di kawasan perbatasan Tasikmalaya dan Ciamis itu langsung membuat warga geger. Dalam hitungan detik, tubuh pria tersebut hilang ditelan derasnya arus sungai di bawah jembatan tua yang dikenal memiliki […]

  • kontes bonsai Tasikmalaya

    Ramai dan Menggiurkan, Azis Gagap Bongkar Potensi Ekonomi Bonsai di Tasik

    • calendar_month Minggu, 26 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 121
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Kontes bonsai Tasikmalaya langsung menyedot perhatian publik saat ratusan peserta memadati lokasi pameran. Event bonsai nasional ini bukan hanya soal estetika tanaman, tetapi juga membuka mata tentang potensi ekonomi bonsai yang nilainya bisa mencapai puluhan juta rupiah. Sejak hari pertama, suasana sudah terasa berbeda. Deretan bonsai dengan bentuk unik dan karakter […]

  • Demo GIBAS Tasikmalaya

    Aksi GIBAS 29 Juni, ATR/BPN Tasik Jadi Sorotan

    • calendar_month Minggu, 28 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 123
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH — Demo GIBAS Tasikmalaya dijadwalkan berlangsung pada Senin, 29 Juni 2026. Aksi unjuk rasa yang digelar GIBAS Resort Kota Tasikmalaya ini akan memulai kegiatan sejak pukul 08.00 WIB dengan titik kumpul di Sekretariat Bersama (Sekber) GIBAS, Jalan Letjen Mashudi, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya. Aksi GIBAS, demonstrasi GIBAS Tasikmalaya, maupun unjuk rasa GIBAS […]

  • pengantin pesanan

    KJRI Guangzhou Pulangkan Korban Pengantin Pesanan dan Dorong Penindakan TPPO

    • calendar_month Selasa, 18 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 91
    • 0Komentar

    KJRI Guangzhou memulangkan korban pengantin pesanan dan mendorong penindakan kasus TPPO lintas negara. albadarpost.com, HUMANIORA – Reni Rahmawati, Warga Negara Indonesia asal Sukabumi, akhirnya dipulangkan setelah menjadi korban praktik pengantin pesanan di China. Kepulangannya pada Selasa, 18 November 2025, menandai berakhirnya proses hukum perceraiannya dengan suami warga negara China. Kasus ini penting karena memperlihatkan kembali […]

  • Gepuk daging sapi sisa kurban berwarna cokelat keemasan dengan bumbu meresap dan tekstur empuk khas masakan Sunda.

    Rahasia Gepuk Daging Kurban Empuk dan Gurih, Ternyata Ada Trik Ini

    • calendar_month Senin, 1 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 122
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Setelah Idul Adha berlalu, banyak keluarga mulai mencari resep gepuk daging untuk mengolah sisa daging kurban. Tidak sedikit yang memilih gepuk karena rasanya gurih, tahan disimpan, dan cocok disantap kapan saja. Namun membuat gepuk daging sapi yang benar-benar empuk ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan. Sebagian orang pernah mengalami daging yang masih alot […]

expand_less