Breaking News
light_mode
Beranda » Lifestyle » Tunduk yang Bukan Takut: Menjawab Tuduhan Feodalisme di Dunia Pesantren

Tunduk yang Bukan Takut: Menjawab Tuduhan Feodalisme di Dunia Pesantren

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Selasa, 14 Okt 2025
  • visibility 236
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Cinta yang Bukan Asmara menggambarkan adab santri pada kiai atau ajengan sebagai wujud cinta ilmu, bukan feodalisme.


Tunduk yang Lahir dari Cinta, Bukan dari Ketakutan

albadarpost.com, CENDIKIA – Di tengah arus perdebatan publik tentang modernisasi lembaga pendidikan Islam, pesantren kembali menjadi sorotan. Sebagian kalangan luar menilai pesantren sebagai tempat yang masih memelihara sistem feodal, di mana santri harus tunduk tanpa kritik kepada kiai.
Namun bagi kalangan pesantren, anggapan itu jelas keliru. Tunduknya santri bukan tanda ketakutan, melainkan bagian dari Cinta yang Bukan Asmara — cinta yang dilandasi penghormatan pada ilmu dan sang pembawanya.

Tradisi mencium tangan kiai, menunduk ketika berbicara, atau tidak berani menyela ucapan guru bukanlah bentuk penindasan simbolik. Itu adalah ekspresi penghargaan terhadap ilmu dan sumber kebijaksanaan. KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) pernah mengatakan dalam ceramahnya di NU Online (2023), “Santri tidak menghormati manusia, tapi menghormati ilmu yang diamanahkan kepada gurunya.”
Kalimat sederhana itu menjelaskan bagaimana pesantren memaknai adab bukan sebagai alat penundukan, tetapi sebagai jembatan menuju keberkahan ilmu.


Pesantren, Sekolah Kehidupan yang Mengajarkan Rasa

Pesantren telah lama menjadi bagian dari kebudayaan Nusantara. Di sana, hubungan antara guru dan murid tidak sekadar intelektual, tapi juga spiritual. Kiai adalah teladan yang menunjukkan bagaimana ilmu hidup dalam laku keseharian.
Mencium tangan, duduk sopan, dan menjaga tutur kata bukanlah sisa feodalisme, melainkan refleksi kesadaran moral: bahwa ilmu tidak dapat tumbuh di hati yang sombong.

KH. Maimoen Zubair pernah berpesan, “Ilmu itu tidak akan masuk ke hati yang tidak menghormati gurunya.” Pesan itu menjadi prinsip yang diwariskan turun-temurun di pesantren besar seperti Lirboyo, Tebu Ireng, dan Ploso.

Dalam dunia modern yang kian mengagungkan kesetaraan tanpa batas, penghormatan semacam ini sering disalahartikan. Banyak yang lupa bahwa adab dan kebebasan berpikir tidak bertentangan.
Dalam forum bahtsul masail, misalnya, para santri bebas berdebat soal hukum, sosial, hingga politik. Namun semua dilakukan dengan sopan, dalam batas etika dan tata krama. Di sinilah keseimbangan khas pesantren: adab dan ilmu berjalan beriringan.


Menepis Tuduhan Feodalisme dalam Dunia Pesantren

Tuduhan bahwa pesantren bersifat feodal muncul karena pandangan luar yang gagal memahami konteks spiritualnya. Feodalisme menuntut kepatuhan buta, sementara pesantren mengajarkan ketaatan sadar.
Santri taat bukan karena takut dihukum, tapi karena mencintai kebenaran yang diajarkan gurunya. Cinta yang Bukan Asmara, Tunduk yang Bukan Takut adalah bentuk tertinggi dari penghormatan terhadap ilmu — suatu cinta yang melahirkan kebebasan batin.

Menurut laporan Tempo.co (2021) berjudul “Menjaga Adab Pesantren di Tengah Zaman”, banyak santri yang justru tumbuh menjadi pemikir kritis, dosen, dan aktivis sosial setelah menimba ilmu di pesantren. Mereka membawa nilai kesantunan dan kebijaksanaan dalam kehidupan publik, membuktikan bahwa adab tidak menumpulkan daya pikir.

Pesantren adalah ruang pendidikan yang memadukan logika dan rasa. Ketika dunia modern sibuk mencetak individu pintar tapi miskin empati, pesantren justru melahirkan pribadi yang sadar akan pentingnya etika dan cinta.


Cinta dan Tunduk yang Melahirkan Kebijaksanaan

Di tengah kehidupan yang serba cepat, nilai-nilai seperti kesabaran, penghormatan, dan keikhlasan semakin jarang ditemukan. Pesantren mempertahankan semua itu melalui tradisi kecil namun bermakna: menunduk, bersalaman, dan menghormati guru.
Inilah Cinta yang Bukan Asmara, Tunduk yang Bukan Takut — cinta yang tidak menuntut balasan, ketundukan yang tidak merendahkan.

Sebagaimana diungkap KH. Afifuddin Muhajir, “Adab mendahului ilmu. Orang yang berilmu tapi tanpa adab akan tersesat oleh kepandaiannya sendiri.”
Pesantren memahami prinsip ini secara mendalam. Maka tak heran, lulusan pesantren dikenal memiliki keseimbangan antara intelektualitas dan moralitas. Mereka tak sekadar cerdas, tapi juga bijak dan rendah hati.

NU Online (2024) juga menulis bahwa relasi santri dan kiai dibangun atas dasar saling mencintai, bukan menindas. Banyak kiai yang hidup sederhana, tidur di bilik bambu bersama santrinya, tanpa jarak kekuasaan sedikit pun. “Kami menghormati kiai karena beliau menyalakan jalan hidup kami,” ujar Fathur, santri asal Madura dalam laporan tersebut.


Kesimpulan: Adab Sebagai Cinta yang Menumbuhkan Ilmu

Hubungan santri dan kiai bukan relasi kuasa, tetapi perjumpaan batin yang melahirkan cinta dan kebijaksanaan.
“Cinta yang Bukan Asmara, Tunduk yang Bukan Takut” adalah simbol bahwa penghormatan tidak meniadakan kebebasan, dan ketaatan tidak menumpulkan nalar.

Dalam masyarakat yang sering kehilangan rasa hormat, pesantren justru menjaga api adab agar tidak padam. Karena tanpa adab, ilmu hanya akan melahirkan kesombongan; tetapi dengan adab, ilmu menjelma menjadi cahaya yang menuntun peradaban.


Kesimpulan
Tradisi pesantren mengajarkan bahwa tunduk bukan berarti takut, melainkan cinta kepada ilmu dan penghormatan pada guru. (AlbadarPost/Arrian)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Karhutla Garut

    Polres Garut Bergerak Cegah Karhutla di Wilayah Rawan

    • calendar_month Jumat, 28 Agt 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 23
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Karhutla Garut menjadi perhatian Polres Garut bersama seluruh Polsek jajaran. Pada Jumat (28/8/2026), personel kepolisian memasang spanduk imbauan pencegahan kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah yang dinilai memiliki potensi kebakaran. Spanduk bertuliskan “CEGAH KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN” dipasang di kawasan hutan, lahan terbuka, perkebunan, serta sejumlah lokasi lainnya. Langkah tersebut menjadi […]

  • tawakal sejati

    Pelajaran Ikhtiar yang Sering Kita Lupa

    • calendar_month Minggu, 25 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 194
    • 0Komentar

    albadarpost.com, PERSPEKTIF – Setiap pagi, jauh sebelum rutinitas manusia dimulai, kehidupan sudah lebih dulu bergerak. Langit tidak pernah benar-benar sepi. Di sana, burung-burung meninggalkan sarangnya tanpa bekal, tanpa peta, dan tanpa jaminan hasil. Mereka terbang dengan satu keyakinan sederhana: rezeki telah disiapkan, tetapi harus dijemput. Gambaran itu sejalan dengan pesan Nabi Muhammad SAW dalam sebuah […]

  • Ilustrasi perempuan Muslim bangun tidur sambil tersenyum di kamar tenang, mencerminkan adab bangun tidur sesuai sunnah Rasulullah SAW

    Adab Bangun Tidur Ala Rasulullah SAW

    • calendar_month Selasa, 3 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 319
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Bangun tidur dalam ajaran Islam tidak dipandang sebagai aktivitas rutin semata. Rasulullah SAW menempatkannya sebagai fase awal pembentukan kesadaran, disiplin, dan kesiapan spiritual umat. Praktik ini dinilai berdampak langsung pada kualitas ibadah, produktivitas, dan ketenangan hidup sehari-hari. Dalam berbagai riwayat sahih, Rasulullah SAW mencontohkan adab bangun tidur secara sistematis. Mulai dari posisi […]

  • hijab kadet Unhan

    Hijab Kadet Unhan Jadi Sorotan, Kemhan Beri Penjelasan

    • calendar_month Senin, 24 Agt 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 40
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL — Isu hijab kadet Unhan menjadi perhatian setelah informasi mengenai penggunaan hijab bagi kadet perempuan Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI) berkembang di media sosial. Kementerian Pertahanan (Kemhan) menegaskan bahwa Peraturan Rektor Unhan RI Nomor 28 Tahun 2025 tidak memuat ketentuan yang secara spesifik melarang penggunaan hijab bagi kadet perempuan Muslim. Klarifikasi […]

  • Hadiah Rp167 miliar dari pemerintah AS untuk informasi penangkapan pemimpin Kartel Sinaloa dalam upaya penegakan hukum narkotika AS.

    AS Gelontorkan 5 Juta Dolar Buru Bos Kartel Sinaloa

    • calendar_month Sabtu, 28 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 161
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DUNIA – Langkah tegas dalam penegakan hukum narkotika AS tidak hanya menyasar kejahatan kriminal, tetapi juga menyentuh dimensi geopolitik kawasan Amerika Latin. Ketika Washington menawarkan hadiah jutaan dolar AS untuk memburu pemimpin Kartel Sinaloa, pesan yang dikirim bukan sekadar soal penangkapan, melainkan soal dominasi hukum dan stabilitas regional. Kartel Sinaloa selama ini bukan […]

  • harga BBM

    BBM Tak Naik, Tapi SPBU Tetap Padat: Ini Fakta Sebenarnya

    • calendar_month Rabu, 1 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 188
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Fenomena harga BBM tidak naik justru diikuti antrean panjang di sejumlah SPBU menjadi perhatian masyarakat dalam beberapa hari terakhir. Isu harga BBM, kabar kenaikan bahan bakar, hingga kekhawatiran publik terhadap stabilitas energi membuat aktivitas pengisian bahan bakar meningkat. Meski pemerintah memastikan harga bahan bakar tetap stabil, suasana di lapangan menunjukkan cerita […]

expand_less