Syukur Nikmat Bukan Sekadar Alhamdulillah, Ini Buktinya
- account_circle redaktur
- calendar_month Senin, 7 Sep 2026
- visibility 31
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi syukur nikmat kepada Allah melalui doa dan penggunaan nikmat untuk kebaikan.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH – Ada orang yang begitu mudah mengucapkan Alhamdulillah, tetapi masih sering mengeluhkan apa yang belum dimiliki. Ada pula yang merasa banyak menerima nikmat, tetapi menggunakan nikmat tersebut untuk sesuatu yang justru menjauhkan dirinya dari Allah.
Di sinilah syukur menjadi lebih dari sekadar ucapan.
Syukur bukan hanya persoalan lidah yang mengucapkan Alhamdulillah. Ia menyangkut kesadaran hati, cara berbicara, sekaligus bagaimana seseorang menggunakan apa yang telah Allah berikan kepadanya.
Sebab, bisa jadi masalah kita bukan kekurangan nikmat. Kita hanya terlalu sibuk menghitung apa yang belum ada.
Ketika Nikmat Banyak, tetapi Syukur Tipis
Manusia sering memiliki cara yang aneh dalam memandang kehidupan.
Ketika memperoleh sesuatu, rasa senang muncul sebentar. Setelah itu, perhatian kembali tertuju kepada sesuatu yang belum dimiliki.
Punya rumah, ingin rumah yang lebih besar. Sudah memiliki pekerjaan, masih membandingkan penghasilan dengan orang lain. Memiliki keluarga, tetapi sibuk melihat kehidupan keluarga lain yang tampak lebih sempurna di media sosial.
Padahal, Al-Qur’an mengingatkan bahwa nikmat yang kita terima pada hakikatnya berasal dari Allah.
“Dan segala nikmat yang ada padamu, maka dari Allah-lah (datangnya).”
(QS An-Nahl: 53)
Ayat tersebut menggeser cara pandang kita.
Nikmat bukan sekadar hasil kerja keras manusia. Kesehatan, kesempatan, ilmu, keluarga, rezeki, waktu, bahkan kemampuan untuk bekerja keras itu sendiri merupakan bagian dari karunia Allah.
Karena itu, syukur seharusnya tidak berhenti ketika mulut mengucapkan Alhamdulillah.
Alhamdulillah di Lisan, Lalu untuk Apa Nikmat Itu Dipakai?
Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari dalam Al-Hikam, pada salah satu hikmahnya, memberikan perumpamaan yang kuat tentang nikmat dan syukur.
Intinya, orang yang tidak bersyukur berarti membuka jalan bagi hilangnya nikmat tersebut. Sebaliknya, orang yang mensyukurinya seperti mengikat nikmat itu dengan ikatan yang kuat.
Perumpamaan tersebut menarik karena syukur tidak digambarkan sebagai sesuatu yang pasif.
Nikmat harus “diikat”.
Bagaimana caranya?
Salah satunya dengan menggunakannya sesuai dengan tujuan yang diridai Allah.
Memiliki ilmu, lalu ilmu itu digunakan untuk memberi manfaat. Memiliki harta, lalu sebagian digunakan untuk membantu sesama. Memiliki jabatan, lalu kekuasaan tidak dipakai untuk menzalimi orang lain.
Begitu pula dengan waktu.
Jika seseorang mengaku bersyukur atas waktu yang diberikan Allah, tetapi seluruh waktunya habis untuk perkara yang tidak bermanfaat, ada sesuatu yang perlu diperiksa kembali.
Syukur dengan demikian bukan hanya apa yang kita katakan tentang nikmat, tetapi apa yang kita lakukan terhadapnya.
Allah Menjanjikan Tambahan bagi Orang yang Bersyukur
Al-Qur’an memberikan janji yang sangat jelas:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”
(QS Ibrahim: 7)
Namun, tambahan nikmat tidak selalu berarti seseorang langsung memperoleh lebih banyak uang, rumah lebih besar, atau kehidupan tanpa masalah.
Kadang tambahan itu hadir dalam bentuk yang lebih sederhana.
Hati menjadi lebih tenang. Rezeki terasa cukup. Hubungan keluarga membaik. Ilmu semakin bermanfaat. Kesempatan berbuat baik semakin terbuka.
Karena itu, mengukur nikmat hanya dengan angka bisa membuat seseorang kehilangan banyak hal yang sebenarnya sudah dimilikinya.
Ada orang yang penghasilannya tidak besar, tetapi hidupnya terasa lapang.
Sebaliknya, ada yang memiliki banyak harta, tetapi sepanjang hari masih merasa kurang.
Persoalannya bukan selalu pada jumlahnya.
Sering kali, persoalannya adalah cara manusia memandang nikmat.
Syukur Jangan Sampai Berhenti Menjadi Konten
Di zaman media sosial, syukur juga menghadapi ujian baru.
Seseorang bisa mengunggah foto makanan sambil menulis Alhamdulillah. Bisa menunjukkan perjalanan sambil menuliskan rasa syukur. Bisa menceritakan keberhasilan dan menyebut semuanya sebagai karunia Allah.
Tidak ada yang salah dengan mengungkapkan kebahagiaan atau mengingat nikmat.
Namun, ada pertanyaan yang lebih penting:
Apakah rasa syukur itu berhenti di layar, atau benar-benar mengubah perilaku?
Sebab, orang bisa terlihat sangat bersyukur di media sosial, tetapi tetap menggunakan hartanya secara boros, menyakiti orang lain dengan lisannya, atau menggunakan kedudukan untuk kepentingan pribadi.
Di sinilah syukur membutuhkan kejujuran.
Bukan berarti nikmat tidak boleh diceritakan. Al-Qur’an bahkan menyebut:
“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah engkau menyebut-nyebutnya.”
(QS Ad-Duha: 11)
Tetapi menyebut nikmat seharusnya tidak berubah menjadi ajang kesombongan.
Yang menentukan nilainya adalah niat dan cara menggunakannya.
Syukur yang Sedikit Menguji Syukur yang Banyak
Ada pelajaran penting dari riwayat yang dinisbatkan kepada An-Nu’man bin Basyir dan tercantum dalam Musnad Ahmad: orang yang tidak mensyukuri nikmat yang sedikit tidak akan mudah mensyukuri nikmat yang banyak.
Pesannya sederhana, tetapi relevan.
Jangan menunggu kaya untuk belajar bersyukur.
Jangan menunggu sehat sempurna untuk menghargai kesehatan.
Jangan menunggu kehilangan seseorang untuk menyadari betapa berharganya kehadiran mereka.
Sebab manusia sering baru menyadari nilai sebuah nikmat setelah ia itu berkurang.
Dalam tradisi tasawuf, kisah Al-Junaid juga memberikan refleksi menarik. Ketika ditanya mengenai makna syukur, ia menjelaskan bahwa syukur berarti tidak menggunakan nikmat yang diberikan Allah untuk melakukan maksiat.
Definisi ini membuat syukur menjadi sangat konkret.
Mata adalah nikmat. Maka menjaganya dari perkara haram merupakan bagian dari syukur.
Lisan. Maka menggunakannya untuk berkata benar juga bagian dari syukur.
Harta. Maka menggunakannya untuk kebaikan merupakan bentuk syukur.
Begitu pula dengan kekuasaan, kecerdasan, kesehatan, usia, pekerjaan dan berbagai kesempatan yang dimiliki manusia.
Tiga Pertanyaan untuk Mengukur Syukur
Daripada terus bertanya, “Apa lagi yang belum saya punya?”, mungkin sesekali kita perlu bertanya:
Pertama, dari mana nikmat ini berasal?
Jawabannya mengembalikan hati kepada Allah.
Kedua, digunakan untuk apa?
Pertanyaan ini menguji apakah ucapan Alhamdulillah benar-benar memiliki konsekuensi dalam kehidupan.
Ketiga, siapa yang ikut merasakan manfaatnya?
Sebab nikmat yang disyukuri tidak harus berhenti pada diri sendiri.
Ilmu bisa dibagikan. Rezeki bisa disedekahkan. Tenaga bisa digunakan membantu orang lain. Jabatan bisa dipakai melayani, bukan sekadar dilayani.
Pada akhirnya, syukur adalah cara manusia memperlakukan pemberian Allah dengan benar.
Bukan berarti orang yang bersyukur tidak boleh memiliki keinginan. Bukan pula berarti seseorang harus menerima keadaan tanpa berusaha memperbaikinya.
Islam tetap mengajarkan ikhtiar.
Hanya saja, ikhtiar berjalan bersama kesadaran bahwa apa pun yang telah dimiliki tetap merupakan amanah.
Maka, jangan sampai lidah kita terlalu rajin mengucapkan Alhamdulillah, sementara tangan justru sibuk menyalahgunakan nikmat Allah.
Sebab syukur yang paling jujur bukan yang paling sering terdengar, melainkan yang paling nyata terlihat dari cara kita menggunakan setiap pemberian-Nya. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar