Merasa Bebas, Padahal Jadi Hamba dari Keinginan?
- account_circle redaktur
- calendar_month Jumat, 4 Sep 2026
- visibility 47
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi elang menukik ke perangkap umpan sebagai gambaran hamba keinginan dalam hikmah Ibnu Athaillah.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH – Ada orang yang merasa bebas karena tidak punya rantai di tangan. Namun, dalam makna hamba keinginan, seseorang bisa saja berjalan ke mana-mana sambil tetap tunduk pada sesuatu yang sangat ia dambakan.
Ibnu Athaillah al-Sakandari menyentil keadaan itu melalui salah satu hikmah dalam Al-Hikam:
أَنْتَ حُرٌّ مِمَّا أَنْتَ عَنْهُ آيِسٌ، وَعَبْدٌ لِمَا أَنْتَ لَهُ طَامِعٌ
“Seseorang merdeka dari sesuatu yang tidak lagi ia harapkan, tetapi menjadi hamba bagi sesuatu yang masih ia dambakan.”
Redaksi hikmah ini tercantum dalam Al-Hikam al-‘Atha’iyyah, bersama penjelasan bahwa ketergantungan melalui rasa tamak dapat menghilangkan kebebasan batin.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun, kalau direnungkan lebih lama, sindirannya cukup keras.
Sebab, manusia sering merasa sedang mengendalikan hidupnya, padahal keputusan sehari-harinya diam-diam mengikuti keinginan. Kita menyebutnya ambisi. Kita menyebutnya target. Kita menyebutnya perjuangan.
Kadang memang begitu.
Tetapi kadang pula, kita hanya sedang mencari nama yang lebih sopan untuk sebuah ketergantungan.
Elang yang bebas, lalu turun karena umpan
Bayangkan seekor elang terbang tinggi di angkasa. Tidak ada tali yang mengikat kakinya. Tidak ada kandang yang membatasi geraknya. Ia dapat berputar, menukik, lalu kembali naik tanpa harus meminta izin kepada siapa pun.
Sulit membayangkan makhluk yang lebih bebas darinya.
Kemudian matanya menangkap sepotong daging.
Daging itu menggantung di sebuah perangkap.
Elang turun.
Ia tidak turun karena dipaksa. Ia turun karena tertarik. Umpan itu membuatnya meninggalkan ruang aman di angkasa dan mendekati sesuatu yang ternyata menyimpan jebakan.
Dalam kisah perumpamaan tersebut, persoalannya bukan pada daging. Persoalannya terletak pada ketamakan yang membuat elang mengabaikan bahaya.
Di situlah hikmah Ibnu Athaillah terasa dekat dengan kehidupan manusia.
Kita pun mempunyai “daging” masing-masing.
Ada yang berupa uang. Ada jabatan. Ada popularitas. Ada pujian. Ada gengsi. Ada keinginan untuk selalu dianggap berhasil.
Benda-benda itu sendiri tidak otomatis buruk.
Yang berbahaya adalah ketika hati mulai berkata, “Aku harus mendapatkannya, apa pun harganya.”
Saat kalimat itu muncul, kebebasan mulai menyusut.
Ketika ambisi berubah menjadi perbudakan
Islam tidak melarang manusia bekerja keras. Seorang muslim boleh mencari rezeki, membangun usaha, mengejar pendidikan, memiliki rumah, dan meningkatkan taraf hidup.
Masalahnya muncul ketika tujuan duniawi mengambil alih kendali hati.
Orang yang mengejar uang, misalnya, bisa bekerja keras dengan cara yang halal. Itu ikhtiar.
Namun, jika demi uang ia rela menipu, mengorbankan amanah, merusak hubungan keluarga, atau mengabaikan kewajiban kepada Allah, persoalannya sudah berubah.
Begitu pula dengan jabatan.
Mengejar posisi melalui prestasi bukan persoalan. Akan tetapi, menjadikan jabatan sebagai ukuran harga diri dapat membuat seseorang terus hidup dalam kecemasan.
Hari ini ia ingin menjadi kepala bagian.
Besok ingin menjadi direktur.
Setelah itu ingin lebih tinggi lagi.
Tidak ada titik “cukup”.
Di sinilah hamba keinginan bekerja secara halus. Tubuh tetap berjalan bebas, tetapi pikiran terus diperintah oleh sesuatu yang belum dimiliki.
Ibnu Athaillah bahkan menghubungkan ketergantungan tersebut dengan rasa cinta dan kebutuhan yang berlebihan. Dalam syarah atas hikmah ini dijelaskan bahwa rasa tamak terhadap sesuatu dapat mendorong seseorang untuk tunduk dan mengikuti apa yang diinginkannya.
Dengan kata lain, masalah terbesar bukan selalu apa yang kita punya.
Kadang masalahnya adalah apa yang tidak bisa kita lepaskan dari hati.
Al-Qur’an mengingatkan tentang perlombaan yang melalaikan
Al-Qur’an memberikan peringatan keras terhadap manusia yang terlalu sibuk memperbanyak sesuatu.
Allah berfirman:
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.”
(QS. At-Takatsur: 1)
Ayat tersebut membuka Surah At-Takatsur dengan teguran terhadap manusia yang terlena dalam takatsur, yakni berlomba memperbanyak dan membanggakan berbagai kepemilikan serta pencapaian.
Persoalannya bukan sekadar mempunyai harta.
Persoalannya adalah ketika perlombaan memiliki lebih banyak membuat manusia lupa mengapa ia hidup.
Karena itu, ukuran keberhasilan dalam Islam tidak berhenti pada jumlah yang terkumpul.
Ada pertanggungjawaban.
Ada halal dan haram.
Ada amanah.
Ada hak orang lain.
Ada kehidupan akhirat.
Al-Qur’an juga mengingatkan manusia agar tidak silau terhadap berbagai kenikmatan dunia yang diberikan kepada sebagian orang. Kenikmatan tersebut menjadi ujian, sementara apa yang Allah sediakan memiliki nilai yang lebih baik dan lebih kekal.
Pesan ini membantu kita memahami bahwa kebebasan bukan berarti memiliki semua yang diinginkan.
Justru, terkadang kebebasan muncul ketika seseorang mampu mengatakan, “Aku menginginkannya, tetapi aku tidak harus memilikinya.”
Hadis “hamba dinar” dan sindiran yang sangat relevan
Nabi Muhammad SAW juga mengingatkan tentang bahaya ketika harta mengambil posisi terlalu besar dalam hati.
Dalam hadis riwayat Bukhari, Nabi SAW bersabda:
“Celakalah hamba dinar dan hamba dirham…”
Hadis tersebut menggambarkan orang yang begitu bergantung pada harta sehingga ketika mendapat sesuatu ia merasa senang, sedangkan ketika tidak mendapatkannya ia kecewa. Riwayat ini tercantum dalam Shahih al-Bukhari nomor 2887.
Perhatikan istilahnya: hamba dinar.
Nabi tidak mengatakan bahwa setiap orang yang memiliki dinar otomatis menjadi hamba dinar.
Yang mendapat peringatan adalah orang yang hatinya tunduk kepada harta.
Ini perbedaan yang penting.
Memiliki uang adalah satu hal.
Dikuasai uang adalah perkara lain.
Memiliki jabatan adalah satu hal.
Tidak mampu hidup tanpa jabatan adalah perkara lain.
Menerima pujian adalah satu hal.
Menggantungkan harga diri kepada pujian adalah perkara lain.
Rezeki dicari, tetapi hati jangan diperbudak
Ada pula pesan Al-Qur’an yang sering menjadi pengingat dalam urusan rezeki:
وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ
“Dan di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.”
(QS. Adz-Dzariyat: 22)
Para mufasir menjelaskan ayat tersebut dengan beberapa penekanan. Ibn Kathir, misalnya, menyebut rezeki dalam ayat ini berkaitan dengan apa yang turun dari langit seperti hujan, sedangkan bagian “apa yang dijanjikan” memiliki penafsiran yang lebih luas.
Ayat ini bukan alasan untuk berhenti bekerja.
Sebaliknya, manusia tetap perlu berikhtiar.
Namun, ikhtiar dan ketergantungan adalah dua perkara berbeda.
Kita mencari rezeki dengan tangan.
Kita menjaga ketenangan hati dengan tawakal.
Kita mengejar tujuan dengan usaha.
Namun, kita tidak menyerahkan seluruh harga diri kepada hasil.
Di sinilah kebebasan batin menemukan tempatnya.
Jadi, siapa sebenarnya yang menjadi tuan?
Pertanyaan paling penting dari hikmah ini bukanlah, “Berapa banyak harta yang saya punya?”
Pertanyaannya jauh lebih mengganggu:
“Apa yang paling sulit saya lepaskan?”
Kalau kehilangan uang membuat kita kehilangan akal sehat, mungkin uang sudah terlalu jauh masuk ke hati.
Kalau kehilangan jabatan membuat kita merasa tidak berharga, mungkin jabatan sudah berubah menjadi identitas.
Kalau tidak mendapat pujian membuat kita gelisah sepanjang hari, mungkin kita sudah menyerahkan ketenangan kepada penilaian manusia.
Dan kalau sebuah keinginan membuat kita mengorbankan prinsip, mungkin kita sedang berdiri terlalu dekat dengan perangkap.
Ibnu Athaillah tidak sedang menyuruh manusia membenci dunia. Ia sedang mengingatkan agar manusia tidak kehilangan kemerdekaan batin karena dunia.
Sebab, orang boleh memiliki banyak hal tanpa menjadi budaknya.
Ia boleh kaya tanpa diperbudak kekayaan.
Ia boleh terkenal tanpa diperbudak popularitas.
Ia boleh memiliki cita-cita tanpa diperbudak ambisi.
Dan ia boleh bekerja keras tanpa menjadikan hasil sebagai satu-satunya alasan untuk hidup.
Elang itu tidak kehilangan sayapnya.
Ia hanya kalah oleh sepotong daging.
Manusia pun sering tidak kehilangan kebebasannya karena rantai. Kita kehilangan kebebasan ketika keinginan membuat kita rela turun ke perangkap yang sebenarnya sudah terlihat.
Jadi, sebelum mengejar sesuatu terlalu jauh, berhentilah sebentar dan bertanya:
“Aku sedang mengejar keinginan, atau sebenarnya keinginan itu yang sedang memperbudakku?”
Sebab, rantai paling berbahaya bukan yang mengikat kaki, melainkan keinginan yang membuat kita rela menyerahkan hati. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar