Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Buta Hati, Saat Dunia Terasa Lebih Penting dari Allah

Buta Hati, Saat Dunia Terasa Lebih Penting dari Allah

  • account_circle redaktur
  • calendar_month 20 jam yang lalu
  • visibility 19
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH – Alarm Subuh berbunyi. Tangan bergerak cepat, tetapi bukan menuju tempat wudu. Jari justru lebih dulu menyentuh layar ponsel. Notifikasi media sosial dibuka. Grup WhatsApp dibaca. Harga saham dicek. Video pendek berganti tanpa terasa. Ketika matahari mulai meninggi, salat Subuh sudah lewat begitu saja.

Barangkali, inilah gambaran paling sederhana tentang buta hati. Bukan karena mata kehilangan penglihatan, melainkan karena hati yang buta lebih tertarik pada hawa nafsu daripada panggilan Allah. Fenomena penyakit hati seperti ini telah lama diingatkan dalam Hikam karya Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari, jauh sebelum media sosial, notifikasi, dan algoritma memenuhi kehidupan manusia.

Beliau menulis:

الْعَجَبُ كُلُّ الْعَجَبِ مِمَّنْ يَهْرُبُ مِمَّا لَا انْفِكَاكَ لَهُ عَنْهُ وَيَطْلُبُ مَا لَا بَقَاءَ لَهُ مَعَهُ، فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

Artinya:

“Sungguh sangat mengherankan orang yang lari dari sesuatu yang sangat dibutuhkannya dan tidak mungkin terlepas darinya, tetapi justru mengejar sesuatu yang tidak akan kekal bersamanya. Sesungguhnya bukan mata yang buta, melainkan hati yang berada di dalam dada.”

Kalimat itu bukan sekadar nasihat. Ia seperti cermin yang memantulkan wajah manusia modern.

Kita Tak Kekurangan Waktu, Kita Kehilangan Arah

Coba perhatikan kehidupan sehari-hari.

Orang rela mengantre berjam-jam demi membeli gawai terbaru.

Mereka menempuh perjalanan jauh untuk menyaksikan konser.

Bahkan, sebagian orang sanggup begadang demi siaran langsung pertandingan sepak bola.

Namun, ketika azan berkumandang, lima menit menuju masjid terasa terlalu berat.

Di sinilah satir kehidupan itu muncul.

Kita sering berkata tidak punya waktu untuk membaca Al-Qur’an. Padahal laporan penggunaan ponsel menunjukkan waktu layar bisa mencapai lima hingga delapan jam setiap hari.

Kita mengaku sibuk bekerja demi keluarga. Akan tetapi, kesibukan itu terkadang membuat keluarga justru kehilangan teladan dalam beribadah.

Ironinya, semua itu terasa normal.

Padahal, menurut Syekh Ibnu Athaillah, manusia sedang berlari menjauhi sesuatu yang paling ia perlukan, yaitu kedekatan dengan Allah.

Bayangan Dunia Selalu Menang, Padahal Tak Ada yang Kekal

Mengapa manusia begitu mudah tertipu?

Karena dunia selalu tampil menarik.

Diskon terasa mendesak.

Popularitas tampak menggiurkan.

Pujian membuat hati berbunga.

Jumlah pengikut di media sosial sering dijadikan ukuran keberhasilan.

Padahal semua itu hanya singgah.

Hari ini dipuji.

Besok dilupakan.

Hari ini viral.

Minggu depan sudah berganti cerita.

Syekh Ibnu Athaillah menyebut keadaan ini sebagai mengutamakan bayangan daripada hakikat.

Kita mengejar sesuatu yang tidak akan ikut masuk ke liang kubur.

Allah SWT mengingatkan:

“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan, suatu yang melalaikan, perhiasan, saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak-anak.”

(QS. Al-Hadid: 20).

Ayat ini bukan larangan memiliki harta. Ayat ini mengingatkan agar harta tidak memiliki hati kita.

Mengapa Buta Hati Semakin Terlihat di Era Media Sosial?

Media sosial bukan musuh.

Teknologi juga bukan lawan.

Yang perlu diwaspadai ialah ketika keduanya mengambil alih hati.

Hari ini banyak orang lebih cemas kehilangan sinyal internet daripada kehilangan kekhusyukan salat.

Sebagian orang merasa gelisah ketika unggahannya sepi respons. Namun, mereka tetap tenang meski sudah lama tidak menangis dalam doa.

FOMO, budaya pamer, validasi digital, dan perlombaan mengejar citra membuat banyak orang sibuk membangun kesan, tetapi lupa membangun keikhlasan.

Inilah bentuk baru penyakit hati.

Bukan karena teknologi salah.

Melainkan karena hati kehilangan kendali.

Rasulullah SAW bersabda:

“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.”

(HR. Bukhari).

Musafir tidak membangun rumah mewah di tempat persinggahan. Ia tahu perjalanan masih panjang.

Tiga Tanda Hati Mulai Kehilangan Cahaya

Syekh Ibnu Athaillah tidak menyebutkan daftar ini secara eksplisit, tetapi pesan dalam Hikam mengajak setiap orang melakukan muhasabah.

Pertama, ibadah mulai terasa sebagai beban, sedangkan hiburan terasa sebagai kebutuhan.

Kedua, nasihat membuat hati tersinggung, tetapi pujian membuat dada berbunga-bunga.

Ketiga, dosa dilakukan berulang kali tanpa rasa bersalah, sementara amal saleh terus ditunda dengan alasan menunggu waktu yang tepat.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang berada di dalam dada.”

(QS. Al-Hajj: 46).

Ayat ini menjadi penegasan bahwa pusat persoalan bukanlah penglihatan, melainkan arah hati.

Saatnya Berhenti Mengejar Bayangan

Bekerja adalah ibadah.

Mencari rezeki juga perintah agama.

Menjadi kaya bukan kesalahan.

Namun, semuanya berubah ketika dunia menjadi tujuan, bukan sarana menuju Allah.

Rasulullah SAW bersabda:

“Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian.”

(HR. Tirmidzi).

Karena itu, pertanyaan terpenting bukanlah berapa banyak harta yang berhasil dikumpulkan.

Pertanyaannya jauh lebih sunyi.

Apakah hati kita masih mudah tersentuh ketika mendengar ayat-ayat Allah?

Apakah salat masih menjadi tempat pulang, atau hanya rutinitas yang dikerjakan terburu-buru?

Barangkali jawabannya tidak perlu diumumkan kepada siapa pun.

Cukup diketahui oleh diri sendiri dan Allah.

Syekh Ibnu Athaillah tidak mengajak manusia meninggalkan dunia. Beliau mengingatkan agar dunia tidak mengambil alih singgasana hati. Dunia adalah kendaraan, bukan tujuan. Jabatan hanyalah amanah. Harta sekadar titipan. Popularitas tidak pernah menjadi bekal di alam kubur.

Ketika hati kembali menempatkan Allah sebagai tujuan utama, dunia akan berada di tangan, bukan menguasai jiwa.

Sebab tragedi terbesar dalam hidup bukanlah miskin harta, melainkan kaya dunia tetapi bangkrut di hadapan Allah. Mata yang buta masih bisa dituntun menuju jalan. Namun, hati yang buta akan terus berlari mengejar bayangan, sampai maut menghentikan langkahnya. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bupati Tasikmalaya memberikan arahan kepada PNS baru tentang nilai BerAKHLAK ASN dalam pelantikan resmi.

    36 PNS Baru Dilantik, Ini Pesan Tegas Bupati Soal BerAKHLAK

    • calendar_month Senin, 4 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 136
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Nilai BerAKHLAK ASN kembali ditegaskan sebagai fondasi utama birokrasi modern. Bupati Tasikmalaya, Cecep Nurul Yakin, langsung menyampaikan tujuh core values tersebut usai melantik 36 pegawai negeri sipil (PNS) baru, Senin (4/5/2026). Dalam arahannya, ia tidak sekadar meminta nilai BerAKHLAK ASN dihafal. Sebaliknya, ia menekankan agar prinsip tersebut menjadi kompas kerja di […]

  • respons hukum

    Respons Hukum DPRD Tasikmalaya di Tengah Kritik Warga

    • calendar_month Minggu, 11 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 176
    • 0Komentar

    Kasus vandalisme DPRD Kabupaten Tasikmalaya menguji hukum publik: penegakan aturan atau ruang kritik warga demokratis. Vandalisme di Gedung DPRD Kabupaten Tasikmalaya Picu Polemik albadarpost.com, BERITA DAERAH – Aksi vandalisme di gedung DPRD Kabupaten Tasikmalaya memunculkan perdebatan hukum yang lebih luas. Peristiwa ini tidak hanya menyangkut dugaan pengrusakan fasilitas negara, tetapi juga menyentuh fungsi hukum publik […]

  • Putusan MK MBG

    MK Putuskan Anggaran MBG Dipisah, Publik Kini Menanti

    • calendar_month Sabtu, 1 Agt 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 40
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Putusan MK MBG kembali menjadi perhatian publik setelah Mahkamah Konstitusi (MK) memerintahkan agar anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dipisahkan dari anggaran pendidikan paling lambat dalam penyusunan APBN 2028. Putusan Mahkamah Konstitusi tersebut langsung memunculkan pertanyaan besar mengenai langkah pemerintah, terutama karena implementasi sejumlah putusan MK pada masa lalu kerap menjadi sorotan. […]

  • Ilustrasi dramatis Perang Uhud dengan pasukan bertempur dan pemanah meninggalkan posisi strategis di bukit

    Perang Uhud: Saat Kemenangan di Depan Mata Jadi Kekalahan Menyakitkan

    • calendar_month Selasa, 14 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 176
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Perang Uhud bukan sekadar kisah pertempuran biasa. Dalam Perang Uhud, atau pertempuran Uhud ini, kemenangan yang sudah hampir diraih justru berubah menjadi kekalahan yang menyakitkan. Peristiwa Perang Uhud menghadirkan satu realitas pahit: satu celah kecil bisa meruntuhkan segalanya dalam hitungan menit. Bayangkan situasinya—pasukan sudah unggul, lawan mulai mundur, dan harapan kemenangan terbuka […]

  • Videotron Disegel

    Videotron Disegel, Kenapa Padel Bandung Tetap Buka?

    • calendar_month 8 jam yang lalu
    • account_circle redaktur
    • visibility 17
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Aktivitas di kawasan SixNine Padel, Jalan LLRE Martadinata atau Jalan Riau, Kota Bandung, tetap berjalan seperti biasa. Pengunjung masih bermain padel dan menikmati fasilitas yang tersedia. Namun, di sisi lain kawasan itu, sebuah videotron disegel oleh petugas Satpol PP Kota Bandung. Pemandangan yang kontras tersebut langsung memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat: […]

  • Isra Mikraj

    Makna Isra Mikraj dalam Peneguhan Salat Lima Waktu

    • calendar_month Jumat, 16 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 175
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Malam itu sunyi. Kota Mekkah terlelap, sementara Nabi Muhammad SAW menempuh perjalanan yang melampaui batas nalar manusia. Dalam satu malam, beliau bergerak dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa, lalu naik menembus tujuh lapisan langit. Peristiwa itu dikenal sebagai Isra Mikraj, sebuah perjalanan spiritual yang hingga kini menjadi salah satu fondasi utama ajaran […]

expand_less