Pattaya Diperketat, 5.000 Personel AS Tiba Usai 286 Hari
- account_circle redaktur
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

USS Abraham Lincoln dan sekitar 5.000 personel AS tiba di Thailand dekat Pattaya. (Foto: X).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DUNIA – Pattaya, Thailand, kembali menjadi perhatian setelah sekitar 5.000 pelaut dan marinir Amerika Serikat tiba untuk masa istirahat usai menjalani pengerahan panjang selama 286 hari. Di saat yang sama, aparat memperketat pengawasan di sejumlah kawasan kota yang dikenal sebagai pusat pariwisata dan hiburan malam.
Kedatangan rombongan besar tersebut berkaitan dengan USS Abraham Lincoln, kapal induk Angkatan Laut Amerika Serikat yang tiba di Laem Chabang, pelabuhan di Thailand bagian timur, pada Rabu, 2 September 2026.
Dari kawasan pelabuhan itulah para awak kemudian mendapat kesempatan beristirahat di Pattaya dan sekitarnya. Masa kunjungan kapal tersebut berlangsung sekitar lima hari sebelum perjalanan dilanjutkan.
Bagi Pattaya, kedatangan ribuan personel militer bukan sekadar kabar mengenai kapal perang. Ada potensi perputaran uang yang besar, tetapi sekaligus muncul kebutuhan untuk menjaga ketertiban di kota wisata tersebut.
Mengapa Pattaya Memperketat Pengawasan?
Beberapa hari sebelum kedatangan USS Abraham Lincoln, polisi Pattaya bersama petugas sosial melakukan operasi di sejumlah kawasan publik.
Khaosod English melaporkan lebih dari 200 polisi dan pekerja sosial terlibat dalam operasi pada 29 Agustus. Sebanyak 25 perempuan ditahan dalam operasi yang menyasar dugaan aktivitas prostitusi.
Sementara itu, laporan Reuters menyebut operasi akhir pekan tersebut menghasilkan penahanan sekitar 40 hingga 50 orang atas dugaan prostitusi. Polisi juga meningkatkan patroli di kawasan pantai dan distrik hiburan.
Langkah tersebut perlu dibaca secara hati-hati.
Tidak ada dasar untuk menyimpulkan bahwa ribuan personel AS datang ke Pattaya untuk mencari layanan seksual. Kedatangan mereka merupakan bagian dari masa rest and recuperation setelah pengerahan panjang di laut.
Peningkatan pengawasan lebih tepat dipahami sebagai langkah aparat untuk mengantisipasi lonjakan aktivitas di kawasan wisata ketika ribuan personel asing berada di kota tersebut.
Prostitusi sendiri ilegal di Thailand. Namun, Pattaya selama puluhan tahun memiliki reputasi sebagai salah satu pusat hiburan malam dan wisata seks paling terkenal di kawasan Asia Tenggara.
Karena itu, kehadiran ribuan pengunjung tambahan membuat pemerintah lokal harus menjaga keseimbangan antara aktivitas ekonomi dan penegakan aturan.
286 Hari di Laut, Kini Mendapat Waktu Istirahat
Di balik sorotan terhadap Pattaya, terdapat cerita lain mengenai perjalanan panjang USS Abraham Lincoln.
Kapal induk tersebut menjalani pengerahan selama 286 hari. Reuters menyebut durasi tersebut menjadi salah satu pengerahan terpanjang yang pernah dijalani kapal induk Amerika Serikat. Kapal juga menjalankan operasi yang berkaitan dengan konflik di Timur Tengah sebelum akhirnya menuju Thailand.
Kini, ribuan awaknya mendapat kesempatan untuk turun dari kapal dan beristirahat.
Momen tersebut menjadi penting bagi para pelaut dan marinir yang berbulan-bulan menjalani kehidupan di laut. Bagi Pattaya, situasinya juga menciptakan peluang ekonomi yang tidak kecil.
Sejumlah pelaku usaha lokal berharap kedatangan personel AS meningkatkan transaksi di hotel, restoran, transportasi, pusat hiburan, dan berbagai layanan wisata.
Wali Kota Pattaya Poramase Ngampiches sebelumnya memperkirakan setiap personel dapat membelanjakan sekitar 1.000 hingga 3.000 baht per hari, tergantung aktivitas dan lama mereka berada di kawasan tersebut.
Jika angka tersebut dikalikan ribuan personel, potensi perputaran uangnya menjadi signifikan.
Namun, jumlah belanja aktual tentu bergantung pada berapa banyak awak yang turun ke darat, berapa lama mereka berada di Pattaya, serta tujuan masing-masing selama masa istirahat.
Pattaya Berharap Uang Masuk, Polisi Menjaga Batas
Situasi ini memperlihatkan dua wajah Pattaya.
Sebagai destinasi wisata, kota tersebut membutuhkan kedatangan wisatawan dan pengunjung asing untuk menggerakkan ekonomi. Karena itu, kehadiran ribuan personel AS menjadi peluang bagi berbagai sektor usaha.
Di sisi lain, pemerintah tidak ingin lonjakan pengunjung menghidupkan kembali persoalan sosial yang selama ini melekat pada citra Pattaya.
Sejumlah pembatasan dan imbauan juga diberlakukan kepada personel AS selama berada di kawasan tersebut. Aparat Thailand meningkatkan koordinasi untuk memastikan kegiatan wisata berlangsung tertib.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa pemerintah lokal tidak sekadar menghitung jumlah wisatawan.
Mereka juga menghitung dampaknya.
Apalagi, Pattaya memiliki sejarah panjang dengan kehadiran personel militer Amerika. Hubungan tersebut sudah berlangsung sejak era Perang Vietnam ketika Pattaya berkembang sebagai tempat istirahat bagi personel AS.
Kini, sejarah itu muncul kembali dalam situasi yang berbeda.
Bukan Sekadar Kapal Induk yang Datang
USS Abraham Lincoln memang menjadi pusat perhatian. Namun, yang ikut bergerak sebenarnya adalah ekonomi sebuah kota.
Hotel mendapatkan calon tamu. Restoran memperoleh pelanggan baru. Pengemudi dan penyedia jasa wisata melihat peluang. Pedagang lokal berharap transaksi meningkat.
Pada saat yang sama, polisi harus memastikan kawasan publik tetap aman.
Itulah sebabnya pemberitaan mengenai razia Pattaya dan kedatangan 5.000 personel AS perlu ditempatkan dalam konteks yang tepat.
Keduanya berlangsung dalam momentum yang sama, tetapi tidak berarti seluruh personel AS memiliki hubungan dengan aktivitas prostitusi.
Justru konteks tersebut membuat cerita Pattaya jauh lebih menarik.
Sebuah kota wisata sedang menerima ribuan pengunjung setelah kapal perang Amerika menyelesaikan pengerahan selama berbulan-bulan. Pemerintah ingin uang wisatawan mengalir, tetapi mereka juga ingin aturan tetap berjalan.
Pattaya akhirnya menghadapi ujian klasik sebuah kota pariwisata: bagaimana menerima kerumunan besar tanpa kehilangan kendali atas ruang publik.
Bagi Pattaya, 5.000 personel AS bukan sekadar tamu selama lima hari. Mereka membawa peluang ekonomi besar sekaligus menguji apakah kota wisata itu mampu mengubah derasnya arus pengunjung menjadi keuntungan tanpa membiarkan persoalan lama kembali mengambil panggung. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar