Rapor Tasikmalaya 2025-2026: Angka Naik, Apa Dampaknya?
- account_circle redaktur
- calendar_month Selasa, 25 Agt 2026
- visibility 40
- comment 0 komentar
- print Cetak

Taman Kota Tasikmalaya.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
AlbadarPost.com, BERITA DAERAH — IPM Kota Tasikmalaya mencapai 76,59 poin pada 2025, naik dari 76,03 pada tahun sebelumnya. Angka tersebut menjadi salah satu indikator capaian pembangunan yang dirilis dari Dinas Kominfo Kota Tasikmalaya, bersama data ekonomi, pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan lingkungan.
Deretan angka itu memang menunjukkan sejumlah perkembangan positif. Namun, sebuah rapor pembangunan tidak cukup dibaca dari kolom nilai. Ada pertanyaan yang lebih penting: apa yang berubah bagi masyarakat, siapa yang paling merasakan manfaatnya, dan bagian mana yang masih membutuhkan pembuktian lebih lanjut?
AlbadarPost membaca data tersebut bukan sebagai daftar prestasi semata, melainkan sebagai gambaran awal yang perlu diuji melalui konteks dan perkembangan indikator dari waktu ke waktu.
IPM Naik, Tetapi Apa yang Sebenarnya Berubah?
Data yang dirilis Dinas Kominfo Kota Tasikmalaya mencatat IPM 2025 sebesar 76,59 poin, meningkat dari 76,03 pada tahun sebelumnya.
Pada saat yang sama, rata-rata lama sekolah mencapai 9,64 tahun. Harapan lama sekolah berada di angka 13,51 tahun, sedangkan usia harapan hidup mencapai 75,66 tahun. Pengeluaran per kapita tercatat Rp11,8 juta per tahun.
Angka tersebut memberikan sinyal positif mengenai perkembangan pembangunan manusia.
Namun, IPM merupakan indikator agregat. Karena itu, kenaikan nilainya belum otomatis menjelaskan apakah seluruh kelompok masyarakat mengalami peningkatan kualitas hidup dalam tingkat yang sama.
Pertanyaan berikutnya menjadi penting: wilayah mana yang mengalami perubahan paling besar, kelompok masyarakat mana yang masih tertinggal, dan indikator mana yang paling membutuhkan perhatian?
Tanpa pembacaan tersebut, kenaikan IPM mudah berhenti sebagai angka statistik.
Ekonomi Tumbuh 5,39 Persen, Tetapi Siapa yang Menikmatinya?
Pada sektor ekonomi, pertumbuhan Kota Tasikmalaya pada 2025 tercatat 5,39 persen. PDRB mencapai Rp31,99 triliun, sementara PDRB per kapita berada di angka Rp42,13 juta.
Inflasi tercatat 2,67 persen. Kemiskinan ekstrem berada pada angka 0,46 persen, sedangkan tingkat pengangguran terbuka mencapai 6,43 persen. Indeks Gini tercatat 0,355 poin.
Jika dibaca sekilas, rangkaian tersebut menunjukkan kondisi ekonomi yang relatif positif.
Namun, pertumbuhan ekonomi tidak identik dengan pemerataan pendapatan.
PDRB per kapita juga merupakan angka rata-rata. Angka tersebut tidak berarti setiap warga memperoleh pendapatan sebesar nilai tersebut.
Karena itu, pertanyaan publik berikutnya cukup sederhana: sektor apa yang paling mendorong pertumbuhan 5,39 persen tersebut, berapa banyak lapangan kerja yang tercipta, dan apakah pertumbuhan itu benar-benar meningkatkan daya beli masyarakat?
Data tersebut penting karena kualitas pertumbuhan ekonomi tidak hanya ditentukan oleh kecepatannya, tetapi juga oleh seberapa luas manfaatnya.
2.800 Anak Kembali Sekolah, Apa Tantangan Berikutnya?
Di bidang pendidikan, Pemkot Tasikmalaya mencatat 2.800 anak kembali mengakses pendidikan melalui Gerakan Penanganan Anak Tidak Sekolah.
Bantuan pendidikan juga diberikan kepada 422 siswa SD dan 462 siswa SMP. Selain itu, sebanyak 850 peserta didik TK dari keluarga kurang mampu tercatat mendapat bantuan.
Sekolah Rakyat Terintegrasi 41 juga berjalan sejak Agustus 2025 dengan 62 siswa. Untuk tahun ajaran 2026/2027, pemerintah menyiapkan 60 siswa baru.
Capaian tersebut tentu penting.
Namun, mengembalikan anak ke sekolah hanyalah satu tahap. Tantangan berikutnya adalah memastikan mereka tetap bersekolah, memperoleh pembelajaran yang berkualitas, dan memiliki peluang melanjutkan pendidikan.
Dengan demikian, angka 2.800 anak seharusnya tidak hanya menjadi angka keberhasilan program. Data tersebut juga dapat menjadi titik awal untuk mengukur keberlanjutan intervensi pendidikan.
Cek Kesehatan Gratis Layani 282.491 Jiwa
Program Cek Kesehatan Gratis hingga Agustus 2026 disebut telah melayani 282.491 jiwa atau 92,89 persen.
Sementara itu, Program Makan Bergizi Gratis mendapat dukungan 141 SPPG dan menjangkau 246.212 penerima manfaat dengan melibatkan 5.528 relawan.
Cakupan tersebut menunjukkan skala pelayanan yang besar.
Namun, jumlah penerima belum menjawab seluruh pertanyaan tentang kualitas program.
Berapa banyak temuan kesehatan yang berhasil ditindaklanjuti? Bagaimana distribusi layanan antarwilayah? Apakah kelompok yang paling membutuhkan memperoleh akses yang sama?
Pertanyaan tersebut penting karena keberhasilan layanan publik tidak hanya ditentukan oleh jumlah orang yang datang dan tercatat dalam sistem.
Jalan Bertambah, Sampah Juga Perlu Dibaca Lebih Dalam
Pada sektor infrastruktur, data Pemkot mencatat pemeliharaan jalan kota sepanjang 18 kilometer, rekonstruksi 1,5 kilometer, serta pembangunan dan peningkatan jalan lingkungan sepanjang 25,43 kilometer.
Pemerintah juga mencatat pembangunan 14 unit sarana air minum, 8 unit sarana air limbah untuk 90 rumah tangga, serta drainase lingkungan sepanjang 1.730 meter.
Di sektor perumahan, 27 rumah tidak layak huni telah direhabilitasi dan tersedia alokasi 827 unit BSPS.
Sementara itu, pengelolaan lingkungan mencakup pembinaan 73 kelompok bank sampah, TPS3R, dan Program Kampung Iklim. Sebanyak 42 lokasi ruang terbuka hijau, taman, TPU, serta kawasan bukit juga mendapat pemeliharaan berkala.
Untuk penanganan sampah, materi yang dirilis Dinas Kominfo Kota Tasikmalaya mencantumkan target 86.321,70 ton per tahun.
Angka tersebut besar. Justru karena itu, publik membutuhkan data yang lebih rinci.
Berapa volume sampah yang benar-benar berhasil ditangani? Berapa yang masuk proses pengolahan? Berapa yang didaur ulang? Dan berapa yang akhirnya berakhir di tempat pemrosesan akhir?
Pertanyaan tersebut bukan tuduhan adanya masalah. Sebaliknya, ini merupakan kebutuhan transparansi agar masyarakat dapat memahami seberapa efektif program pengelolaan sampah berjalan.
Rapor Pembangunan Tidak Berhenti pada Angka
Jika seluruh data tersebut disatukan, Kota Tasikmalaya memang memiliki sejumlah indikator yang menunjukkan perkembangan.
IPM meningkat. Ekonomi tumbuh. Anak yang sebelumnya tidak sekolah kembali mendapatkan akses pendidikan. Layanan kesehatan menjangkau ratusan ribu warga. Infrastruktur terus dibangun. Program lingkungan juga berjalan.
Namun, membaca pembangunan hanya dari angka positif akan menghasilkan kesimpulan yang terlalu sederhana.
Data capaian pemerintah adalah titik awal, bukan titik akhir.
Masyarakat membutuhkan informasi pembanding dari tahun ke tahun. Publik juga membutuhkan data yang lebih rinci mengenai pemerataan, kualitas layanan, hasil program, serta dampak terhadap kelompok masyarakat yang menjadi sasaran.
Karena itu, capaian yang dirilis Dinas Kominfo Kota Tasikmalaya layak diapresiasi sebagai informasi publik. Pada saat yang sama, angka tersebut tetap perlu dibaca secara kritis dan diuji melalui data yang lebih lengkap.
Sebab, transparansi bukan hanya soal membuka angka.
Transparansi juga berarti memberi kesempatan kepada masyarakat untuk memahami dari mana angka itu berasal, bagaimana menghitungnya, apa hasilnya, dan apa pekerjaan yang masih tersisa.
Tasikmalaya boleh mencatat angka yang lebih baik. Tetapi rapor pembangunan belum selesai hanya karena nilainya naik.
Ujian sesungguhnya bukan ketika pemerintah menunjukkan angka keberhasilan, melainkan ketika warga dapat merasakan perubahan itu tanpa harus mencari-cari buktinya. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar