Rektor Baru ITG Soroti AI, Ini Arah Pendidikan Garut
- account_circle redaktur
- calendar_month 16 jam yang lalu
- visibility 23
- comment 0 komentar
- print Cetak

Pelantikan Rektor ITG Garut (Foto: Pemkab Garut).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
AlbadarPost.com, BERITA DAERAH — Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai mengubah cara perguruan tinggi menjalankan pendidikan. Teknologi ini bukan lagi sekadar alat bantu, tetapi ikut memengaruhi pola belajar mahasiswa, metode penelitian, pelayanan akademik, hingga kebutuhan kompetensi di dunia kerja.
Perubahan tersebut menjadi salah satu perhatian Hilmi Aulawi, Rektor Institut Teknologi Garut (ITG) periode 2026–2031. Dalam acara pelantikannya di Ballroom Al Musaddadiyah, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Sabtu (22/8/2026), Hilmi menegaskan bahwa AI pendidikan harus dimanfaatkan sebagai bagian dari transformasi kampus, tanpa mengorbankan integritas akademik, etika, dan nilai kemanusiaan.
Pernyataan itu membuat pelantikan rektor baru ITG tidak hanya menarik dari sisi pergantian kepemimpinan. Ada agenda yang lebih besar: bagaimana kampus teknologi di Garut menghadapi perubahan pendidikan dalam lima tahun ke depan.
AI Pendidikan Bukan Sekadar Soal Teknologi
Hilmi melihat perkembangan AI telah mengubah lanskap peradaban sekaligus melahirkan berbagai profesi baru. Kondisi tersebut, menurutnya, menuntut perguruan tinggi menyesuaikan cara mendidik mahasiswa.
Pembelajaran, kata Hilmi, perlu menjadi lebih personal, fleksibel, dan kontekstual. Selain itu, pendidikan harus semakin dekat dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Karena itu, AI untuk pendidikan dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat proses tersebut.
Hilmi menyebut pemanfaatan AI dapat diarahkan untuk mendukung pembelajaran, penelitian, pelayanan akademik, pengambilan keputusan, dan inovasi.
Namun, ia memberikan batas yang penting. Penggunaan AI tetap harus berjalan dengan menjaga integritas akademik, etika, dan nilai kemanusiaan.
Batas tersebut menjadi penting karena kemudahan teknologi juga membawa tantangan baru. Mahasiswa tidak cukup hanya mampu menggunakan aplikasi berbasis AI. Mereka tetap membutuhkan kemampuan berpikir kritis, memahami konteks, memeriksa informasi, dan mempertanggungjawabkan hasil pekerjaannya.
Dengan kata lain, teknologi boleh mempercepat proses belajar. Akan tetapi, teknologi tidak boleh menggantikan tanggung jawab intelektual.
ITG Ingin Bergerak dari Kampus Pengajar ke Kampus Berdampak
Visi Hilmi tidak berhenti pada isu kecerdasan buatan.
Ia juga menyoroti perubahan orientasi perguruan tinggi yang menurutnya bergerak dari teaching university, kemudian berkembang menjadi research university, dilanjutkan dengan entrepreneur university, dan kini semakin mengarah pada impactful university.
Perubahan tersebut memperluas ukuran keberhasilan sebuah kampus.
Perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan. Kampus juga dituntut menghasilkan penelitian, melahirkan inovasi, mendorong kewirausahaan, serta memastikan pengetahuan yang dihasilkan memberikan manfaat nyata.
Bagi Institut Teknologi Garut, gagasan tersebut memiliki relevansi langsung dengan kebutuhan daerah.
Garut menghadapi berbagai persoalan yang membutuhkan pendekatan berbasis teknologi, data, inovasi, dan sumber daya manusia. Karena itu, kampus teknologi memiliki ruang besar untuk berkolaborasi dengan pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat.
Di sinilah konsep impactful university akan diuji.
Sebab, istilah tersebut pada akhirnya harus diterjemahkan menjadi hasil yang dapat dilihat dan dirasakan.
Tantangan Rektor ITG 2026–2031 Ada di Implementasi
Pelantikan Rektor ITG 2026–2031 membawa ekspektasi baru. Tetapi, visi yang disampaikan dalam pidato pelantikan baru akan memiliki arti apabila diterjemahkan menjadi program yang terukur.
Pemanfaatan AI, misalnya, tidak cukup hanya ditandai dengan semakin banyaknya penggunaan teknologi dalam kegiatan akademik.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah AI membuat pembelajaran menjadi lebih efektif? Apakah penelitian menjadi lebih produktif? Apakah pelayanan akademik menjadi lebih mudah? Apakah teknologi tersebut membantu menyelesaikan persoalan masyarakat?
Pertanyaan serupa berlaku untuk gagasan impactful university.
Berapa banyak penelitian ITG yang benar-benar digunakan? Berapa banyak inovasi yang menjawab kebutuhan daerah? Seberapa kuat kolaborasi kampus dengan pemerintah dan dunia usaha? Dan yang paling penting, seberapa besar manfaatnya bagi masyarakat Garut?
Pertanyaan-pertanyaan itu bukan untuk mengurangi arti pelantikan rektor baru. Justru sebaliknya, pertanyaan tersebut menjadi ukuran penting untuk melihat apakah visi lima tahun ITG benar-benar menghasilkan perubahan.
Bupati Garut Dorong Sinergi dengan ITG
Dalam acara yang sama, Bupati Garut Abdusy Syakur Amin mengapresiasi kontribusi historis Yayasan Al Musaddadiyah terhadap pembangunan daerah.
Bupati juga menyoroti hubungan antara ITG dan Pemerintah Kabupaten Garut. Ia menyebut banyak alumni ITG yang telah berkiprah di lingkungan pemerintahan daerah.
“Alhamdulillah kita bisa mendapatkan kehormatan itu. Banyak alumni-alumni ITG yang sudah berkiprah di Pemerintah Kabupaten Garut,” ujar Abdusy Syakur.
Ia berharap kepemimpinan rektor baru dapat semakin memperkuat kontribusi ITG terhadap kemajuan daerah.
Harapan tersebut membuka ruang kolaborasi yang lebih luas. Pemerintah memiliki persoalan publik yang membutuhkan solusi, sementara perguruan tinggi memiliki sumber daya akademik, mahasiswa, peneliti, dan teknologi.
Jika keduanya bertemu dalam program yang konkret, kampus tidak hanya menjadi tempat transfer pengetahuan. Kampus dapat menjadi bagian dari ekosistem pemecahan masalah daerah.
Lima Tahun ke Depan Menjadi Ujian bagi Gagasan Baru ITG
Hilmi menyampaikan gagasan yang cukup jelas: ITG harus unggul dalam pembelajaran, produktif dalam penelitian, mampu melahirkan inovasi dan kewirausahaan, serta memastikan pengetahuan yang dihasilkan memberikan dampak nyata.
Tantangannya sekarang adalah bagaimana gagasan tersebut diterjemahkan.
AI dapat menjadi alat penting dalam transformasi pendidikan. Namun, keberhasilan ITG tidak akan ditentukan oleh seberapa banyak teknologi yang digunakan.
Ukuran akhirnya tetap manusia dan dampak.
Mahasiswa harus memperoleh kompetensi yang relevan. Penelitian harus menjawab persoalan. Inovasi harus menemukan pengguna. Kolaborasi harus menghasilkan manfaat. Dan teknologi harus membantu masyarakat, bukan sekadar mempercantik citra kampus.
Artikel ini dikembangkan berdasarkan informasi mengenai pelantikan Rektor ITG periode 2026–2031 serta pernyataan Bupati Garut Abdusy Syakur Amin dan Rektor ITG Hilmi Aulawi dalam acara tersebut.
Penyebutan AI pendidikan, transformasi kampus, dan impactful university dalam artikel ini merupakan konteks dan analisis atas gagasan yang disampaikan dalam momentum pelantikan. Implementasi serta hasil kebijakan tersebut masih perlu dilihat sepanjang masa kepemimpinan 2026–2031.
Pada akhirnya, rektor baru ITG tidak hanya akan diuji oleh kemampuannya membawa kampus mengikuti perkembangan AI. Ia akan diuji oleh pertanyaan yang jauh lebih sederhana sekaligus lebih berat: apakah ilmu, teknologi, dan inovasi yang lahir dari kampus benar-benar sampai kepada masyarakat Garut? Itulah ukuran sesungguhnya dari sebuah kampus berdampak. (GZ)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar