Anak Sering Berbohong? Bisa Jadi Karena Takut Dimarahi
- account_circle redaktur
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 8
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi gambar anak sedang dimarahi orang tua.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HUMANIORA – Anak berbohong tidak selalu berarti ia sengaja ingin menipu orang tua. Dalam kondisi tertentu, rasa takut dimarahi atau dihukum dapat menjadi salah satu faktor yang membuat anak memilih menyembunyikan kesalahan. Karena itu, memahami kenapa anak berbohong penting dilakukan sebelum orang tua langsung memberikan hukuman.
Materi edukasi Kemendukbangga/BKKBN mengingatkan orang tua untuk tetap tenang ketika mendapati anak berbohong, menghargai keberanian anak ketika akhirnya berkata jujur, serta menjelaskan dampak kebohongan tanpa menghakimi.
Pesannya sederhana, tetapi relevan dengan situasi banyak keluarga: ketika anak merasa aman untuk berkata jujur, ia akan lebih berani menyampaikan kebenaran.
Ketika Takut Lebih Besar daripada Keinginan untuk Jujur
Bayangkan seorang anak melakukan kesalahan di rumah.
Ketika ditanya orang tua, ia sebenarnya mengetahui apa yang terjadi. Namun, sebelum menjawab, pikirannya mungkin sudah memprediksi reaksi yang akan diterima.
“Kalau Ayah tahu, aku pasti dimarahi.”
“Kalau Bunda tahu, aku pasti dihukum.”
Dalam kondisi seperti itu, anak dapat memilih jawaban yang menurutnya paling aman. Kebohongan kemudian menjadi cara untuk menghindari konsekuensi yang ia takutkan.
Namun, bukan berarti setiap anak berbohong karena takut dimarahi. Perilaku tersebut memiliki banyak faktor. Usia, perkembangan kognitif, lingkungan keluarga, kemampuan memahami perspektif orang lain, serta situasi yang sedang dihadapi anak juga dapat berpengaruh.
Karena itu, orang tua perlu melihat kebohongan sebagai perilaku yang perlu dipahami sekaligus diarahkan, bukan sekadar alasan untuk memberikan label kepada anak.
Penelitian Talwar: Kebohongan Anak Berkembang Seiring Usia
Materi Kemendukbangga/BKKBN juga mencantumkan rujukan penelitian Victoria Talwar dari McGill University.
Namun, ada hal yang perlu diluruskan agar informasi tersebut tidak disalahartikan.
Penelitian Victoria Talwar dan Kang Lee berjudul Social and Cognitive Correlates of Children’s Lying Behavior diterbitkan dalam jurnal Child Development pada 2008, bukan 2011. Penelitian tersebut melibatkan anak usia 3–8 tahun dan mengkaji hubungan perilaku berbohong dengan perkembangan sosial dan kognitif.
Penelitian itu menemukan bahwa kemampuan anak dalam berbohong dan mempertahankan kebohongan berkaitan dengan sejumlah kemampuan kognitif, termasuk theory of mind dan fungsi eksekutif. Dengan bertambahnya usia, kemampuan anak mempertahankan cerita yang tidak benar juga dapat berkembang.
Dalam pembahasan penelitian tersebut, peneliti menggambarkan perkembangan kebohongan anak dalam beberapa tahap. Kebohongan awal dapat muncul sekitar usia 2–3 tahun, kemudian kemampuan menyembunyikan pelanggaran berkembang pada usia berikutnya. Sekitar usia 7–8 tahun, kemampuan mempertahankan kebohongan menjadi lebih kompleks.
Artinya, anak berbohong merupakan bagian dari fenomena perkembangan yang kompleks. Orang tua tidak seharusnya langsung menyimpulkan bahwa anak yang berbohong pasti memiliki karakter buruk.
Mengapa Respons Orang Tua Penting?
Di sinilah pola komunikasi keluarga menjadi penting.
Jika setiap pengakuan kesalahan selalu mendapat bentakan, penghinaan, atau hukuman yang sangat keras, anak dapat semakin khawatir mengatakan kenyataan.
Sebaliknya, orang tua dapat tetap tegas tanpa membuat anak merasa bahwa kejujuran adalah sesuatu yang berbahaya.
Misalnya, ketika anak memecahkan barang kemudian menyangkalnya, orang tua dapat terlebih dahulu bertanya dengan tenang.
“Apa sebenarnya yang terjadi?”
Setelah anak mengaku, orang tua tetap dapat menjelaskan bahwa tindakannya salah dan harus diperbaiki. Namun, keberaniannya untuk mengatakan yang sebenarnya juga layak dihargai.
Dengan cara tersebut, anak belajar bahwa jujur bukan berarti bebas dari konsekuensi. Ia justru belajar bahwa kejujuran membantu menyelesaikan masalah.
Jangan Terjebak Memberi Label “Pembohong”
Salah satu hal yang perlu dihindari adalah memberi label permanen kepada anak.
Kalimat seperti “Kamu memang pembohong” dapat menggeser pembicaraan dari perilaku menjadi identitas.
Padahal, yang perlu diperbaiki adalah perilakunya.
Orang tua dapat mengatakan, “Jawabanmu tadi tidak sesuai dengan kenyataan. Mari kita bicarakan apa yang sebenarnya terjadi.”
Pendekatan tersebut tetap memberikan batas yang jelas. Namun, anak juga mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki perilakunya.
Selain itu, orang tua perlu menjadi contoh. Anak akan lebih mudah memahami pentingnya kejujuran jika ia melihat orang dewasa di sekitarnya juga berusaha berkata benar dalam kehidupan sehari-hari.
Lalu, Bagaimana Menghadapi Anak yang Berbohong?
Ketika mengetahui anak berbohong, beberapa langkah sederhana dapat dilakukan.
Pertama, tetap tenang. Jangan langsung bereaksi dengan kemarahan yang berlebihan.
Kedua, cari tahu alasannya. Tanyakan apa yang membuat anak memilih tidak mengatakan kenyataan.
Ketiga, pisahkan kesalahan dan identitas anak. Koreksi tindakannya tanpa menyebut anak sebagai “pembohong”.
Keempat, hargai keberanian ketika anak akhirnya jujur. Penghargaan tidak berarti membenarkan kesalahan.
Kelima, jelaskan konsekuensi secara proporsional. Anak tetap perlu memahami bahwa tindakan tertentu memiliki akibat yang harus dipertanggungjawabkan.
Dengan demikian, tujuan pengasuhan bukan sekadar membuat anak takut berbuat salah. Lebih jauh, orang tua ingin membangun kemampuan anak untuk mengakui kesalahan, memperbaikinya, dan bertanggung jawab.
Anak Perlu Merasa Aman untuk Mengatakan Kebenaran
Materi Kemendukbangga/BKKBN menempatkan rasa aman sebagai bagian penting dalam membangun keberanian anak untuk jujur.
Pesan tersebut patut menjadi bahan refleksi bagi orang tua.
Sebab, ketika anak melakukan kesalahan, pertanyaan yang penting bukan hanya “Mengapa kamu berbohong?”
Pertanyaan lainnya adalah:
“Apa yang membuat kamu merasa tidak aman untuk mengatakan yang sebenarnya?”
Jawaban atas pertanyaan kedua bisa membantu orang tua memahami persoalan secara lebih mendalam.
Pada akhirnya, mendidik kejujuran bukan hanya soal menyuruh anak berkata benar. Orang tua juga perlu menciptakan lingkungan tempat anak berani mengatakan kebenaran, termasuk ketika ia melakukan kesalahan.
Anak yang hanya takut pada hukuman mungkin belajar menyembunyikan kesalahan. Anak yang merasa aman belajar mengakuinya. Dan dari keberanian untuk berkata “aku salah”, karakter jujur mulai tumbuh. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar