Instruksi Maulid Muhammadiyah 1971, Muballigh Diminta Di-Upgrade
- account_circle redaktur
- calendar_month 10 jam yang lalu
- visibility 23
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi logo Muhammadiyah.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, PERSPEKTIF — Maulid Muhammadiyah memiliki jejak sejarah yang menarik untuk ditelusuri. Salah satunya terlihat dalam sebuah dokumen bertanggal 12 April 1971 yang memuat instruksi PP Muhammadiyah menjelang peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. Dalam dokumen tersebut, Maulid 1971 tidak hanya berkaitan dengan penyelenggaraan acara, tetapi juga memuat arahan mengenai peran generasi muda, persiapan muballigh dan muballighat, serta kegiatan dakwah di tengah masyarakat.
Dokumen lama itu kembali menarik perhatian karena terdapat istilah “di-upgrade” untuk menggambarkan persiapan muballigh dan muballighat.
Dokumen tersebut dipublikasikan dalam rangkaian arsip yang dibahas Suara Muhammadiyah, dengan sumber yang dicantumkan sebagai Majalah SM 1971. Suara Muhammadiyah juga mencatat bahwa peringatan Maulid telah memiliki jejak panjang dalam tradisi Muhammadiyah.
Namun, isi satu dokumen tahun 1971 tetap perlu dibaca sesuai konteks zamannya. Dokumen itu tidak dengan sendirinya mewakili seluruh pandangan Muhammadiyah mengenai Maulid.
Instruksi Terbit Menjelang Peringatan Maulid
Dokumen tersebut berjudul “Instruksi Peringatan Maulid Nabi” dan mencantumkan tanggal 12 April 1971.
Pada bagian awal, instruksi itu ditujukan kepada cabang-cabang Muhammadiyah yang hendak mengadakan peringatan atau perayaan Maulid Nabi Muhammad saw.
Salah satu arahan yang paling menonjol adalah penyelenggaraan kegiatan agar diserahkan sepenuhnya kepada Angkatan Muda Muhammadiyah.
Dalam dokumen, Angkatan Muda Muhammadiyah yang disebut meliputi Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul ’Aisyiyah, IMM, dan IPM.
Dengan demikian, berdasarkan isi dokumen tersebut, generasi muda mendapat posisi penting dalam pelaksanaan kegiatan Maulid.
Mereka bukan sekadar ditempatkan sebagai peserta. Sebaliknya, instruksi itu memberikan ruang bagi mereka untuk mengambil tanggung jawab dalam penyelenggaraan kegiatan.
Bagi pembaca masa kini, bagian tersebut menarik karena memperlihatkan bagaimana sebuah kegiatan keagamaan juga dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk belajar mengambil peran dalam organisasi dan masyarakat.
Muballigh dan Muballighat Diminta “Di-Upgrade”
Bagian lain yang paling mencuri perhatian terdapat pada arahan mengenai muballigh dan muballighat.
Pimpinan Angkatan Muda Muhammadiyah diminta menyiapkan muballigh dan muballighat untuk menghadapi peringatan Maulid. Mereka juga diminta mendapatkan “DI-UPGRADE” serta diberi arah yang jelas sesuai tema kegiatan.
Istilah tersebut menarik jika dibaca dari perspektif sekarang.
Kata upgrade sangat lazim digunakan dalam dunia teknologi dan pengembangan kompetensi. Namun, dalam dokumen yang berasal dari 1971, istilah itu sudah muncul sebagai bagian dari arahan peningkatan kesiapan muballigh dan muballighat.
Tentu, istilah tersebut harus dipahami berdasarkan konteks dokumen pada zamannya. Yang dapat dipastikan dari teks adalah adanya instruksi agar para penyampai dakwah dipersiapkan sebelum menjalankan tugasnya.
Pimpinan cabang juga diminta membantu proses tersebut agar dapat terlaksana dengan baik.
Karena itu, salah satu pesan penting dokumen ini bukan sekadar soal acara Maulid, tetapi juga tentang kesiapan orang yang akan membawa pesan dakwah.
Maulid Diarahkan Menjadi Momentum Dakwah
Tema yang dicantumkan dalam dokumen 1971 juga menunjukkan cakupan yang lebih luas.
Tema tersebut berbunyi:
“Mewujudkan masyarakat Indonesia dalam suasana damai dan sejahtera dengan menafaskan ukhuwah Islamiyah guna suksesnya pembangunan dan pemilihan umum.”
Tema itu memperlihatkan bahwa peringatan Maulid dalam dokumen tersebut ditempatkan dalam konteks kehidupan masyarakat Indonesia pada masa itu.
Ada perhatian terhadap kedamaian, kesejahteraan, ukhuwah Islamiyah, pembangunan, dan pemilihan umum.
Selanjutnya, instruksi meminta pimpinan cabang Muhammadiyah dan ’Aisyiyah mencurahkan kegiatan untuk meningkatkan kemampuan warga agar dapat menjadi muballigh dan muballighat.
Mereka diarahkan melakukan dakwah melalui pengajian kelompok serta mendatangi rumah tangga Muslim yang dinilai belum aktif menjalankan syariat.
Dengan demikian, berdasarkan dokumen tersebut, kegiatan Maulid tidak berhenti pada satu acara di sebuah tempat.
Ada pula dorongan agar pesan dakwah bergerak ke lingkungan masyarakat.
Angkatan Muda Mendapat Ruang untuk Berdakwah
Arahan kepada Angkatan Muda menjadi bagian yang tidak kalah menarik.
Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul ’Aisyiyah, IMM, dan IPM disebut dalam instruksi sebagai bagian dari kelompok yang diberi tanggung jawab penyelenggaraan.
Hal itu menunjukkan adanya perhatian terhadap regenerasi pelaksana kegiatan.
Namun, penting untuk tidak menarik kesimpulan terlalu jauh. Dokumen tersebut merupakan satu instruksi pada konteks tertentu, bukan bukti bahwa seluruh pola kaderisasi Muhammadiyah sepanjang sejarah selalu berjalan dengan mekanisme yang sama.
Justru karena itu, dokumen ini menarik sebagai sumber sejarah.
Ia memperlihatkan bagaimana PP Muhammadiyah pada periode tersebut memberikan arahan tentang kegiatan Maulid sekaligus menghubungkannya dengan dakwah dan pembinaan warga.
Suara Muhammadiyah dalam tulisan tentang sejarah Maulid juga mencatat adanya instruksi PP Muhammadiyah pada 1976 mengenai penyelenggaraan peringatan Maulid. Dalam instruksi 1976 tersebut, pelaksanaan tidak harus terpaku pada tanggal 12 Rabiul Awal.
Artinya, dokumen 1971 bukan satu-satunya jejak yang menunjukkan adanya perhatian organisasi terhadap kegiatan Maulid.
Mengapa Arsip Ini Penting Dibaca Sekarang?
Arsip organisasi sering kali terlihat sederhana: selembar instruksi, beberapa poin arahan, lalu tersimpan di antara dokumen lama.
Namun, ketika dibaca kembali, isinya dapat memperlihatkan cara sebuah organisasi merespons kebutuhan masyarakat pada zamannya.
Dalam dokumen Maulid Muhammadiyah 1971, setidaknya ada tiga hal yang terlihat jelas: pelibatan generasi muda, persiapan muballigh dan muballighat, serta penggunaan Maulid sebagai momentum dakwah dan pembinaan warga.
Karena itu, nilai menarik dokumen tersebut bukan hanya pada usia arsipnya.
Ada gagasan tentang bagaimana sebuah peringatan keagamaan dapat diisi dengan kegiatan yang memiliki dampak lebih luas.
Pada saat yang sama, konteks historis tetap penting. Pandangan organisasi tentang Maulid memiliki sejarah yang panjang dan tidak sebaiknya disederhanakan hanya berdasarkan satu dokumen. Suara Muhammadiyah sendiri menempatkan peringatan Maulid dalam perjalanan tradisi dan pemikiran Muhammadiyah yang lebih luas.
Jadi, dokumen 12 April 1971 lebih tepat dibaca sebagai satu potongan penting dari jejak sejarah Muhammadiyah, bukan sebagai satu-satunya dasar untuk memahami sikap organisasi terhadap Maulid.
Dan mungkin di situlah bagian paling menariknya.
Lebih dari lima dekade setelah dokumen itu dibuat, satu kata masih terasa sangat aktual: “di-upgrade”. Sebab, zaman boleh berubah, cara berdakwah boleh berkembang, tetapi pesan dasarnya tetap relevan—sebuah mimbar akan jauh lebih berarti ketika orang yang berdiri di atasnya terus meningkatkan kapasitas dirinya. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar