ASEAN Siapkan 145 Program Pendidikan Baru
- account_circle redaktur
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 3
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Pendidikan ASEAN memasuki fase baru. Negara-negara Asia Tenggara sepakat memperkuat kerja sama pendidikan melalui 145 program hingga 2030, mulai dari pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI), perluasan beasiswa, peningkatan kompetensi guru, hingga penguatan pendidikan inklusif. Kesepakatan tersebut dinilai menjadi langkah penting untuk menyiapkan generasi yang mampu bersaing di tengah perubahan teknologi dan kebutuhan dunia kerja yang terus berkembang.
Bagi Indonesia, hasil pertemuan ini membuka peluang lebih luas bagi guru, mahasiswa, dosen, serta lembaga pendidikan untuk terlibat dalam program pertukaran, pelatihan, riset, dan kolaborasi lintas negara. Dengan demikian, kerja sama regional tidak hanya berhenti pada kesepakatan antarpemerintah, tetapi juga berpotensi memberikan manfaat langsung bagi dunia pendidikan nasional.
Kesepakatan itu dihasilkan dalam Pertemuan Menteri Pendidikan ASEAN ke-14 (14th ASEAN Education Ministers Meeting/ASED) yang berlangsung di Singapura pada 22 Juli 2026. Forum tersebut dipimpin oleh Menteri Pendidikan Singapura Y.M. Desmond Lee dengan mengusung tema “Memperkuat ASEAN melalui Pendidikan”.
Dilansir dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), para menteri menyepakati sejumlah agenda strategis untuk memperkuat kualitas pendidikan, memperluas kolaborasi antarnegera, serta meningkatkan daya saing sumber daya manusia di kawasan.
Abdul Mu’ti: Pendidikan Inklusif, AI, dan Pemerataan Menjadi Kesepakatan Bersama
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa seluruh negara anggota ASEAN telah mencapai kesepakatan mengenai berbagai isu strategis pendidikan.
“Ya, tadi sudah disepakati pernyataan bersama dan juga mungkin kita mengikutinya dengan kesepakatan negara-negara ASEAN tentang berbagai isu pendidikan, termasuk di dalamnya mengenai pendidikan inklusif, pemerataan pendidikan, AI, dan juga beberapa program yang telah disepakati dalam pertemuan-pertemuan sebelumnya,” ujar Abdul Mu’ti.
Menurutnya, kesepakatan tersebut menunjukkan arah baru pendidikan ASEAN yang semakin adaptif terhadap perkembangan teknologi tanpa mengabaikan prinsip pemerataan akses belajar dan pendidikan yang inklusif.
Karena itu, kolaborasi regional diharapkan mampu mempercepat peningkatan kualitas pendidikan di seluruh negara anggota.
145 Program Pendidikan ASEAN Disiapkan hingga 2030
Salah satu keputusan penting dalam forum tersebut adalah pengesahan ASEAN Work Plan on Education (AWPE) 2026–2030.
Rencana kerja lima tahunan itu memuat:
- 6 hasil pencapaian utama
- 28 tujuan program
- 145 aktivitas strategis
Program tersebut menjadi pedoman kerja sama pendidikan ASEAN dalam lima tahun mendatang.
Selain itu, negara-negara anggota juga mendukung Deklarasi ASEAN tentang Pembelajaran Fondasional yang berfokus pada penguatan literasi, numerasi, dan keterampilan sosial-emosional. Deklarasi ini dijadwalkan untuk diadopsi dalam KTT ASEAN ke-49 pada November 2026.
AI, Beasiswa, dan Guru Menjadi Prioritas Baru
Selain menyusun rencana kerja, forum ASED ke-14 juga menghasilkan sejumlah inisiatif yang menyentuh kebutuhan pendidikan masa depan.
Program Beasiswa Intra-ASEAN kini memasuki fase pengembangan ASEAN GEMS+. Skema tersebut dirancang untuk memperluas mobilitas mahasiswa, memperkuat kolaborasi perguruan tinggi, serta meningkatkan saling pengertian di antara negara anggota.
Di bidang pendidikan tinggi, ASEAN juga mengembangkan ASEAN GEMS Plus yang mengintegrasikan program pertukaran mahasiswa, beasiswa, hibah penelitian, dan platform Sustainable Development Goals (SDGs).
Sementara itu, untuk meningkatkan kualitas tenaga pendidik, ASEAN sepakat membentuk ASEAN Centre for Teacher Excellence and Development (ACTED) atau Pusat Keunggulan ASEAN untuk Guru.
Inisiatif ini diharapkan memperluas akses pelatihan bagi guru, terutama pendidik pemula dan tenaga pengajar di daerah perdesaan yang selama ini menghadapi keterbatasan akses pengembangan kompetensi.
Teknologi dan Pemerataan Pendidikan Berjalan Bersama
Perkembangan teknologi menjadi salah satu perhatian utama dalam pertemuan tersebut.
Negara-negara ASEAN sepakat memanfaatkan kecerdasan artifisial (AI) untuk memperluas akses pendidikan sekaligus meningkatkan kualitas pembelajaran. Namun, pemanfaatannya harus tetap memperhatikan etika, kesetaraan, keamanan data, dan perlindungan peserta didik maupun pendidik.
Di sisi lain, forum juga mengadopsi pembaruan Kerangka Acuan Kelompok Kerja ASEAN untuk Anak dan Remaja Putus Sekolah.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital tidak boleh meninggalkan kelompok masyarakat yang masih menghadapi hambatan dalam memperoleh pendidikan.
Kemitraan ASEAN Semakin Luas
Selain memperkuat kerja sama internal, para menteri juga menyepakati pembahasan lanjutan atas usulan Republik Rakyat Tiongkok untuk menyelenggarakan Pertemuan Menteri Pendidikan ASEAN–Tiongkok beserta mekanisme pejabat senior terkait.
Forum juga menetapkan bahwa Pertemuan Menteri Pendidikan ASEAN ke-15 akan berlangsung pada 2028 di bawah keketuaan Brunei Darussalam.
Rangkaian keputusan tersebut menunjukkan bahwa kerja sama pendidikan ASEAN terus berkembang seiring meningkatnya tantangan global, kebutuhan inovasi, dan pentingnya penguatan kualitas sumber daya manusia di kawasan.
Kesepakatan di Singapura bukan sekadar dokumen diplomasi. Jika seluruh komitmen ini diwujudkan secara konsisten, jutaan guru, mahasiswa, dan pelajar di Asia Tenggara akan merasakan manfaatnya melalui akses pendidikan yang lebih luas, teknologi yang lebih inklusif, serta peluang belajar lintas negara yang semakin terbuka. Masa depan ASEAN tidak hanya dibangun oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kualitas pendidikan yang mampu menjangkau setiap generasi. (Red)
- Penulis: redaktur



Saat ini belum ada komentar