Hakikat Tauhid: Saat Allah Bukan Lagi Pilihan Kedua
- account_circle redaktur
- calendar_month Rabu, 22 Jul 2026
- visibility 29
- comment 0 komentar
- print Cetak

Seseorang sedang duduk sendiri di atas sajadah setelah shalat Subuh.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH – Hakikat tauhid sering dipahami sebatas keyakinan bahwa Allah Maha Esa. Padahal, menurut para ulama tasawuf, hakikat tauhid jauh lebih dalam. Ia berbicara tentang ke mana hati bergantung, kepada siapa harapan disandarkan, dan siapa yang sesungguhnya menjadi tujuan hidup. Ironisnya, di tengah semangat beribadah yang semakin ramai, tidak sedikit orang justru masih menjadikan dunia sebagai tujuan utama, sementara Allah hanya dianggap sebagai jalan untuk meraihnya.
Fenomena itu terasa dekat dengan kehidupan hari ini. Masjid dipenuhi jamaah. Kajian berlangsung hampir setiap malam. Media sosial ramai dengan kutipan nasihat dan video dakwah. Namun, mengapa hati masih mudah gelisah? Mengapa sedikit kehilangan jabatan membuat seseorang kehilangan arah? Mengapa pujian manusia lebih cepat membahagiakan daripada kedekatan dengan Allah?
Berabad-abad sebelum media sosial lahir, Syekh Athaillah As-Sakandari telah mengingatkan persoalan itu melalui salah satu hikmah dalam Al-Hikam.
اِهْتَدَى الرَّاحِلُونَ إِلَيْهِ بِأَنْوَارِ التَّوَجُّهِ، وَالْوَاصِلُونَ لَهُمْ أَنْوَارُ الْمُوَاجَهَةِ، فَالْأَوَّلُونَ لِلْأَنْوَارِ وَهَؤُلَاءِ الْأَنْوَارُ لَهُمْ، لِأَنَّهُمْ لِلَّهِ لَا لِشَيْءٍ دُونَهُ، قَالَ اللَّهُ: قُلِ اللَّهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ
Artinya, orang-orang yang sedang berjalan menuju Allah memperoleh petunjuk melalui cahaya amal dan ibadah. Adapun mereka yang telah benar-benar sampai kepada-Nya, justru hidup dalam limpahan cahaya kedekatan yang menjadi karunia Allah semata. Mereka tidak lagi terpesona oleh “cahaya”, karena yang mereka cari hanyalah Sang Pemilik Cahaya.
Ketika Amal Berubah Menjadi Alat Mencari Dunia
Inilah satir yang terasa sangat relevan.
Banyak orang memperbanyak doa agar usahanya berkembang. Sebagian menghidupkan malam dengan tahajud demi mengejar promosi jabatan. Ada pula yang rajin bersedekah dengan harapan rezekinya berlipat ganda. Semua itu merupakan amalan yang dianjurkan dalam Islam, selama niatnya tetap lurus.
Namun, Syekh Athaillah seolah mengajak pembaca berhenti sejenak untuk bertanya kepada diri sendiri.
Jika semua keinginan dunia itu tidak Allah berikan, apakah kita masih akan mengetuk pintu-Nya dengan kerinduan yang sama?
Pertanyaan sederhana ini justru menjadi ujian paling jujur bagi hati.
Sebab, seseorang dapat terlihat sangat religius, tetapi diam-diam masih menggantungkan kebahagiaan pada saldo rekening, jabatan, jumlah pelanggan, atau tepuk tangan manusia. Ketika semua itu hilang, semangat ibadah ikut meredup. Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa hati masih berputar mengelilingi dunia, bukan menghadap sepenuhnya kepada Allah.
Syekh Athaillah Mengajarkan Tauhid yang Membebaskan
Syekh Athaillah tidak pernah mengajarkan agar manusia meninggalkan dunia. Beliau juga tidak melarang seseorang bekerja keras, berdagang, atau bercita-cita tinggi. Sebaliknya, beliau mengingatkan agar dunia tidak mengambil alih singgasana hati.
Orang yang baru memulai perjalanan spiritual membutuhkan amal sebagai lentera. Zikir, salat, puasa, sedekah, dan berbagai ibadah menjadi bekal yang menerangi langkahnya.
Namun, setelah hati mengenal Allah, orientasi itu berubah. Amal tetap dilakukan, tetapi bukan lagi untuk mengejar rasa bangga, pujian, atau keuntungan dunia. Amal menjadi ekspresi cinta kepada Allah, bukan alat transaksi dengan-Nya.
Di sinilah letak perbedaan yang sangat halus. Sebagian orang menikmati ibadah karena berharap sesuatu. Sebagian lainnya menikmati ibadah karena telah menemukan Allah sebagai tujuan.
“Katakanlah: Allah”
Syekh Athaillah kemudian mengutip firman Allah SWT:
قُلِ اللَّهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ
Artinya:
“Katakanlah, ‘Allah’, kemudian biarkan mereka tenggelam dalam kesibukan mereka bermain-main.” (QS. Al-An’am: 91)
Ayat ini tidak mengajarkan umat Islam untuk meninggalkan kehidupan. Sebaliknya, ayat tersebut mengingatkan agar hati tidak terperangkap oleh hiruk-pikuk dunia yang sering membuat manusia lupa kepada tujuan akhirnya.
Pesan serupa juga ditegaskan Rasulullah SAW dalam sabdanya:
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجِزْ
Artinya:
“Bersungguh-sungguhlah terhadap sesuatu yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan merasa lemah.” (HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa Islam tidak mengajarkan pasrah tanpa usaha. Ikhtiar tetap wajib, tetapi sandaran hati tidak boleh berpindah dari Allah kepada makhluk.
Mengapa Hati Tetap Gelisah Meski Ibadah Bertambah?
Barangkali inilah pertanyaan yang paling relevan bagi kehidupan modern.
Ada orang yang tidak pernah meninggalkan salat berjamaah, tetapi mudah tersinggung ketika dikritik.
Ada yang rajin menghadiri majelis ilmu, tetapi tetap iri melihat keberhasilan orang lain.
Dan ada pula yang aktif berdakwah, namun kecewa ketika tidak mendapat apresiasi.
Fenomena itu bukan berarti ibadahnya sia-sia. Akan tetapi, Syekh Athaillah mengajak setiap Muslim melakukan muhasabah. Jangan-jangan hati masih mengejar “hasil” dari ibadah, bukan Allah yang menjadi tujuan ibadah itu sendiri.
Padahal, Allah telah berfirman:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
Artinya:
“Carilah negeri akhirat dengan apa yang telah Allah anugerahkan kepadamu, tetapi jangan lupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qashash: 77)
Ayat ini menegaskan keseimbangan. Dunia bukan musuh, melainkan amanah. Harta bukan lawan tauhid, melainkan ujian. Jabatan bukan penghalang menuju Allah, selama tidak menguasai hati.
Renungan untuk Zaman yang Sibuk Mengejar Validasi
Di era ketika jumlah pengikut media sosial sering dijadikan ukuran keberhasilan, ketika pencapaian karier dianggap penentu harga diri, dan ketika pengakuan publik terasa lebih penting daripada keikhlasan, hikmah Syekh Athaillah justru terdengar semakin relevan.
Beliau tidak sedang mengajak manusia membenci dunia. Beliau hanya mengingatkan agar dunia tidak menjadi kiblat hati.
Sebab, hati yang menggantungkan kebahagiaan kepada manusia akan ikut jatuh ketika manusia berpaling. Sebaliknya, hati yang bergantung kepada Allah tetap teguh, sekalipun kehilangan apa yang selama ini dianggap paling berharga.
Dunia memang boleh singgah di tangan, tetapi jangan pernah duduk di hati. Sebab, ketika Allah masih dijadikan jalan menuju dunia, tauhid baru sebatas ucapan. Namun, ketika dunia berubah menjadi jalan menuju Allah, di situlah hakikat tauhid benar-benar menemukan rumahnya. (Red)
- Penulis: redaktur



Saat ini belum ada komentar