Konser Kemanusiaan Unpad Himpun Rp140 Juta untuk Gaza

Konser kemanusiaan Unpad menggalang Rp140 juta untuk Gaza melalui kolaborasi kampus, alumni, dan seniman.
albadarpsot.com, HUMANIORA – Ribuan pengunjung memadati Lapangan Merah Universitas Padjadjaran pada Jumat, 28 November 2025. Konser kemanusiaan bertajuk Sound for Humanity digelar sebagai bagian dari Dies Natalis ke-68, menjadi forum publik yang menghimpun dukungan bagi warga Gaza. Kegiatan ini diinisiasi oleh Ikatan Alumni Universitas Padjadjaran (IKA Unpad), bekerja sama dengan pihak kampus serta lembaga kemanusiaan SADAQA. Bukan sekadar hiburan, konser tersebut menghadirkan mekanisme penggalangan dana yang terukur dan disalurkan langsung ke kebutuhan mendesak masyarakat sipil yang terdampak konflik.
Sekretaris Jenderal IKA Unpad, Yhodisman Soratha, menegaskan arah acara tersebut. “Kami tidak tinggal diam melihat penderitaan di Gaza. Musik kami pilih sebagai medium untuk menyampaikan doa, dukungan, dan harapan akan perdamaian,” ujarnya melalui keterangan resmi, Selasa, 2 Desember 2025. Pesan itu menjadi fondasi Sound for Humanity: mengubah panggung seni menjadi kanal solidaritas publik yang konkret.
Ketua panitia, Yeni Fatmawati, menyampaikan bahwa konser kemanusiaan ini dirancang secara kolaboratif. “Konser ini dirancang sebagai ruang kolaborasi antara masyarakat, kampus, alumni, dan seniman untuk menumbuhkan semangat empati bersama,” katanya. Format acara tidak diarahkan pada sensasi, tetapi pada partisipasi. Seniman diberi ruang, pengunjung diberikan kanal donasi, dan lembaga penyalur menyediakan transparansi tujuan.
Direktur SADAQA, Ahmad Rofiqi, memastikan penyaluran bantuan dilakukan berdasarkan prioritas kebutuhan lapangan. Ia menyatakan bahwa donasi akan diarahkan untuk dukungan kesehatan, logistik dasar, serta penyediaan perlindungan sosial bagi warga Gaza. “Setiap rupiah yang terkumpul memiliki tujuan jelas,” ucapnya.
Panggung Kemanusiaan dan Partisipasi Publik
Hujan mengguyur area konser sebelum pintu masuk dibuka. Kondisi itu tidak menyurutkan massa. Penampilan ToneWaves menjadi pembuka acara. Paduan Suara Mahasiswa Unpad bersama Panji Sakti menghadirkan nuansa yang lebih senyap. Pada momen itu, sebuah bendera Palestina berukuran 20 x 30 meter dibentangkan di tengah lapangan. Tindakan tersebut bukan atraksi visual, melainkan simbol empati publik.
Rangkaian penampilan berjalan tanpa jeda panjang. HiVi! memanaskan kembali suasana setelah jeda adzan Magrib dan Isya. Penyair Yeni Fatmawati serta Hikmat “Berdoa” Gumelar mengisi sesi jeda dengan pembacaan puisi bertema kemanusiaan. Malam kemudian beralih ke warna lain saat band Kuburan tampil bersama 14 anak beratribut Palestina. Mereka tidak hanya hadir sebagai pengiring, tetapi sebagai representasi generasi muda yang perlu memahami nilai solidaritas.
Baca juga: Reintroduksi Banteng Jawa: Mandat Negara, Regulasi Konservasi, dan Celah Pertanggungjawaban
Suasana berubah kembali saat trio metal asal Garut, Voice of Baceprot, tampil. Kehadiran mereka membawa lapisan berbeda: ekspresi budaya dari kalangan muda Indonesia yang beririsan dengan isu hak asasi manusia. Sebagai penutup, The Changcuters tampil dengan energi penuh hingga akhir acara. Penonton bertahan sampai panggung dimatikan.
Panitia mencatat total donasi Rp140.271.514. Angka tersebut dikumpulkan dari kontribusi langsung penonton, kanal donasi daring, dan dukungan mitra. Hasilnya menunjukkan bahwa konser kemanusiaan tidak berhenti pada simbol empati, tetapi berujung pada aksi nyata.
Konteks, Dampak, dan Catatan Kritis
Gelaran ini mencerminkan pergeseran fungsi seni dari sekadar hiburan menuju alat partisipasi publik. Pada level kampus, acara semacam ini menunjukkan posisi universitas bukan hanya sebagai institusi akademik, tetapi aktor sosial yang aktif dalam isu kemanusiaan global. Unpad memanfaatkan jejaringnya: alumni, mahasiswa, dan mitra eksternal. Model kolaboratif ini dapat direplikasi oleh kampus lain, asalkan memiliki ekosistem organisasi dan kontrol penyaluran dana yang jelas.
Di luar panggung, konser kemanusiaan menjadi refleksi tentang bagaimana isu internasional dapat menggerakkan agenda lokal. Solidaritas publik terhadap Gaza ditunjukkan bukan melalui retorika, tetapi melalui distribusi donasi terukur. Lembaga kemanusiaan datang bukan sebagai citra, melainkan sebagai pengelola risiko, memastikan dana publik berpindah dari panggung ke lapangan dengan akuntabilitas yang dapat ditelusuri.
Kegiatan ini menyisakan catatan: dana terkumpul bukan akhir, tetapi awal proses. Komunitas kampus tetap memiliki tanggung jawab moral memantau distribusi bantuan hingga sampai kepada penerima.
Konser kemanusiaan Unpad menghadirkan donasi nyata bagi Gaza, menunjukkan peran kampus sebagai aktor solidaritas publik lintas elemen. (Red/Asep Chandra)




