Riya, Musuh Sunyi yang Menghabiskan Pahala

albadarpost.com, OPINI – Nanti, ketika manusia berdiri sendiri di hadapan Allah, amal tidak lagi bersuara lantang. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada sanjungan. Yang tersisa hanyalah niat yang pernah tersembunyi di dalam dada.
Pada saat itu, banyak manusia terdiam. Mereka melihat amal yang dahulu tampak besar, namun kini terasa ringan. Ada salat yang rajin, sedekah yang rutin, serta dakwah yang luas. Akan tetapi, semua itu berdiri tanpa ruh.
Syekh Athaillah As-Sakandari telah lama mengingatkan melalui Al-Hikam, “Tanamlah dirimu dalam tanah kerendahan, sebab setiap sesuatu yang tumbuh tanpa ditanam tidak akan sempurna buahnya.” Kalimat ini terasa semakin tajam ketika amal tidak ditanam dalam kerendahan dan keikhlasan.
Keinginan Terkenal yang Menghancurkan dari Dalam
Tidak ada sesuatu yang lebih berbahaya bagi pelaku amal kebajikan selain keinginan tersembunyi untuk diakui. Pada awalnya, seseorang beramal karena Allah. Namun seiring waktu, ia mulai menoleh pada pandangan manusia.
Baca juga: Psikologi Nafsu dalam Islam: Peta Batin Manusia yang Tak Pernah Netral
Di sanalah hawa nafsu mengambil alih. Keinginan akan kedudukan dan popularitas tumbuh perlahan. Padahal, amal yang bercampur riya kehilangan nilainya di sisi Allah.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah bersabda:
“Barang siapa yang merendahkan diri karena Allah, maka Allah akan memuliakannya. Dan barang siapa yang menyombongkan diri, maka Allah akan menghinakannya.”
(HR. Muslim)
Hadis ini akan menjadi kenyataan mutlak di masa depan. Mereka yang merendah akan Allah angkat, sementara mereka yang membesarkan diri akan diturunkan tanpa kehormatan.
Peringatan Ulama tentang Penyakit Riya
Syekh Ibrahim bin Adham rahimahullah berkata dengan nada yang sangat tegas, “Jangan engkau berbicara tentang mencari keridaan Allah, sementara di hatimu masih terbersit keinginan untuk terkenal.” Nasihat ini terasa seperti cermin bagi hati yang belum bersih.
Al-Qur’an pun menyingkap bahaya riya secara gamblang. Allah berfirman:
“Maka celakalah orang-orang yang salat, yaitu mereka yang berbuat riya.”
(QS. Al-Ma’un: 4–6)
Ayat ini menegaskan bahwa ibadah yang tampak indah bisa berubah menjadi petaka jika niatnya rusak. Oleh karena itu, amal tidak cukup hanya dikerjakan, tetapi harus dijaga dari penyakit hati.
Riya Menggerogoti Pahala Tanpa Suara
Riya tidak selalu terlihat. Ia bekerja dalam diam. Ia masuk melalui rasa bangga, lalu tumbuh menjadi harapan pujian. Akibatnya, pahala amal terkikis sedikit demi sedikit hingga tak bersisa.
Baca juga: Batal Wudhu? Ini Larangan yang Wajib Diketahui Muslim
Karena itu, seorang mukmin perlu menjaga dan membersihkan hatinya. Ikhlas harus menjadi benteng utama. Tanpa ikhlas, amal hanya menjadi rutinitas kosong.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Padahal mereka hanya diperintah untuk menyembah Allah dengan ikhlas.”
(QS. Al-Bayyinah: 5)
Ayat ini menegaskan bahwa inti dari semua ibadah adalah keikhlasan. Tanpanya, amal tidak memiliki nilai di akhirat.
Menanam Rendah untuk Menuai Kemuliaan
Selama waktu masih ada, hati perlu terus diawasi. Setiap amal perlu ditanya ulang: untuk siapa semua ini dilakukan? Dengan muhasabah yang jujur, riya dapat ditekan, dan ikhlas dapat ditumbuhkan.
Kelak, manusia tidak diselamatkan oleh banyaknya amal, melainkan oleh kemurnian niat. Maka tanamlah diri dalam kerendahan, agar amal berbuah keselamatan.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Penulis: Diki Samani (Pemimpin Redaksi AlbadarPost)




