Toleransi Tasikmalaya Menguat, Warga Lintas Agama Jalan Bersama
- account_circle redaktur
- calendar_month Sabtu, 22 Agt 2026
- visibility 26
- comment 0 komentar
- print Cetak

Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan, S.T., MBA. bersama Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat H. Dudu Rohman, M. Si., Sabtu (22/8/26). (Foto: Kemenag Jabar).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HUMANIORA – Toleransi Tasikmalaya kembali mendapat ruang dalam kehidupan masyarakat. Di Kelurahan Empangsari, Kecamatan Tawang, semangat toleransi antarumat beragama dibangun melalui kegiatan yang sederhana, tetapi memiliki pesan sosial kuat: jalan santai lintas agama, Sabtu (22/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi ruang perjumpaan masyarakat dari latar belakang keyakinan yang berbeda. Mereka tidak datang untuk menyeragamkan perbedaan, melainkan menunjukkan bahwa kehidupan bersama tetap bisa berjalan dalam suasana saling menghormati.
Wali Kota Tasikmalaya mengajak masyarakat memperkuat toleransi melalui kegiatan tersebut. Karena itu, agenda jalan santai tidak hanya dapat dilihat dari sisi olahraga. Ada pesan mengenai kerukunan dan kebersamaan yang ingin dibangun di tengah masyarakat.
Empangsari sendiri bukan wilayah yang baru mengenal agenda moderasi beragama. Kelurahan ini telah menjadi salah satu wilayah yang dipilih sebagai Kampung Moderasi Beragama Kota Tasikmalaya sejak 2023.
Empangsari sudah lebih dulu menjadi Kampung Moderasi Beragama
Pada 26 Juli 2023, Kelurahan Empangsari, Kecamatan Tawang, dan Kelurahan Nagarawangi, Kecamatan Cihideung, ditetapkan sebagai wilayah Kampung Moderasi Beragama di Kota Tasikmalaya.
Penetapan tersebut melibatkan sejumlah unsur, mulai dari Kementerian Agama, KUA, penyuluh agama, Forum Kerukunan Umat Beragama atau FKUB, hingga organisasi masyarakat lintas agama dan budaya.
Konteks tersebut membuat perkembangan toleransi Tasikmalaya di Empangsari menarik untuk dicermati.
Sebab, moderasi beragama tidak berhenti pada pemberian predikat. Nilainya perlu hadir dalam kehidupan sehari-hari. Warga harus memiliki ruang untuk bertemu, berkomunikasi, dan bekerja sama tanpa menjadikan perbedaan keyakinan sebagai penghalang hubungan sosial.
Pemerintah Kota Tasikmalaya sebelumnya juga menempatkan keberagaman sebagai kondisi yang harus dikelola dengan baik. Heterogenitas masyarakat dapat menjadi tantangan ketika tidak dikelola, tetapi pada saat yang sama dapat menjadi kekuatan untuk membangun toleransi dan kehidupan kota yang lebih baik.
Jalan santai menjadi ruang bertemu warga
Dalam konteks tersebut, kegiatan jalan santai lintas agama memiliki makna yang cukup sederhana.
Warga berjalan bersama.
Mereka berada dalam satu ruang publik, berinteraksi, dan membangun komunikasi tanpa harus menghilangkan identitas masing-masing.
Di sinilah toleransi antarumat beragama mendapatkan bentuk yang lebih konkret. Toleransi tidak hanya dibicarakan dalam forum resmi, tetapi juga dapat tumbuh dari interaksi sosial yang berlangsung secara alami.
Selain itu, kegiatan bersama dapat membuka kesempatan bagi masyarakat untuk saling mengenal. Hubungan yang semakin dekat akan memudahkan warga membangun kepercayaan ketika menghadapi persoalan lingkungan.
Karena itu, pesan toleransi yang disampaikan melalui kegiatan semacam ini tidak harus selalu berbentuk pidato panjang.
Kadang, kebersamaan justru berbicara lebih kuat.
Toleransi bukan berarti menghapus perbedaan
Ada satu hal penting yang perlu dipahami ketika membicarakan moderasi beragama Tasikmalaya.
Toleransi bukan berarti semua orang harus memiliki keyakinan yang sama.
Sebaliknya, toleransi tumbuh ketika masyarakat mampu menghormati orang lain yang mempunyai keyakinan berbeda. Setiap warga tetap menjalankan agamanya masing-masing, sementara hubungan sosial tetap dibangun dengan sikap saling menghormati.
Kondisi itu relevan dengan karakter Kota Tasikmalaya yang memiliki masyarakat dengan latar belakang beragam. Data yang dimuat Pemerintah Kota Tasikmalaya pada 2023 mencatat keberadaan enam agama dan berbagai kelompok etnis di wilayah tersebut.
Karena itu, kerukunan umat beragama membutuhkan kebiasaan yang terus dipelihara.
Tidak cukup hanya ketika ada acara.
Tidak cukup hanya ketika pejabat hadir.
Kerukunan harus menjadi bagian dari kehidupan warga sehari-hari.
Tantangan terbesar justru setelah kegiatan selesai
Jalan santai lintas agama tentu bukan akhir dari upaya membangun toleransi.
Justru setelah kegiatan berakhir, keberlanjutan menjadi tantangan berikutnya.
Bagaimana komunikasi antarkelompok tetap berjalan? Bagaimana anak muda ikut mengambil bagian? Bagaimana persoalan sosial diselesaikan tanpa memperbesar perbedaan identitas?
Pertanyaan tersebut penting karena Kampung Moderasi Beragama membutuhkan dukungan berbagai pihak agar programnya tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial.
Sebuah penelitian mengenai implementasi Kampung Moderasi Beragama di Jawa Barat mencatat bahwa Empangsari dan Nagarawangi di Tasikmalaya telah menjalankan berbagai aktivitas untuk memperkuat kohesi sosial, termasuk kegiatan sosial dan kerja sama lintas agama. Penelitian tersebut juga menekankan pentingnya dukungan pemerintah, lembaga keagamaan, dan partisipasi masyarakat agar program dapat berkelanjutan.
Artinya, kegiatan jalan santai dapat menjadi salah satu bagian dari proses yang lebih panjang.
Bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.
Empangsari punya peluang menjadi contoh
Empangsari memiliki modal sosial yang cukup penting karena wilayah ini telah masuk dalam program Kampung Moderasi Beragama.
Namun, status tersebut tetap membutuhkan pembuktian melalui kehidupan masyarakat.
Ketika warga terbiasa bekerja sama, saling membantu, dan menjaga komunikasi meskipun berbeda keyakinan, nilai moderasi akan terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, dorongan agar Empangsari menjadi contoh kelurahan toleran perlu dilihat sebagai proses yang harus terus dibangun, bukan sebagai predikat yang sudah selesai.
Pemerintah memiliki peran dalam menciptakan kebijakan dan ruang perjumpaan. Tokoh agama dapat menjaga komunikasi antarumat. Sementara itu, masyarakat menjadi aktor utama yang menentukan apakah toleransi benar-benar hidup di lingkungan mereka.
Jika ketiga unsur tersebut berjalan bersama, toleransi Tasikmalaya memiliki peluang tumbuh bukan hanya sebagai slogan, tetapi sebagai budaya sosial.
Jalan santai hanya langkah kecil
Kegiatan lintas agama di Empangsari mungkin hanya berlangsung dalam satu agenda.
Namun, pesan yang dibawanya dapat jauh lebih panjang.
Warga berbeda keyakinan bisa berjalan bersama. Mereka bisa berbicara, saling mengenal, dan berbagi ruang tanpa harus kehilangan identitas masing-masing.
Itulah inti dari kerukunan.
Bagi Tasikmalaya, pekerjaan berikutnya bukan sekadar membuat lebih banyak kegiatan lintas agama. Yang jauh lebih penting adalah menjaga agar perjumpaan tersebut melahirkan hubungan sosial yang bertahan setelah acara selesai.
Empangsari telah memiliki pengalaman sebagai Kampung Moderasi Beragama sejak 2023. Kini, ruang-ruang kebersamaan kembali menjadi bagian dari upaya memperkuat kehidupan masyarakat yang rukun.
Toleransi tidak diukur dari seberapa sering kita berbicara tentang perbedaan, tetapi dari seberapa kuat kita tetap bisa berjalan bersama setelah menyadari bahwa kita memang berbeda. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar