Breaking News
light_mode
Beranda » Humaniora » Hari Pramuka 2026: Dasa Darma Diuji di Era Digital

Hari Pramuka 2026: Dasa Darma Diuji di Era Digital

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Jumat, 14 Agt 2026
  • visibility 62
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HUMANIORA – Setiap 14 Agustus, Indonesia memperingati Hari Pramuka. Namun, Hari Pramuka 2026 seharusnya tidak berhenti pada upacara, seragam cokelat, kemah, atau ucapan di media sosial. Ketika generasi muda hidup di tengah arus informasi, kecerdasan buatan, dan media sosial, nilai Dasa Darma Pramuka justru menghadapi medan ujian yang baru.

Tahun ini, Gerakan Pramuka memperingati Hari Pramuka ke-65 dengan tema “Memantapkan Langkah Organisasi Mendukung Swasembada Pangan Menuju Indonesia Emas 2045.” Kwarnas menyebut tema tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat peran Pramuka dalam pembinaan generasi muda dan agenda masa depan bangsa.

Pertanyaannya kemudian bukan sekadar apakah Pramuka masih relevan.

Pertanyaan yang lebih menarik adalah: bagaimana nilai Pramuka diterapkan ketika sebagian besar kehidupan generasi muda juga berlangsung di ruang digital?

14 Agustus dan Perjalanan Gerakan Pramuka

Tanggal 14 Agustus memiliki akar sejarah yang kuat.

Kwartir Nasional mencatat Gerakan Pramuka diperkenalkan secara resmi kepada masyarakat pada 14 Agustus 1961. Momentum tersebut menjadi tonggak penting berdirinya Gerakan Pramuka sebagai organisasi pendidikan nonformal yang menyelenggarakan pendidikan kepanduan di Indonesia.

Dasar kelembagaan Gerakan Pramuka kemudian diperkuat melalui Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka, yang hingga kini berstatus berlaku. UU tersebut menempatkan pendidikan kepramukaan sebagai bagian dari upaya membentuk kepribadian, pengendalian diri, kecakapan hidup, serta karakter generasi muda.

Karena itu, peringatan Hari Pramuka bukan hanya mengenang sebuah tanggal.

Ada pesan pendidikan yang jauh lebih besar di dalamnya.

Dasa Darma Menghadapi Dunia yang Berubah

Generasi Pramuka masa lalu menghadapi tantangan yang berbeda dengan generasi sekarang.

Hari ini, seseorang dapat memperoleh ribuan informasi hanya melalui telepon genggam. Dalam beberapa detik, sebuah kabar dapat menyebar ke banyak orang. Kecerdasan buatan bahkan memungkinkan seseorang membuat teks, gambar, audio, hingga video dengan sangat cepat.

Teknologi memberikan manfaat besar.

Namun, teknologi juga menguji karakter.

Kejujuran, misalnya, tidak hanya diuji ketika seseorang berbicara secara langsung. Kejujuran juga diuji ketika seseorang menerima informasi yang belum jelas sumbernya.

Tanggung jawab tidak hanya berlaku saat mengikuti kegiatan kelompok. Nilai itu juga muncul ketika seseorang mempertimbangkan dampak sebelum mengunggah sesuatu.

Begitu pula kedisiplinan. Tantangannya bukan hanya datang tepat waktu saat latihan, tetapi juga mampu mengendalikan penggunaan gawai agar teknologi tidak mengendalikan dirinya.

Di sinilah Dasa Darma Pramuka menemukan medan pengujian baru.

5 Dasa Darma di Era Digital

Nilai kepramukaan tidak harus berhenti pada kegiatan lapangan. Nilai tersebut dapat diterjemahkan ke dalam kebiasaan sehari-hari, termasuk ketika generasi muda menggunakan internet.

1. Takwa kepada Tuhan: gunakan teknologi dengan tanggung jawab

Teknologi merupakan alat, bukan tujuan hidup.

Menggunakan media sosial, AI, dan internet secara bertanggung jawab berarti mempertimbangkan apakah tindakan tersebut membawa manfaat atau justru merugikan diri sendiri dan orang lain.

Karakter tetap menjadi pengendali ketika teknologi menawarkan banyak pilihan.

2. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia: jangan jadikan internet ruang untuk menyakiti

Komentar kasar mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk ditulis. Namun, dampaknya bagi orang lain bisa jauh lebih lama.

Karena itu, menghormati orang lain juga berlaku di ruang digital.

Tidak melakukan perundungan, tidak mempermalukan orang lain, dan tidak menyebarkan konten yang merugikan merupakan bentuk sederhana dari kepedulian terhadap sesama.

3. Patriot yang sopan dan kesatria: kritis tanpa kehilangan etika

Perbedaan pendapat merupakan bagian dari kehidupan.

Di media sosial, seseorang dapat berhadapan dengan pandangan yang berbeda setiap hari. Namun, berbeda pendapat tidak berarti harus menghina.

Generasi muda membutuhkan keberanian untuk menyampaikan pendapat sekaligus kemampuan menjaga kesopanan.

4. Rela menolong dan tabah: gunakan teknologi untuk membantu

Teknologi juga dapat menjadi sarana kebaikan.

Pelajar dapat berbagi materi belajar. Komunitas dapat menyebarkan informasi kebencanaan. Relawan dapat menggalang bantuan. Bahkan AI dapat membantu seseorang memahami materi yang sulit jika digunakan secara bertanggung jawab.

Dengan demikian, teknologi tidak hanya menghasilkan konten.

Teknologi juga dapat menghasilkan manfaat.

5. Hemat, cermat, bersahaja, disiplin, bertanggung jawab: jangan mudah percaya

Salah satu tantangan terbesar era digital adalah banjir informasi.

Tidak semua informasi benar. Tidak semua gambar autentik. Tidak semua jawaban AI akurat.

Karena itu, generasi muda perlu membiasakan diri memeriksa sumber sebelum membagikan informasi.

Kebiasaan sederhana tersebut merupakan bentuk nyata kecermatan dan tanggung jawab.

Pramuka Tidak Cukup Hanya Pandai Berkemah

Keterampilan berkemah, tali-temali, navigasi, pertolongan pertama, dan kegiatan alam tetap memiliki tempat penting dalam pendidikan kepramukaan.

Namun, tantangan zaman telah berkembang.

Generasi muda juga membutuhkan kecakapan digital, kemampuan berpikir kritis, literasi informasi, serta etika ketika menggunakan teknologi.

UU Nomor 12 Tahun 2010 sendiri menempatkan pendidikan kepramukaan sebagai proses yang meningkatkan kemampuan spiritual dan intelektual, keterampilan, serta ketahanan diri melalui metode belajar yang interaktif dan progresif.

Karena itu, Pramuka yang adaptif bukan berarti meninggalkan tradisi.

Sebaliknya, nilai lama diterapkan untuk menghadapi persoalan baru.

Dari Dasa Darma ke Etika Menggunakan AI

Kecerdasan buatan menghadirkan tantangan yang semakin nyata.

Seorang pelajar dapat meminta AI membuat tugas. Seorang pembuat konten dapat menggunakan AI menghasilkan gambar. Masyarakat dapat meminta mesin menjawab pertanyaan dalam hitungan detik.

Pertanyaannya bukan sekadar apakah teknologi tersebut boleh digunakan.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Apakah kita menggunakannya dengan jujur dan bertanggung jawab?

Menggunakan AI untuk membantu memahami pelajaran berbeda dengan mengakui hasil mesin sebagai karya sendiri tanpa proses belajar.

Menggunakan AI untuk mencari ide juga berbeda dengan menyebarkan informasi yang belum diverifikasi.

Di sinilah nilai Pramuka kembali relevan.

Teknologi boleh semakin pintar. Manusia tetap membutuhkan karakter.

Hari Pramuka 2026 dan Arah Menuju Indonesia Emas

Tema Hari Pramuka ke-65 tahun 2026 tidak berhenti pada persoalan organisasi. Kwarnas mengaitkannya dengan swasembada pangan dan Indonesia Emas 2045.

Pesan tersebut menarik karena masa depan bangsa tidak hanya bergantung pada teknologi.

Indonesia juga membutuhkan generasi yang mampu bekerja sama, peduli lingkungan, mandiri, disiplin, dan mau menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat.

Karena itu, Pramuka dapat menjadi ruang untuk menghubungkan karakter dengan aksi.

Anak muda tidak cukup hanya mengetahui persoalan pangan. Mereka perlu belajar bagaimana menjaga lingkungan, menghargai petani, mengurangi pemborosan, dan bekerja bersama masyarakat.

Begitu pula dalam isu digital.

Generasi muda tidak cukup hanya mahir menggunakan teknologi. Mereka harus memahami konsekuensi penggunaannya.

Hari Pramuka Seharusnya Menjadi Cermin

Pada akhirnya, peringatan Hari Pramuka 2026 mengajak kita melihat kembali makna pendidikan karakter.

Seragam bisa dilepas setelah kegiatan selesai.

Kegiatan kemah juga memiliki waktu berakhir.

Namun, karakter seharusnya ikut pulang dan hidup dalam keseharian.

Ketika seorang anak memilih tidak menyebarkan hoaks, di situlah nilai Pramuka bekerja.

Ketika seorang pelajar menolak menyontek meski memiliki akses terhadap AI, di situlah karakter diuji.

Ketika seorang pengguna media sosial berbeda pendapat tanpa menghina, di situlah Dasa Darma menemukan bentuk barunya.

Karena itu, pertanyaan “masih relevankah Pramuka?” sebenarnya bukan pertanyaan yang paling penting.

Pertanyaan yang lebih tepat:

“Seberapa jauh nilai Pramuka masih hidup dalam perilaku generasi muda?”

Hari Pramuka 2026 bukan sekadar peringatan pada 14 Agustus. Momentum ini menjadi kesempatan untuk melihat kembali bagaimana nilai-nilai kepramukaan menghadapi perubahan zaman.

Gerakan Pramuka telah memasuki perjalanan panjang sejak diperkenalkan secara resmi pada 14 Agustus 1961. Kini, tantangannya bukan hanya mempertahankan tradisi, tetapi memastikan pendidikan karakter tetap relevan bagi generasi yang hidup bersama internet, media sosial, dan AI.

Dasa Darma tidak kehilangan makna.

Justru, dunia digital memberikan ruang baru untuk membuktikannya.

Kejujuran diuji saat menerima informasi. Tanggung jawab diuji sebelum menekan tombol “bagikan”. Kesopanan diuji ketika berdebat. Kecermatan diuji ketika berhadapan dengan AI. Dan kepedulian diuji ketika melihat orang lain membutuhkan bantuan.

Seragam Pramuka mungkin hanya dikenakan pada hari tertentu. Namun, karakter tidak mengenal hari libur.

Sebab Indonesia tidak hanya membutuhkan generasi yang pintar menggunakan teknologi, tetapi juga generasi yang tahu kapan harus berhenti, berpikir, memeriksa, dan memilih yang benar. Jika Dasa Darma mampu hidup di layar yang kita genggam setiap hari, maka Pramuka bukan sekadar warisan masa lalu—ia masih menjadi kompas untuk masa depan. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mutilasi Depok

    5 Fakta Baru Mutilasi Depok yang Diungkap Polisi

    • calendar_month Kamis, 6 Agt 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 96
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – Mutilasi Depok kembali menjadi sorotan setelah penyidik mengungkap sejumlah perkembangan baru dalam penanganan perkara tersebut. Fakta terbaru yang disampaikan aparat tidak hanya mengungkap awal hubungan pelaku dan korban, tetapi juga memperlihatkan bagaimana kasus mutilasi Depok mulai terurai melalui bukti digital, pemeriksaan saksi, dan hasil penyelidikan yang terus berkembang. Hingga kini, polisi masih […]

  • Orang tua siswa menandatangani surat pernyataan terkait kasus keracunan dalam program MBG di sekolah.

    Surat Pernyataan Orang Tua MBG Picu Krisis Kepercayaan

    • calendar_month Kamis, 12 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 186
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Kasus keracunan siswa dalam pelaksanaan program MBG memicu gelombang pertanyaan baru. Namun, perhatian publik justru semakin tajam setelah muncul kabar bahwa orang tua diminta menandatangani surat pernyataan. Situasi ini kemudian menggeser fokus dari sekadar insiden kesehatan menjadi persoalan kepercayaan. Program MBG sejatinya dirancang untuk memperkuat dukungan gizi bagi siswa. Akan tetapi, […]

  • Timnas Indonesia 4-0

    Timnas Indonesia Menang 4-0, Era Baru yang Bikin Asia Mulai Waspada

    • calendar_month Sabtu, 28 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 203
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Saat Timnas Indonesia menang 4-0 atas Saint Kitts and Nevis national football team di FIFA Series 2026, publik langsung bersorak. Empat gol. Clean sheet. Dominasi penuh. Tapi ada satu hal yang luput dari perhatian banyak orang: Ini bukan sekadar kemenangan besar. Ini adalah transformasi. Dan transformasi ini… terlihat sangat nyata. Dari […]

  • status KTP

    Data KTP Keliru, Buruh Perkebunan Sulit Akses Layanan Sosial di Jember

    • calendar_month Minggu, 7 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 121
    • 0Komentar

    Masalah status KTP buruh perkebunan di Jember menghambat akses bantuan sosial dan kesehatan. albadarpost.com, HUMANIORA – Status KTP yang keliru membuat Buniman, 65 tahun, hidup di tengah kemiskinan ekstrem tanpa akses bantuan sosial maupun layanan kesehatan. Warga Perkebunan Kopi Silosanen, Kecamatan Silo, Jember, itu tercatat sebagai karyawan BUMN pada kartu identitasnya, padahal ia hanya buruh […]

  • Skema swakelola pengadaan barang dan jasa pemerintah

    Swakelola PBJ: Efisiensi yang Butuh Integritas

    • calendar_month Sabtu, 21 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 195
    • 0Komentar

    albadarpost.com, PERSPEKTIF – Swakelola pengadaan pemerintah kembali menjadi topik krusial dalam diskursus tata kelola keuangan negara. Skema pengadaan swakelola atau pengadaan barang dan jasa secara swakelola ini kerap dipromosikan sebagai solusi efisiensi anggaran sekaligus sarana pemberdayaan masyarakat. Namun, di balik fleksibilitasnya, swakelola menyimpan tantangan serius yang menuntut integritas tinggi dan pengawasan ketat agar tidak berubah […]

  • Tangkapan layar dari akun Instagram rhendy.87.

    Viral Klaim Hamil Karena Mimpi, Apa Kata Medis dan Islam?

    • calendar_month Sabtu, 30 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 269
    • 0Komentar

    albadarpost.com, PERSPEKTIF – Sebuah video viral dengan narasi hamil karena mimpi memicu perdebatan luas di media sosial. Video berdurasi sekitar 69 detik yang diunggah akun Instagram rhendy.87 pada 29 Mei 2026 itu telah ditonton ribuan kali, memperoleh lebih dari 9 ribu tanda suka, serta memancing ribuan komentar dari warganet. Dalam video yang beredar, seorang ibu […]

expand_less