Kenapa Hari Polwan Diperingati 1 September? Ini Sejarahnya
- account_circle redaktur
- calendar_month 13 jam yang lalu
- visibility 23
- comment 0 komentar
- print Cetak

Enam Polwan pertama yang mengikuti pendidikan Inspektur Polisi di SPN Bukittinggi. (Foto: Dok Museum Polri).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
AlbadarPost.com, HUMANIORA — Hari Polwan atau Hari Polisi Wanita Indonesia diperingati setiap 1 September. Pada 2026, peringatan tersebut memasuki Hari Jadi Polwan ke-78, sekaligus menjadi momentum untuk mengingat kembali sejarah lahirnya polisi wanita di Indonesia.
Mengapa tanggal 1 September dipilih? Jawabannya bermula dari Bukittinggi, Sumatera Barat, pada 1 September 1948, ketika enam perempuan mengikuti pendidikan kepolisian. Peristiwa tersebut menjadi tonggak penting dalam sejarah lahirnya Polwan Indonesia.
Namun, kisahnya tidak berhenti pada tanggal dan angka. Dari kebutuhan kepolisian pada masa awal kemerdekaan, peran polisi wanita kemudian berkembang hingga mencakup berbagai bidang tugas kepolisian.
Mengapa 1 September Diperingati sebagai Hari Polwan?
Menurut catatan sejarah yang dipublikasikan Polri, kebutuhan terhadap polisi wanita muncul karena kepolisian membutuhkan personel perempuan untuk menangani pemeriksaan terhadap perempuan dan anak.
Kondisi sosial pada masa itu membuat kehadiran polisi wanita memiliki fungsi khusus. Pemeriksaan terhadap perempuan, misalnya, membutuhkan petugas perempuan agar prosesnya dapat berlangsung sesuai kebutuhan dan norma yang berlaku ketika itu.
Dari kebutuhan tersebut, muncul kesempatan bagi perempuan untuk mengikuti pendidikan kepolisian.
Pada 1 September 1948, enam perempuan mulai mengikuti pendidikan Inspektur Polisi di Sekolah Polisi Negara Bukittinggi. Momentum inilah yang kemudian dikenang sebagai tonggak lahirnya Polisi Wanita di Indonesia.
Dengan demikian, tanggal 1 September bukan dipilih secara sembarangan. Tanggal tersebut berkaitan langsung dengan dimulainya pendidikan kepolisian bagi perempuan pada masa awal perjalanan Polri.
Enam Perempuan Menjadi Bagian Awal Sejarah Polwan
Enam perempuan yang mengikuti pendidikan kepolisian di Bukittinggi menjadi bagian penting dalam sejarah awal Polwan.
Catatan Polri menyebut mereka sebagai Mariana Saanin Mufti, Nelly Pauna Situmorang, Djasmaniar Husein, Rosmalina Pramono, Dahniar Sukoco, dan Rosnalia Taher.
Mereka mengikuti pendidikan pada masa ketika Republik Indonesia masih menghadapi situasi keamanan yang berat.
Perjalanan pendidikan tersebut juga tidak berlangsung mulus. Agresi Militer Belanda II membuat pendidikan mereka sempat terhenti. Setelah itu, pendidikan dilanjutkan di Sekolah Polisi Negara Sukabumi.
Mereka kemudian menyelesaikan pendidikan pada 1 Mei 1951.
Kisah tersebut menunjukkan bahwa lahirnya Polwan tidak berlangsung dalam kondisi yang serba mudah. Para pelopor tersebut menjalani proses pendidikan kepolisian di tengah situasi Indonesia yang masih mempertahankan kemerdekaannya.
Peran Polwan Terus Berkembang
Jika dahulu kebutuhan utama polisi wanita berkaitan dengan pemeriksaan perempuan dan anak, perkembangan zaman membuat ruang tugas Polwan semakin luas.
Saat ini, polisi wanita dapat menjalankan berbagai fungsi kepolisian sesuai tugas, kompetensi, dan penempatannya.
Mereka hadir dalam pelayanan masyarakat, penyidikan, lalu lintas, pembinaan masyarakat, intelijen, hingga berbagai fungsi lainnya.
Polwan juga memiliki peran penting dalam penanganan perkara yang melibatkan perempuan dan anak. Kehadiran petugas perempuan dapat mendukung pendekatan pelayanan yang lebih sesuai dengan kondisi korban maupun masyarakat yang membutuhkan pendampingan kepolisian.
Karena itu, perjalanan Polwan tidak hanya menunjukkan bertambahnya jumlah perempuan dalam institusi kepolisian. Perjalanan tersebut juga memperlihatkan semakin luasnya ruang perempuan dalam menjalankan tugas penegakan hukum dan pelayanan publik.
Hari Jadi Polwan ke-78 pada 2026
Tahun 2026 menjadi momentum khusus karena Hari Jadi Polwan memasuki usia ke-78.
Selama hampir delapan dekade, tugas Polwan berkembang mengikuti perubahan masyarakat. Tantangan kepolisian juga berubah, mulai dari persoalan keamanan konvensional hingga kejahatan berbasis teknologi dan ruang digital.
Perubahan itu menuntut kemampuan yang semakin beragam.
Karena itu, peringatan Hari Polwan seharusnya tidak berhenti pada seremoni. Momentum tersebut dapat menjadi ruang untuk melihat kembali perjalanan, kontribusi, sekaligus tantangan polisi wanita dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Di sisi lain, masyarakat juga memiliki harapan besar terhadap profesionalisme setiap anggota kepolisian, termasuk Polwan.
Integritas, kemampuan, disiplin, keberanian, dan kualitas pelayanan tetap menjadi bagian penting dari tugas tersebut.
1 September Bukan Sekadar Tanggal
Sejarah Hari Polwan memperlihatkan bagaimana sebuah kebutuhan dalam pelayanan kepolisian pada masa awal Republik berkembang menjadi institusi dan peran yang jauh lebih luas.
Enam perempuan yang memulai pendidikan kepolisian di Bukittinggi pada 1948 menjadi bagian dari perjalanan panjang tersebut.
Kini, 78 tahun kemudian, Polwan telah menjadi bagian dari wajah kepolisian Indonesia.
Karena itu, Hari Polwan 1 September bukan sekadar tanggal peringatan. Di baliknya terdapat sejarah, perjuangan, pendidikan, dan perjalanan panjang perempuan dalam menjalankan tugas kepolisian.
Sebab sejarah tidak hanya berbicara tentang siapa yang datang lebih dulu, tetapi tentang siapa yang terus melanjutkan pengabdian setelahnya. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar