Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Validasi Sosial: Ketika Harga Diri Mulai Bergantung pada Like

Validasi Sosial: Ketika Harga Diri Mulai Bergantung pada Like

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Rabu, 23 Sep 2026
  • visibility 84
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH – Dulu, manusia mungkin mencari pengakuan dari tetangga, teman sekampung, atau lingkungan kerja. Kini bentuknya berubah. Validasi sosial hadir dalam angka: 1.000 likes, 200 komentar, 50 ribu views. Mencari pengakuan bahkan kadang terasa seperti pekerjaan tambahan yang tidak pernah masuk daftar tugas.

Posting. Menunggu. Mengecek HP. Membandingkan. Kemudian kecewa.

Pertanyaannya sederhana, tetapi cukup mengganggu: mengapa respons orang lain bisa ikut menentukan perasaan kita terhadap diri sendiri?

Lebih jauh, kapan apresiasi berubah menjadi kebutuhan? Dan kapan angka di layar mulai mengambil alih cara seseorang menilai harga dirinya?

Apa Itu Validasi Sosial?

Validasi sosial berkaitan dengan kebutuhan manusia untuk mendapatkan pengakuan, penerimaan, atau apresiasi dari lingkungan.

Kebutuhan tersebut tidak otomatis buruk. Manusia memang makhluk sosial. Pujian dari orang lain bisa menyenangkan. Dukungan teman bisa menguatkan. Apresiasi atas sebuah karya juga dapat membuat seseorang semakin bersemangat.

Namun, persoalan muncul ketika pengakuan manusia menjadi sumber utama harga diri.

Bayangkan seseorang mengunggah sebuah foto.

Hari itu ia mendapatkan 2.000 likes.

Ia tersenyum.

Besok ia mengunggah foto lain. Kali ini hanya mendapat 50 likes.

Tiba-tiba suasana hati berubah.

Padahal orangnya masih sama. Kemampuannya tidak mendadak hilang. Kehidupannya juga tidak runtuh.

Yang berubah hanya angka.

Di sinilah media sosial menjadi menarik sekaligus rumit. Teknologi menyediakan angka yang sangat mudah dilihat, sementara manusia terkadang lupa bahwa tidak semua hal yang mudah dihitung layak dijadikan ukuran nilai diri.

Ketika Like Berubah Menjadi Ukuran Harga Diri

Ada masa ketika seseorang membeli pakaian bagus agar merasa nyaman.

Sekarang, pakaian bagus kadang belum terasa lengkap sebelum difoto.

Ada masa ketika seseorang menikmati perjalanan karena pengalaman.

Sekarang, perjalanan bisa terasa kurang sempurna jika tidak menghasilkan unggahan.

Ada pula masa ketika seseorang berhasil melakukan sesuatu dan merasa cukup. Kini, sebagian orang baru merasa berhasil setelah orang lain ikut mengakuinya.

Tentu tidak semua orang mengalami pola tersebut. Namun, kebiasaan digital dapat membuat batas antara menikmati sesuatu dan menunjukkannya kepada orang lain semakin tipis.

Karena itu, ada pertanyaan yang layak diajukan:

Jika tidak ada yang memberikan like, apakah saya tetap merasa bahwa apa yang saya lakukan berharga?

Jika pertanyaan tersebut mulai terasa mengganggu, mungkin bukan jumlah like yang perlu diperbaiki.

Cara kita mengukur diri yang perlu diperiksa.

Islam Tidak Mengajarkan Kemuliaan Diukur dari Tepuk Tangan

Di sinilah perspektif Islam menawarkan ukuran yang berbeda.

Allah SWT berfirman dalam QS Al-Hujurat ayat 13 bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Ayat tersebut kemudian menegaskan bahwa yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.

Dengan demikian, popularitas, jumlah pengikut, kekayaan, atau banyaknya orang yang memberikan apresiasi bukanlah ukuran utama kemuliaan seseorang di hadapan Allah.

Ini bukan berarti Islam mengajarkan manusia untuk menolak seluruh bentuk apresiasi.

Kita tetap boleh bersyukur ketika karya dihargai. Kita boleh bahagia ketika orang lain memberikan dukungan. Kita juga boleh menggunakan media sosial untuk membangun pekerjaan, menyebarkan informasi, berdakwah, atau memperkenalkan karya.

Yang perlu dijaga adalah jangan menjadikan respons manusia sebagai fondasi utama nilai diri.

Sebab angka di media sosial sangat mudah berubah.

Hari ini konten kita muncul di mana-mana. Besok mungkin tenggelam tanpa kabar.

Algoritma bahkan tidak pernah berjanji akan menyukai kita setiap hari.

D'Arrian Collections

Al-Hikam dan Pertanyaan yang Lebih Dalam

Di sinilah pembahasan Al-Hikam menjadi relevan.

Hikmah Ibnu Athaillah mengajak manusia melihat kehidupan bukan hanya dari apa yang tampak di luar, tetapi juga dari arah hati dan posisi seseorang dalam perjalanan kepada Allah.

Karena itu, pertanyaannya bukan sekadar:

“Berapa banyak orang yang menyukai saya?”

Pertanyaan yang lebih dalam justru:

“Apa yang membuat saya merasa bernilai?”

Jika jawabannya selalu berasal dari manusia, kita akan terus mengejar manusia.

Jika jawabannya berasal dari angka, kita akan terus mengejar angka.

Namun, jika orientasi hidup kembali kepada Allah, apresiasi manusia dapat ditempatkan secara proporsional: diterima ketika datang, tetapi tidak dijadikan sumber utama harga diri.

Pembahasan ini berkaitan erat dengan artikel AlbadarPost sebelumnya tentang Riya di Media Sosial: Ketika Kebaikan Mulai Butuh Penonton. Jika artikel tersebut mengajak pembaca memeriksa niat ketika menampilkan kebaikan, artikel ini membawa pertanyaan tersebut satu langkah lebih jauh: mengapa kita membutuhkan pengakuan manusia?

Lima Tanda Kita Mulai Terlalu Bergantung pada Validasi

Tidak semua kebiasaan berikut berarti seseorang pasti mengalami ketergantungan validasi. Namun, beberapa di antaranya bisa menjadi tanda untuk melakukan muhasabah.

Pertama, terlalu sering mengecek jumlah like dan komentar.

HP bahkan belum sempat diletakkan, tetapi tangan sudah kembali mengambilnya untuk melihat respons terbaru.

Kedua, menghapus unggahan hanya karena responsnya rendah.

Bukan karena kontennya keliru, melainkan karena angka yang muncul tidak sesuai harapan.

Ketiga, merasa minder ketika melihat pencapaian orang lain.

Media sosial kemudian berubah dari ruang berbagi menjadi semacam papan peringkat kehidupan.

Keempat, sulit menikmati sesuatu tanpa membagikannya.

Pengalaman terasa belum lengkap sebelum masuk kamera.

Kelima, merasa tidak dianggap ketika tidak mendapatkan respons.

Pada titik ini, seseorang mungkin perlu berhenti sejenak dan bertanya: apakah saya sedang menikmati hubungan sosial atau sedang mengejar pengakuan?

Pertanyaan tersebut tidak harus dijawab dengan menghakimi diri sendiri. Muhasabah bukan kegiatan untuk membenci diri, melainkan kesempatan untuk mengoreksi arah.

Bagaimana Mengurangi Ketergantungan pada Validasi?

Tidak harus dengan menghapus seluruh akun media sosial.

Pertama, lakukan sesuatu yang baik tanpa langsung mengunggahnya.

Biarkan ada kebaikan yang tidak diketahui publik. Dalam ruang yang sunyi itu, seseorang bisa belajar membedakan antara berbuat baik dan ingin terlihat baik.

Kedua, kurangi kebiasaan mengecek respons secara berulang.

Berikan jarak antara tindakan dan reaksi publik.

Ketiga, bedakan apresiasi dengan kebutuhan akan pengakuan.

Senang ketika dipuji adalah hal yang manusiawi. Namun, hidup tidak seharusnya runtuh ketika pujian berhenti.

Keempat, ukur keberhasilan dari proses dan manfaat, bukan hanya angka.

Sebuah tulisan mungkin hanya mendapatkan sedikit respons, tetapi tetap bermanfaat bagi seseorang yang membacanya.

Kelima, kembalikan pusat orientasi kepada Allah.

Rasulullah SAW mengajarkan bahwa amal berkaitan dengan niat. Prinsip ini diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari.

Dengan demikian, pertanyaan tentang niat tetap relevan bahkan ketika amal dan aktivitas kita berlangsung di ruang digital.

Persoalan hati juga menjadi bagian penting dalam pembahasan Tasawuf di Era Digital: Mengapa Hati Mudah Lelah?. Di tengah arus informasi dan perbandingan sosial yang tidak pernah berhenti, manusia membutuhkan ruang untuk kembali melihat keadaan batinnya.

Rasulullah SAW juga bersabda bahwa Allah tidak melihat rupa dan harta manusia, melainkan hati dan amalnya. Prinsip tersebut diriwayatkan dalam Sahih Muslim.

Jangan Biarkan Algoritma Menentukan Nilai Dirimu

Media sosial bukan musuh.

Like juga bukan sesuatu yang harus dicurigai.

Apresiasi dari orang lain pun bukan sesuatu yang harus ditolak.

Yang perlu dijaga adalah posisi semuanya dalam kehidupan kita.

Kita boleh senang ketika karya diapresiasi. Kita boleh bersyukur ketika orang lain memberikan dukungan. Kita juga boleh membangun personal branding dan menggunakan media sosial untuk pekerjaan.

Namun, jangan sampai angka di layar menjadi hakim atas harga diri.

Algoritma tidak mengenal seluruh perjuangan kita.

Ia tidak tahu berapa kali kita jatuh lalu bangkit. Ia tidak tahu doa yang kita panjatkan ketika tidak ada yang melihat. Ia juga tidak mengetahui kebaikan yang kita lakukan tanpa kamera.

Dan mungkin di situlah muhasabah dimulai.

Bukan ketika kita bertanya:

“Berapa banyak orang yang menyukaiku?”

Melainkan:

“Apakah hidupku bernilai di hadapan Allah?”

Like bisa membuat kita terlihat. Views bisa membuat kita dikenal. Pengikut bisa membuat kita populer. Tetapi semua itu tidak boleh menjadi tempat kita mencari harga diri.

Sebab ketika harga diri dititipkan kepada manusia, kita akan hidup mengikuti angka. Namun ketika nilai diri dikembalikan kepada Allah, kita tidak lagi harus viral untuk merasa berharga. (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less