Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Tasawuf di Era Digital: Mengapa Hati Mudah Lelah?

Tasawuf di Era Digital: Mengapa Hati Mudah Lelah?

  • account_circle redaktur
  • calendar_month 17 jam yang lalu
  • visibility 15
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH – Ada sesuatu yang berubah sejak manusia membawa dunia ke dalam genggaman.

Dulu, seseorang mungkin hanya membandingkan rumahnya dengan rumah tetangga. Sekarang, hanya dengan membuka media sosial, ia bisa melihat ratusan kehidupan lain dalam hitungan menit.

Ada yang baru membeli rumah. Ada yang bepergian ke luar negeri. Ada yang menikah. Ada yang membuka usaha. Ada yang mendapatkan penghargaan. Ada pula yang tampak selalu bahagia.

Kita hanya melihat layar. Namun, sering kali hati ikut bekerja.

Tanpa disadari, muncul pertanyaan yang menguras energi: Mengapa hidup saya belum seperti mereka?

Di sinilah tasawuf menjadi relevan dalam kehidupan digital. Bukan karena tasawuf mengajarkan manusia untuk memusuhi teknologi, melainkan mengajak manusia kembali memperhatikan keadaan hati.

Sebab, terkadang yang membuat seseorang lelah bukan kehidupannya sendiri, melainkan kebiasaan membawa kehidupan orang lain ke dalam pikirannya.

Tasawuf dan Layar yang Tak Pernah Kenyang

Media sosial tidak mengenal kata selesai.

Satu unggahan selesai dilihat, muncul unggahan berikutnya. Satu pencapaian terlihat, muncul pencapaian lain. Satu orang memamerkan perjalanan, orang lain menunjukkan bisnis, kemudian muncul pula kehidupan keluarga yang tampak sempurna.

Layar terus bergerak.

Keinginan manusia pun bisa ikut bergerak tanpa batas.

Fenomena semacam ini terasa dekat dengan gambaran Al-Qur’an tentang berbagai bentuk kesenangan dunia. Dalam QS Al-Hadid ayat 20, Allah menggambarkan kehidupan dunia sebagai permainan, kesenangan, perhiasan, saling berbangga, serta berlomba dalam harta dan anak keturunan.

Ayat tersebut bukan berarti Islam melarang manusia memiliki harta, menikmati kehidupan atau mencapai keberhasilan.

Persoalannya muncul ketika ukuran-ukuran lahiriah itu mulai menentukan nilai diri seseorang.

Di era digital, ukuran tersebut bahkan semakin mudah terlihat: jumlah pengikut, jumlah komentar, jumlah tayangan, barang yang dimiliki hingga tempat yang pernah dikunjungi.

Padahal, angka di layar tidak selalu mencerminkan kualitas kehidupan.

Ketika Kehidupan Orang Lain Menjadi Cermin yang Salah

Ada ironi dalam budaya digital.

Kita melihat hasil akhir kehidupan orang lain, lalu membandingkannya dengan proses hidup sendiri.

Kita melihat foto seseorang sedang berlibur, tetapi tidak mengetahui persoalan yang mungkin ia hadapi sebelum perjalanan itu.

Kita melihat seseorang berhasil membangun usaha, tetapi tidak melihat tahun-tahun ketika ia mengalami kegagalan.

Kita melihat sebuah keluarga tersenyum di depan kamera, tetapi tidak mengetahui seluruh dinamika kehidupan mereka.

Dengan kata lain, kita sering membandingkan realitas lengkap hidup sendiri dengan potongan terbaik hidup orang lain.

Hasilnya hampir pasti melelahkan.

Tasawuf mengajak manusia melakukan perjalanan yang berlawanan: bukan semakin sibuk melihat keluar, tetapi semakin serius melihat ke dalam.

Pertanyaannya bukan lagi:

“Mengapa hidup saya tidak seperti dia?”

Melainkan:

“Apa yang sebenarnya sedang saya cari?”

Pertanyaan kedua membawa seseorang kepada muhasabah.

D'Arrian Collections

Muhasabah: Saat Cermin Batin Lebih Penting daripada Layar

Muhasabah berarti melakukan evaluasi terhadap diri sendiri.

Konsep ini memiliki dasar yang kuat dalam Al-Qur’an. QS Al-Hasyr ayat 18 mengingatkan orang-orang beriman agar memperhatikan apa yang telah diperbuat untuk menghadapi hari esok.

Pesannya sederhana tetapi dalam: sebelum terlalu sibuk menghitung pencapaian orang lain, seseorang perlu menghitung apa yang sedang ia bangun dalam dirinya sendiri.

Sudahkah ibadah semakin baik?

Sudahkah hubungan dengan keluarga membaik?

Apakah pekerjaan dilakukan dengan jujur?

Apakah keberhasilan membuat hati semakin bersyukur?

Atau justru semakin sering muncul rasa iri, kecewa dan tidak pernah cukup?

Muhasabah tidak membutuhkan ritual yang rumit.

Kadang cukup dengan mematikan layar beberapa menit.

Diam.

Kemudian bertanya kepada diri sendiri:

“Apa yang sebenarnya membuat saya gelisah?”

Bisa jadi bukan karena kebutuhan yang belum terpenuhi, tetapi karena terlalu sering melihat sesuatu yang belum kita miliki.

Riya dan Godaan Menjadikan Kebaikan sebagai Pertunjukan

Media sosial juga membawa persoalan lain: riya.

Al-Qur’an secara jelas menyebut riya dalam QS Al-Ma’un ayat 4–6. Allah memperingatkan tentang orang-orang yang lalai terhadap salatnya dan mereka yang berbuat riya.

Namun, ayat tersebut tidak boleh digunakan untuk dengan mudah menuduh orang lain.

Tidak setiap orang yang mengunggah kegiatan ibadah berarti riya.

Tidak setiap foto sedekah otomatis berarti pamer.

Tidak pula setiap tulisan keagamaan di media sosial dapat langsung dinilai sebagai pencarian popularitas.

Sebab, niat adalah perkara batin.

Justru karena itu, pertanyaan tersebut sebaiknya dikembalikan kepada diri sendiri.

Jika tidak ada seorang pun yang melihat, apakah saya tetap akan melakukan kebaikan ini?

Pertanyaan itu jauh lebih sehat daripada sibuk menilai niat orang lain.

Rasulullah SAW bersabda dalam HR Bukhari No. 1:

“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niat.”

Hadis tersebut menjadi pengingat bahwa nilai amal tidak hanya berkaitan dengan apa yang tampak di luar, tetapi juga dengan niat yang melatarbelakanginya.

Qanaah Bukan Berarti Berhenti Berusaha

Ada satu konsep yang sering keliru dipahami: qanaah.

Qanaah bukan berarti seseorang harus berhenti mengejar cita-cita.

Bukan pula berarti menerima kemiskinan tanpa usaha atau menolak kemajuan.

Seseorang tetap boleh bekerja keras.

Boleh membangun bisnis.

Boleh membeli rumah.

Boleh mengejar pendidikan.

Boleh meningkatkan penghasilan.

Namun, semua itu tidak harus membuat seseorang menjadikan kehidupan orang lain sebagai standar kebahagiaannya.

Di sinilah qanaah memiliki relevansi.

Berusaha memperbaiki kehidupan berbeda dengan tidak pernah merasa cukup.

Orang yang berusaha berkata, “Saya ingin hidup saya lebih baik.”

Sementara hati yang terus membandingkan bisa berkata, “Saya tidak bahagia karena hidup saya tidak seperti mereka.”

Dua kalimat tersebut terdengar mirip, tetapi arah batinnya berbeda.

Hati Tidak Perlu Memiliki Semua yang Dilihat Mata

Masalah terbesar dari media sosial mungkin bukan banyaknya informasi.

Masalahnya adalah ketika semua yang kita lihat terasa harus kita miliki.

Melihat rumah bagus membuat ingin punya rumah yang sama.

Melihat kendaraan baru membuat kendaraan sendiri terasa kurang.

Melihat perjalanan orang lain membuat kehidupan sendiri tampak biasa.

Melihat keberhasilan orang lain membuat pencapaian sendiri terasa tidak berarti.

Padahal, mata memang bisa melihat banyak hal yang tidak harus dimiliki hati.

Rasulullah SAW bersabda dalam HR Muslim No. 2564, bahwa Allah tidak melihat rupa dan harta manusia, tetapi melihat hati dan amalnya.

Pesan tersebut terasa sangat relevan di zaman ketika manusia semakin mudah dinilai berdasarkan tampilan luar.

Jumlah pengikut bisa terlihat.

Jumlah uang bisa terlihat.

Barang yang dimiliki bisa terlihat.

Tetapi keikhlasan tidak memiliki tombol “like”.

Kesabaran tidak memiliki jumlah tayangan.

Dan kedekatan seseorang dengan Allah tidak bisa diukur melalui jumlah pengikut.

Mungkin Kita Tidak Membutuhkan Lebih Banyak Pengikut

Ada ironi dalam kehidupan digital.

Seseorang bisa memiliki banyak pengikut, tetapi tetap merasa tidak cukup diperhatikan.

Bisa mendapatkan ribuan tanda suka, tetapi masih merasa kurang dihargai.

Bisa mengetahui kehidupan banyak orang, tetapi semakin kehilangan waktu untuk memahami dirinya sendiri.

Karena itu, mungkin persoalan kita bukan selalu membutuhkan lebih banyak perhatian.

Mungkin kita membutuhkan lebih banyak keheningan.

Bukan berarti harus meninggalkan media sosial.

Bukan pula berarti semua teknologi buruk.

Yang diperlukan adalah kemampuan untuk menggunakannya tanpa membiarkan layar mengendalikan ukuran kebahagiaan kita.

Tasawuf mengajarkan bahwa manusia perlu menjaga hubungan dengan dunia tanpa membiarkan dunia menguasai hati.

Akhirnya, teknologi hanyalah alat.

Yang perlu terus diperiksa adalah hati orang yang menggunakannya.

Barangkali yang membuat kita lelah bukan karena hidup terlalu berat, melainkan karena setiap hari kita membawa kehidupan orang lain ke dalam kepala.

Di zaman ketika semua orang berlomba menunjukkan kehidupannya, tasawuf mengajarkan perlombaan yang lebih sunyi: bukan menjadi lebih terlihat daripada orang lain, tetapi menjadi lebih jujur di hadapan Allah. (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less