Riya di Media Sosial: Ketika Kebaikan Mulai Butuh Penonton
- account_circle redaktur
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi riya di media sosial saat seseorang merenungkan niat di balik unggahan kebaikan.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH – Kamera kini hadir hampir di setiap sudut kehidupan. Makanan difoto, perjalanan direkam, pekerjaan dibagikan, sedekah diunggah, kegiatan masjid didokumentasikan. Bahkan, momen ketika seseorang membantu orang lain terkadang berakhir menjadi sebuah unggahan di media sosial.
Di tengah kebiasaan itu, muncul pertanyaan yang tidak sederhana: apakah setiap kebaikan yang diposting berarti riya di media sosial?
Belum tentu.
Justru di situlah persoalannya. Sebuah unggahan tidak selalu bisa menjelaskan isi hati orang yang membuatnya. Yang dapat diperiksa dengan lebih jujur adalah diri sendiri: mengapa saya mengunggahnya, apa yang sebenarnya saya harapkan, dan bagaimana perasaan saya ketika tidak ada seorang pun yang memberikan perhatian?
Apakah Setiap Amal yang Diposting Berarti Riya?
Media sosial tidak selalu menjadi tempat untuk mencari pujian.
Seseorang bisa membagikan kegiatan sosial untuk mengajak orang lain berdonasi. Pengurus masjid dapat mendokumentasikan kegiatan untuk memberikan informasi kepada jamaah. Sebuah lembaga dapat mempublikasikan penyaluran bantuan sebagai bentuk laporan kepada masyarakat.
Karena itu, menyebut setiap unggahan amal sebagai riya merupakan kesimpulan yang terlalu sederhana.
Persoalannya bukan sekadar apa yang terlihat di layar, tetapi juga apa yang sedang dicari oleh hati.
Islam sendiri menempatkan keikhlasan sebagai bagian penting dalam ibadah. Al-Qur’an menyebut bahwa manusia diperintahkan untuk beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. (QS Al-Bayyinah: 5).
Sementara itu, Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa amal bergantung pada niatnya. Hadis ini diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari.
Dengan demikian, unggahan yang sama bisa memiliki latar niat yang berbeda. Kita melihat fotonya, tetapi tidak mengetahui seluruh isi hati pembuatnya.
Di sinilah kehati-hatian diperlukan.
Masalahnya Bukan Kamera, tetapi Apa yang Dicari Hati
Kamera sebenarnya hanyalah alat.
Ia bisa digunakan untuk dokumentasi, edukasi, laporan, dakwah, promosi kegiatan sosial, bahkan menggalang bantuan.
Masalah muncul ketika perhatian manusia mulai menjadi tujuan utama.
Awalnya seseorang bersedekah karena ingin membantu. Setelah itu, ia mulai berpikir tentang foto yang bagus. Kemudian mencari sudut pengambilan gambar yang menarik. Setelah unggahan tayang, perhatian berpindah dari orang yang dibantu kepada jumlah komentar dan tanda suka.
Pelan-pelan, ukuran kepuasan berubah.
Bukan lagi:
“Apakah kebaikan ini bermanfaat?”
melainkan:
“Mengapa yang menyukai unggahan saya sedikit?”
Di titik seperti itu, media sosial berubah menjadi cermin yang memperlihatkan sesuatu yang lebih dalam: kebutuhan manusia terhadap pengakuan.
Namun, sekali lagi, kita tidak perlu buru-buru menunjuk orang lain.
Cermin yang paling berguna adalah cermin yang diarahkan kepada diri sendiri.
Al-Hikam Mengajak Kita Melihat ke Dalam
Dalam tradisi Al-Hikam Ibnu Athaillah, perhatian terhadap kondisi batin menjadi tema yang kuat.
Hikmah tidak hanya mengajak manusia melihat keberhasilan yang tampak dari luar. Ia mengajak seseorang memeriksa ke mana hati bergerak ketika menjalani kehidupan.
Perspektif tersebut relevan dengan kehidupan digital. Sebab media sosial membuat manusia terbiasa memperlihatkan sesuatu kepada publik. Ingin Tahu Kedudukanmu di Sisi Allah? Lihat Apa yang Kamu Jalani membahas bagaimana seseorang dapat membaca kedudukannya melalui amanah dan kehidupan yang sedang dijalani.
Sebab media sosial membuat manusia terbiasa memperlihatkan sesuatu kepada publik. Rumah diperlihatkan. Makanan diperlihatkan. Pekerjaan diperlihatkan. Perjalanan diperlihatkan. Prestasi diperlihatkan. Bahkan sebagian amal juga diperlihatkan.
Tidak ada yang otomatis salah dari aktivitas tersebut.
Tetapi semakin banyak yang kita tampilkan, semakin penting pula kemampuan untuk bertanya:
“Untuk siapa sebenarnya saya melakukan ini?”
Pertanyaan itu sederhana, tetapi tidak selalu mudah dijawab.
Sebab manusia bisa saja jujur kepada orang lain, sementara masih bernegosiasi dengan dirinya sendiri.
Media Sosial Bisa Menjadi Ladang Amal, Bisa Juga Menjadi Cermin Ego
Media sosial juga membuat hati mudah membandingkan diri dengan kehidupan orang lain. Dalam perspektif tasawuf, persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga dengan bagaimana manusia menjaga batinnya. Tasawuf di Era Digital: Mengapa Hati Mudah Lelah? membahas persoalan tersebut dari sudut yang lebih luas.
Satu unggahan dapat menggerakkan orang lain untuk bersedekah. Satu video dapat mengingatkan seseorang untuk salat. Satu dokumentasi kegiatan sosial dapat membuat masyarakat mengetahui adanya kebutuhan yang harus dibantu.
Tetapi media sosial juga memiliki sisi lain.
Ia menyediakan angka yang mudah dilihat: jumlah pengikut, tanda suka, komentar, tayangan, dan bagikan.
Angka-angka tersebut bisa membuat manusia tanpa sadar mengukur dirinya sendiri berdasarkan respons orang lain.
Hari ini unggahan mendapat ribuan tanda suka. Besok hanya puluhan.
Lalu muncul kegelisahan.
Padahal nilai sebuah amal tidak ditentukan oleh algoritma media sosial.
Tidak semua kebaikan yang sepi berarti tidak bernilai. Sebaliknya, sesuatu yang ramai juga tidak otomatis menunjukkan tingginya kualitas amal.
Karena itu, ikhlas di media sosial membutuhkan bentuk muhasabah yang lebih serius.
Bukan dengan berhenti menggunakan media sosial, melainkan dengan belajar mengendalikan apa yang terjadi di dalam hati ketika menggunakannya.
Lima Pertanyaan Sebelum Mengunggah Kebaikan
Sebelum membagikan sebuah amal atau aktivitas kebaikan, tidak ada salahnya berhenti sebentar dan bertanya kepada diri sendiri:
1. Apa tujuan utama saya mengunggahnya?
Apakah untuk memberikan informasi, mengajak orang lain berbuat baik, membuat laporan, atau sekadar ingin mendapatkan pengakuan?
2. Apakah saya tetap mau melakukan kebaikan ini jika tidak ada yang melihat?
Pertanyaan ini sederhana tetapi cukup tajam untuk membuka ruang muhasabah.
3. Bagaimana perasaan saya jika unggahan ini tidak mendapatkan respons?
Apakah kebaikan itu tetap terasa bermakna atau justru muncul rasa kecewa?
4. Apakah unggahan ini benar-benar bermanfaat bagi orang lain?
Tidak semua hal yang baik untuk kita perlu diketahui publik.
5. Setelah mengunggahnya, kepada siapa perhatian hati saya tertuju?
Apakah kepada Allah dan manfaat amal tersebut, atau kepada komentar, jumlah tanda suka, dan respons orang lain?
Lima pertanyaan tersebut bukan alat untuk menilai niat orang lain.
Ini adalah alat untuk memeriksa diri sendiri.
Ketika Like Mulai Menjadi Ukuran Kebaikan
Ada jebakan yang sering tidak terasa.
Seseorang awalnya hanya ingin berbagi. Kemudian ia mulai menikmati perhatian. Setelah itu, ia mulai mengulangi unggahan karena respons yang diperoleh. Lama-kelamaan, perhatian publik menjadi sesuatu yang ditunggu.
Di sinilah muhasabah menjadi penting.
Al-Qur’an memperingatkan tentang orang-orang yang melakukan sesuatu dengan riya, antara lain dalam QS Al-Ma’un ayat 4–6.
Peringatan tersebut bukan alasan untuk menjadi hakim atas hati orang lain. Justru sebaliknya, ayat tersebut dapat menjadi kesempatan untuk bertanya kepada diri sendiri: apakah saya sedang mencari ridha Allah atau sedang membutuhkan pengakuan manusia?
Pertanyaan itu mungkin tidak nyaman.
Tetapi muhasabah memang tidak selalu dibuat untuk membuat kita nyaman.
Kadang ia justru diperlukan agar kita berhenti sebelum sesuatu yang awalnya baik perlahan berubah arah.
Tidak Semua Kebaikan Harus Disembunyikan
Ada kecenderungan lain yang juga perlu dihindari.
Karena takut riya, seseorang mungkin merasa semua amal harus disembunyikan.
Padahal persoalannya tidak sesederhana itu.
Ada amal yang memang lebih baik dirahasiakan. Ada pula kegiatan yang justru membutuhkan dokumentasi karena berkaitan dengan transparansi, edukasi, laporan, atau ajakan kepada masyarakat.
Yang perlu dijaga adalah arah hati dan tujuan publikasi.
Jangan sampai kita terlalu sibuk memikirkan bagaimana amal terlihat di depan manusia, tetapi lupa memeriksa bagaimana kualitas hati ketika melakukan amal tersebut.
Pada akhirnya, media sosial hanyalah ruang.
Yang menentukan arah perjalanan bukan kameranya, melainkan manusia yang berada di belakang kamera.
Kebaikan Tidak Membutuhkan Tombol Like
Media sosial membuat manusia semakin mudah menunjukkan kebaikan.
Tetapi keikhlasan mengajarkan bahwa kebaikan tidak membutuhkan penonton agar tetap bernilai.
Tidak semua amal harus disembunyikan. Tidak semua amal pula harus dipamerkan.
Yang perlu dijaga adalah jangan sampai kamera lebih sibuk kita arahkan kepada amal daripada hati kita arahkan kepada Allah.
Like bisa dihitung.
Komentar bisa dikumpulkan.
Pengikut bisa bertambah.
Tetapi keikhlasan tidak memiliki tombol “like”. Pembahasan tentang ikhlas, muhasabah, dan kehidupan digital ini merupakan bagian dari pembahasan Al-Hikam dan hikmah kehidupan yang dikembangkan AlbadarPost untuk menghubungkan pemikiran klasik dengan persoalan manusia modern.
Dan mungkin, di zaman ketika hampir semua hal ingin terlihat, salah satu bentuk muhasabah yang paling penting adalah tetap mampu berbuat baik ketika tidak ada seorang pun yang melihat. (Red)
- Penulis: redaktur







