Kenapa Hari PMI 17 September, Bukan 3 September?
- account_circle redaktur
- calendar_month Kamis, 17 Sep 2026
- visibility 55
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi kegiatan PMI sedang memeriksa warga.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HUMANIORA – Hari PMI diperingati setiap 17 September. Tanggal tersebut menjadi peringatan Hari Palang Merah Indonesia sekaligus hari ulang tahun PMI.
Namun, ada satu tanggal lain yang juga penting dalam sejarah kelahiran organisasi kemanusiaan ini, yaitu 3 September 1945.
Lantas, mengapa Hari PMI tidak diperingati pada 3 September?
Jawabannya terletak pada perbedaan antara awal perintah pembentukan Badan Palang Merah Nasional dan tanggal terbentuknya Pengurus Besar Palang Merah Indonesia.
Rangkaian sejarahnya berlangsung hanya beberapa hari setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan. Karena itu, kedua tanggal tersebut sama-sama memiliki arti, tetapi kedudukannya berbeda.
3 September 1945, Titik Awal Pembentukan
Sejarah PMI bermula pada 3 September 1945.
Pada hari itu, Presiden Soekarno memanggil Menteri Kesehatan Kabinet Pertama, dr. Boentaran Martoatmodjo. Ia kemudian mendapat perintah untuk segera membentuk Badan Palang Merah Nasional.
Langkah tersebut muncul dalam situasi Indonesia yang baru merdeka. Kebutuhan terhadap pelayanan kesehatan dan pertolongan kemanusiaan sangat besar, terutama untuk menghadapi dampak perang serta membantu korban konflik.
Badan tersebut juga diharapkan dapat membantu pertukaran tawanan perang dan menerima bantuan dari jaringan palang merah internasional.
Jadi, 3 September 1945 merupakan tonggak awal proses pembentukan Palang Merah nasional.
Tanggal itu penting, tetapi belum menjadi tanggal berdirinya organisasi.
Dua hari kemudian, proses pembentukan memasuki tahap berikutnya.
Pada 5 September 1945, dr. Boentaran membentuk Panitia Lima. Tim ini bertugas mempersiapkan berbagai kebutuhan untuk mendirikan Palang Merah Indonesia, mulai dari penyusunan anggaran dasar hingga rancangan kepengurusan pusat dan pembentukan cabang.
Dengan demikian, lahirnya PMI bukan sebuah keputusan yang selesai dalam satu hari. Ada rangkaian persiapan yang berlangsung dari 3 September hingga pertengahan bulan.
15 September: Susunan Pengurus Mulai Disahkan
Proses tersebut kemudian mencapai tahap penting pada 15 September 1945.
Panitia Lima menyampaikan usulan susunan pusat kepada Presiden Soekarno. Dalam susunan itu, Drs. Mohammad Hatta ditempatkan sebagai ketua, dengan dr. Boentaran Martoatmodjo sebagai ketua muda.
Usulan tersebut menjadi bagian dari proses pembentukan organisasi Palang Merah Indonesia secara resmi.
Tahap ini menunjukkan bahwa antara perintah pembentukan pada 3 September dan berdirinya PMI pada 17 September terdapat proses organisasi yang cukup panjang, meski berlangsung dalam waktu singkat.
Sejarah ini sekaligus menjelaskan mengapa penggunaan tanggal 3 September tidak tepat. 3 September adalah awal prosesnya, sedangkan 17 September menjadi tanggal berdirinya Pengurus Besar PMI.
17 September 1945, PMI Resmi Berdiri
Tanggal yang kemudian menjadi dasar Hari PMI adalah 17 September 1945.
Pada hari tersebut terbentuk Pengurus Besar Palang Merah Indonesia dengan Drs. Mohammad Hatta sebagai ketua pertama.
Menurut sejarah, kepengurusan pertama tersebut dilantik di Jalan Surya Timur Nomor 1, Jakarta, oleh Mohammad Hatta. Peristiwa inilah yang menjadi dasar hari lahir organisasi Palang Merah Indonesia.
Jadi, jika masyarakat bertanya “Hari PMI tanggal berapa?”, jawabannya adalah 17 September.
Sementara itu, 3 September tetap menjadi bagian penting dari sejarah karena pada tanggal tersebut Presiden Soekarno memberikan perintah untuk membentuk Badan Palang Merah Nasional.
Dua tanggal itu tidak bertentangan. Keduanya justru menggambarkan dua tahap berbeda dalam proses kelahiran PMI.
Mengapa 17 September Ditetapkan sebagai Hari PMI?
Penetapan 17 September sebagai hari ulang tahun PMI kemudian memperoleh dasar dari keputusan organisasi.
Pada 13–14 November 1948, Kongres PMI ke-II berlangsung di Yogyakarta. Salah satu hasil kongres tersebut adalah menyetujui 17 September sebagai hari didirikannya Perhimpunan Palang Merah Indonesia.
Sejak saat itu, tanggal 17 September menjadi tanggal peringatan ulang tahun PMI.
Karena berdiri pada 17 September 1945, maka pada 17 September 2026 organisasi ini memperingati HUT ke-81 PMI.
Momentum tersebut juga terlihat dalam kegiatan di DKI Jakarta sehari sebelumnya. Pada 16 September 2026, PMI DKI bersama Pemerintah Kota Jakarta Selatan melakukan ziarah ke makam Mohammad Hatta di TPU Tanah Kusir dalam rangka HUT ke-81 PMI.
5 Fakta Hari PMI yang Perlu Diketahui
Agar tidak lagi tertukar, berikut rangkaian waktunya:
- 3 September 1945: Soekarno memerintahkan pembentukan Badan Palang Merah Nasional.
- 5 September 1945: Panitia Lima dibentuk untuk mempersiapkan pendiriannya.
- 15 September 1945: Usulan susunan Pengurus Besar disampaikan dan disahkan.
- 17 September 1945: Pengurus Besar terbentuk dengan Mohammad Hatta sebagai ketua pertama.
- 13–14 November 1948: Kongres PMI ke-II menetapkan 17 September sebagai hari ulang tahun.
Urutan tersebut menjadi kunci untuk memahami sejarah Hari Palang Merah Indonesia.
Hari PMI 2026, Lebih dari Sekadar Tanggal
Peringatan hari lahir bukan hanya tentang mengingat tanggal berdirinya sebuah organisasi.
Sejarah tersebut memperlihatkan bagaimana kebutuhan kemanusiaan mendorong lahirnya sebuah lembaga pada masa awal kemerdekaan Indonesia.
Dari proses yang dimulai dengan perintah pada 3 September, dilanjutkan pembentukan Panitia Lima, hingga berdirinya Pengurus Besar pada 17 September, perjalanan tersebut menunjukkan bahwa organisasi kemanusiaan membutuhkan proses, kepengurusan, dan kerja bersama.
Karena itu, ketika 17 September kembali hadir setiap tahun, masyarakat tidak hanya mengingat sejarah. Peringatan tersebut juga menjadi ruang untuk melihat kembali pentingnya pertolongan kemanusiaan dalam kehidupan masyarakat.
3 September adalah awal langkahnya. 17 September adalah hari lahirnya. Dan setiap 17 September, sejarah itu mengingatkan kita bahwa kemanusiaan selalu membutuhkan orang yang bersedia hadir dan menolong. (Red)
- Penulis: redaktur






