Ujub dalam Amal: Saat Ibadah Diam-Diam Membesarkan Ego
- account_circle redaktur
- calendar_month 20 jam yang lalu
- visibility 18
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi ujub dalam amal, renungan Ibnu Athaillah tentang ikhlas, taufik, dan bahaya membanggakan ibadah.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH – Ada yang rajin beribadah, tetapi diam-diam mulai bangga dengan ibadahnya. Ada pula yang semakin banyak melakukan amal saleh, namun semakin mudah merasa dirinya lebih baik daripada orang lain. Dalam khazanah Islam, keadaan semacam ini perlu diwaspadai karena ujub dalam amal, mengagumi amal sendiri, dan merasa hebat karena kesalehan dapat mengganggu keikhlasan seorang hamba.
Pesan tajam tentang hal itu disampaikan Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari dalam Al-Hikam, khususnya Hikmah 69. Ia mengingatkan bahwa orang yang berjalan menuju Allah maupun orang yang telah sampai kepada-Nya tidak semestinya tenggelam dalam melihat dan mengagumi amalnya sendiri. Redaksi hikmah tersebut tercatat sebagai berikut:
قَطَعَ السَّائِرِينَ لَهُ وَالْوَاصِلِينَ إِلَيْهِ عَنْ رُؤْيَةِ أَعْمَالِهِمْ وَشُهُودِ أَحْوَالِهِمْ، أَمَّا السَّائِرُونَ فَلِأَنَّهُمْ لَمْ يَتَحَقَّقُوا الصِّدْقَ مَعَ اللهِ فِيهَا، وَأَمَّا الْوَاصِلُونَ فَلِأَنَّهُ غَيَّبَهُمْ بِشُهُودِهِ عَنْهَا.
Secara ringkas, hikmah tersebut mengajarkan bahwa seorang hamba tidak seharusnya sibuk mengagumi amalnya sendiri. Orang yang masih menempuh perjalanan spiritual perlu melihat kekurangan dalam amalnya, sedangkan orang yang semakin dekat kepada Allah justru semakin menyadari bahwa semua kebaikan terjadi karena pertolongan dan karunia-Nya.
Ketika Amal Mulai Menjadi Alasan untuk Bangga
Masalahnya bukan pada banyak atau sedikitnya amal.
Salat tetap harus dikerjakan. Sedekah tetap dianjurkan. Membaca Al-Qur’an tetap menjadi amal mulia. Menuntut ilmu juga merupakan jalan kebaikan.
Persoalannya muncul ketika amal tersebut mulai mengubah cara seseorang memandang dirinya.
Ia tidak lagi sekadar bersyukur karena diberi kesempatan beribadah. Ia mulai merasa lebih saleh. Ia tidak hanya senang dapat membantu orang lain. Ia mulai merasa lebih mulia.
Pada titik itu, ujub dalam amal perlu diperiksa.
Di zaman ketika hampir semua aktivitas dapat menjadi konten, manusia juga menghadapi tantangan baru. Amal yang seharusnya menjadi urusan antara seorang hamba dan Allah kadang mudah berubah menjadi sesuatu yang ingin diketahui banyak orang.
Namun, tentu tidak setiap publikasi kebaikan otomatis berarti riya atau ujub. Niat seseorang tidak dapat dihukumi hanya dari apa yang tampak di layar.
Karena itu, persoalan utamanya tetap kembali kepada hati.
Apakah seseorang sedang mengajak orang lain kepada kebaikan atau sedang menikmati pengakuan atas dirinya?
Pertanyaan tersebut tidak selalu mudah dijawab.
Taufik Allah Membuat Kita Tidak Pantas Terlalu Membanggakan Diri
Bahan kajian yang menjadi dasar tulisan ini juga menekankan bahwa kemampuan melakukan ketaatan merupakan taufik dari Allah.
Artinya, ketika seseorang mampu bangun untuk salat malam, memiliki kesempatan bersedekah, mampu menghadiri majelis ilmu, atau memperoleh kekuatan untuk meninggalkan maksiat, semuanya tidak berdiri sendiri.
Ada kesehatan di belakangnya. Ada waktu yang tersedia. Ada rezeki. Ada lingkungan. Ada kesempatan. Dan yang paling penting, ada pertolongan Allah.
Al-Qur’an menegaskan:
وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ
“Dan segala nikmat yang ada padamu adalah dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53).
Ayat tersebut memberikan perspektif penting.
Jika kemampuan berbuat baik merupakan nikmat dari Allah, maka seorang Muslim seharusnya lebih banyak bersyukur daripada membanggakan diri.
Dengan demikian, ikhlas beramal bukan berarti merasa amal yang dilakukan tidak penting. Justru amal tetap dijaga, tetapi hati tidak menjadikannya sebagai alasan untuk meninggikan diri.
Al-Qur’an Mengingatkan: Jangan Cepat Menganggap Diri Suci
Ada alasan mengapa manusia perlu berhati-hati ketika menilai dirinya sendiri.
Allah berfirman:
فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ
“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32).
Ayat ini tidak melarang seseorang memperbaiki diri. Sebaliknya, manusia diperintahkan untuk bertakwa dan berbuat baik.
Yang perlu dihindari adalah kebiasaan memberikan sertifikat kesalehan kepada diri sendiri.
Seseorang mungkin terlihat rajin beribadah, tetapi hanya Allah yang mengetahui bagaimana keadaan hatinya.
Sebaliknya, seseorang yang terlihat biasa saja di hadapan manusia bisa jadi memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah.
Karena itu, bangga dengan ibadah perlu dibedakan dari rasa syukur atas kesempatan beribadah. Syukur membuat seseorang semakin rendah hati. Ujub justru dapat membuatnya merasa memiliki keunggulan atas orang lain.
Bahkan Amal Tidak Berdiri Tanpa Rahmat Allah
Peringatan ini juga sejalan dengan hadis Rasulullah ﷺ.
Dalam Sahih Muslim, Nabi Muhammad ﷺ bersabda bahwa tidak seorang pun masuk surga semata-mata karena amalnya, termasuk beliau sendiri, kecuali jika Allah meliputinya dengan rahmat-Nya. Dalam riwayat yang sama, Nabi juga menganjurkan agar manusia beramal secara tepat dan tidak berlebihan.
Hadis tersebut bukan alasan untuk bermalas-malasan.
Justru sebaliknya.
Manusia tetap diperintahkan beramal. Namun, amal tidak boleh membuat seseorang lupa kepada siapa ia harus bergantung.
Karena itu, semakin banyak amal yang dilakukan, seharusnya semakin kuat pula rasa membutuhkan Allah.
Bukan semakin tinggi hidungnya.
Bukan semakin mudah merendahkan orang lain.
Dan bukan semakin sibuk menghitung berapa banyak pahala yang menurutnya sudah terkumpul.
Jangan Sampai Sibuk Menghitung Amal, Lalu Lupa kepada Pemberi Taufik
Pesan Ibnu ‘Athaillah sebenarnya sangat relevan dengan kehidupan modern.
Manusia mudah mengukur sesuatu melalui angka. Berapa kali salat malam. Berapa banyak sedekah. Berapa halaman Al-Qur’an. Berapa kali menghadiri kajian.
Ukuran semacam itu dapat membantu evaluasi amal.
Namun, ia menjadi berbahaya ketika angka-angka tersebut berubah menjadi bahan untuk merasa lebih baik daripada orang lain.
Sebab, dalam perjalanan menuju Allah, yang perlu dibesarkan bukan ego spiritual, melainkan ketundukan.
Yang perlu bertambah bukan kebanggaan terhadap amal, tetapi rasa syukur karena masih diberi kesempatan beramal.
Pada akhirnya, ujub dalam amal adalah peringatan agar seorang Muslim tidak berhenti pada aktivitas lahiriah. Amal memang penting, tetapi hati yang mengiringinya juga harus dijaga.
Sebab ada ironi yang sangat halus dalam perjalanan ibadah: seseorang bisa begitu sibuk menghitung amalnya, sampai lupa bahwa kemampuan untuk melakukan amal itu sendiri adalah karunia dari Allah.
Dan mungkin, di situlah tamparan paling keras dari Al-Hikam: bukan seberapa banyak amal yang membuat kita layak membusungkan dada, tetapi seberapa dalam kita menyadari bahwa tanpa taufik Allah, kita tidak akan mampu berbuat apa-apa. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar