Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Membandingkan Diri di Media Sosial, Mengapa Kita Selalu Kurang?

Membandingkan Diri di Media Sosial, Mengapa Kita Selalu Kurang?

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Selasa, 29 Sep 2026
  • visibility 76
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH – Kita membuka media sosial hanya untuk melihat satu notifikasi. Lima menit kemudian, kita sudah tahu siapa yang liburan, siapa yang membeli mobil, siapa yang menikah, siapa yang membuka usaha, dan siapa yang tampaknya hidup tanpa pernah punya masalah.

Lucunya, setelah melihat semua itu, kita menatap kehidupan sendiri lalu merasa ada yang salah.

Membandingkan diri dengan orang lain memang bukan kebiasaan baru. Bedanya, dulu kita mungkin hanya membandingkan diri dengan tetangga. Sekarang, “tetangga” bisa berjumlah ribuan dan datang dari berbagai kota. Semuanya masuk ke layar dalam hitungan detik.

Kita menyebutnya media sosial.

Hati kadang memperlakukannya seperti papan skor.

Kita Membandingkan Kehidupan Nyata dengan Highlight Orang Lain

Seseorang mengunggah foto rumah barunya.

Kita melihat ruang tamunya.

Kita tidak melihat cicilannya.

Teman mengunggah foto liburan.

Kita melihat pantai dan senyumnya.

Kita tidak melihat berapa lama ia menabung untuk perjalanan itu.

Seseorang memamerkan pencapaian bisnis.

Kita melihat omzet dan penghargaan.

Kita tidak melihat produk gagal, malam tanpa tidur, atau keputusan sulit yang pernah ia hadapi.

Namun, kita tetap membandingkannya dengan kehidupan sendiri secara lengkap.

Kita membawa seluruh arsip kehidupan kita untuk dibandingkan dengan trailer kehidupan orang lain.

Setelah itu, kita heran mengapa hati terasa lelah.

Masalahnya bukan karena orang lain memilih membagikan kabar baik. Masalahnya muncul ketika kita menggunakan potongan kehidupan mereka untuk membuat kesimpulan tentang nilai kehidupan sendiri.

Masalahnya Bukan Orang Lain Bahagia

Orang lain sukses bukan masalah.

Orang lain kaya juga bukan masalah.

Melihat seseorang mendapatkan nikmat pun tidak otomatis membuat kita kehilangan nikmat sendiri.

Yang perlu diperiksa adalah ketika pencapaian orang lain berubah menjadi penggaris untuk mengukur harga diri.

Teman membeli rumah.

Kita merasa tertinggal.

Teman menikah.

Kita merasa hidup belum berhasil.

Teman membuka bisnis.

Kita mulai mempertanyakan pekerjaan sendiri.

Lalu algoritma membantu dengan sangat rajin.

Belum selesai membandingkan diri dengan satu orang, muncul orang kedua. Setelah itu orang ketiga. Kemudian orang keempat yang entah bagaimana selalu tampak lebih sukses.

Kita pun masuk ke perlombaan yang tidak pernah kita daftarkan.

Yang lebih lucu, garis finisnya juga tidak pernah ada.

Selalu ada orang yang lebih kaya, lebih populer, lebih muda, lebih produktif, atau lebih cepat mencapai sesuatu.

Jika kehidupan orang lain menjadi papan skor, kita akan selalu menemukan alasan untuk merasa kalah.

Kita bahkan bisa berhasil dalam kehidupan sendiri, tetapi tetap merasa gagal karena melihat skor orang lain.

QS An-Nisa: 32: Jangan Jadikan Kelebihan Orang Lain sebagai Ukuran Diri

Al-Qur’an memberikan perspektif penting dalam QS An-Nisa ayat 32. Allah mengingatkan manusia agar tidak mengharapkan kelebihan yang Allah berikan kepada sebagian orang atas sebagian yang lain. Ayat tersebut juga mengarahkan manusia untuk memohon karunia Allah.

Ayat ini relevan dengan budaya perbandingan sosial hari ini.

Bukan berarti seseorang tidak boleh memiliki cita-cita.

Bukan pula berarti kita harus berhenti berusaha ketika melihat orang lain lebih maju.

Kita tetap boleh belajar dari orang yang berhasil. Kita boleh menjadikan pencapaian orang lain sebagai inspirasi. Kita bahkan boleh berkata:

“Saya ingin berusaha lebih baik.”

Namun, kalimat itu berbeda dengan:

“Saya tidak berharga karena belum seperti dia.”

Yang pertama dapat mendorong ikhtiar.

Yang kedua justru dapat menggerus syukur.

Karena itu, ketika melihat kelebihan orang lain, persoalannya bukan sekadar apa yang terlihat di layar. Persoalannya adalah bagaimana hati meresponsnya.

QS Al-Hujurat: 13: Kemuliaan Bukan Perlombaan Popularitas

QS Al-Hujurat ayat 13 memberikan perspektif lain. Allah menjelaskan bahwa manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal, sementara ukuran kemuliaan di sisi-Nya adalah ketakwaan.

Ayat ini tidak sedang membahas jumlah pengikut Instagram.

Namun, prinsipnya membantu kita memahami sesuatu yang sangat relevan dengan budaya digital:

popularitas bukan ukuran kemuliaan di sisi Allah.

Jumlah pengikut bukan ukuran kemuliaan di sisi Allah.

Jumlah komentar bukan ukuran kemuliaan di sisi Allah.

Rumah yang lebih besar bukan ukuran kemuliaan di sisi Allah.

Dan pencapaian orang lain bukan bukti bahwa kehidupan kita gagal.

Dengan demikian, kita tidak perlu menghapus ambisi hanya karena ingin menjaga hati. Yang perlu dijaga adalah agar ambisi tidak berubah menjadi perlombaan status yang membuat nilai diri bergantung pada posisi dibandingkan orang lain.

Sahih Muslim 2963a: Lihat Juga yang Berada di Bawah

Ada satu hadis yang sangat relevan dengan tema membandingkan diri.

Dalam Sahih Muslim 2963a, Rasulullah ﷺ mengarahkan agar seseorang melihat orang yang berada di bawahnya dalam hal harta dan kondisi fisik, bukan hanya melihat mereka yang berada di atasnya. Dengan cara itu, nikmat Allah tidak mudah dianggap kecil.

Hadis ini tidak berarti seseorang dilarang melihat keberhasilan orang lain.

Pesannya lebih dalam.

Ketika pandangan hanya bergerak ke atas, rasa kurang mudah tumbuh.

Selalu ada yang lebih kaya.

Selalu ada yang lebih terkenal.

Selalu ada yang lebih bagus penampilannya.

Selalu ada yang lebih cepat mencapai sesuatu.

Karena itu, hadis tersebut dapat menjadi latihan perspektif: ketika melihat kelebihan orang lain, jangan sampai kita kehilangan kesadaran terhadap nikmat yang sudah Allah berikan.

Bukan berhenti bercita-cita, melainkan berhenti menganggap diri tidak berharga hanya karena belum memiliki apa yang dimiliki orang lain.

Dari Validasi ke Perbandingan: Ketika Angka Mulai Mengatur Hati

Pembahasan ini masih satu napas dengan artikel Riya di Media Sosial: Ketika Kebaikan Mulai Butuh Penonton.

Di sana, pertanyaannya adalah:

“Untuk siapa kebaikan itu ingin dilihat?”

Kemudian, artikel Validasi Sosial: Ketika Harga Diri Mulai Bergantung pada Like membawa kita kepada pertanyaan:

“Mengapa respons manusia bisa menentukan perasaan kita terhadap diri sendiri?”

Sekarang persoalannya berkembang.

Apa yang terjadi setelah kita melihat pengakuan yang diterima orang lain?

Kita mulai membandingkan.

Mereka mendapat ribuan likes.

Kita mendapat puluhan.

Mereka memiliki ribuan pengikut.

Kita hanya punya ratusan.

Mereka tampak bahagia.

Kita sedang berjuang.

Padahal angka tersebut hanya memberikan informasi tentang sebuah unggahan. Kita yang kemudian memberinya makna seolah-olah angka itu merupakan sertifikat nilai diri.

Di sinilah muhasabah diperlukan.

Bukan untuk menghakimi orang lain.

Justru untuk memeriksa hati sendiri.

Qanaah Bukan Berarti Berhenti Mengejar Kehidupan yang Lebih Baik

Ada anggapan bahwa qanaah berarti menerima keadaan lalu berhenti berusaha.

Pemahaman seperti itu terlalu sempit.

Qanaah tidak harus mematikan ikhtiar. Seseorang tetap boleh membangun bisnis, meningkatkan penghasilan, mengejar pendidikan, memperbaiki rumah, atau memiliki cita-cita yang lebih besar.

Namun, ada perbedaan antara ingin bertumbuh dan membenci diri karena belum memiliki apa yang orang lain punya.

Kita boleh mengatakan:

“Saya ingin hidup lebih baik.”

Tanpa harus mengatakan:

“Hidup saya buruk karena hidupnya lebih baik.”

Perbedaannya sederhana, tetapi dampaknya besar.

Yang pertama mendorong ikhtiar.

Yang kedua membuat hati sibuk menghitung milik orang lain.

Karena itu, qanaah tidak harus berarti menutup pintu cita-cita. Qanaah membantu kita mengejar sesuatu tanpa kehilangan ketenangan hanya karena orang lain sudah sampai lebih dulu.

Lima Pertanyaan Saat Mulai Membandingkan Diri

Ketika media sosial mulai membuat hati terasa berat, berhenti sebentar.

Lalu tanyakan:

1. Apa sebenarnya yang membuat saya merasa kurang?

Apakah kebutuhan nyata atau sekadar karena melihat pencapaian orang lain?

2. Apakah saya benar-benar menginginkannya?

Atau saya hanya menginginkannya karena orang lain memilikinya?

3. Apakah saya membandingkan kehidupan nyata dengan konten pilihan?

Jika iya, ingat bahwa kamera hanya menangkap bagian yang dipilih untuk ditampilkan.

4. Nikmat apa yang sedang saya abaikan?

Jangan sampai mata terlalu sibuk menghitung milik orang lain sampai lupa menghitung karunia sendiri.

5. Jika semua akun media sosial tiba-tiba menghilang, apakah saya masih merasa gagal?

Pertanyaan terakhir mungkin paling mengganggu.

Sekaligus mungkin paling jujur.

Jangan Biarkan Highlight Orang Lain Menjadi Hukuman untuk Diri Sendiri

Kita tidak perlu membenci media sosial.

Kita juga tidak perlu mencurigai setiap orang yang mengunggah pencapaian.

Yang perlu kita lakukan adalah menjaga agar media sosial tetap menjadi alat, bukan hakim.

Gunakan untuk belajar.

Gunakan untuk bekerja.

Gunakan untuk berdagang.

Gunakan untuk berbagi manfaat.

Namun, jangan serahkan harga diri kepada layar.

Setelah memahami kebiasaan membandingkan diri, pembahasan ini dapat dilanjutkan menuju tema FOMO dalam Islam, kemudian Flexing dalam Islam: Ketika Kekayaan Mulai Membutuhkan Penonton, sebelum masuk lebih jauh pada pembahasan zuhud di era digital.

Di sanalah pertanyaan kita kembali kepada persoalan yang lebih mendasar:

Seberapa jauh kita mampu menikmati dunia tanpa membiarkan dunia menguasai hati?

Kita sering lupa bahwa orang yang kita iri lihat di layar juga sedang menjalani hidupnya sendiri—dengan masalah yang mungkin tidak pernah ia unggah.

Kita hanya melihat fotonya.

Kita tidak melihat seluruh ceritanya.

Jadi, jangan mengambil satu halaman kehidupan orang lain, lalu menggunakannya untuk menghakimi seluruh buku kehidupan kita sendiri.

Sebab bisa jadi masalah terbesar bukan karena hidup kita kurang indah, melainkan karena mata kita terlalu sibuk membaca halaman orang lain sampai lupa mensyukuri nikmat yang sedang Allah tuliskan di halaman kita. (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less