Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Flexing dalam Islam: Ketika Kekayaan Mulai Membutuhkan Penonton

Flexing dalam Islam: Ketika Kekayaan Mulai Membutuhkan Penonton

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Senin, 28 Sep 2026
  • visibility 58
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH – Ada masa ketika orang membeli sesuatu karena memang membutuhkannya. Sekarang, dalam budaya digital, flexing dalam Islam menjadi pertanyaan menarik karena harta, gaya hidup, dan pamer kekayaan semakin mudah tampil di depan publik. Rumah difoto, mobil direkam, liburan diunggah, makanan diberi sudut terbaik, bahkan keberhasilan bisnis kadang baru terasa lengkap setelah mendapat respons dari orang lain.

Masalahnya bukan semata-mata pada barang mahal.

Masalahnya muncul ketika sesuatu yang kita miliki mulai membutuhkan penonton agar terasa berharga.

Dulu orang mungkin ingin punya mobil bagus.

Sekarang, mobil bagus sekaligus bisa menjadi konten.

Dulu orang pergi berlibur untuk menikmati perjalanan.

Sekarang, perjalanan kadang terasa belum selesai sebelum masuk story.

Tentu, tidak semua unggahan merupakan pamer. Orang dapat berbagi pengalaman, melakukan promosi, membangun personal branding, mendokumentasikan pencapaian, atau sekadar mengungkapkan rasa syukur.

Karena itu, flexing menurut Islam tidak tepat disederhanakan menjadi “punya barang mahal berarti pamer”.

Pertanyaan yang lebih menarik justru berada di balik layar:

Untuk siapa semua itu akhirnya kita tampilkan?

Ketika Barang Tidak Lagi Sekadar Barang

Flexing pada dasarnya berkaitan dengan tindakan menunjukkan sesuatu yang dianggap bernilai—kekayaan, penampilan, pencapaian, status, atau gaya hidup—kepada orang lain.

Di media sosial, bentuknya menjadi semakin mudah.

Satu foto dapat menunjukkan kendaraan.

Satu video dapat menunjukkan rumah.

Satu unggahan dapat memperlihatkan perjalanan.

Satu story dapat memperlihatkan meja makan.

Tidak ada yang otomatis salah dari semua itu.

Namun, persoalan bisa berubah ketika benda yang dimiliki mulai menjadi alat untuk mengukur harga diri.

Mobil bukan lagi sekadar kendaraan.

Ia menjadi simbol kesuksesan.

Rumah bukan lagi sekadar tempat tinggal.

Ia menjadi simbol status.

Jam tangan bukan lagi sekadar penunjuk waktu.

Ia menjadi simbol kelas sosial.

Pada titik tertentu, manusia tidak hanya ingin memiliki sesuatu. Ia ingin diakui karena memiliki sesuatu.

Di sinilah budaya flexing menjadi menarik untuk dibaca melalui perspektif muhasabah.

Sebab pertanyaannya berubah dari:

“Apa yang saya punya?”

menjadi:

“Mengapa saya perlu orang lain mengetahui apa yang saya punya?”

Islam Tidak Melarang Manusia Memiliki Harta

Pembahasan flexing dalam Islam harus dimulai dari satu pembedaan penting: memiliki harta tidak sama dengan menyombongkan harta.

Al-Qur’an dalam QS Al-Qasas ayat 77 mengingatkan manusia agar menggunakan apa yang Allah berikan untuk mencari kehidupan akhirat, tanpa melupakan bagian kehidupan dunia. Ayat yang sama juga mengingatkan agar manusia berbuat baik dan tidak membuat kerusakan.

Artinya, Islam tidak mengajarkan manusia untuk otomatis menolak kehidupan dunia.

Bekerja keras boleh.

Membangun bisnis boleh.

Memiliki rumah bagus boleh.

Menggunakan pakaian berkualitas boleh.

Menikmati hasil kerja juga bukan sesuatu yang otomatis tercela.

Bahkan dalam Sahih Muslim 91a, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa Allah itu indah dan menyukai keindahan. Hadis tersebut sekaligus memberikan batas penting: kesombongan berkaitan dengan menolak kebenaran dan merendahkan manusia.

Jadi, persoalannya bukan sekadar:

“Berapa harga barang yang kamu punya?”

Pertanyaan yang lebih penting:

“Apa yang barang itu lakukan terhadap hatimu?”

Jika kekayaan membuat seseorang semakin bersyukur, semakin mudah berbagi, dan semakin bertanggung jawab, konteksnya tentu berbeda dengan kekayaan yang membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Al-Qur’an Mengingatkan Tentang Dunia yang Gemar Berbangga

QS Al-Hadid ayat 20 memberikan gambaran yang sangat relevan dengan budaya modern. Ayat tersebut menyebut kehidupan dunia sebagai permainan, kesenangan, perhiasan, saling berbangga, dan berlomba dalam harta serta keturunan.

Ayat itu bukan alasan untuk menyebut setiap kemewahan sebagai kesalahan.

Namun, ia dapat menjadi cermin untuk membaca kecenderungan manusia.

Kita sering tidak puas hanya dengan memiliki.

Kita ingin terlihat memiliki.

Kita tidak cukup hanya berhasil.

Kita ingin keberhasilan itu diketahui.

Kita tidak cukup hanya menikmati.

Kita ingin orang lain tahu bahwa kita sedang menikmati.

Ironinya, media sosial membuat kebutuhan tersebut semakin mudah dipenuhi.

Ada angka yang selalu tersedia:

likes.

komentar.

views.

followers.

Kemudian angka-angka itu perlahan menjadi semacam papan skor kehidupan.

Hari ini unggahan ramai, hati senang.

Besok respons turun, suasana ikut turun.

Padahal manusia yang sama masih berada di balik layar.

Yang berubah hanya angka.

Ketika Flexing Bertemu Riya dan Validasi Sosial

Di sinilah artikel tentang flexing dalam Islam bersinggungan dengan dua tema sebelumnya dalam topic cluster AlbadarPost.

Pembahasan tentang Riya di Media Sosial mengajak pembaca memeriksa apa yang terjadi pada niat ketika kebaikan mulai membutuhkan penonton. Sementara artikel Validasi Sosial: Ketika Harga Diri Mulai Bergantung pada Like membawa pertanyaan itu lebih jauh: mengapa respons manusia bisa memengaruhi cara seseorang menilai dirinya sendiri?

Sekarang pertanyaannya berkembang.

Bagaimana jika yang kita cari bukan lagi sekadar like, tetapi pengakuan bahwa hidup kita lebih berhasil daripada orang lain?

Di sinilah muhasabah diperlukan.

Bukan untuk menuduh orang lain.

Justru untuk memeriksa diri.

Apakah saya membagikan sesuatu karena memang bermanfaat?

Apakah saya sedang mendokumentasikan perjalanan?

Apakah saya sedang mempromosikan usaha?

Atau diam-diam saya ingin mengatakan:

“Lihat, saya sudah sampai di titik ini.”

Tidak ada manusia yang bisa memastikan isi hati orang lain hanya melalui sebuah unggahan.

Karena itu, jangan menjadikan media sosial sebagai pengadilan niat orang lain.

Gunakan ia sebagai cermin untuk diri sendiri.

Zuhud Bukan Berarti Harus Miskin

Di sinilah konsep zuhud menjadi penting.

Zuhud tidak tepat disederhanakan sebagai hidup miskin, menolak kenyamanan, atau tidak boleh memiliki benda bagus.

Seseorang dapat memiliki banyak harta tetapi tidak menjadikan harta sebagai pusat hidupnya.

Sebaliknya, seseorang dapat memiliki sedikit harta tetapi pikirannya terus dikuasai keinginan untuk memiliki lebih banyak.

Karena itu, pertanyaan zuhud bukan hanya:

“Berapa banyak yang saya miliki?”

Tetapi:

“Seberapa besar yang saya miliki menguasai hati saya?”

Perspektif ini juga selaras dengan hadis Sahih Muslim 2963a. Ketika seseorang melihat orang lain yang lebih unggul dalam harta atau kondisi fisik, hadis tersebut mengajarkan agar ia juga melihat orang yang berada di bawahnya dalam hal tersebut.

Pesannya terasa sangat relevan di era media sosial.

Sebab layar hampir selalu memperlihatkan seseorang yang lebih tinggi.

Lebih kaya.

Lebih terkenal.

Lebih cantik.

Lebih sukses.

Lebih banyak pengikut.

Jika pandangan hanya bergerak ke atas, rasa cukup akan semakin sulit tumbuh.

Lima Pertanyaan Sebelum Mengunggah Kemewahan

Sebelum mengunggah sesuatu, tidak perlu buru-buru bertanya apakah orang lain akan menganggap kita pamer.

Tanyakan kepada diri sendiri:

1. Apakah saya membagikan ini karena manfaat atau karena ingin dipuji?

2. Jika tidak ada seorang pun yang melihat, apakah saya tetap bersyukur memilikinya?

3. Apakah saya sedang berbagi pengalaman atau sedang membuktikan sesuatu?

4. Jika unggahan ini tidak mendapatkan respons, apakah nilai pencapaian saya ikut turun?

5. Apakah semakin banyak yang saya miliki membuat saya semakin bersyukur atau semakin membutuhkan pengakuan?

Tidak semua pertanyaan itu memiliki jawaban sederhana.

Namun, justru di situlah fungsi muhasabah.

Ia bukan ruang untuk merasa paling suci.

Ia adalah ruang untuk berani mengakui bahwa hati manusia bisa berubah.

Ketika Barang yang Kita Miliki Mulai Memiliki Kita

Ada satu kalimat yang mungkin terdengar sederhana:

Kita boleh memiliki dunia, tetapi jangan sampai dunia memiliki hati kita.

Kalimat tersebut menjadi relevan ketika kehidupan digital membuat hampir semua hal mudah dipamerkan.

Rumah bisa menjadi konten.

Mobil bisa menjadi konten.

Bisnis bisa menjadi konten.

Pakaian bisa menjadi konten.

Bahkan kebaikan pun bisa menjadi konten.

Namun, semakin banyak yang kita tampilkan, semakin penting pula kita bertanya:

Apakah saya masih menikmati nikmat itu ketika tidak ada penonton?

Jika jawabannya ya, mungkin kita sedang menikmati nikmat.

Jika jawabannya tidak, mungkin ada sesuatu yang perlu diperiksa lebih dalam.

Pembahasan tersebut membawa kita kembali kepada Al-Hikam tentang kedudukan seorang hamba di sisi Allah. Hikmah itu menggeser perhatian dari posisi di mata manusia menuju pertanyaan tentang bagaimana Allah menempatkan seseorang dalam ruang pengabdian dan ketaatan.

Dan bagi pembaca yang ingin memperluas pembahasan tentang hati di tengah kehidupan digital, Tasawuf di Era Digital: Mengapa Hati Mudah Lelah? menjadi kelanjutan yang relevan. Artikel tersebut membahas bagaimana perbandingan sosial di layar dapat membuat manusia membawa kehidupan orang lain ke dalam pikirannya sendiri.

Jangan Sampai Kita Bekerja untuk Menjadi Pertunjukan

Kita tentu boleh bekerja keras.

Boleh mengejar keberhasilan.

Boleh meningkatkan pendapatan.

Boleh membeli sesuatu yang kita sukai.

Boleh menikmati hasil usaha.

Namun, jangan sampai seluruh hidup berubah menjadi panggung yang membutuhkan penonton.

Sebab ketika penghargaan manusia menjadi tujuan utama, kita akan selalu membutuhkan pertunjukan berikutnya.

Mobil berikutnya.

Rumah berikutnya.

Liburan berikutnya.

Pencapaian berikutnya.

Dan angka berikutnya.

Tidak pernah selesai.

Mungkin persoalan terbesar bukan karena kita memiliki terlalu banyak.

Mungkin kita hanya terlalu sering membutuhkan orang lain untuk memastikan bahwa apa yang kita miliki memang berharga.

Kita boleh memiliki barang mahal. Kita boleh hidup nyaman. Kita boleh menikmati hasil kerja.

Tetapi jangan sampai kita bekerja sepanjang hidup hanya untuk menghasilkan sesuatu yang terasa berharga setelah manusia lain bertepuk tangan.

Sebab kekayaan yang paling berbahaya bukan ketika seseorang memiliki terlalu banyak, melainkan ketika apa yang dimilikinya mulai membuat ia merasa lebih tinggi daripada manusia lain.

Dan mungkin tanda bahwa kita mulai belajar zuhud bukan ketika lemari kita kosong.

Melainkan ketika hati kita tetap tenang meski tidak ada seorang pun yang melihat, menyukai, memuji, atau bertepuk tangan. (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less