Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Istidraj: Ketika Nikmat Terus Datang, tetapi Hati Makin Jauh

Istidraj: Ketika Nikmat Terus Datang, tetapi Hati Makin Jauh

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Selasa, 8 Sep 2026
  • visibility 25
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH – Ada orang yang ketika rezekinya bertambah langsung merasa hidupnya sedang baik-baik saja. Penghasilan naik, usaha lancar, rumah makin nyaman, lalu kesimpulannya sederhana: berarti Allah sedang meridai semuanya.

Padahal, istidraj mengajarkan satu hal yang jauh lebih mengusik: nikmat tidak selalu boleh dibaca hanya dari jumlahnya. Dalam konteks tertentu, nikmat istidraj merupakan peringatan ketika seseorang terus memperoleh kelapangan, sementara ia tetap bergelimang maksiat dan semakin jauh dari Allah.

Bukan berarti setiap orang kaya sedang mengalami istidraj. Bukan pula setiap orang sukses sedang mendapatkan jebakan. Yang perlu dicermati adalah apa yang terjadi pada hati setelah nikmat itu datang.

Pertanyaan itu yang membuat nasihat Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam Al-Hikam terasa sangat relevan.

Syekh Ibnu Athaillah: Jangan Terlalu Cepat Merasa Aman

Syekh Ibnu Athaillah berkata:

خَفْ مِنْ وُجُودِ إِحْسَانِهِ إِلَيْكَ وَدَوَامِ إِسَاءَتِكَ مَعَهُ أَنْ يَكُونَ ذَلِكَ اسْتِدْرَاجًا لَكَ ﴿سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ﴾

Maknanya:

“Takutlah terhadap adanya kebaikan Allah kepadamu sementara engkau terus-menerus berbuat buruk kepada-Nya, jangan-jangan hal itu menjadi istidraj bagimu.”

Nasihat tersebut bukan ajakan untuk mencurigai setiap rezeki. Sebaliknya, ia mengajak manusia memeriksa hubungan antara nikmat, syukur, dan ketaatan.

Sebab, ada perbedaan besar antara seseorang yang memperoleh harta lalu semakin dermawan dengan orang yang memperoleh harta lalu merasa tidak membutuhkan Tuhan.

Yang pertama menemukan alasan untuk bersyukur.

Yang kedua justru menemukan alasan untuk semakin lupa.

Dalam syarah atas Al-Hikam, ungkapan tersebut dikaitkan dengan peringatan tentang istidraj, yakni seseorang yang terus memperoleh kelapangan sementara tetap bertahan dalam keburukan hingga datang akibat yang tidak disadarinya.

Al-Qur’an Mengingatkan tentang Istidraj

Allah berfirman dalam QS Al-A’raf ayat 182:

وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, akan Kami biarkan mereka berangsur-angsur menuju kebinasaan dengan cara yang tidak mereka ketahui.”

Ayat tersebut berada dalam konteks orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah. Karena itu, ayat ini tidak tepat dipakai untuk sembarangan memberi label kepada seseorang hanya karena ia kaya, terkenal, memiliki jabatan, atau hidup berkecukupan.

Justru konteks tersebut membuat arti istidraj semakin serius.

Seseorang dapat merasa dirinya baik-baik saja karena berbagai kemudahan masih mengalir. Padahal, kelapangan itu tidak otomatis menjadi bukti bahwa seluruh perilakunya mendapat rida Allah.

Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan ayat tersebut dengan gambaran dibukanya pintu-pintu rezeki dan penghidupan sehingga orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dapat tertipu oleh keadaan yang mereka nikmati.

Dengan kata lain, yang menipu bukan selalu kesulitan. Kadang justru kenyamanan.

QS Al-An’am 44: Ketika Kesenangan Membuat Lupa

Gambaran yang berkaitan dengan istidraj juga terdapat dalam QS Al-An’am ayat 44:

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

Ayat tersebut menggambarkan keadaan ketika mereka melupakan peringatan, lalu berbagai pintu kesenangan dibukakan. Ketika mereka bergembira dengan apa yang diberikan, mereka kemudian ditimpa secara tiba-tiba.

Di sinilah satire kehidupan terasa pahit.

Manusia sering berpikir, “Kalau saya sedang salah, mengapa hidup saya justru semakin mudah?”

Pertanyaan itu terdengar masuk akal.

Namun, Al-Qur’an mengingatkan bahwa kelapangan tidak selalu boleh dijadikan sertifikat bahwa seseorang berada di jalan yang benar.

Tafsir atas ayat tersebut juga mengaitkan terbukanya berbagai pintu kenikmatan dengan bentuk penangguhan atau istidraj bagi mereka yang berpaling dari peringatan.

Tanda Istidraj: Bukan untuk Menghakimi Orang Lain

Di sinilah kita perlu berhati-hati.

Melihat seseorang kaya lalu berkata, “Itu istidraj,” bukanlah sikap yang bijak. Kita tidak mengetahui perkara gaib dan tidak mengetahui bagaimana akhir perjalanan seseorang.

Begitu pula melihat seseorang sukses, kemudian menganggap kesuksesannya sebagai tanda bahwa Allah pasti meridai semua perbuatannya.

Keduanya sama-sama terburu-buru.

Karena itu, pembahasan tentang tanda istidraj seharusnya pertama-tama diarahkan kepada diri sendiri.

Bukan:

“Apakah orang itu sedang terkena istidraj?”

Melainkan:

“Apakah nikmat yang saya terima membuat saya semakin dekat kepada Allah atau justru semakin berani bermaksiat?”

Pertanyaan tersebut jauh lebih aman sekaligus lebih penting.

Jika harta membuat seseorang semakin gemar berbagi, maka harta menjadi sarana kebaikan.

Jika jabatan membuatnya semakin adil, maka jabatan menjadi amanah.

Jika ilmu membuatnya semakin rendah hati, maka ilmu menjadi jalan kemuliaan.

Namun, jika kelapangan membuat seseorang semakin sombong, meninggalkan kewajiban, meremehkan dosa, dan merasa tidak membutuhkan Allah, saat itulah muhasabah menjadi penting.

Jangan Ukur Keberhasilan Hanya dari Angka

Dunia modern menyediakan banyak alat untuk mengukur kesuksesan.

Ada saldo rekening.

Ada omzet.

Ada jumlah pengikut.

Ada jabatan.

Ada rumah.

Ada kendaraan.

Ada angka penjualan.

Tetapi tidak ada aplikasi yang dapat menunjukkan seberapa dekat hati seseorang kepada Allah.

Itulah sebabnya angka mudah membuat manusia terlena.

Seseorang dapat terlihat berhasil dari luar, tetapi hatinya sedang kering. Sebaliknya, seseorang yang hidup sederhana bisa memiliki kekayaan batin yang jauh lebih besar karena syukur, sabar, dan ketaatan.

Maka, jangan gunakan istidraj sebagai label untuk orang lain.

Gunakan ia sebagai alarm untuk diri sendiri.

Ketika nikmat datang, bersyukurlah.

Ketika dosa terjadi, bertobatlah.

Ketika keberhasilan tiba, ingatlah kepada Allah.

Dan ketika hidup terasa semakin mudah sementara hati justru semakin jauh, berhentilah sejenak.

Mungkin bukan nikmatnya yang perlu dicurigai.

Mungkin cara kita memperlakukannya yang perlu diperiksa.

Closing: Yang Berbahaya Bukan Nikmatnya

Pada akhirnya, pesan Syekh Ibnu Athaillah bukanlah larangan menikmati kehidupan. Beliau sedang mengingatkan manusia agar tidak tertipu oleh keadaan.

Kekayaan bukan otomatis tanda kemuliaan.

Kemiskinan bukan otomatis tanda kehinaan.

Kesuksesan bukan otomatis tanda keridaan Allah.

Begitu pula kesulitan bukan otomatis tanda kemurkaan-Nya.

Ukuran yang lebih penting adalah apa yang terjadi pada hati setelah semuanya datang.

Maka, jangan hanya bertanya:

“Mengapa rezeki saya belum bertambah?”

Sesekali tanyakan:

“Mengapa setelah nikmat saya bertambah, saya justru semakin jauh dari Allah?”

Sebab, ada keadaan yang lebih mengkhawatirkan daripada kehilangan nikmat.

Yaitu ketika pintu-pintu dunia terbuka semakin lebar, sementara pintu hati perlahan-lahan tertutup.

Itulah peringatan tentang istidraj.

Bukan semua yang membuat hidup terasa nyaman berarti kita sedang berada di jalan yang benar. Kadang, kenyamanan justru menjadi alasan terakhir bagi manusia untuk berhenti, bercermin, lalu kembali kepada Allah. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Razia Miras Tasik

    Razia Miras Tasik, Polisi Sasar Titik Rawan Kota

    • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 170
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Polresta Tasikmalaya kembali menggencarkan razia miras Tasik dan operasi pemberantasan obat-obatan terlarang di sejumlah titik rawan di wilayah hukum Kota Tasikmalaya. Dalam operasi gabungan yang digelar Rabu (20/5/2026), petugas berhasil mengamankan 52 botol minuman keras berbagai merek dari beberapa lokasi berbeda. Operasi tersebut melibatkan jajaran Sat Samapta dan Satres Narkoba Polresta […]

  • banjir bandang Bandung Barat

    BPBD Bandung Barat Tangani Banjir Bandang yang Merendam Area Wisata

    • calendar_month Kamis, 4 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 125
    • 0Komentar

    Banjir bandang Bandung Barat merendam area wisata dan sawah, disertai longsor di dua kecamatan. albadarpost.com, HUMANIORA – Banjir bandang Bandung Barat kembali memicu kerusakan pada area wisata dan lahan pertanian, Kamis ini. Peristiwa yang dipicu cuaca buruk itu menegaskan tingginya risiko bencana hidrometeorologi di wilayah selatan Jawa Barat, terutama pada puncak musim hujan. Cuaca ekstrem […]

  • Menghadap Laut Pangandaran

    Menghadap Laut Pangandaran 2026: Cara Berbeda Sambut HUT RI

    • calendar_month Jumat, 14 Agt 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 70
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Menghadap Laut Pangandaran 2026 membawa cara berbeda dalam menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Bukan hanya upacara dan perlombaan, momentum ini mengajak masyarakat melihat kembali hubungan dengan pantai, laut, dan lingkungan pesisir yang menjadi bagian penting kehidupan Pangandaran. Kegiatan Menghadap Laut 2026 dijadwalkan berlangsung di Pantai Barat Pangandaran pada Sabtu, 15 Agustus […]

  • Perda Anti Maksiat Garut

    Pemkab Garut Sosialisasikan Perda Anti Maksiat

    • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 131
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA — Perda Anti Maksiat Garut kembali disosialisasikan kepada masyarakat melalui akun resmi Pemerintah Kabupaten Garut. Dalam materi edukasi tersebut, pemerintah menjelaskan sejumlah ketentuan mengenai larangan minuman beralkohol, sanksi bagi pelanggar, serta tujuan Peraturan Daerah Anti Maksiat Garut sebagai upaya menjaga ketertiban umum, keamanan, dan nilai-nilai moral di lingkungan masyarakat. Melalui publikasi tersebut, Pemerintah […]

  • Nobar Final Piala Dunia Banjar

    Nobar Final Piala Dunia Banjar Gratis untuk Semua

    • calendar_month Jumat, 17 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 135
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH — Nobar Final Piala Dunia Banjar dipastikan menjadi salah satu agenda yang diperkirakan menyedot perhatian masyarakat pada akhir pekan ini. Melalui kegiatan bertajuk Pesta Bola Banjar 2026, warga diajak menikmati Grand Final Piala Dunia 2026 dalam suasana kebersamaan yang dipadukan dengan hiburan, kuliner UMKM, permainan interaktif, hingga pembagian doorprize. Berdasarkan informasi yang […]

  • Guru membimbing siswa yang kehilangan motivasi belajar di kelas dengan pendekatan personal dan interaktif

    Motivasi Belajar Siswa Turun? Ini 5 Cara Guru Mengatasinya dengan Cepat!

    • calendar_month Selasa, 31 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 223
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – Motivasi belajar siswa menjadi faktor kunci dalam keberhasilan pendidikan. Namun, tidak sedikit murid yang mengalami penurunan semangat belajar, bahkan kehilangan arah. Kondisi ini sering disebut sebagai krisis motivasi belajar siswa, penurunan semangat belajar, hingga hilangnya minat akademik. Oleh karena itu, guru perlu memahami strategi efektif untuk mengatasi masalah ini agar proses pembelajaran […]

expand_less