Merasa Tak Pernah Ghibah? Kisah Al-Junaid Ini Layak Dibaca
- account_circle redaktur
- calendar_month Rabu, 9 Sep 2026
- visibility 13
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi Al-Junaid dan refleksi tentang ghibah dalam hati, prasangka, serta pentingnya menjaga akhlak kepada sesama.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH – Ghibah dalam hati sering dianggap terlalu kecil untuk dipersoalkan. Tidak ada suara yang keluar, tidak ada nama yang disebut, bahkan orang yang menjadi sasaran mungkin tidak pernah tahu. Namun, sebuah kisah yang dinisbatkan kepada Abul-Qasim Al-Junaid justru mengajak kita melihat persoalan yang lebih dalam: bagaimana jika hati mulai menghakimi seseorang sebelum lisan sempat berbicara?
Kisah ini dikenal dalam literatur tasawuf. Salah satu versi yang beredar menuturkan pengalaman Al-Junaid ketika bertemu seorang miskin yang meminta-minta. Dalam sumber yang memuat kisah tersebut, Al-Junaid kemudian merasa ditegur melalui mimpi setelah menyimpan penilaian terhadap orang itu di dalam hati.
Pesannya terasa relevan bahkan ketika kehidupan modern sudah pindah ke layar ponsel: manusia masih mudah menilai orang lain hanya dari apa yang terlihat.
Ketika Orang Miskin Menjadi Cermin
Dalam kisah tersebut, Al-Junaid sedang menunggu jenazah bersama orang-orang di masjid. Kemudian datang seorang miskin yang meminta-minta.
Dalam hatinya muncul penilaian bahwa seandainya orang itu bekerja sedikit demi sedikit, tentu keadaannya akan lebih baik.
Kalimat itu tampak sederhana.
Bahkan, sebagian orang mungkin menganggapnya sebagai kesimpulan yang masuk akal. Bukankah bekerja memang lebih baik daripada meminta?
Masalahnya, Al-Junaid hanya melihat satu potongan kehidupan orang tersebut.
Ia tidak mengetahui seluruh cerita di belakangnya.
Pada malam hari, ketika hendak mengerjakan wirid, Al-Junaid merasa sangat berat. Ia akhirnya tertidur. Dalam tidurnya, ia melihat orang-orang membawa sosok miskin di atas sebuah talam. Kepadanya dikatakan agar memakan daging orang tersebut karena telah melakukan ghibah.
Setelah terbangun, Al-Junaid merasa perlu mencari orang miskin itu dan meminta kehalalan.
Ia kemudian menemukannya di tepi sungai. Orang tersebut sedang mengambil sisa daun-daunan yang jatuh untuk dimakan.
Ketika Al-Junaid memberi salam, orang itu berkata:
“Apakah akan mengulangi lagi, hai Abul-Qasim?”
Al-Junaid menjawab, “Tidak.”
Kemudian orang tersebut berkata:
“Semoga Allah mengampunkan kami dan kamu.”
Kisah ini sebaiknya ditempatkan sebagai kisah nasihat yang dinukil dalam literatur tasawuf, bukan diperlakukan sebagai laporan sejarah yang telah diverifikasi secara independen. Namun, justru dalam posisi itulah nilai reflektifnya menjadi menarik.
Ia tidak mengajak pembaca sibuk bertanya, “Apakah orang miskin itu malas?”
Ia mengajak kita bertanya, “Mengapa saya merasa sudah mengetahui seluruh hidup seseorang hanya dari apa yang saya lihat?”
Zaman Berubah, Kebiasaan Menghakimi Tetap Sama
Dulu, seseorang mungkin menghakimi tetangganya dari teras rumah.
Sekarang, cukup dari layar ponsel.
Satu video membuat seseorang terlihat malas. Satu foto membuat orang lain tampak pamer. Satu komentar membuat karakter seseorang seolah selesai dibaca.
Kemudian vonis datang.
Cepat. Ringkas. Percaya diri.
Padahal, kita hanya melihat beberapa detik dari kehidupan seseorang.
Di sinilah pembahasan tentang ghibah dalam hati menjadi menarik. Kita memang tidak boleh menyamakan setiap lintasan pikiran dengan ghibah secara otomatis. Pikiran yang muncul sekilas berbeda dengan penilaian buruk yang sengaja dipelihara.
Namun, lintasan yang dibiarkan dapat berkembang menjadi prasangka.
Prasangka yang dipelihara dapat berubah menjadi penghinaan.
Dan penghinaan yang sudah dianggap biasa akhirnya mudah keluar melalui ucapan maupun tindakan.
Karena itu, menjaga hati bukan berarti berhenti berpikir kritis. Kita tetap boleh menilai perbuatan. Kita tetap boleh menolak kesalahan. Tetapi, mengkritik sebuah tindakan berbeda dengan merasa lebih tinggi daripada orang yang melakukan tindakan tersebut.
Tiga Tanda Taufiq: Bukan Untuk Menghakimi Orang
Dalam Qut al-Qulub karya Abu Talib al-Makki, terdapat ungkapan tentang tiga tanda taufiq: kebaikan datang kepada seseorang tanpa ia rencanakan, kemaksiatan dijauhkan darinya meskipun ia berhadapan dengan godaan, serta terbukanya pintu berlindung dan merasa membutuhkan Allah dalam keadaan sulit maupun lapang. Teks yang sama juga menyebut tiga tanda khidlan atau keterjauhan dari pertolongan: kebaikan terasa sulit meskipun dicari, kemaksiatan menjadi mudah meskipun ditakuti, dan pintu merasa membutuhkan Allah tertutup.
Tetapi bagian ini jangan digunakan sebagai alat untuk menilai, “Orang itu sedang mendapat taufiq” atau “Orang itu sedang dihinakan Allah.”
Itu wilayah yang jauh lebih rumit.
Lebih tepat jika nasihat tersebut menjadi kaca untuk melihat diri sendiri.
Ketika ibadah terasa berat, apa yang perlu diperbaiki?
Ketika maksiat terasa mudah, apa yang sedang kita pelihara?
Dan ketika doa semakin jarang, apakah kita sedang merasa tidak membutuhkan Allah?
Pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih berguna daripada sibuk mencari tanda pada diri orang lain.
Ibnu Athaillah: Hukuman Tidak Selalu Datang dengan Suara Keras
Peringatan serupa muncul dalam Al-Hikam al-‘Aṭā’iyyah karya Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari.
Pada Hikmah ke-66 dalam teks yang dirujuk, disebutkan bahwa salah satu kebodohan seorang murid adalah ketika ia berbuat buruk, tetapi hukuman belum segera terlihat. Ia kemudian mengira bahwa tindakannya tidak bermasalah karena merasa pertolongan belum terputus.
Padahal, menurut hikmah tersebut, pertolongan dapat berkurang dengan cara yang tidak disadari. Salah satu bentuknya adalah “mencegah tambahan” atau membiarkan seseorang terus mengikuti apa yang diinginkan hawa nafsunya.
Ini bagian yang paling mengganggu sekaligus paling menarik.
Sebab, kita sering mengira hukuman harus berbentuk kehilangan uang, sakit, kegagalan, atau musibah.
Padahal, menurut pesan Ibnu Athaillah, seseorang bisa saja berada dalam keadaan yang tampak baik dari luar, tetapi perlahan kehilangan pertumbuhan batinnya.
Ibadah tetap dilakukan, tetapi hati tidak bertambah lembut.
Nasihat masih didengar, tetapi tidak lagi menyentuh.
Kesalahan terus dilakukan, tetapi rasa bersalah semakin tipis.
Dan yang paling berbahaya: seseorang merasa semuanya baik-baik saja.
Akhlak Dimulai dari Cara Kita Memandang Orang
Ada ungkapan yang masyhur dalam literatur akhlak:
أَدَّبَنِي رَبِّي فَأَحْسَنَ تَأْدِيبِي
Ungkapan tersebut populer dengan makna bahwa Allah mendidik dan menyempurnakan pendidikan akhlak Nabi saw. Namun, untuk menjaga ketelitian redaksional, ungkapan tersebut tidak sebaiknya ditulis sebagai hadis sahih tanpa keterangan mengenai status sanadnya.
Landasan Al-Qur’an yang jelas justru terdapat dalam QS Al-A’raf ayat 199:
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
Pesannya sederhana: belajar memaafkan, mengajak kepada kebaikan, dan tidak larut dalam kebodohan.
Maka, menjaga akhlak bukan hanya soal apa yang keluar dari mulut.
Ia juga menyangkut bagaimana kita memandang orang lain ketika mereka tidak berada di hadapan kita.
Kisah Al-Junaid pada akhirnya bukan sekadar cerita tentang seorang miskin, sebuah mimpi, atau rasa bersalah.
Ia adalah cermin.
Dan cermin itu tidak bertanya siapa orang paling buruk di sekitar kita.
Ia justru bertanya:
Ketika kita sibuk menghitung kekurangan orang lain, apakah kita masih sempat menghitung penyakit yang sedang tumbuh di dalam hati sendiri?
Sebab, bisa jadi kesalahan terbesar bukan ketika kita melihat keburukan orang lain.
Kesalahan terbesar adalah ketika kita begitu yakin sudah lebih baik daripada mereka. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar