Benarkah Bulan Safar Membawa Sial? Ini Fakta Islam
- account_circle redaktur
- calendar_month Minggu, 19 Jul 2026
- visibility 34
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi kalender Bulan Safar.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH – Bulan Safar dalam kalender Hijriah masih sering dikaitkan dengan anggapan sebagai waktu yang membawa kesialan oleh sebagian masyarakat. Namun, bagaimana sebenarnya pandangan Islam tentang bulan Safar?
Dalam ajaran Islam, tidak ada dalil sahih yang menyatakan bahwa bulan Safar adalah bulan sial atau membawa musibah tertentu. Sebaliknya, Rasulullah ﷺ mengajarkan umatnya untuk meninggalkan keyakinan yang menghubungkan nasib buruk dengan waktu, tempat, maupun tanda-tanda tertentu.
Islam mengajarkan bahwa segala kejadian berada dalam ketetapan Allah SWT. Karena itu, seorang Muslim dianjurkan memperkuat iman, memperbanyak amal saleh, dan menjauhi keyakinan yang tidak memiliki dasar dalam syariat.
Berikut fakta penting tentang bulan Safar dalam Islam lengkap dengan dalil yang menjadi pedoman.
1. Bulan Safar Adalah Bagian dari Kalender Hijriah, Bukan Bulan Pembawa Sial
Bulan Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriah setelah Muharam dan sebelum Rabiulawal.
Islam mengakui perjalanan waktu sebagai bagian dari ketetapan Allah SWT. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi…”
(QS. At-Taubah: 36)
Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah menetapkan 12 bulan dalam satu tahun. Setiap bulan memiliki kedudukan sebagai bagian dari sistem waktu yang Allah ciptakan.
Dengan demikian, tidak ada dasar bahwa bulan tertentu secara mutlak membawa keberuntungan atau kesialan.
2. Rasulullah ﷺ Membatalkan Keyakinan Bahwa Safar Membawa Sial
Pada masa jahiliah, sebagian masyarakat Arab memiliki keyakinan bahwa bulan Safar membawa kesialan. Mereka bahkan menghindari perjalanan atau pernikahan karena menganggap waktunya tidak baik.
Namun, Rasulullah ﷺ meluruskan keyakinan tersebut.
Beliau bersabda:
“Tidak ada penyakit menular dengan sendirinya, tidak ada thiyarah (anggapan sial karena tanda tertentu), tidak ada hamah, dan tidak ada (kesialan) pada bulan Safar.”
(HR. Bukhari no. 5757 dan Muslim no. 2220)
Hadis ini menjadi dasar utama bahwa Islam menolak anggapan Safar sebagai bulan pembawa sial.
Maknanya bukan berarti seorang Muslim mengabaikan sebab, tetapi tidak boleh meyakini bahwa waktu tertentu memiliki kekuatan sendiri untuk mendatangkan bahaya.
3. Islam Melarang Keyakinan Takhayul tentang Waktu dan Pertanda
Kepercayaan bahwa bulan tertentu membawa kesialan termasuk bentuk thiyarah, yaitu merasa sial karena tanda atau kejadian tertentu.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik.”
(HR. Abu Dawud no. 3910 dan Tirmidzi no. 1614)
Hadis tersebut mengingatkan umat Islam agar tidak menggantungkan keyakinan kepada sesuatu selain Allah SWT.
Sebaliknya, seorang Muslim diperintahkan untuk bertawakal.
Allah SWT berfirman:
“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).”
(QS. At-Talaq: 3)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa perlindungan dan ketentuan hidup berada di tangan Allah, bukan pada nama bulan atau waktu tertentu.
4. Tidak Ada Ibadah Khusus yang Ditetapkan untuk Bulan Safar
Berbeda dengan bulan Ramadan yang memiliki kewajiban puasa, atau bulan Zulhijah yang memiliki ibadah haji dan kurban, tidak ada ibadah khusus yang ditetapkan hanya untuk bulan Safar.
Tidak terdapat hadis sahih yang memerintahkan umat Islam melakukan salat tertentu, puasa khusus, atau amalan tertentu hanya karena memasuki bulan Safar.
Namun, hal tersebut bukan berarti Safar adalah bulan yang tidak memiliki nilai.
Allah SWT memerintahkan manusia untuk selalu berbuat baik kapan pun dan di mana pun.
“Dan berbuat baiklah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”
(QS. Al-Baqarah: 195)
Artinya, kesempatan mendapatkan pahala selalu terbuka sepanjang waktu.
5. Bulan Safar Memiliki Catatan Sejarah dalam Perjalanan Islam
Dalam sejarah Islam, bulan Safar menjadi bagian dari perjalanan dakwah Rasulullah ﷺ.
Sejumlah ekspedisi Rasulullah ﷺ bersama para sahabat tercatat terjadi pada bulan ini, termasuk beberapa perjalanan dalam rangka menjaga keamanan masyarakat Muslim di Madinah.
Selain itu, sebagian ahli sejarah menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ mulai mengalami sakit menjelang wafat pada akhir bulan Safar tahun 11 Hijriah. Kemudian beliau wafat pada 12 Rabiulawal tahun yang sama.
Catatan sejarah tersebut menunjukkan bahwa Safar bukan bulan yang harus ditakuti, melainkan bagian dari perjalanan panjang umat Islam.
Hikmah Bulan Safar: Memperkuat Tauhid dan Meninggalkan Mitos
Pembahasan tentang bulan Safar memberikan pelajaran penting bagi umat Islam.
Seorang Muslim tidak seharusnya takut kepada bulan tertentu, karena semua waktu adalah ciptaan Allah SWT. Yang menjadi ukuran bukan kapan seseorang menjalani kehidupan, tetapi bagaimana ia mengisi waktunya dengan iman dan amal kebaikan.
Jika ada ujian atau musibah, seorang Muslim meyakini bahwa semuanya terjadi atas izin Allah.
Allah SWT berfirman:
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.”
(QS. At-Taghabun: 11)
Bulan Safar tidak pernah menjadi sumber kesialan. Yang membuat manusia jauh dari keberkahan bukanlah sebuah bulan, tetapi ketika hati mulai percaya kepada ketakutan yang tidak memiliki dasar. Dalam Islam, setiap waktu adalah kesempatan untuk mendekat kepada Allah SWT. (Red)
- Penulis: redaktur



Saat ini belum ada komentar