Tasik Pelak Dorong KPM PKH Tasikmalaya Jadi Mandiri
- account_circle redaktur
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

Pelatihan kewirausahaan KPM PKH melalui program Tasik Pelak di Kota Tasikmalaya (Foto: Dinas Kominfo Kota Tasik).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – Tasik Pelak menjadi salah satu upaya Pemerintah Kota Tasikmalaya mendorong KPM PKH Tasikmalaya meningkatkan kemampuan ekonomi keluarga. Melalui pelatihan kewirausahaan, keluarga penerima manfaat Program Keluarga Harapan (PKH) mendapat bekal untuk mengembangkan usaha produktif dan membangun sumber penghasilan yang lebih mandiri.
Pelatihan tersebut digelar Dinas Sosial Kota Tasikmalaya di Aula Bapelitbangda. Pesertanya merupakan KPM PKH desil 1 dan 2 yang masih membutuhkan pendampingan untuk meningkatkan kondisi ekonomi keluarga.
Namun, program ini tidak tepat jika dipahami sebagai jaminan bahwa seluruh peserta akan langsung keluar dari kemiskinan. Pemerintah menempatkan pelatihan sebagai salah satu bekal dalam proses pemberdayaan, sementara hasil akhirnya tetap membutuhkan usaha, pendampingan, serta perkembangan ekonomi masing-masing keluarga.
Tasik Pelak Mendorong KPM Lebih Produktif
Kepala Dinas Sosial Kota Tasikmalaya, Rahman, S.Sos., M.Si., menyampaikan bahwa pertumbuhan wirausaha menjadi bagian penting dalam mendorong kemajuan ekonomi masyarakat.
Karena itu, ia mengajak peserta mengikuti pelatihan dengan sungguh-sungguh. Selain keterampilan berusaha, peserta juga perlu membangun mental yang kuat agar ilmu yang diperoleh dapat diterapkan setelah kegiatan selesai.
Pesan tersebut menjadi penting karena memulai usaha tidak selalu mudah. Peserta harus mampu mengelola modal, menentukan produk, mencari pasar, menjaga kualitas, hingga mempertahankan usaha ketika penjualan belum sesuai harapan.
Dengan demikian, Tasik Pelak Kota Tasikmalaya tidak hanya berbicara tentang kegiatan pelatihan. Program tersebut membawa gagasan pemberdayaan agar KPM memiliki peluang meningkatkan kapasitas ekonomi melalui kegiatan produktif.
Pada titik ini, pelatihan menjadi awal, bukan akhir.
Dari Bantuan Sosial Menuju Kemandirian
Plt. Asisten Daerah 1 Kota Tasikmalaya, Drs. Ade Hendar, M.M., menegaskan pemerintah hadir mendampingi masyarakat dalam proses menuju kehidupan yang lebih baik.
Menurutnya, peserta PKH dan penerima bantuan sosial diharapkan dapat mengalami peningkatan desil. Selanjutnya, pemerintah berharap mereka dapat keluar dari status miskin.
Ketika terjadi perubahan status, pendampingan tetap diperlukan. Artinya, proses pemberdayaan tidak semestinya berhenti hanya karena terjadi perubahan kondisi penerima manfaat.
Bagi KPM PKH Tasikmalaya, pesan tersebut menunjukkan adanya proses bertahap. Keluarga penerima manfaat mendapatkan bantuan sesuai program, kemudian memperoleh kesempatan memperkuat kapasitas ekonomi melalui pemberdayaan.
Akan tetapi, penting untuk membedakan antara target program dan hasil yang sudah terbukti.
Dalam materi pemerintah, kenaikan desil dan keluarnya keluarga dari status miskin merupakan harapan yang ingin dicapai. Belum ada data dalam materi yang diberikan untuk menyatakan bahwa seluruh peserta pelatihan sudah berhasil mencapai kondisi tersebut.
Karena itu, keberhasilan Tasik Pelak nantinya perlu dilihat dari perkembangan nyata peserta setelah mengikuti pelatihan.
Angka Kemiskinan Jadi Konteks Penting
Program pemberdayaan ini hadir di tengah persoalan kemiskinan yang masih menjadi perhatian Kota Tasikmalaya.
Dalam materi yang disampaikan pemerintah, angka kemiskinan Kota Tasikmalaya disebut mencapai 10,44 persen atau sekitar 75 ribu jiwa.
Angka tersebut menjadi konteks penting dalam melihat urgensi pemberdayaan masyarakat. Namun, materi yang menjadi dasar artikel ini tidak memberikan keterangan tahun atau periode statistik secara spesifik.
Karena itu, AlbadarPost tidak menempatkan angka tersebut sebagai klaim statistik tahun tertentu. Angka itu ditulis sebagaimana disebut dalam materi pemerintah agar tidak memberikan konteks waktu yang keliru kepada pembaca.
Di sisi lain, angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan kemiskinan membutuhkan pendekatan yang lebih luas. Bantuan sosial dapat membantu memenuhi kebutuhan masyarakat, tetapi pemberdayaan ekonomi juga diperlukan agar keluarga memiliki peluang meningkatkan pendapatan.
Di sinilah program seperti Tasik Pelak memiliki tantangan tersendiri.
Tantangan Setelah Peserta Pulang
Pelatihan kewirausahaan akan memiliki dampak lebih besar jika ilmu yang diperoleh peserta benar-benar diterapkan.
Karena itu, tahap setelah pelatihan menjadi bagian yang tidak kalah penting. Peserta membutuhkan kesempatan mengembangkan usaha, sementara pemerintah dan pendamping perlu melihat perkembangan mereka secara berkala.
Apakah usaha mulai berjalan? Apakah peserta mampu mempertahankan kegiatan produktif? Apakah kondisi ekonomi keluarga mengalami perubahan?
Pertanyaan tersebut penting untuk mengukur dampak pemberdayaan secara lebih objektif.
Sebab, jumlah peserta yang mengikuti pelatihan belum cukup untuk menggambarkan keberhasilan sebuah program. Dampak yang dirasakan keluarga dalam jangka menengah justru memberikan gambaran yang lebih kuat.
Dalam konteks ini, graduasi PKH Tasikmalaya sebaiknya dipahami sebagai proses, bukan sekadar perubahan status administrasi. Kemandirian ekonomi membutuhkan waktu dan tidak selalu berjalan dengan pola yang sama pada setiap keluarga.
Tasik Pelak Perlu Dibuktikan dengan Dampak
Pemerintah Kota Tasikmalaya telah membuka ruang pemberdayaan melalui pelatihan kewirausahaan. Selanjutnya, tantangan berada pada bagaimana bekal tersebut berubah menjadi aktivitas ekonomi yang berkelanjutan.
Peserta tentu memiliki kondisi dan kemampuan yang berbeda. Karena itu, pendampingan menjadi penting agar mereka tidak berjalan sendiri setelah memperoleh materi pelatihan.
Jika proses tersebut berjalan konsisten, pemberdayaan KPM PKH dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat ekonomi keluarga.
Namun, ukuran keberhasilannya tetap harus kembali kepada perubahan yang nyata, bukan sekadar jumlah kegiatan.
Tasik Pelak pada akhirnya bukan hanya tentang satu hari pelatihan di Aula Bapelitbangda. Program ini akan lebih bermakna ketika pengetahuan yang diberikan benar-benar menemukan jalannya di rumah-rumah peserta, berubah menjadi usaha, menghasilkan pendapatan, dan perlahan memperkuat kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan sendiri.
Bantuan membuat keluarga mampu bertahan. Pemberdayaan membuka peluang untuk tumbuh. Tetapi keberhasilan Tasik Pelak baru benar-benar terlihat ketika pelatihan selesai, peserta pulang, lalu ilmu itu berubah menjadi usaha yang hidup dan penghasilan yang nyata. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar