BBWS Citanduy Temui Wali Kota Tasikmalaya, Ini yang Dibahas
- account_circle redaktur
- calendar_month Rabu, 26 Agt 2026
- visibility 35
- comment 0 komentar
- print Cetak

Kantor Wali Kota Tasikmalaya.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – Pertemuan Wali Kota Tasikmalaya dengan jajaran BBWS Citanduy pada Rabu (26/8/2026) menempatkan pengelolaan sumber daya air dan pembangunan infrastruktur dalam satu meja pembahasan. Koordinasi tersebut menjadi penting karena kebutuhan masyarakat terhadap air dan infrastruktur terus bersinggungan dengan berbagai sektor pelayanan publik.
Wali Kota Tasikmalaya menerima kunjungan jajaran Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) di ruang kerjanya. Dalam pertemuan itu, Pemerintah Kota Tasikmalaya dan BBWS membangun komunikasi untuk mendukung pengelolaan sumber daya air serta pembangunan infrastruktur yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat.
Secara kelembagaan, nama resmi balai tersebut adalah Balai Besar Wilayah Sungai Citanduy (BBWS Citanduy), unit di bawah Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dengan wilayah kerja Wilayah Sungai Citanduy.
Karena itu, pertemuan tersebut menarik perhatian bukan hanya dari sisi hubungan antarlembaga. Lebih jauh, koordinasi antara pemerintah daerah dan pengelola sumber daya air memiliki kaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat.
Air Bukan Sekadar Persoalan Infrastruktur
Sumber daya air memiliki cakupan persoalan yang luas. Selain menyangkut kebutuhan air masyarakat, pengelolaannya juga berhubungan dengan jaringan irigasi, infrastruktur sumber daya air, pertanian, hingga ketahanan wilayah menghadapi kondisi cuaca tertentu.
Dalam beberapa pekan terakhir, persoalan air bahkan menjadi isu yang semakin relevan di Kota Tasikmalaya. BBWS Citanduy pada 23 Agustus 2026 mencatat penyaluran air bersih kepada warga Dusun Genteng, Kelurahan Cilamajang, Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya, di tengah kondisi kemarau.
Sebelumnya, BBWS Citanduy juga menyalurkan air bersih ke sejumlah wilayah Kota Tasikmalaya yang menghadapi keterbatasan pasokan akibat musim kemarau. Salah satu kegiatan pada Juli 2026 menyasar wilayah Purbaratu dan Kawalu.
Konteks tersebut membuat koordinasi antara Pemkot Tasikmalaya dan BBWS Citanduy semakin relevan. Namun, penting untuk membedakan antara konteks persoalan air yang sedang berlangsung dengan agenda spesifik dalam pertemuan 26 Agustus.
Data pertemuan yang tersedia belum menyebutkan adanya keputusan proyek baru, nilai anggaran tertentu, lokasi pekerjaan baru, ataupun target pembangunan yang secara khusus lahir dari pertemuan tersebut.
Karena itu, informasi tersebut tidak seharusnya ditarik menjadi kesimpulan bahwa pemerintah telah menetapkan proyek tertentu.
Kepala PUTR dan DKPPP Turut Mendampingi
Dari sisi Pemerintah Kota Tasikmalaya, pertemuan tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) serta Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKPPP).
Kehadiran dua perangkat daerah itu memberikan gambaran bahwa persoalan sumber daya air memiliki irisan dengan pekerjaan pemerintah daerah di sejumlah sektor.
PUTR berkaitan dengan urusan pekerjaan umum dan tata ruang. Sementara itu, DKPPP memiliki keterkaitan dengan sektor pangan, pertanian, dan perikanan. Dengan demikian, komunikasi mengenai sumber daya air dapat memiliki dampak lintas sektor.
Selain itu, BBWS Citanduy memang memiliki berbagai agenda pengelolaan sumber daya air dan irigasi di wilayah kerjanya. Pada April 2026, misalnya, BBWS Citanduy melakukan monitoring program operasi dan pemeliharaan yang antara lain berkaitan dengan Daerah Irigasi Cikunten I serta ketersediaan debit air hingga wilayah hilir.
Artinya, koordinasi antarlembaga menjadi bagian penting dalam memastikan kebutuhan daerah dapat dikomunikasikan dengan kewenangan pengelolaan sumber daya air pada tingkat wilayah sungai.
Publik Menunggu Hasil Nyata
Pada akhirnya, nilai sebuah pertemuan antarlembaga tidak berhenti pada dokumentasi atau agenda seremonial. Masyarakat tentu lebih membutuhkan hasil yang dapat dirasakan.
Dalam konteks Kota Tasikmalaya, persoalan air memiliki dimensi yang konkret. Ketika musim kemarau berlangsung dan sebagian masyarakat membutuhkan pasokan air bersih, respons pemerintah menjadi semakin penting.
Karena itu, komunikasi antara Wali Kota Tasikmalaya dan BBWS Citanduy layak dipantau pada tahap berikutnya.
Apakah koordinasi tersebut akan menghasilkan tindak lanjut tertentu? Apakah kebutuhan infrastruktur sumber daya air di Kota Tasikmalaya akan memperoleh perhatian lebih lanjut? Atau, apakah pemerintah akan menyusun langkah bersama untuk menghadapi persoalan air yang muncul di lapangan?
Pertanyaan tersebut belum memiliki jawaban dari data pertemuan yang tersedia.
Justru di situlah pentingnya pemberitaan yang tidak terburu-buru menyimpulkan. Fakta pertemuan perlu disampaikan apa adanya, sedangkan perkembangan berikutnya harus menunggu keputusan atau informasi resmi.
Dengan demikian, pertemuan pada Rabu (26/8/2026) dapat dibaca sebagai momentum penguatan komunikasi antara Pemerintah Kota Tasikmalaya dan BBWS Citanduy dalam bidang sumber daya air serta infrastruktur.
Bagi masyarakat, ukuran akhirnya tetap sederhana: apakah koordinasi tersebut mampu bergerak dari ruang pertemuan menuju solusi yang benar-benar terasa di lapangan?
Sebab, air tidak mengenal batas meja birokrasi. Ketika kebutuhan masyarakat sudah mendesak, koordinasi harus berujung pada kerja nyata—bukan berhenti sebagai foto dan berita acara. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar