Diky Candranegara: Guru Harus Jadi Sahabat Murid
- account_circle redaktur
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

Wakil Wali Kota Tasikmalaya Rd. Diky Candranegara menyambut selamat datang kepada para guru, Minggu (28/6/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH — Konsep guru sahabat murid kembali menjadi sorotan dalam dunia pendidikan. Wakil Wali Kota Tasikmalaya Rd. Diky Candranegara menegaskan bahwa guru SD dan SMP tidak cukup hanya menjadi penyampai materi pelajaran. Sebaliknya, guru harus mampu menjadi pendamping, sahabat, sekaligus penggerak daya pikir peserta didik.
Pesan tersebut disampaikan Diky saat menanggapi pelaksanaan workshop peningkatan kompetensi guru yang diinisiasi oleh salah satu anggota DPR RI. Menurutnya, penguatan kompetensi guru tidak boleh berhenti pada aspek administrasi dan metode mengajar semata, tetapi harus menyentuh cara guru membangun hubungan dengan murid.
Guru Tidak Boleh Menjawab “Baca Buku Saja”
Diky menilai, masih terdapat pola pembelajaran yang terlalu berorientasi pada buku dan belum sepenuhnya mendorong interaksi aktif antara guru dan siswa.
Ia mencontohkan situasi ketika seorang murid mengajukan pertanyaan di kelas, namun justru diminta mencari jawabannya sendiri melalui buku pelajaran.
“Tujuan utamanya adalah supaya guru SD dan SMP benar-benar bisa menjadi sahabat murid. Guru jangan sampai ketika anak bertanya, malah dijawab ‘coba pelajari sendiri atau buka bukunya’. Hal seperti itu jangan terjadi,” ujarnya.
Menurut Diky, jawaban guru terhadap pertanyaan murid bukan sekadar transfer informasi. Lebih dari itu, jawaban tersebut dapat menentukan rasa percaya diri dan semangat belajar seorang anak.
Setiap Anak Memiliki Cara Belajar yang Berbeda
Wakil Wali Kota Tasikmalaya itu juga mengingatkan bahwa tidak ada kelas yang benar-benar homogen. Dalam satu ruang belajar, terdapat anak-anak dengan kemampuan, karakter, dan kecepatan berpikir yang berbeda-beda.
Karena itu, guru dituntut untuk memahami keragaman tersebut.
“Dalam satu kelas pasti ada murid yang berpikir cepat dan ada yang butuh waktu lebih lama untuk memahami. Kondisi ini pasti memengaruhi semangat belajar murid,” kata Diky.
Pendekatan pembelajaran yang sama terhadap seluruh siswa, menurutnya, berpotensi membuat sebagian anak kehilangan motivasi belajar.
Sebaliknya, ketika guru memahami karakter setiap murid, proses belajar akan menjadi lebih efektif dan menyenangkan.
Guru Harus Mampu Memancing Daya Pikir Anak
Diky menjelaskan bahwa peran guru modern bukan lagi sekadar menyampaikan jawaban. Guru justru harus mampu mendorong murid untuk berpikir lebih dalam.
Ia memberikan contoh sederhana.
Ketika seorang guru bertanya tentang sebuah gelas, maka pembelajaran tidak boleh berhenti pada jawaban “ini gelas”.
Guru harus melanjutkan pertanyaan berikutnya.
Untuk apa gelas digunakan? Mengapa manusia membutuhkan gelas? Apa manfaatnya? Bagaimana jika gelas tidak ada?
Melalui cara tersebut, anak akan belajar membangun logika, analisis, dan kreativitas.
“Guru harus bertanya lagi, gelas itu untuk apa, manfaatnya apa, sampai muncul pemikiran dari anak,” katanya.
Pendekatan seperti ini, menurut Diky, akan membantu siswa menjadi lebih aktif dan percaya diri.
Workshop Guru Harus Melahirkan Cara Mengajar Baru
Diky menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan workshop guru tersebut. Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kota Tasikmalaya selalu terbuka terhadap berbagai kegiatan yang dapat meningkatkan kualitas pendidikan.
Ia juga memastikan bahwa kegiatan tersebut tidak menggunakan anggaran APBD Kota Tasikmalaya.
“Kami Pemkot selalu welcome setiap ada tamu. Untuk kegiatan workshop guru ini kami tidak menggunakan APBD sama sekali,” jelasnya.
Namun demikian, manfaat utama yang diharapkan bukan sekadar pelaksanaan kegiatan seremonial, melainkan lahirnya pola pembelajaran baru yang lebih dekat dengan kebutuhan siswa.
Menurutnya, seorang guru ideal harus mampu menjadi fasilitator, motivator, sekaligus sahabat bagi peserta didiknya.
Pendidikan Bukan Sekadar Soal Nilai
Di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan, kemampuan akademik saja tidak lagi cukup.
Anak-anak membutuhkan guru yang mampu mendengar, memahami, dan membimbing mereka sebagai manusia.
Mungkin karena itulah, pesan sederhana dari Wakil Wali Kota Tasikmalaya ini terasa relevan bagi dunia pendidikan saat ini: guru tidak hanya mengajarkan pelajaran, tetapi juga menghadirkan rasa aman, rasa percaya diri, dan semangat untuk terus belajar.
Pada akhirnya, murid mungkin akan lupa rumus yang diajarkan gurunya. Namun, mereka hampir tidak pernah lupa pada guru yang pernah membuat mereka merasa didengar, dihargai, dan dipercaya. (GZ)
- Penulis: redaktur



Saat ini belum ada komentar