Opini

Istidraj dalam Islam: Nikmat yang Menipu Jiwa

albadarpost.com, OPINI – Allah SWT berfirman dalam QS. Al-A’raf: 182:

وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ
Wallażīna każżabụ bi`āyātinā sanastadrijuhum min ḥaiṡu lā ya’lamụn

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, akan Kami biarkan mereka berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui.”

Pada suatu masa yang terasa semakin dekat, manusia memuja dunia dan gemerlapnnya lebih daripada suara hati. Gedung-gedung menjulang, transaksi melesat dalam hitungan detik, dan nama seseorang melambung karena satu konten viral. Namun di balik sorak sorai itu, ayat ini bergetar pelan, seperti bisikan langit yang jarang didengar.

Baca juga: 5 Hal yang Membatalkan Puasa, Nomor 1 Jarang Disadari

Istidraj bukan sekadar azab. Sebaliknya, ia adalah penangguhan yang lembut. Allah memberi, menambah, melapangkan, bahkan memudahkan jalan dunia seseorang. Akan tetapi, kenikmatan itu tidak selalu berarti cinta. Kadang justru menjadi tangga yang menurun, bukan menaik.

Seseorang meraih kekayaan tanpa henti, lalu merasa dirinya aman. Ia sehat, dipuji, dan diikuti jutaan orang. Karena itu, ia menyangka dirinya diridhai. Padahal bisa jadi ia sedang ditarik perlahan, setapak demi setapak, menuju titik yang tak pernah ia bayangkan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Apabila engkau melihat Allah memberi dunia kepada seorang hamba atas maksiat yang ia lakukan, maka itu adalah istidraj.”
(HR. Ahmad)

Hadis ini menampar kesadaran kita. Sebab sering kali manusia mengukur kemuliaan dengan materi. Padahal ukuran langit berbeda. Dunia bisa menjadi ujian dalam bentuk kekurangan. Namun lebih sering, ia menjadi ujian dalam bentuk kelimpahan.

Jalan Sunyi yang Tak Disadari

Istidraj bekerja dalam diam. Tidak ada tanda bahaya yang berkedip. Tidak ada gemuruh yang memperingatkan. Justru semuanya terasa baik-baik saja. Karena itu, banyak orang tertipu oleh stabilitas hidupnya sendiri.

Imam Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله berkata,

“Barang siapa dilapangkan dunia untuknya sementara ia terus bermaksiat, maka ketahuilah bahwa itu adalah istidraj.”

Di sinilah letak getirnya. Seseorang merasa doanya terkabul karena bisnisnya berkembang. Ia merasa hidupnya diberkahi karena hartanya bertambah. Namun ia jarang sujud, lalai bersyukur, dan enggan bertobat. Ia tidak sadar bahwa waktu terus berjalan, sementara kesempatan kembali semakin menipis.

Di era mendatang—yang sebenarnya sudah kita pijak—manusia membangun citra lebih cepat daripada membangun jiwa. Mereka merawat reputasi, tetapi membiarkan hati retak. Mereka takut kehilangan pengikut, tetapi tidak takut kehilangan petunjuk.

Istidraj tidak datang dengan wajah menyeramkan. Ia hadir dengan kemewahan, tepuk tangan, dan validasi sosial. Karena itu, seseorang jarang merasa terancam. Ia justru merasa dipilih. Padahal mungkin ia sedang ditangguhkan untuk sebuah perhitungan yang lebih berat.

Allah menegaskan bahwa kebinasaan itu datang “dari arah yang tidak mereka ketahui.” Artinya, manusia tidak menyadari prosesnya. Ia tertawa hari ini, lalu esoknya terjatuh dalam kehinaan yang tak pernah ia sangka.

Antara Rahmat dan Perangkap

Lalu bagaimana membedakan nikmat dan istidraj?

Baca juga: Cara Food Prep Agar Tahan Seminggu

Pertama, lihatlah dampaknya pada hati. Jika kenikmatan membuat seseorang semakin tunduk, semakin takut kepada Allah, dan semakin gemar berbuat baik, maka itu rahmat. Namun jika kenikmatan membuatnya angkuh, meremehkan dosa, dan merasa aman dari azab, maka ia harus gemetar.

Kedua, perhatikan hubungan dengan Al-Qur’an. Apakah semakin dekat atau justru semakin jauh? Sebab cahaya wahyu tidak pernah menipu.

Dalam dunia yang serba cepat, manusia sering mengira penundaan hukuman berarti pengampunan. Padahal belum tentu. Penangguhan bisa menjadi strategi Ilahi agar kejatuhan terjadi dalam kondisi paling menyakitkan.

Karena itu, para ulama selalu mengajarkan muhasabah. Umar bin Khattab رضي الله عنه berkata,

“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab.”

Nasihat ini terasa semakin relevan. Sebab istidraj tidak menyasar orang yang sadar dan terus memperbaiki diri. Ia lebih mudah menjangkiti mereka yang merasa sudah cukup baik.

Maka, sebelum langit benar-benar menutup pintu kesempatan, setiap jiwa perlu bertanya: apakah nikmat yang aku rasakan mendekatkanku kepada Allah atau justru menjauhkan?

Istidraj adalah peringatan yang halus namun tajam. Ia menyayat tanpa darah, memanggil tanpa suara. Dan hanya hati yang hidup yang mampu merasakannya.

Semoga kita tidak termasuk mereka yang tertawa dalam kelalaian, lalu terbangun saat semuanya telah terlambat.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Penulis: Diki Sam ani (Pemimpin Redaksi AlbadarPost)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button