Leuwikeris Terbakar, Kelalaian Kecil Bisa Jadi Bencana
- account_circle redaktur
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

Petugas BPBD Ciamis bersama Damkar memadamkan kebakaran lahan di kawasan Bendungan Leuwikeris, Desa Handapherang, Jumat (3/7/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, EDITORIAL – Hanya satu puntung rokok yang diduga masih menyala, kawasan Bendungan Leuwikeris di Desa Handapherang, Kecamatan Cijeungjing, nyaris menghadapi kebakaran yang lebih besar pada Jumat (3/7/2026). Kebakaran lahan Ciamis itu memang berhasil dipadamkan tanpa korban jiwa. Namun, peristiwa tersebut kembali membuka kenyataan bahwa kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan masih menjadi ancaman serius ketika musim kemarau mulai mengeringkan lahan. Berdasarkan laporan awal BPBD Kabupaten Ciamis, api diduga berasal dari puntung rokok yang mengenai tumpukan sampah, kemudian menjalar ke lahan yang dipenuhi vegetasi kering.
Kejadian ini seharusnya tidak berhenti sebagai kabar tentang kebakaran semata. Lebih dari itu, insiden di Leuwikeris menjadi alarm bahwa kelalaian kecil dapat berubah menjadi bencana ketika cuaca panas, rumput mengering, dan sampah mudah terbakar.
Dari Puntung Rokok Menjadi Kobaran Api
BPBD Kabupaten Ciamis mencatat kebakaran terjadi sekitar pukul 17.30 WIB. Dugaan sementara mengarah pada puntung rokok yang dibuang ke area penempatan sampah. Bara api kemudian menyulut tumpukan sampah sebelum merambat ke lahan kering di sekitarnya.
Laporan masyarakat baru diterima sekitar pukul 19.55 WIB. Setelah itu, BPBD bersama Dinas Pemadam Kebakaran, BBWS Citanduy, aparat pemerintah desa, dan warga langsung bergerak menuju lokasi untuk menghentikan penyebaran api.
Respons cepat tersebut patut diapresiasi. Berkat kerja sama seluruh unsur, api berhasil dikendalikan sehingga tidak meluas ke kawasan lain. Luas lahan yang terbakar tercatat sekitar 25 x 15 meter, sementara BPBD memastikan tidak ada korban jiwa.
Musim Kemarau Bukan Waktu untuk Abai
Memasuki musim kemarau, hampir setiap lahan kosong berubah menjadi kawasan yang lebih rentan terbakar. Rumput mengering, daun berguguran, dan tumpukan sampah menjadi bahan bakar yang siap menyala ketika terkena bara api sekecil apa pun.
Karena itu, membuang puntung rokok sembarangan bukan lagi persoalan etika semata. Dalam kondisi tertentu, kebiasaan tersebut dapat memicu kebakaran yang mengancam lingkungan, fasilitas umum, bahkan permukiman apabila api tidak segera dikendalikan.
Leuwikeris menjadi contoh nyata bahwa sumber api tidak selalu berasal dari sesuatu yang besar. Justru kelalaian sederhana sering kali menjadi pemicu awal sebelum kebakaran berkembang lebih luas.
Jangan Biarkan Kelalaian Terus Berulang
Setiap musim kemarau, pemerintah dan petugas kebencanaan terus mengingatkan masyarakat agar tidak membakar sampah maupun membuang puntung rokok sembarangan. Sayangnya, imbauan tersebut masih sering diabaikan.
Padahal, mencegah kebakaran jauh lebih mudah daripada memadamkannya. Memastikan puntung rokok benar-benar padam sebelum dibuang hanya membutuhkan beberapa detik. Sebaliknya, ketika api telanjur membesar, tenaga, waktu, dan biaya yang dikeluarkan untuk penanganannya jauh lebih besar.
Kesadaran seperti inilah yang perlu tumbuh di tengah masyarakat. Pencegahan tidak hanya bergantung pada petugas BPBD atau Damkar, tetapi juga pada kebiasaan setiap orang dalam menjaga lingkungan.
Leuwikeris Memberikan Pelajaran Berharga
Kebakaran di kawasan Bendungan Leuwikeris memang berhasil diatasi. Namun, keberhasilan itu tidak boleh membuat masyarakat lengah. Peristiwa tersebut justru menjadi pengingat bahwa musim kemarau selalu membawa risiko yang lebih tinggi apabila tidak diiringi kepedulian terhadap lingkungan.
Satu puntung rokok mungkin terlihat tidak berarti. Akan tetapi, ketika jatuh di atas rumput kering atau tumpukan sampah, benda kecil itu dapat berubah menjadi awal sebuah bencana.
Api di Leuwikeris sudah padam. Pertanyaannya, apakah kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan juga akan ikut padam? Jika jawabannya belum, maka musim kemarau berikutnya hanya tinggal menunggu kelalaian yang sama untuk kembali menyalakan api. (Red)
- Penulis: redaktur



Saat ini belum ada komentar