Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Syekh Ibnu Athaillah: Sepi Bukan Lari, Tapi Menguatkan Hati

Syekh Ibnu Athaillah: Sepi Bukan Lari, Tapi Menguatkan Hati

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Jumat, 3 Jul 2026
  • visibility 157
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH – Dunia belum pernah seramai sekarang. Setiap detik, jutaan orang berlomba mengunggah cerita, memburu perhatian, mengejar pengakuan, dan menghitung angka suka seolah-olah itulah ukuran kebahagiaan. Ironisnya, di tengah kebisingan itu, kegelisahan justru tumbuh subur. Tafakur, menyendiri dalam Islam, dan menjaga hati terdengar seperti nasihat kuno, padahal justru menjadi obat bagi penyakit zaman modern.

Berabad-abad sebelum media sosial lahir, Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari, ulama besar penulis Al-Hikam, sudah menyampaikan kritik yang terasa seperti ditulis untuk generasi hari ini.

مَا نَفَعَ القَلْبَ ؛ مِثْلُ عُزْلَةٍ يَدْخُلُ بِهَا مَيْدَانَ فِكْرَةٍ

“Tiada sesuatu yang sangat berguna bagi hati (jiwa), sebagaimana menyendiri untuk masuk ke medan berfikir (tafakur).”

Kalimat itu bukan ajakan membenci manusia. Sebaliknya, ia menampar kecenderungan manusia yang terlalu sibuk melihat kehidupan orang lain hingga lupa mengoreksi dirinya sendiri.

Kita Hafal Kehidupan Orang Lain, Tapi Asing dengan Isi Hati Sendiri

Hari ini banyak orang mengetahui kabar artis lebih cepat daripada mengetahui keadaan tetangganya. Mereka hafal jadwal promosi influencer, tetapi lupa kapan terakhir kali menangis dalam doa. Jari begitu lincah menggulir layar, namun hati terasa berat ketika diminta duduk tenang lima menit untuk bermuhasabah.

Padahal Allah SWT mengingatkan,

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”
(QS. Al-Hasyr: 18)

Ayat ini bukan sekadar perintah berpikir. Ia mengajarkan evaluasi diri yang jujur. Tafakur membuat manusia berhenti menyalahkan keadaan dan mulai menanyakan kualitas hubungannya dengan Allah.

Salah Memilih Teman, Salah Menentukan Arah Hidup

Syekh Ibnu Athaillah tidak berhenti pada urusan tafakur. Beliau juga mengingatkan bahwa hati sangat mudah dipengaruhi lingkungan.

Rasulullah ﷺ bersabda,

“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk seperti penjual minyak wangi dan pandai besi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini terasa semakin relevan di era digital. Teman hari ini tidak selalu duduk di samping kita. Algoritma media sosial, akun yang setiap hari kita ikuti, hingga konten yang terus kita konsumsi perlahan membentuk cara berpikir tanpa kita sadari.

Karena itu Allah mewahyukan kepada Nabi Musa AS agar berhati-hati memilih sahabat. Teman yang tidak mendorong seseorang menuju ketaatan justru menjadi penghalang perjalanan menuju Allah.

Pesan serupa juga diberikan kepada Nabi Dawud AS. Ketika beliau memilih menyendiri demi mendekat kepada Allah, Allah tetap mengingatkan pentingnya memilih teman yang saleh. Artinya, Islam tidak mengajarkan mengasingkan diri selamanya. Islam mengajarkan keseimbangan: menyepi untuk memperbaiki hati, lalu kembali ke masyarakat dengan jiwa yang lebih bersih.

Dunia Tidak Salah, Tetapi Ketamakan Selalu Membunuh Hati

Salah satu nasihat paling tajam datang dari Nabi Isa AS.

Beliau berkata,

“Jangan berkawan dengan orang-orang yang mati.”

Ketika ditanya siapa yang dimaksud, beliau menjawab,

“Mereka yang rakus kepada dunia.”

Kalimat itu terdengar keras, tetapi kenyataan sering kali lebih keras. Banyak orang rela kehilangan waktu bersama keluarga demi mengejar citra. Tidak sedikit yang mengorbankan kejujuran demi keuntungan. Bahkan ada yang mengukur harga dirinya hanya dari jabatan, harta, atau jumlah pengikut di media sosial.

Padahal Rasulullah ﷺ telah mengingatkan,

“Yang paling aku khawatirkan terhadap umatku ialah lemahnya keyakinan.”

Ketika iman melemah, dunia berubah dari alat menjadi tujuan. Saat itulah hati mulai kehilangan arah.

Allah SWT berfirman,

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)

Ketenangan tidak pernah lahir dari tepuk tangan manusia. Ia tumbuh dari kedekatan kepada Allah.

Empat Kebiasaan Orang yang Ingin Membersihkan Jiwanya

Ulama besar Sahl bin Abdullah At-Tustari merangkum empat latihan yang membentuk jiwa seorang hamba.

Pertama, mengendalikan hawa nafsu melalui lapar.

Kedua, menjaga lisan dengan banyak diam.

Ketiga, memperbanyak tafakur dalam kesunyian.

Keempat, menghidupkan malam dengan salat tahajud.

Empat amalan itu tampak sederhana. Namun, semuanya menyerang akar penyakit manusia: ego, kesombongan, dan cinta dunia yang berlebihan.

Di tengah budaya yang mengagungkan pencapaian instan, empat latihan ini justru mengajarkan perlambatan. Seseorang belajar mengalahkan dirinya sendiri sebelum ingin mengalahkan orang lain.

Mungkin Kita Tidak Kekurangan Teman, Tetapi Kekurangan Waktu Bersama Allah

Teknologi membuat manusia saling terhubung selama 24 jam. Namun, hubungan yang paling penting justru sering terputus: hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya.

Syekh Ibnu Athaillah seakan mengingatkan bahwa kebisingan bukan selalu berasal dari suara. Kebisingan juga lahir dari hati yang dipenuhi ambisi, iri, dan keinginan untuk terus dibandingkan dengan orang lain.

Karena itu, menyendiri bukanlah bentuk pelarian. Tafakur adalah keberanian untuk menatap diri sendiri tanpa topeng, mengakui kelemahan, lalu kembali memperbaiki arah hidup sebelum waktu habis.

Mungkin yang membuat hati kita lelah bukan karena hidup terlalu berat. Bisa jadi karena kita terlalu sibuk mencari tempat di mata manusia, sampai lupa mencari tempat di sisi Allah. Ketika dunia terus mengajak berlari, Syekh Ibnu Athaillah justru mengajarkan satu keberanian yang mulai langka: berhenti sejenak, menyepi, lalu bertanya dengan jujur, apakah hati ini masih mengenal jalan pulang kepada Allah, atau justru telah tersesat di tengah riuhnya dunia? (Red)

Kutipan-kutipan tentang Nabi Musa AS, Nabi Dawud AS, Nabi Isa AS, dan Sahl bin Abdullah At-Tustari disampaikan sebagaimana termuat dalam syarah Al-Hikam.

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • DPUTRLH Kabupaten Tasikmalaya

    Temuan BPK di DPUTRLH Kabupaten Tasikmalaya, Spesifikasi Jadi Titik Rawan

    • calendar_month Senin, 13 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 126
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Temuan BPK pada proyek Rekonstruksi Ruas Jalan Desa Sindangjaya–Cigadoan–Cikondang di DPUTRLH Kabupaten Tasikmalaya tidak hanya menyisakan soal kelebihan pembayaran. Ada titik yang lebih tajam: mayoritas nilai temuan justru berasal dari ketidaksesuaian spesifikasi. Dalam LHP BPK atas LKPD Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya Tahun Anggaran 2025, proyek tersebut tercatat dilaksanakan oleh CV NHP dengan […]

  • Ilustrasi Baghdad sebagai pusat ilmu pada masa keemasan Islam dengan perpustakaan besar dan ilmuwan berdiskusi

    Baghdad Pernah Jadi Pusat Ilmu Dunia, Kenapa Jarang Dibahas?

    • calendar_month Kamis, 19 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 210
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Baghdad kota ilmu bukan sekadar frasa historis, melainkan simbol kejayaan peradaban yang pernah memimpin dunia. Kota ini, yang kini sering diasosiasikan dengan konflik, justru dahulu dikenal sebagai pusat intelektual global. Baghdad sebagai pusat ilmu, kota peradaban Islam, hingga pusat pengetahuan dunia menjadi identitas kuatnya di masa lalu. Di jantung Baghdad, para ilmuwan, […]

  • jemaah haji Garut

    Jemaah Haji Garut Berangkat ke Tanah Suci, Pengamanan Diperketat

    • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 148
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Suasana haru dan khidmat menyelimuti Gedung Pamengkang Pendopo Garut saat ratusan keluarga mengantar keberangkatan jemaah haji Garut Kloter 22 Gelombang II Tahun 1447 Hijriah/2026 Masehi, Kamis (7/5/2026). Di tengah padatnya lokasi pelepasan calon haji tersebut, Kapolres Garut AKBP Yugi Bayu Hendarto turun langsung memimpin pengamanan untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan […]

  • Ilustrasi suasana santri di pesantren salafi Indonesia sedang mengaji kitab kuning pada malam hari.

    Tradisi Pesantren Ini Dulu Sangat Dijaga, Kini Mulai Hilang

    • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 162
    • 0Komentar

    albadarpost.com, CAKRAWALA – Malam di pesantren dulu punya suara yang khas. Ada bunyi sandal kayu di lorong asrama. Ada suara santri mengulang hafalan pelan-pelan di bawah lampu redup. Dari kejauhan terdengar lembar kitab dibalik cepat, lalu disusul batuk kecil para santri yang masih bertahan mengaji hingga larut malam. Tradisi pesantren seperti itu pernah menjadi bagian […]

  • Kerja Sama Keperawatan

    Pemkab Garut Perluas Kerja Sama Keperawatan ke Jepang

    • calendar_month Rabu, 17 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 205
    • 0Komentar

    Pemkab Garut menjalin kerja sama keperawatan dengan Jepang untuk membuka akses kerja global perawat lokal. albadarpost.com, BERITA DAERAH – Pemerintah Kabupaten Garut resmi menjalin kerja sama keperawatan dengan Pemerintah Kota Higashikawa, Jepang. Kesepakatan ini membuka jalur kerja internasional bagi tenaga perawat asal Garut dan menjadi langkah strategis dalam memperluas akses lapangan kerja berbasis keahlian. Kolaborasi […]

  • Fakta Bulan Muharram

    5 Fakta Muharram, Nomor 4 Mengubah Cara Pandang Hidup

    • calendar_month Sabtu, 13 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 214
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HIKMAH – Menjelang datangnya Muharram, suasana di banyak kampung muslim biasanya mulai terasa berbeda. Di halaman masjid, sejumlah anak terlihat berlatih pawai obor. Sementara itu, para pengurus DKM sibuk menyiapkan pengajian, santunan yatim, atau kegiatan menyambut Tahun Baru Islam. Namun di tengah berbagai tradisi tersebut, masih banyak orang yang belum mengetahui sejumlah fakta Bulan […]

expand_less