Sudah Berjuang Keras, Mengapa Takdir Berbeda?
- account_circle redaktur
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi seseorang merenung sambil membaca Kitab Al-Hikam, menggambarkan hubungan antara ikhtiar manusia dan takdir Allah.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, OPINI – Di zaman yang serba cepat, manusia semakin terbiasa membuat target, menyusun rencana, dan mengejar berbagai impian. Namun, tidak semua yang direncanakan selalu berjalan sesuai harapan. Ada kalanya seseorang telah berusaha dengan sungguh-sungguh, tetapi hasil yang datang justru berbeda.
Dalam keadaan seperti itulah, sebagian orang mulai bertanya, mengapa perjuangan yang begitu besar belum juga menghasilkan sesuatu yang diinginkan?
Pertanyaan semacam itu sebenarnya telah dijawab berabad-abad lalu oleh Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari melalui Kitab Al-Hikam.
Beliau berkata:
سَوَابِقُ الهِمَمِ لَا تَخْرِقُ أَسْوَارَ الأَقْدَارِ
Sawā’u al-himam lā takhriqu aswāra al-aqdār.
“Kekuatan semangat, tekad, atau perjuangan tidak dapat menembus dinding-dinding takdir.”
Kalimat yang singkat itu mengandung pelajaran yang sangat dalam. Sebesar apa pun usaha manusia, semuanya tetap berada di bawah kehendak Allah SWT.
Ketika Manusia Ingin Segala Sesuatu Berjalan Sesuai Rencana
Banyak orang bekerja keras selama bertahun-tahun. Ada yang belajar hingga larut malam demi mengejar cita-cita. Ada yang membangun usaha dari nol dengan penuh kesabaran. Dan ada pula yang telah menyiapkan segala sesuatu dengan sangat matang.
Namun, hasil akhirnya ternyata tidak selalu sama dengan yang dibayangkan.
Barangkali kita pernah mendengar kisah seseorang yang telah mempersiapkan berkas lamaran dengan baik, mengikuti berbagai pelatihan, serta tidak pernah berhenti berdoa. Akan tetapi, pekerjaan yang diimpikan justru jatuh kepada orang lain.
Sebaliknya, ada orang yang tidak pernah membayangkan akan memperoleh kesempatan tertentu, tetapi jalan itu justru terbuka dengan cara yang tidak disangka-sangka.
Fragmen kehidupan seperti ini mengingatkan bahwa manusia memang diperintahkan untuk berikhtiar. Akan tetapi, hasil akhir tetap berada di tangan Allah.
Ikhtiar Adalah Tugas Manusia, Sedangkan Hasil Adalah Hak Allah
Syekh Ibnu Athaillah tidak mengajarkan sikap pasrah tanpa usaha. Beliau juga tidak mengajak manusia untuk berhenti berjuang.
Sebaliknya, Al-Hikam mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal.
Allah SWT berfirman:
وَمَا تَشَاؤُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
(QS. At-Takwir: 29)
“Dan tiadalah kamu berkehendak, kecuali apa yang dikehendaki Allah, Tuhan yang mengatur seluruh alam.”
Allah juga berfirman:
وَمَا تَشَاؤُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا
(QS. Al-Insan: 30)
“Dan tiadalah kamu menghendaki kecuali apa yang dikehendaki Allah. Sungguh Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
Ayat tersebut menunjukkan bahwa manusia memiliki kewajiban untuk berusaha. Namun, manusia tidak memiliki kuasa mutlak atas hasil yang diperoleh.
Karena itu, keberhasilan seharusnya melahirkan rasa syukur, sedangkan kegagalan tidak semestinya membuat seseorang kehilangan harapan.
Bahkan Karamah Para Wali Tetap Berada dalam Takdir Allah
Dalam hikmah tersebut, Ibnu Athaillah juga mengingatkan bahwa kejadian-kejadian luar biasa atau karamah para wali tidak keluar dari ketetapan Allah SWT.
Artinya, tidak ada satu pun makhluk yang mampu melampaui kehendak-Nya.
Semakin tinggi ilmu seseorang, biasanya semakin kecil rasa ujub dalam dirinya. Sebab, ia menyadari bahwa keberhasilan bukan semata hasil kecerdasan dan kekuatan dirinya.
Demikian pula sebaliknya. Tidak semua kegagalan merupakan tanda keburukan. Bisa jadi, Allah sedang menyiapkan sesuatu yang lebih baik, meskipun manusia belum memahaminya saat ini.
Memahami Takdir Bukan Berarti Berhenti Berusaha
Kesalahan yang sering muncul adalah menganggap takdir sebagai alasan untuk bermalas-malasan.
Padahal, para ulama justru mengajarkan sebaliknya.
Takdir bukan musuh ikhtiar.
Orang yang memahami takdir biasanya tetap bekerja keras. Namun, ia tidak menjadi sombong ketika berhasil dan tidak mudah putus asa ketika menghadapi kegagalan.
Ia sadar bahwa tugas manusia hanyalah mengetuk pintu.
Sedangkan yang membuka pintu itu adalah Allah SWT.
Karena itu, ketenangan sejati bukan lahir dari keyakinan bahwa semua keinginan pasti tercapai. Ketenangan justru lahir ketika manusia telah berusaha sebaik mungkin, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan penuh keikhlasan.
Pelajaran yang Sering Terlupakan
Di tengah budaya yang mengagungkan pencapaian dan kesuksesan, hikmah Ibnu Athaillah seolah mengingatkan bahwa hidup tidak sepenuhnya berada dalam genggaman manusia.
Kita boleh memiliki mimpi yang besar.
Kita juga boleh berjuang dengan sekuat tenaga.
Namun, kita tetap perlu menyadari bahwa ada kehendak Allah yang jauh lebih luas daripada apa yang dapat dijangkau oleh pikiran manusia.
Sebab, tidak semua yang tertunda berarti ditolak.
Dan tidak semua yang hilang berarti menjadi kerugian.
Kadang-kadang, Allah hanya sedang mengajarkan bahwa manusia adalah hamba, bukan penguasa takdir.
Barangkali yang paling berat dalam hidup bukanlah menerima takdir Allah, melainkan merelakan keinginan diri ketika Allah memilih jalan yang berbeda. Sebab pada akhirnya, tugas manusia hanyalah berikhtiar dengan sungguh-sungguh, sedangkan hasil terbaik selalu menjadi hak Allah semata.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Penulis: Diki Samani (Pemimpin Redaksi AlbadarPost)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar