Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Ingin Fokus Ibadah dan Meninggalkan Dunia? Bisa Jadi Itu Tipuan Nafsu

Ingin Fokus Ibadah dan Meninggalkan Dunia? Bisa Jadi Itu Tipuan Nafsu

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Jumat, 12 Jun 2026
  • visibility 270
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH – Tajrid dan kasab, adalah dua hal yang seharusnya seimbang. Tapi tidak sedikit orang pernah membayangkan hidup yang seluruhnya diisi ibadah. Tidak lagi sibuk mengejar target pekerjaan. Tidak lagi dipusingkan urusan dagang, sawah, kantor, atau tagihan bulanan. Yang ada hanya zikir, salat, mengaji, dan mendekat kepada Allah.

Sekilas, keinginan itu terdengar mulia.

Namun menurut Imam Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam kitab Al-Hikam, tidak semua keinginan meninggalkan dunia berasal dari petunjuk Allah. Dalam keadaan tertentu, syahwat yang sangat halus dan sulit dikenali justru dapat menyamar di balik keinginan tersebut.

Hikmah tentang tajrid dan kasab ini menjadi salah satu pelajaran tasawuf yang paling sering disalahpahami.

Padahal pesan yang terkandung di dalamnya sangat dekat dengan kehidupan umat Islam sehari-hari.

Tidak Semua Orang Diperintahkan Meninggalkan Dunia

Ibnu Athaillah berkata:

إِرَادَتُكَ التَّجْرِيدَ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِي الْأَسْبَابِ مِنَ الشَّهْوَةِ الْخَفِيَّةِ، وَإِرَادَتُكَ الْأَسْبَابَ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِي التَّجْرِيدِ انْحِطَاطٌ مِنَ الْهِمَّةِ الْعَلِيَّةِ

“Keinginanmu untuk lepas dari sebab-sebab (usaha dunia), padahal Allah menempatkanmu pada sebab-sebab itu, merupakan syahwat yang tersembunyi.”

Hikmah ini mengajarkan bahwa seseorang tidak harus meninggalkan pekerjaan untuk mendekat kepada Allah.

Justru bagi sebagian orang, bekerja adalah bagian dari ibadah yang diperintahkan Allah.

Di banyak desa di Priangan, misalnya, masih mudah ditemukan petani yang berangkat ke sawah selepas Subuh. Di tangannya ada cangkul. Tapi di bibirnya ada wirid pendek yang terus berulang sepanjang perjalanan.

Ia mungkin tidak pernah membaca kitab tasawuf yang tebal.

Namun tanpa sadar, ia sedang menjalani hikmah ini setiap hari.

Bekerja dengan tangan.

Tetapi tetap menggantungkan hati kepada Allah.

Begitu pula para pedagang pasar yang membuka kios sejak pagi, para guru yang mengajar murid-muridnya, atau para sopir yang mengantar penumpang dari satu tempat ke tempat lain.

Mereka tidak meninggalkan dunia.

Namun mereka juga tidak melupakan akhirat.

Allah Lebih Tahu Jalan yang Cocok untuk Setiap Hamba

Syarah Al-Hikam mengajarkan bahwa seorang hamba wajib ridha terhadap posisi yang Allah pilihkan untuknya, karena Allah lebih mengetahui apa yang terbaik bagi dirinya.

Sebab Allah lebih mengetahui apa yang mendatangkan manfaat dan apa yang mendatangkan mudarat bagi kehidupan hamba-Nya.

Karena itu, ukuran kesalehan bukan terletak pada profesinya.

Ukuran kesalehan terletak pada ketaatan yang dijaga dalam profesi tersebut.

Allah berfirman:

“Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya.”

(QS. Al-Mulk: 15)

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam tidak memisahkan antara tajrid dan kasab, antara ibadah dan usaha.

Kasab atau bekerja bukan lawan dari tawakal.

Sebaliknya, tawakal yang benar justru lahir setelah seseorang melakukan usaha terbaik yang mampu ia lakukan.

Syaitan Tidak Selalu Mengajak kepada Maksiat

Salah satu pelajaran menarik dalam syarah ini adalah cara syaitan menggoda manusia.

Sering kali kita membayangkan syaitan mengajak kepada dosa yang jelas terlihat.

Padahal tidak selalu demikian.

Terkadang syaitan datang melalui sesuatu yang tampak baik.

Allah menceritakan bagaimana syaitan menggoda Nabi Adam AS:

“Tuhan tidak melarang kamu mendekati pohon ini melainkan supaya kamu tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal.”

(QS. Al-A’raf: 20)

Dalam ayat lain Allah berfirman:

“Wahai Adam, maukah aku tunjukkan kepadamu pohon keabadian dan kerajaan yang tidak akan binasa?”

(QS. Thaha: 120)

Perhatikan cara syaitan bekerja.

Ia tidak mengajak Adam kepada sesuatu yang tampak buruk.

Sebaliknya, ia menawarkan sesuatu yang terlihat indah.

Kekekalan.

Kemuliaan.

Kedudukan.

Hal yang sama sering terjadi dalam kehidupan modern.

Hari ini banyak orang merasa gelisah bukan karena kekurangan, melainkan karena terlalu sering membandingkan hidupnya dengan orang lain.

Media sosial memperlihatkan rumah yang lebih besar.

Mobil yang lebih mewah.

Bisnis yang lebih sukses.

Akibatnya, hati yang sebelumnya tenang menjadi resah.

Jalan Menuju Allah Tidak Selalu Sama

Ada kisah menarik dalam syarah Al-Hikam tentang seorang murid yang ingin meninggalkan kesibukan dunia demi menempuh jalan para wali.

Ia merasa aktivitas mengajar, belajar, dan bergaul dengan manusia justru menghambat perjalanan spiritualnya.

Namun gurunya memberikan jawaban yang tidak terduga.

“Bukan itu yang harus kamu lakukan. Tetaplah dalam kedudukanmu, sedang apa yang akan diberikan Allah kepadamu pasti sampai kepadamu.”

Jawaban ini terasa sederhana.

Tetapi sangat dalam.

Sebab banyak orang mengira jalan menuju Allah harus sama seperti jalan orang lain.

Padahal Allah memiliki cara yang berbeda untuk setiap hamba.

Ada yang menemukan Allah di ruang kelas.

Ada yang menemukannya di sawah.

Dan ada yang menemukannya di pasar.

Serta ada pula yang menemukannya saat mengurus keluarga.

Bahkan tidak sedikit santri yang ketika masih muda ingin meninggalkan seluruh urusan dunia demi fokus beribadah. Namun setelah dewasa, mereka justru memahami bahwa mengajar, berdagang, mengurus anak, dan melayani masyarakat juga merupakan bentuk penghambaan kepada Allah.

Hikmah yang Sering Terlupakan

Tajrid bukan tujuan.

Kasab juga bukan tujuan.

Keduanya hanyalah jalan.

Yang menjadi tujuan tetap sama, yaitu ridha Allah.

Karena itu, seseorang tidak perlu iri kepada jalan hidup orang lain.

Tidak perlu memaksa dirinya menjadi seperti orang lain.

Tidak perlu meninggalkan amanah yang Allah titipkan hanya karena terlihat kurang “spiritual”.

Jika Allah menempatkanmu di pasar, beribadahlah di pasar.

Jika Allah menempatkanmu di sawah, beribadahlah di sawah.

Dan jika Allah menempatkanmu di ruang kerja, beribadahlah di ruang kerja.

Sebab sering kali jalan tercepat menuju Allah bukanlah jalan yang kita pilih sendiri, melainkan jalan yang telah Allah pilihkan untuk kita sejak awal.

Banyak orang menghabiskan hidupnya mencari jalan menuju Allah di tempat yang jauh. Padahal bisa jadi, jalan itu sudah terbentang di depan mata: di sawah yang ia garap, di toko yang ia jaga, di kelas yang ia ajar, atau di keluarga yang setiap hari ia nafkahi dengan penuh keikhlasan. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • toko online terpercaya

    Kredibilitas Toko Online Terpercaya Jadi Sorotan di Harbolnas 2025

    • calendar_month Kamis, 11 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 177
    • 0Komentar

    Panduan mengenali toko online terpercaya agar aman berbelanja menjelang Harbolnas 2025. albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Menjelang Harbolnas 2025, lalu lintas transaksi digital melonjak tajam di hampir semua platform e-commerce. Promo besar yang ditawarkan membuat belanja online makin populer, terutama karena akses yang mudah dan serba cepat. Namun di balik kenyamanan itu, risiko penipuan digital ikut […]

  • Petugas kepolisian menjelaskan proses hukum penetapan tersangka kasus penganiayaan Banser Tangerang

    Polisi Tegaskan Proses Penetapan Tersangka Penganiayaan Banser Tangerang

    • calendar_month Minggu, 1 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 204
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Penegakan hukum kembali menjadi sorotan publik setelah polisi menetapkan Habib Bahar bin Smith sebagai tersangka dalam kasus penganiayaan Banser Tangerang. Peristiwa ini menarik perhatian luas karena melibatkan tokoh publik serta organisasi kemasyarakatan. Namun di balik hiruk pikuk pemberitaan, satu hal penting patut dipahami bersama: bagaimana sebenarnya penyidik bekerja dalam menetapkan seseorang […]

  • perlindungan anak

    DPR Desak Negara Perkuat Perlindungan Anak demi Tekan Risiko Penculikan

    • calendar_month Minggu, 16 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 116
    • 0Komentar

    Kasus penculikan Bilqis dan Alvaro memicu desakan DPR agar negara memperkuat perlindungan anak secara menyeluruh. albadarpost.com, HUMANIORA – Kasus penculikan anak di beberapa daerah kembali menempatkan perlindungan anak sebagai isu mendesak dalam kebijakan publik. Dua peristiwa yang menyita perhatian, yakni hilangnya Bilqis di Makassar dan Alvaro di Jakarta Selatan, menunjukkan bahwa sistem keselamatan anak di […]

  • Ilustrasi kehidupan modern dengan media sosial, keramaian kota, dan refleksi tanda akhir zaman dalam perspektif Islam.

    Media Sosial hingga Hilangnya Rasa Malu, Inikah Tanda Akhir Zaman?

    • calendar_month Jumat, 8 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 214
    • 0Komentar

    Hadis akhir zaman mulai terlihat dalam kehidupan modern, dari fitnah media sosial hingga hilangnya rasa malu.

  • Wirausaha Pemula

    Sudah Punya NIB, Tapi Belum Tentu Wirausaha Pemula?

    • calendar_month Selasa, 8 Sep 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 40
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL — Wirausaha Pemula menjadi salah satu istilah penting dalam Perpres Nomor 38 Tahun 2026 tentang Pengembangan Kewirausahaan Nasional. Bagi pelaku UMKM yang sudah memiliki NIB atau mendaftarkan usahanya melalui sistem perizinan berusaha secara elektronik, muncul pertanyaan sederhana: apakah status tersebut otomatis membuat mereka menjadi Wirausaha Pemula? Jawabannya tidak sesederhana itu. Perpres 38 […]

  • PMT stunting

    PMT Stunting Jadi Fokus PKK Tasikmalaya Percepat Perbaikan Gizi

    • calendar_month Selasa, 9 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 135
    • 0Komentar

    Upaya PKK Tasikmalaya percepat penurunan stunting dengan penyaluran PMT di 39 kecamatan. albadarpost.com, HUMANIORA – Tingkat stunting di Kabupaten Tasikmalaya yang masih berada di kisaran 17,1 persen mendorong PKK memperluas penyaluran PMT stunting bagi balita. Program ini digerakkan serentak di 39 kecamatan sebagai upaya percepatan penurunan kasus melalui intervensi gizi langsung. Ketua TP PKK Kabupaten […]

expand_less