Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Ketika Dosa Dirasa Biasa, Mungkin Hati Sedang Bermasalah

Ketika Dosa Dirasa Biasa, Mungkin Hati Sedang Bermasalah

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
  • visibility 223
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, OPINI – Di zaman sekarang, pembahasan tentang hati mati sering terdengar seperti potongan ceramah yang lewat begitu saja di beranda media sosial. Padahal ketika kalimat Syekh Athaillah dibaca pelan-pelan, rasanya tidak nyaman juga.

Beliau berkata:

“مِنْ عَلَامَاتِ مَوْتِ الْقَلْبِ عَدَمُ الْحُزْنِ عَلَى مَا فَاتَكَ مِنَ الْمُوَافَقَاتِ، وَتَرْكُ النَّدَمِ عَلَى مَا فَعَلْتَهُ مِنْ وُجُودِ الزَّلَّاتِ”
“Sebagian tanda matinya hati adalah ketika seseorang tidak merasa sedih karena kehilangan kesempatan berbuat baik dan tidak menyesal saat terjatuh dalam dosa.”

Kalimat itu pendek. Namun efeknya panjang.

Sebab hari ini banyak orang masih bisa tertawa setelah berbuat salah. Bahkan sempat mengedit videonya dulu. Diberi musik mellow. Ditambah caption sok kuat. Setelah itu diunggah sambil memantau jumlah view naik perlahan.

Yang aneh, sebagian manusia modern justru mulai merasa asing dengan suasana baik.

Bangun Subuh terasa berat.
Datang ke majelis terasa malas.
Namun scrolling video pendek sampai dua jam lewat tengah malam terasa ringan seperti tidak terjadi apa-apa.

Ketika Dosa Mulai Terasa Normal

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَتُهُ فَهُوَ مُؤْمِنٌ

“Siapa yang merasa senang dengan amal baiknya dan sedih karena dosa-dosanya, maka ia seorang mukmin.”
(HR Ahmad)

Hadis ini sebenarnya sederhana.

Tanda iman bukan berarti manusia tanpa dosa. Bukan juga yang terlihat paling religius di depan kamera.

Namun hati yang masih hidup biasanya masih punya rasa takut ketika salah. Masih gelisah setelah maksiat. Masih merasa rugi ketika tertinggal amal baik.

Sedangkan hati yang mulai keras sering punya tanda berbeda.

Ia tidak lagi sedih ketika meninggalkan salat.
Tidak lagi merasa bersalah setelah menyakiti orang.
Tidak lagi merasa kehilangan ketika jauh dari Al-Qur’an.

Yang berbahaya kadang bukan dosa besarnya. Tapi ketika hati mulai menganggap semuanya biasa saja.

Seperti meja makan yang mulai berdebu sedikit demi sedikit. Awalnya terlihat. Lama-lama dibiarkan. Sampai akhirnya orang lupa meja itu pernah bersih.

Maksiat Sekarang Kadang Dijadikan Konten

Inilah bagian yang terasa paling getir.

Hari ini manusia bukan cuma berbuat salah. Kadang malah menayangkannya.

Ada yang sengaja memamerkan perselingkuhan demi engagement.
Ada yang membuka aib sendiri sambil tertawa.
Dan ada pula yang lebih takut kehilangan followers dibanding kehilangan rasa malu kepada Allah.

Di beberapa kafe, orang bisa duduk berjam-jam membahas saham, skincare, sampai drama artis yang bahkan tidak mengenal mereka. Namun ketika obrolan mulai menyentuh kematian, suasana tiba-tiba berubah sunyi sebentar.

Sendok kecil berhenti bergerak.
Seseorang menarik napas pelan.
Lalu topik cepat-cepat diganti.

Padahal kematian tidak pernah ikut mengganti topik.

Di sudut masjid, kadang masih ada sandal yang tertinggal setelah Subuh. Entah siapa pemiliknya. Mungkin seseorang yang sedang berusaha memperbaiki hidup diam-diam.

Ada juga orang yang spontan mengecilkan volume musik ketika azan terdengar. Meski beberapa menit kemudian diputar lagi seperti biasa. Kecil memang. Tetapi mungkin hati itu belum sepenuhnya mati.

Kisah Zaidul Khoir yang Menampar Banyak Orang

Dalam riwayat Abdullah bin Mas’ud ra., Zaidul Khoir datang menemui Rasulullah SAW setelah perjalanan panjang berhari-hari. Ia rela kelelahan hanya untuk menanyakan satu hal:
bagaimana tanda orang yang dicintai Allah.

Lalu Zaid berkata:

“Saya kini suka kepada amal kebaikan dan orang-orang yang melakukan amal kebaikan. Jika tertinggal dari amal itu, saya merasa menyesal dan rindu.”

Jawaban Nabi SAW terasa sangat dalam:

“Ya, itulah dia. Jika Allah tidak menyukaimu, tentu engkau akan disiapkan untuk selain itu.”

Kalimat itu seolah menjelaskan bahwa kecintaan kepada amal saleh bukan semata hasil usaha manusia. Ada pertolongan Allah di sana.

Karena itu, ketika hati mulai malas berbuat baik terus-menerus, sebenarnya ada alarm kecil yang sedang menyala.

Sayangnya banyak orang lebih cepat panik ketika baterai ponsel tinggal dua persen dibanding ketika hati mulai kehilangan rasa takut kepada dosa.

Tanda Hati Masih Hidup

Syekh Athaillah tidak sedang mengajarkan manusia menjadi malaikat.

Beliau hanya mengingatkan bahwa hati yang hidup masih bisa merasa malu. Masih bisa menyesal. Masih bisa rindu kepada kebaikan.

Kadang tandanya kecil sekali.

Tiba-tiba merasa sedih karena tertinggal salat berjamaah.
Atau mendadak tersentuh ketika mendengar ayat Al-Qur’an dari masjid kecil pinggir jalan saat lampu merah menyala.

Hal-hal seperti itu sering terlihat sepele. Namun justru di situlah hati sebenarnya masih bernapas.

Yang paling mengkhawatirkan mungkin bukan ketika manusia jatuh dalam dosa.

Tetapi ketika setelahnya ia masih bisa tertawa terlalu keras, tidur terlalu nyenyak, lalu bangun esok hari tanpa sedikit pun rasa ingin kembali kepada Allah.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Penulis: Diki Samani (Pemimpin Redaksi AlbadarPost)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • OTT KPK Kejari

    Saat Alarm Penegakan Hukum Kembali Berbunyi

    • calendar_month Minggu, 21 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 163
    • 0Komentar

    Editorial Albadarpost: OTT KPK di Kejari Hulu Sungai Utara menguji integritas hukum dan menuntut pembenahan serius. albadarpost.com, EDITORIAL – Komisi Pemberantasan Korupsi menangkap Kepala Kejaksaan Negeri Hulu Sungai Utara dalam operasi tangkap tangan terkait dugaan pemerasan. Peristiwa ini bukan sekadar perkara pidana individual. Ia menyentuh langsung jantung penegakan hukum. Dampaknya merembet ke kepercayaan publik yang […]

  • Cermin Hati

    Cermin Hati Kotor, Mengapa Cahaya Allah Sulit Masuk?

    • calendar_month Sabtu, 4 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 242
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HIKMAH – “Barangkali Allah tidak pernah menjauh. Mungkin hati kita saja yang terlalu sesak.” Pernahkah Anda membersihkan layar ponsel karena merasa tampilannya mulai buram? Lalu, tanpa sadar, hati sendiri dibiarkan berdebu selama bertahun-tahun. Ironisnya, kita langsung panik ketika sinyal internet melemah. Namun, saat hubungan dengan Allah terasa hambar, kita sering menganggapnya sebagai hal biasa. […]

  • Sukwan Kebersihan Tasik

    Suasana Apel Mendadak Tegang, Sukwan Kebersihan Tasik Tuntut Janji Lama

    • calendar_month Selasa, 19 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 229
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Sebanyak 116 sukwan kebersihan Tasik berkumpul di Bale Wiwitan, Jalan Noenoeng Tisnasaputra, Kota Tasikmalaya, Senin (19/5/2026). Namun apel pagi dan pelepasan kegiatan pungut sampah yang biasanya berlangsung rutin berubah menjadi momen penagihan janji kepada mantan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Hanapi. Ratusan petugas kebersihan itu datang memakai seragam kerja lengkap. Sebagian […]

  • Muktamar NU ke-35 menjadi titik balik kepemimpinan PBNU dengan sorotan pada Kiai Said Aqil Siroj dan Gus Salam

    Muktamar NU ke-35 Jadi Titik Balik Kepemimpinan Baru

    • calendar_month Rabu, 4 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 201
    • 0Komentar

    albadarpost.com, CAKRAWALA – Nahdlatul Ulama sedang berada di persimpangan penting sejarahnya. Menjelang Muktamar NU ke-35, satu pertanyaan terus bergema di kalangan warga nahdliyin: apakah NU membutuhkan kepemimpinan baru? Pertanyaan itu tidak muncul tiba-tiba. Dinamika internal yang menguat, perbedaan arah pandang, hingga kegelisahan warga terhadap soliditas organisasi membuat Muktamar kali ini terasa berbeda. NU tidak sekadar […]

  • pencairan TPD tertunda

    Pencairan TPD TPG Tertunda, Guru Kemenag Gelisah

    • calendar_month Rabu, 28 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 200
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – Janji pencairan Tunjangan Profesi Guru (TPG) pada Maret 2026 kembali menguat, tetapi kegelisahan guru dan dosen belum sepenuhnya reda. Hingga akhir Januari, pencairan TPD tertunda karena anggaran belum tersedia dalam pagu awal Kementerian Agama. Bagi guru dan dosen di bawah naungan Kemenag, tunjangan profesi bukan sekadar tambahan penghasilan. Dana tersebut menjadi penopang […]

  • Ilustrasi suasana bahagia makan sate bersama keluarga dan tetangga di Hari Tasyrik.

    Hari Tasyrik: Ternyata Islam Mengajarkan Bahagia

    • calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 229
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HIKMAH – Tidak semua orang benar-benar memahami makna Hari Tasyrik. Padahal hari-hari setelah Idul Adha itu justru menyimpan suasana yang sangat khas dalam Islam. Ada makan bersama. Ada dzikir. Dan ada rasa hangat yang kadang sulit dijelaskan. Sebagian orang mungkin mengira Hari Tasyrik hanya soal menghabiskan daging kurban. Padahal tidak sesederhana itu. Dalam Islam, […]

expand_less