Jangan Lewatkan, Ini Doa-Doa Mustajab di Hari Idul Adha
- account_circle redaktur
- calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
- visibility 38
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi suasana khusyuk berdoa setelah salat Idul Adha.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH – Suara takbir biasanya mulai terdengar sejak malam Idul Adha. Di beberapa kampung, gema pengeras suara masjid kadang mulai sedikit pecah menjelang dini hari karena dipakai terus-menerus sejak malam takbiran. Sementara di halaman masjid, plastik kresek daging mulai disusun panitia di dekat meja pembagian kurban.
Namun di tengah suasana itu, banyak umat Islam ternyata belum mengetahui berbagai doa Idul Adha yang dianjurkan dalam Al-Qur’an dan hadis.
Padahal hari raya kurban bukan hanya tentang penyembelihan hewan. Idul Adha juga menjadi momentum memperbanyak:
- doa,
- dzikir,
- takbir,
- dan permohonan terbaik kepada Allah SWT.
Karena itu, para ulama menyebut hari-hari Idul Adha sebagai waktu yang sangat baik untuk mendekatkan hati kepada Allah.
Doa dan Takbir Jadi Amalan Utama Idul Adha
Salah satu amalan paling utama saat Idul Adha ialah memperbanyak takbir.
Allah SWT berfirman:
“Dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian.”
(QS. Al-Baqarah: 185)
Takbir Idul Adha bahkan berlangsung lebih panjang dibanding Idul Fitri, yakni sampai hari Tasyrik tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.
Berikut bacaan takbir yang paling umum dibaca umat Islam:
اللّٰهُ أَكْبَرُ، اللّٰهُ أَكْبَرُ، اللّٰهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ، وَاللّٰهُ أَكْبَرُ، اللّٰهُ أَكْبَرُ، وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
Artinya:
“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tidak ada Tuhan selain Allah. Allah Maha Besar dan segala puji hanya milik Allah.”
Di beberapa masjid kampung, suara takbir kadang masih terdengar sampai Subuh ketika panitia mulai menyiapkan tali tambang dan ember air untuk penyembelihan kurban.
Doa Nabi Ibrahim dan Makna Keikhlasan Kurban
Banyak doa Idul Adha berkaitan erat dengan kisah Nabi Ibrahim AS.
Salah satu doa yang sering dibaca adalah:
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
Artinya:
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku keturunan yang saleh.”
(QS. Ash-Shaffat: 100)
Selain itu, ada pula doa yang dibaca Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail AS saat membangun Ka’bah:
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Artinya:
“Ya Tuhan kami, terimalah dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 127)
Doa tersebut menjadi pengingat bahwa inti kurban bukan hanya pada hewan yang disembelih.
Tetapi pada keikhlasan hati yang dipersembahkan kepada Allah.
Doa Ketika Menyembelih Hewan Kurban
Rasulullah SAW juga mengajarkan doa khusus saat menyembelih hewan kurban.
Beliau membaca:
بِسْمِ اللّٰهِ، وَاللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُمَّ هٰذَا مِنْكَ وَلَكَ
Artinya:
“Dengan nama Allah, Allah Maha Besar. Ya Allah, ini dari-Mu dan untuk-Mu.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Doa ini menunjukkan bahwa kurban bukan sekadar tradisi tahunan.
Tetapi bentuk ibadah yang sepenuhnya dikembalikan kepada Allah SWT.
Di beberapa tempat, panitia kurban bahkan mulai membaca takbir bersama sebelum penyembelihan dimulai. Ada yang memegang tali sapi sambil wajahnya masih terlihat tegang. Ada pula panitia muda yang diam-diam meniup tangannya sendiri karena terkena air dingin sejak pagi.
Suasananya sederhana.
Tetapi terasa sangat hidup.
Hari Tasyrik Jadi Waktu Memperbanyak Dzikir
Selain takbir, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak dzikir pada hari Tasyrik.
Allah SWT berfirman:
“Dan berdzikirlah kepada Allah pada hari-hari yang telah ditentukan.”
(QS. Al-Baqarah: 203)
Dzikir yang dianjurkan di antaranya:
سُبْحَانَ اللّٰهِ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ، وَلَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ، وَاللّٰهُ أَكْبَرُ
Artinya:
“Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada Tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar.”
Hari Tasyrik juga disebut Rasulullah SAW sebagai:
“Hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah.”
(HR. Muslim)
Karena itu, Idul Adha sebenarnya bukan hanya hari raya yang ramai oleh daging kurban.
Tetapi juga hari raya dzikir dan doa.
Idul Adha Selalu Membawa Manusia Kembali pada Ketulusan
Di banyak rumah, aroma sate dan gulai mulai memenuhi dapur sejak pagi. Ada ibu-ibu yang sibuk membungkus daging sambil menjawab salam tetangga. Ada anak kecil yang diam-diam mengambil potongan sate panas lalu meniup-niup jarinya sendiri.
Sementara di halaman masjid, sandal jamaah kadang mulai berjejer acak dan bercampur setelah salat Id selesai. Ada pula panitia yang tangannya masih bau asap sate dan sabun cuci piring ketika membagikan kantong daging terakhir menjelang zuhur. Bahkan di beberapa masjid kampung, kursi plastik panitia masih dipenuhi bercak air dan sisa rumput sampai sore hari.
Mungkin itu sebabnya Idul Adha terasa berbeda.
Karena hari raya ini tidak hanya mengajarkan manusia tentang kurban.
Tetapi juga tentang:
- doa,
- rasa syukur,
- dan keikhlasan yang kadang justru tumbuh di tengah kesederhanaan.
Kadang doa paling tulus di hari Idul Adha bukan lahir dari suara paling keras, tetapi dari hati yang diam-diam belajar ikhlas ketika berbagi dan berserah kepada Allah SWT. (Red)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar