Fiqih Haid: Kenapa Perempuan Saat Datang Bulan Lebih Sensitif?
- account_circle redaktur
- calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
- visibility 18
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi wanita sedang emosional saat haid.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, PERSPEKTIF – Pertanyaan tentang wanita haid marah sering muncul dalam obrolan sehari-hari. Ada suami yang bingung menghadapi perubahan emosi istrinya. Ada pula perempuan yang merasa dirinya lebih sensitif, mudah tersinggung, atau cepat menangis saat datang bulan.
Lalu sebenarnya, apakah perubahan emosi saat haid memang diakui dalam Islam?
Atau itu hanya anggapan masyarakat semata?
Dalam kajian fiqih dan pemahaman Islam, haid bukan sekadar persoalan darah atau ibadah. Haid juga berkaitan dengan kondisi fisik, psikologis, dan perubahan hormon yang memengaruhi suasana hati seorang perempuan.
Dan Islam ternyata sudah lama mengajarkan cara menghadapi kondisi itu dengan penuh empati.
Islam Mengakui Haid Sebagai Kondisi Berat bagi Perempuan
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menyebut haid sebagai kondisi yang membawa “adza” atau gangguan.
Allah berfirman:
“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: haid itu adalah suatu gangguan.”
(QS Al-Baqarah: 222)
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa makna “gangguan” dalam ayat tersebut bukan hanya berkaitan dengan fisik, tetapi juga ketidaknyamanan yang memengaruhi kondisi tubuh dan emosi perempuan.
Karena itu, Islam tidak pernah memandang perempuan haid sebagai sesuatu yang hina.
Sebaliknya, Islam justru memberikan banyak keringanan ibadah kepada perempuan saat haid:
- tidak wajib salat,
- tidak wajib puasa,
- dan mendapat rukhsah dalam beberapa ibadah tertentu.
Hal itu menunjukkan bahwa Islam memahami kondisi biologis perempuan secara manusiawi.
Kenapa Emosi Wanita Saat Haid Bisa Berubah?
Secara medis, perubahan hormon estrogen dan progesteron saat menstruasi memang dapat memengaruhi emosi.
Akibatnya, sebagian perempuan menjadi:
- lebih sensitif,
- mudah lelah,
- gampang tersinggung,
- atau lebih emosional dibanding hari biasa.
Dan kondisi itu bukan dibuat-buat.
Kadang tubuh memang terasa tidak nyaman sejak bangun pagi. Perut nyeri. Pinggang pegal. Kepala terasa berat. Belum lagi aktivitas tetap harus berjalan seperti biasa.
Sebagian perempuan bahkan tetap harus naik motor jauh, mengurus anak, dan menghadapi deadline kerja saat tubuhnya sedang tidak nyaman.
Ada perempuan yang tetap melayani pelanggan toko sambil menahan nyeri haid sejak pagi, lalu tetap diminta tersenyum ketika emosinya mulai turun.
Dan kadang… capeknya bukan cuma di badan.
Rasulullah Mengajarkan Sikap Lembut kepada Perempuan
Menariknya, Rasulullah SAW justru menunjukkan sikap sangat lembut kepada istrinya ketika sedang haid.
Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah tetap memperlakukan istri-istrinya dengan penuh kasih sayang meski mereka sedang haid.
Bahkan Nabi pernah bersandar di pangkuan Aisyah RA saat beliau sedang haid dan tetap membaca Al-Qur’an.
Hadis ini menunjukkan bahwa Islam tidak mengajarkan menjauhi perempuan haid secara emosional.
Sebaliknya, Islam mengajarkan empati.
Karena perempuan saat haid sering menghadapi kondisi yang tidak selalu mudah dijelaskan.
Fiqih Tidak Membenarkan Marah Berlebihan
Meski Islam memahami perubahan emosi saat haid, fiqih tetap mengajarkan pengendalian diri.
Artinya, haid bukan alasan untuk melukai orang lain, berkata kasar, atau bersikap zalim.
Karena dalam Islam, menjaga akhlak tetap menjadi kewajiban semua muslim, baik laki-laki maupun perempuan.
Namun di sisi lain, orang sekitar juga diajarkan memahami kondisi perempuan dengan lebih bijak.
Kadang yang dibutuhkan perempuan saat haid bukan ceramah panjang.
Tetapi istirahat sebentar dan suasana yang lebih tenang.
Hal-hal kecil sering berpengaruh besar.
Ada perempuan yang sebenarnya hanya ingin didengar. Ada pula yang cuma ingin tidak diganggu beberapa saat.
Dan itu manusiawi.
Banyak Perempuan Tetap Menjalani Hari Berat Saat Haid
Di media sosial, perempuan sering dijadikan bahan bercandaan saat sedang haid.
Padahal banyak dari mereka tetap menjalani aktivitas berat dalam kondisi tubuh yang tidak nyaman.
Di banyak rumah, perempuan tetap menjalani hari seperti biasa meski sedang haid. Tetap memasak. Tetap bekerja. Dan tetap menjawab chat pekerjaan. Padahal sejak pagi tubuhnya sudah terasa tidak nyaman.
Haid memang datang tiap bulan. Tapi rasa lelahnya tidak selalu sama.
Ada mahasiswa yang tetap presentasi meski badannya lemas. Ada ibu rumah tangga yang tetap mencuci pakaian sambil menahan nyeri perut. Bahkan ada pegawai toko yang tetap berdiri melayani pembeli walau kepalanya terasa berat sejak pagi.
Tetapi semua terlihat biasa dari luar.
Karena sebagian perempuan memang terbiasa menyembunyikan rasa sakitnya.
Kadang mereka tetap tersenyum… meski tubuhnya sedang benar-benar lelah.
Islam Mengajarkan Empati, Bukan Ejekan
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menjadikan perempuan haid sebagai bahan olokan.
Padahal Rasulullah SAW justru mengajarkan penghormatan kepada perempuan dalam setiap kondisinya.
Islam tidak mengajarkan laki-laki meremehkan emosi perempuan.
Sebaliknya, Islam mengajarkan komunikasi yang baik, kesabaran, dan saling memahami.
Karena hubungan yang sehat tidak dibangun dari ejekan.
Tetapi dari empati.
Dan sering kali, perempuan tidak benar-benar marah karena hal besar.
Kadang mereka hanya terlalu lelah menahan banyak hal sekaligus.
Tasawuf: Emosi Juga Bagian dari Ujian Hati
Dalam pandangan tasawuf, perubahan emosi manusia termasuk bagian dari ujian hati yang harus dikelola dengan sabar.
Bukan hanya perempuan.
Laki-laki juga memiliki ujian emosinya masing-masing.
Karena itu, para ulama tasawuf mengingatkan pentingnya saling memahami kondisi pasangan dan tidak mudah menghakimi.
Sebab seseorang yang terlihat marah di luar, belum tentu hatinya benar-benar ingin menyakiti.
Mungkin ia hanya sedang sangat lelah.
Jangan Jadikan Haid Sebagai Bahan Candaan
Perempuan haid bukan sedang “lebay” atau mencari perhatian.
Tubuh mereka memang sedang mengalami perubahan biologis nyata.
Karena itu, Islam hadir bukan untuk menghakimi kondisi tersebut, melainkan memberi ruang, keringanan, dan penghormatan.
Dan mungkin, sebagian perempuan sebenarnya tidak ingin marah-marah.
Mereka hanya sedang ingin dimengerti… tanpa harus menjelaskan semuanya.
Kadang perempuan yang sedang haid tidak benar-benar butuh solusi panjang.
Mereka cuma ingin satu hal sederhana: dipahami dulu sebagai manusia… sebelum dihakimi karena emosinya. (Red)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar