Serdik Sespimma Polri Bagikan Sembako dan Tas Sekolah di Tasikmalaya
- account_circle redaktur
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 7
- comment 0 komentar
- print Cetak

Pembagiaan sembako dan perlengkapan sekolah kepada warga dan anak yatim di Polres Tasikmalaya, Selasa (19/5/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – Suasana di Polres Tasikmalaya terlihat berbeda dari biasanya, Selasa (19/5/2026). Tidak ada wajah tegang saat pengamanan. Tidak terdengar suara sirene atau barisan formal yang kaku. Sebaliknya, halaman dan gedung pertemuan justru dipenuhi anak-anak, lansia, dan warga yang datang untuk menerima bantuan sosial dari para anggota polisi.
Namun ada hal lain yang juga menarik perhatian.
Para polisi yang melayani warga hari itu tampil tanpa tanda pangkat di pundak mereka. Mereka ternyata merupakan peserta didik atau serdik Sespimma Polri Angkatan ke-75 Pokjar 1 yang sedang menjalani kegiatan praktek lapangan di Tasikmalaya.
Kegiatan bertajuk “Peduli Sesama, Wujud Nyata Pengabdian untuk Sesama” itu berlangsung di Gedung Pertemuan Warga Polres Tasikmalaya dan menjadi salah satu wajah baru polisi humanis Tasik yang mulai terasa lebih dekat dengan masyarakat.
Polisi Tak Hanya Datang Saat Ada Masalah
Dalam kegiatan tersebut, para serdik Sespimma tidak hanya berdiri sebagai aparat keamanan. Mereka ikut membagikan bantuan, berbincang dengan warga, hingga melayani masyarakat secara langsung.
Sebanyak 200 paket sembako dibagikan kepada warga kurang mampu. Selain itu, 100 paket perlengkapan sekolah juga diberikan kepada anak yatim.
Isi paket sekolah itu cukup lengkap. Ada tas, buku tulis, alat tulis, dan perlengkapan lain untuk membantu anak-anak kembali semangat belajar.
“Melalui kegiatan bakti sosial seperti ini, anggota Polri diajak hadir di tengah masyarakat dan merasakan langsung kebutuhan warga,” ujar Wakil Bupati Tasikmalaya Asep Sopari Alayubi.
Menurutnya, kegiatan seperti ini penting untuk membangun hubungan emosional antara aparat dan masyarakat.
Karena masyarakat tidak selalu membutuhkan polisi dalam situasi kriminal saja.
Kadang warga hanya ingin merasa didengar dan diperhatikan.

Anak-Anak Jadi Pusat Perhatian
Suasana paling hangat terlihat ketika anak-anak mulai menerima tas dan perlengkapan sekolah baru.
Beberapa langsung membuka plastik pembungkus dan memperlihatkan isi tas kepada teman-temannya. Ada juga yang terus menggenggam buku baru sambil tersenyum kecil di pojok ruangan.
Di sisi lain, para orang tua tampak sibuk membawa paket sembako yang dibagikan panitia.
Salah satu momen yang cukup menyentuh terjadi ketika seorang anak kecil memeluk tas sekolah barunya sambil berdiri dekat anggota polisi yang membagikan bantuan.
Dan suasana seperti itu membuat kegiatan terasa lebih hidup.
Tidak terlalu formal. Tidak terlalu jauh dari kehidupan masyarakat sehari-hari.
Donor Darah dan Praktik Lapangan Sespimma
Selain pembagian bantuan sosial, kegiatan juga diisi aksi donor darah bekerja sama dengan Unit Transfusi Darah PMI Kabupaten Tasikmalaya.
Targetnya, ratusan kantong darah dapat terkumpul untuk membantu menjaga stok darah rumah sakit.
Bagi para serdik Sespimma, kegiatan tersebut bukan hanya agenda sosial biasa.
Menurut Serdik Sespimma Beny Firmansyah, kegiatan itu menjadi bagian dari praktik kerja lapangan selama menjalani pendidikan kepemimpinan di lingkungan Polri.
“Kegiatan ini sebagai bentuk praktek kerja lapangan dalam pendidikan sespimen,” ujarnya.
Karena itu, para peserta didik tidak hanya belajar teori kepemimpinan di ruang kelas, tetapi juga belajar memahami kondisi sosial masyarakat secara langsung.
Kehadiran Brigjen Pol Victor Jadi Sorotan
Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Sespimma Sespim Lemdiklat Polri Brigjen Pol Victor Togi Tambunan, Kapolres Tasikmalaya AKBP Wahyu Pristha Utama, Wakil Bupati Tasikmalaya, hingga perwakilan Kodim 0612/Tasikmalaya.
Namun kehadiran Brigjen Victor bukan hanya untuk membuka acara.
Ia juga melakukan penilaian langsung terhadap cara para serdik berinteraksi dengan masyarakat di lapangan.
Penilaian itu menjadi bagian penting dalam pendidikan calon perwira Polri, terutama untuk melihat kemampuan memahami persoalan sosial, membangun komunikasi, dan mencari solusi di tengah masyarakat.
Karena tantangan aparat saat ini bukan hanya soal penegakan hukum.
Tetapi juga soal bagaimana aparat mampu menjaga kepercayaan publik.
Wajah Polri yang Lebih Dekat dengan Warga
Kegiatan sosial seperti ini dinilai menjadi bagian dari upaya memperkuat citra humanis Polri di tengah masyarakat.
Apalagi selama ini sebagian masyarakat lebih sering melihat polisi dalam konteks penindakan hukum atau pengamanan.
Padahal di sisi lain, banyak kegiatan sosial yang juga dijalankan aparat di lapangan.
Dan hari itu, wajah Polres Tasikmalaya memang terasa berbeda.
Tidak ada jarak yang terlalu kaku antara polisi dan warga. Anak-anak bebas tersenyum dan berbincang. Lansia duduk santai sambil menerima bantuan.
Bahkan beberapa anggota polisi terlihat membantu warga membawa paket sembako menuju kendaraan mereka.
Hal-hal kecil seperti itu mungkin terlihat sederhana.
Tetapi sering kali justru meninggalkan kesan paling kuat.
Polri Humanis Jadi Harapan Baru
Di tengah tantangan sosial yang terus berkembang, pendekatan humanis dinilai semakin penting bagi institusi kepolisian.
Masyarakat hari ini tidak hanya menilai aparat dari ketegasan hukum. Mereka juga melihat empati, kedekatan, dan kepedulian sosial yang hadir secara nyata.
Karena itu, kegiatan seperti ini diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni tahunan semata.
Tetapi menjadi budaya pelayanan yang benar-benar terasa di tengah masyarakat.
Hari itu tidak ada suara borgol. Tidak ada pengejaran. Tidak ada garis polisi.
Yang terlihat justru anak-anak tersenyum sambil memeluk tas sekolah baru… dan polisi yang duduk sejajar bersama warga, tanpa sekat pangkat di pundaknya. (GZ)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar