Lomba PBBAB Memanas, Peserta SMP Berjatuhan Usai Tampil di Dalam GOR
- account_circle redaktur
- calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
- visibility 20
- comment 0 komentar
- print Cetak

Orang tua siswa berupaya melakukan pertolongan dengan membawa keluar GOR, Sabtu (16/5/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – Ajang Pawai Baris Berbaris Anak Bangsa atau PBBAB Tasikmalaya yang baru pertama kali masuk rangkaian Kejurcab mendadak menjadi sorotan. Bukan hanya karena antusiasme peserta, tetapi juga karena insiden tiga peserta SMP yang pingsan seusai tampil di dalam GOR Susi Susanti, Sabtu (16/5/2026).
Peristiwa peserta PBBAB pingsan langsung memancing perhatian orang tua dan pembina yang memenuhi area pertandingan sejak pagi. Mereka menilai kondisi ruangan terlalu panas dan pengap sehingga membahayakan peserta yang sudah menguras tenaga saat tampil.
Suasana awal lomba sebenarnya berlangsung meriah. Sebanyak 29 regu dari tingkat SD hingga SMA tampil bergantian menunjukkan kekompakan dan disiplin baris-berbaris di depan dewan juri.
Namun menjelang akhir perlombaan, kondisi di dalam GOR mulai terasa berat. Udara panas terjebak di dalam ruangan tertutup tanpa pendingin udara maupun kipas angin.
Ada momen ketika beberapa peserta terlihat mulai melepas topi sambil mengatur napas setelah turun dari lapangan. Sebagian lainnya tampak menyandarkan tubuh ke dinding GOR dengan wajah pucat dan seragam yang basah oleh keringat.
Dan hanya beberapa menit setelah itu, satu per satu peserta mulai tumbang.
Orang Tua Soroti Kondisi GOR yang Panas dan Sesak
Salah satu orang tua peserta dari SMP Plus Al Ma’aruf mengatakan kondisi ruangan membuat anak-anak kesulitan bertahan setelah tampil penuh tenaga di arena lomba.
“Lokasinya tidak ada kipas angin, jadi sumpek. Panasnya bikin anak-anak pingsan satu per satu,” ujarnya.
Menurutnya, ini pertama kali kejadian seperti itu terjadi dalam kegiatan yang diikuti anaknya. Ia menyebut para peserta sebenarnya tampil penuh semangat sejak awal lomba berlangsung.
Namun begitu turun dari lapangan, kondisi fisik beberapa peserta langsung menurun drastis.
Beberapa anak terlihat berkeringat sangat deras, langkahnya mulai goyah, lalu jatuh di area sekitar lapangan pertandingan. Suasana yang awalnya penuh sorak dukungan mendadak berubah panik.
Suara aba-aba lomba perlahan kalah oleh teriakan orang tua yang meminta bantuan saat peserta mulai berjatuhan di lantai GOR.
Dan ironisnya, di tengah lomba yang mengutamakan disiplin fisik dan ketahanan mental, fasilitas dasar seperti sirkulasi udara justru menjadi sorotan terbesar.
Petugas Langsung Evakuasi Peserta ke Luar GOR
Petugas TNI dan kepolisian yang berjaga di lokasi langsung bergerak cepat membantu peserta yang pingsan.
Mereka mengevakuasi peserta keluar ruangan agar mendapatkan udara segar secepat mungkin. Sejumlah pembina juga terlihat membantu mengipasi peserta menggunakan topi dan map plastik seadanya.
Ada detail kecil yang sempat menarik perhatian di lokasi:
beberapa peserta lain tetap berdiri rapi di pinggir lapangan sambil menahan cemas melihat teman mereka dievakuasi keluar ruangan.
Sementara itu, sebagian orang tua tampak sibuk membuka botol minum dan mengusap wajah anak-anak mereka dengan tisu basah.
Sayangnya, menurut keterangan orang tua peserta, panitia tidak menyediakan tabung oksigen di lokasi pertandingan. Penanganan hanya mengandalkan pertolongan pertama dan udara dari luar ruangan.
Hingga sore hari, panitia belum memberikan penjelasan resmi terkait insiden tersebut.
Sorotan untuk Standar Keselamatan Kegiatan Pelajar
Kejadian ini memunculkan kritik dari sejumlah orang tua dan pembina sekolah. Mereka menilai kesiapan teknis lomba belum sepenuhnya seimbang dengan jumlah peserta dan kondisi fisik kegiatan yang cukup menguras tenaga.
Baris-berbaris memang identik dengan latihan disiplin, konsentrasi, dan daya tahan tubuh. Namun banyak pihak mengingatkan bahwa faktor keselamatan peserta tetap harus menjadi prioritas utama.
Apalagi sebagian peserta masih berada di usia sekolah menengah pertama yang rentan mengalami kelelahan saat berada di ruangan tertutup dan panas dalam waktu lama.
Beberapa pembina berharap panitia ke depan lebih memperhatikan ventilasi, ketersediaan pendingin ruangan, hingga fasilitas medis dasar agar kejadian serupa tidak terulang.
Ada satu suasana yang terasa berbeda setelah insiden terjadi:
dentuman langkah peserta memang masih terdengar di lapangan, tetapi kekhawatiran orang tua kini ikut berjalan di antara barisan itu.
PBBAB Tetap Dianggap Penting untuk Pembinaan Karakter
Meski diwarnai insiden, banyak pihak tetap mendukung keberadaan PBBAB sebagai ruang positif pembinaan karakter pelajar.
Kegiatan seperti ini dinilai mampu melatih disiplin, kekompakan, dan mental kerja sama di tengah kebiasaan generasi muda yang semakin individual.
Namun para orang tua berharap pembinaan karakter juga dibarengi perhatian serius terhadap keamanan dan kenyamanan peserta.
Karena pada akhirnya, semangat lomba tidak boleh mengalahkan keselamatan anak-anak yang berdiri di lapangan itu sendiri.
Mereka datang ke lapangan untuk belajar disiplin dan kekompakan. Tapi siang itu, banyak orang tua justru pulang dengan satu pertanyaan sederhana: apakah semangat besar itu sudah dijaga dengan kesiapan yang sama besarnya? (GZ)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar