Status Honorer 2027: FSGI Khawatir Krisis Pengajar Mengintai
- account_circle redaktur
- calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
- visibility 20
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi guru honorer sedang mengajar di ruang kelas sekolah negeri.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HUMANIORA – Bel sekolah belum lama berbunyi ketika beberapa guru mulai masuk ke ruang kelas di sebuah sekolah pinggiran. Sebagian membawa tumpukan buku. Sebagian lagi menyalakan kipas ruangan yang sejak pagi terasa panas.
Di antara mereka, ada guru honorer yang sudah mengajar bertahun-tahun. Datang paling pagi. Pulang paling akhir. Namun hingga kini, status kerjanya masih belum pasti.
Karena itu, rencana status honorer dihapus 2027 mulai memunculkan kegelisahan baru di dunia pendidikan. Isu penghapusan tenaga honorer, termasuk guru non-ASN di sekolah daerah, kini ramai diperbincangkan setelah Federasi Serikat Guru Indonesia atau FSGI mengingatkan potensi krisis guru jika transisi kebijakan tidak berjalan matang.
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan.
Di banyak daerah, sekolah masih bertahan dengan bantuan guru honorer untuk menjaga kegiatan belajar tetap berjalan setiap hari.
Banyak Sekolah Masih Bergantung pada Guru Honorer
Di sejumlah sekolah, terutama wilayah pinggiran dan daerah terpencil, guru honorer bukan sekadar pelengkap.
Mereka justru menjadi tenaga utama yang menutup kekurangan pengajar.
Ada yang mengajar matematika sekaligus olahraga. Ada pula yang harus berpindah kelas sejak pagi hingga siang karena jumlah guru terbatas.
Situasi seperti itu masih terjadi di banyak tempat.
Karena itu, ketika isu penghapusan honorer kembali mencuat, kecemasan langsung terasa di kalangan tenaga pendidik.
“Kalau honorer benar-benar dihapus tanpa solusi jelas, sekolah mau jalan bagaimana?” ujar seorang guru di Tasikmalaya yang meminta namanya tidak ditulis.
Pertanyaan itu kini mulai sering muncul di forum guru dan media sosial pendidikan.
Sebagian tenaga honorer mengaku bingung dengan arah kebijakan yang akan diterapkan pemerintah dalam beberapa tahun ke depan.
FSGI Ingatkan Ancaman Krisis Guru
FSGI menilai pemerintah perlu berhati-hati dalam menerapkan kebijakan penghapusan status honorer pada 2027.
Organisasi tersebut mengingatkan bahwa banyak sekolah saat ini belum siap kehilangan tenaga pengajar non-ASN dalam jumlah besar.
Apalagi distribusi guru di Indonesia hingga sekarang masih belum merata.
Sekolah di kota besar mungkin lebih mudah mencari pengganti. Namun di daerah tertentu, satu guru bisa memegang beberapa mata pelajaran sekaligus karena keterbatasan tenaga pengajar.
Jika kondisi itu tidak segera diantisipasi, FSGI khawatir krisis guru perlahan mulai muncul di sejumlah wilayah.
“Jangan sampai penghapusan honorer justru memicu kekurangan guru baru,” ujar perwakilan FSGI dalam keterangannya.
Pernyataan tersebut langsung memicu perhatian luas.
Di media sosial, banyak guru honorer mulai saling bertanya tentang nasib mereka setelah 2027. Ada yang mencoba tetap optimistis. Namun tidak sedikit yang mengaku cemas.
Persoalan Lama: Gaji yang Belum Layak
Selain soal status kerja, kesejahteraan guru honorer kembali menjadi sorotan.
Hingga saat ini, masih banyak tenaga pendidik non-ASN yang menerima honor jauh di bawah kebutuhan hidup layak.
Ada guru yang tetap mengajar setiap hari meski penghasilannya hanya cukup untuk biaya transportasi dan kebutuhan dasar.
Namun mereka tetap bertahan.
Sebagian mengaku tidak tega meninggalkan murid. Sebagian lagi berharap suatu hari ada kepastian yang lebih baik.
“Kadang bukan capek ngajarnya yang berat, tapi mikirin masa depan,” kata seorang guru honorer di Jawa Barat.
Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi bagi banyak tenaga honorer, kegelisahan tersebut nyata.
Transisi Dinilai Harus Realistis
FSGI meminta pemerintah tidak hanya fokus pada penghapusan status administrasi honorer.
Menurut mereka, pemerintah juga perlu memastikan proses transisi berjalan realistis dan sesuai kondisi lapangan.
Pemetaan kebutuhan guru dinilai menjadi langkah penting agar sekolah tidak mengalami kekosongan tenaga pengajar secara mendadak.
Selain itu, proses rekrutmen ASN dan PPPK juga perlu berjalan lebih cepat dan tepat sasaran.
Sebab hingga kini, banyak sekolah masih mengandalkan guru honorer untuk menjaga ruang kelas tetap hidup setiap hari.
Di sisi lain, dunia pendidikan tidak bisa berhenti menunggu.
Setiap pagi, siswa tetap datang ke sekolah. Buku pelajaran tetap dibuka. Dan guru tetap berdiri di depan kelas, meski sebagian dari mereka masih dibayangi ketidakpastian.
Dunia Pendidikan Sedang Menunggu Kepastian
Penghapusan status honorer kini bukan lagi sekadar persoalan birokrasi.
Di balik kebijakan itu, ada jutaan siswa yang membutuhkan guru. Ada sekolah yang masih kekurangan tenaga pengajar. Dan ada ribuan guru honorer yang terus bekerja sambil menunggu arah masa depan mereka.
Karena itu, banyak pihak berharap pemerintah tidak sekadar menutup status lama tanpa membuka solusi yang benar-benar siap dijalankan.
Sebab pendidikan tidak hanya bergantung pada gedung sekolah atau kurikulum baru.
Ada manusia-manusia yang setiap hari menjaga ruang kelas tetap menyala.
Sekolah mungkin masih bisa berdiri tanpa cat baru di dindingnya. Tetapi ketika guru mulai kehilangan kepastian hidup, yang perlahan runtuh sebenarnya bukan bangunannya — melainkan masa depan pendidikan itu sendiri. (Red)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar