Fauzan Gugur Verifikasi, KADIN Tasik Hadapi Polemik Jelang Mukota
- account_circle redaktur
- calendar_month 21 jam yang lalu
- visibility 16
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi Polemik verifikasi calon Ketua KADIN Kota Tasikmalaya menjelang Mukota 2026.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
AlbadarPost.com, BERITA DAERAH — KADIN Kota Tasikmalaya memasuki fase krusial menjelang Musyawarah Kota (Mukota) yang dijadwalkan Sabtu, 12 September 2026. H.M. Fauzan Wahyu Noor dinyatakan tidak lolos verifikasi, sedangkan Asep Saepulloh dan Muhamad Abdul Karim ditetapkan sebagai dua calon Ketua KADIN periode 2026–2031. Keputusan tersebut kemudian dipersoalkan tim Fauzan yang meminta transparansi mengenai proses verifikasi.
Situasi itu membuat persaingan menuju kursi Ketua KADIN Kota Tasikmalaya tidak hanya berkutat pada dua nama yang tersisa. Di satu sisi, Steering Committee (SC) menyatakan penetapan calon mengacu pada hasil verifikasi KADIN Jawa Barat dan pedoman organisasi. Di sisi lain, tim Fauzan mempertanyakan sejumlah aspek administrasi dan meminta proses tersebut ditinjau kembali.
Dengan jadwal Mukota yang tinggal hitungan hari, polemik verifikasi kini menjadi bagian penting dari cerita suksesi organisasi pengusaha di Kota Tasikmalaya.
Dua Nama Lolos, Fauzan Tersingkir
SC Mukota menetapkan Asep Saepulloh dan Muhamad Abdul Karim sebagai dua calon Ketua KADIN Kota Tasikmalaya periode 2026–2031.
Penetapan itu berlangsung dalam rapat pleno SC pada Rabu, 9 September 2026. Menurut keterangan SC yang dikutip sejumlah media lokal, keputusan tersebut menindaklanjuti hasil asistensi dan verifikasi Dewan Pengurus KADIN Provinsi Jawa Barat.
SC menyebut kedua kandidat memenuhi persyaratan untuk melanjutkan tahapan pemilihan. Ketua SC Mukota V KADIN Kota Tasikmalaya, Dodo Murtado, juga menyatakan proses verifikasi mengacu pada Pedoman Organisasi KADIN serta arahan dari KADIN Jawa Barat.
Dengan demikian, peta kontestasi berubah dari tiga bakal calon menjadi dua kandidat yang akan bertarung dalam Mukota.
Agenda pemilihan dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 12 September 2026, di Ballroom Grand Metro Hotel, Kota Tasikmalaya.
Tim Fauzan Minta Dasar Verifikasi Dibuka
Keputusan tersebut mendapat keberatan dari tim Fauzan.
Juru bicara tim Fauzan, Angga Kris M., mempertanyakan transparansi dan dasar keputusan yang membuat Fauzan tidak lolos verifikasi. Mereka menyoroti sejumlah persoalan, antara lain bentuk badan hukum yang digunakan dalam pendaftaran, status Kartu Tanda Anggota (KTA), serta mekanisme penyampaian hasil verifikasi.
Menurut tim Fauzan, apabila terdapat persyaratan tertentu yang membuat badan hukum berbentuk yayasan tidak memenuhi ketentuan pencalonan, penjelasan mengenai aturan tersebut semestinya sudah disampaikan sejak awal proses pendaftaran.
Mereka juga mempersoalkan penerapan ketentuan KTA kepada kandidat. Namun, klaim mengenai adanya ketidakkonsistenan tersebut merupakan pernyataan tim Fauzan dan belum dapat dianggap sebagai fakta yang telah terbukti secara independen.
Tim Fauzan juga mempertanyakan cara penyampaian hasil verifikasi yang disebut dilakukan melalui komunikasi pribadi. Mereka meminta penjelasan yang lebih terbuka mengenai dasar keputusan tersebut.
Uang Pendaftaran Ikut Disorot
Persoalan lain yang muncul adalah uang pendaftaran.
Fauzan menyatakan telah menyerahkan uang pendaftaran dengan nilai ratusan juta rupiah kepada panitia. Menurut keterangannya kepada media, terdapat ketentuan pengembalian sebagian dana apabila kandidat kalah dalam kontestasi.
Poin tersebut menjadi bagian dari keberatan Fauzan terhadap proses yang sedang berjalan. Namun, karena menyangkut nominal uang dan mekanisme pengelolaan dana panitia, informasi tersebut perlu dibaca sebagai pernyataan dari Fauzan, bukan sebagai kesimpulan bahwa panitia telah melakukan pelanggaran.
Sampai tahap ini, yang terkonfirmasi adalah adanya keberatan dari pihak Fauzan dan adanya keputusan SC yang menetapkan dua kandidat. Adapun penilaian mengenai benar atau tidaknya seluruh keberatan tersebut membutuhkan dokumen serta penjelasan dari pihak-pihak terkait.
Mukota Bukan Hanya Soal Siapa yang Menang
Polemik verifikasi membuat perhatian terhadap Mukota KADIN Kota Tasikmalaya menjadi lebih besar.
Sebab, suksesi organisasi tidak hanya menentukan siapa yang menduduki kursi Ketua KADIN untuk periode 2026–2031. Prosesnya juga akan menentukan seberapa kuat legitimasi kepemimpinan baru di mata anggota dan pelaku usaha.
Di satu sisi, SC telah menetapkan dua kandidat berdasarkan hasil verifikasi yang mereka nyatakan sesuai ketentuan organisasi. Di sisi lain, tim Fauzan meminta penjelasan dan peninjauan terhadap proses tersebut. Dua posisi ini perlu ditempatkan secara berimbang agar publik tidak menerima kesimpulan sepihak.
Apalagi, KADIN memiliki posisi strategis dalam hubungan antara dunia usaha dan pemerintah daerah. Kepemimpinan baru nantinya akan menghadapi berbagai agenda, mulai dari penguatan UMKM, iklim investasi, daya saing pengusaha lokal hingga kolaborasi ekonomi daerah.
Karena itu, transparansi proses menjadi penting bukan hanya bagi kandidat yang bersaing, tetapi juga bagi organisasi setelah Mukota selesai.
Dua Hari Menjelang Pemilihan
Kini perhatian mengarah pada 12 September.
Dua nama sudah berada dalam daftar calon berdasarkan keputusan SC. Sementara itu, tim Fauzan masih mempersoalkan hasil verifikasi dan meminta adanya penjelasan mengenai dasar keputusan tersebut.
Situasi ini membuat dua hari terakhir sebelum Mukota menjadi periode yang menentukan. Bukan hanya bagi Asep Saepulloh dan Muhamad Abdul Karim, tetapi juga bagi panitia yang harus memastikan seluruh tahapan berjalan dengan aturan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.
Jika seluruh proses berjalan transparan, hasil Mukota akan memiliki modal penting untuk membangun legitimasi. Sebaliknya, apabila pertanyaan yang muncul tidak memperoleh penjelasan memadai, polemik dapat terus membayangi kepengurusan baru.
Pada akhirnya, kursi Ketua KADIN Kota Tasikmalaya memang akan ditentukan oleh suara dalam Mukota. Namun, legitimasi tidak lahir ketika pemenang berdiri di podium. Legitimasi dibangun sejak proses pencalonan dimulai. Karena itu, menjelang 12 September, tantangan terbesar KADIN bukan hanya menentukan siapa yang menang, tetapi memastikan seluruh proses menuju kemenangan itu dapat dijelaskan dengan terang. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar