Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Merasa Tak Pernah Ghibah? Kisah Al-Junaid Ini Layak Dibaca

Merasa Tak Pernah Ghibah? Kisah Al-Junaid Ini Layak Dibaca

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Rabu, 9 Sep 2026
  • visibility 14
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH – Ghibah dalam hati sering dianggap terlalu kecil untuk dipersoalkan. Tidak ada suara yang keluar, tidak ada nama yang disebut, bahkan orang yang menjadi sasaran mungkin tidak pernah tahu. Namun, sebuah kisah yang dinisbatkan kepada Abul-Qasim Al-Junaid justru mengajak kita melihat persoalan yang lebih dalam: bagaimana jika hati mulai menghakimi seseorang sebelum lisan sempat berbicara?

Kisah ini dikenal dalam literatur tasawuf. Salah satu versi yang beredar menuturkan pengalaman Al-Junaid ketika bertemu seorang miskin yang meminta-minta. Dalam sumber yang memuat kisah tersebut, Al-Junaid kemudian merasa ditegur melalui mimpi setelah menyimpan penilaian terhadap orang itu di dalam hati.

Pesannya terasa relevan bahkan ketika kehidupan modern sudah pindah ke layar ponsel: manusia masih mudah menilai orang lain hanya dari apa yang terlihat.

Ketika Orang Miskin Menjadi Cermin

Dalam kisah tersebut, Al-Junaid sedang menunggu jenazah bersama orang-orang di masjid. Kemudian datang seorang miskin yang meminta-minta.

Dalam hatinya muncul penilaian bahwa seandainya orang itu bekerja sedikit demi sedikit, tentu keadaannya akan lebih baik.

Kalimat itu tampak sederhana.

Bahkan, sebagian orang mungkin menganggapnya sebagai kesimpulan yang masuk akal. Bukankah bekerja memang lebih baik daripada meminta?

Masalahnya, Al-Junaid hanya melihat satu potongan kehidupan orang tersebut.

Ia tidak mengetahui seluruh cerita di belakangnya.

Pada malam hari, ketika hendak mengerjakan wirid, Al-Junaid merasa sangat berat. Ia akhirnya tertidur. Dalam tidurnya, ia melihat orang-orang membawa sosok miskin di atas sebuah talam. Kepadanya dikatakan agar memakan daging orang tersebut karena telah melakukan ghibah.

Setelah terbangun, Al-Junaid merasa perlu mencari orang miskin itu dan meminta kehalalan.

Ia kemudian menemukannya di tepi sungai. Orang tersebut sedang mengambil sisa daun-daunan yang jatuh untuk dimakan.

Ketika Al-Junaid memberi salam, orang itu berkata:

“Apakah akan mengulangi lagi, hai Abul-Qasim?”

Al-Junaid menjawab, “Tidak.”

Kemudian orang tersebut berkata:

“Semoga Allah mengampunkan kami dan kamu.”

Kisah ini sebaiknya ditempatkan sebagai kisah nasihat yang dinukil dalam literatur tasawuf, bukan diperlakukan sebagai laporan sejarah yang telah diverifikasi secara independen. Namun, justru dalam posisi itulah nilai reflektifnya menjadi menarik.

Ia tidak mengajak pembaca sibuk bertanya, “Apakah orang miskin itu malas?”

Ia mengajak kita bertanya, “Mengapa saya merasa sudah mengetahui seluruh hidup seseorang hanya dari apa yang saya lihat?”

Zaman Berubah, Kebiasaan Menghakimi Tetap Sama

Dulu, seseorang mungkin menghakimi tetangganya dari teras rumah.

Sekarang, cukup dari layar ponsel.

Satu video membuat seseorang terlihat malas. Satu foto membuat orang lain tampak pamer. Satu komentar membuat karakter seseorang seolah selesai dibaca.

Kemudian vonis datang.

Cepat. Ringkas. Percaya diri.

Padahal, kita hanya melihat beberapa detik dari kehidupan seseorang.

Di sinilah pembahasan tentang ghibah dalam hati menjadi menarik. Kita memang tidak boleh menyamakan setiap lintasan pikiran dengan ghibah secara otomatis. Pikiran yang muncul sekilas berbeda dengan penilaian buruk yang sengaja dipelihara.

Namun, lintasan yang dibiarkan dapat berkembang menjadi prasangka.

Prasangka yang dipelihara dapat berubah menjadi penghinaan.

Dan penghinaan yang sudah dianggap biasa akhirnya mudah keluar melalui ucapan maupun tindakan.

Karena itu, menjaga hati bukan berarti berhenti berpikir kritis. Kita tetap boleh menilai perbuatan. Kita tetap boleh menolak kesalahan. Tetapi, mengkritik sebuah tindakan berbeda dengan merasa lebih tinggi daripada orang yang melakukan tindakan tersebut.

Tiga Tanda Taufiq: Bukan Untuk Menghakimi Orang

Dalam Qut al-Qulub karya Abu Talib al-Makki, terdapat ungkapan tentang tiga tanda taufiq: kebaikan datang kepada seseorang tanpa ia rencanakan, kemaksiatan dijauhkan darinya meskipun ia berhadapan dengan godaan, serta terbukanya pintu berlindung dan merasa membutuhkan Allah dalam keadaan sulit maupun lapang. Teks yang sama juga menyebut tiga tanda khidlan atau keterjauhan dari pertolongan: kebaikan terasa sulit meskipun dicari, kemaksiatan menjadi mudah meskipun ditakuti, dan pintu merasa membutuhkan Allah tertutup.

Tetapi bagian ini jangan digunakan sebagai alat untuk menilai, “Orang itu sedang mendapat taufiq” atau “Orang itu sedang dihinakan Allah.”

Itu wilayah yang jauh lebih rumit.

Lebih tepat jika nasihat tersebut menjadi kaca untuk melihat diri sendiri.

Ketika ibadah terasa berat, apa yang perlu diperbaiki?

Ketika maksiat terasa mudah, apa yang sedang kita pelihara?

Dan ketika doa semakin jarang, apakah kita sedang merasa tidak membutuhkan Allah?

Pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih berguna daripada sibuk mencari tanda pada diri orang lain.

Ibnu Athaillah: Hukuman Tidak Selalu Datang dengan Suara Keras

Peringatan serupa muncul dalam Al-Hikam al-‘Aṭā’iyyah karya Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari.

Pada Hikmah ke-66 dalam teks yang dirujuk, disebutkan bahwa salah satu kebodohan seorang murid adalah ketika ia berbuat buruk, tetapi hukuman belum segera terlihat. Ia kemudian mengira bahwa tindakannya tidak bermasalah karena merasa pertolongan belum terputus.

Padahal, menurut hikmah tersebut, pertolongan dapat berkurang dengan cara yang tidak disadari. Salah satu bentuknya adalah “mencegah tambahan” atau membiarkan seseorang terus mengikuti apa yang diinginkan hawa nafsunya.

Ini bagian yang paling mengganggu sekaligus paling menarik.

Sebab, kita sering mengira hukuman harus berbentuk kehilangan uang, sakit, kegagalan, atau musibah.

Padahal, menurut pesan Ibnu Athaillah, seseorang bisa saja berada dalam keadaan yang tampak baik dari luar, tetapi perlahan kehilangan pertumbuhan batinnya.

Ibadah tetap dilakukan, tetapi hati tidak bertambah lembut.

Nasihat masih didengar, tetapi tidak lagi menyentuh.

Kesalahan terus dilakukan, tetapi rasa bersalah semakin tipis.

Dan yang paling berbahaya: seseorang merasa semuanya baik-baik saja.

Akhlak Dimulai dari Cara Kita Memandang Orang

Ada ungkapan yang masyhur dalam literatur akhlak:

أَدَّبَنِي رَبِّي فَأَحْسَنَ تَأْدِيبِي

Ungkapan tersebut populer dengan makna bahwa Allah mendidik dan menyempurnakan pendidikan akhlak Nabi saw. Namun, untuk menjaga ketelitian redaksional, ungkapan tersebut tidak sebaiknya ditulis sebagai hadis sahih tanpa keterangan mengenai status sanadnya.

Landasan Al-Qur’an yang jelas justru terdapat dalam QS Al-A’raf ayat 199:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

Pesannya sederhana: belajar memaafkan, mengajak kepada kebaikan, dan tidak larut dalam kebodohan.

Maka, menjaga akhlak bukan hanya soal apa yang keluar dari mulut.

Ia juga menyangkut bagaimana kita memandang orang lain ketika mereka tidak berada di hadapan kita.

Kisah Al-Junaid pada akhirnya bukan sekadar cerita tentang seorang miskin, sebuah mimpi, atau rasa bersalah.

Ia adalah cermin.

Dan cermin itu tidak bertanya siapa orang paling buruk di sekitar kita.

Ia justru bertanya:

Ketika kita sibuk menghitung kekurangan orang lain, apakah kita masih sempat menghitung penyakit yang sedang tumbuh di dalam hati sendiri?

Sebab, bisa jadi kesalahan terbesar bukan ketika kita melihat keburukan orang lain.

Kesalahan terbesar adalah ketika kita begitu yakin sudah lebih baik daripada mereka. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ekspor Uzbekistan

    Ekspor Uzbekistan Buka Peluang Besar Produk Indonesia

    • calendar_month Rabu, 29 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 136
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Ekspor Uzbekistan menjadi salah satu peluang yang mendapat perhatian pemerintah untuk memperluas pasar internasional bagi produk Indonesia. Melalui publikasi Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (DJPEN) Kementerian Perdagangan, pasar Uzbekistan dinilai memiliki prospek yang terus berkembang berkat jumlah penduduk yang besar, meningkatnya kebutuhan impor, serta posisinya yang strategis di kawasan Asia Tengah. […]

  • Hijab Allah

    Hijab Allah: Mengapa Hati Sulit Mengenal-Nya?

    • calendar_month Jumat, 10 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 228
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HIKMAH – كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْءٌ وَهُوَ الَّذِي أَظْهَرَ كُلَّ شَيْءٍ “Bagaimana mungkin Allah dihijab oleh sesuatu, padahal Dialah yang menampakkan segala sesuatu?” Kalimat-kalimat dalam Al-Hikam Ibnu Athaillah tentang Hijab Allah terasa seperti tamparan yang halus, tetapi menghunjam. Frasa Hijab Allah, tertutupnya hati dari Allah, atau terhalangnya ma’rifat kepada-Nya bukan berbicara tentang Allah […]

  • Adzan Kedua Jumat

    Mengapa Ada Adzan Kedua Jumat? Ini Dalilnya

    • calendar_month Jumat, 3 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 154
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HIKMAH – Bagi sebagian umat Islam, adzan kedua Jumat masih menjadi pertanyaan yang sering muncul. Mengapa di banyak masjid terdengar dua kali adzan sebelum salat Jumat, sedangkan pada masa Rasulullah ﷺ disebut hanya ada satu adzan? Pertanyaan mengenai adzan kedua salat Jumat, hukum adzan kedua Jumat, hingga dalil adzan kedua Jumat terus dicari masyarakat. […]

  • pajak daerah jabar

    Pajak Daerah Jabar Terungkap: Uang Anda Jadi Jalan Mulus 474 Km!

    • calendar_month Selasa, 7 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 206
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Pajak daerah Jabar kini menjadi sorotan karena dampaknya yang langsung terasa. Pajak daerah Jawa Barat, kontribusi warga, dan pemanfaatan pajak daerah terbukti mendorong pembangunan nyata. Tidak hanya sekadar kewajiban, pajak kini menjadi investasi publik yang menghadirkan jalan mulus, penerangan, hingga fasilitas umum yang lebih baik. Menariknya, pendekatan baru yang transparan dan […]

  • ilustrasi aktivitas jual beli barang bekas di pasar sebagai contoh transaksi yang dibahas dalam hukum Islam

    Bolehkah Menjual Barang Bekas? Ini Penjelasan Hukumnya dalam Islam

    • calendar_month Minggu, 15 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 245
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Perdagangan barang bekas semakin populer dalam beberapa tahun terakhir. Banyak orang menjual pakaian, elektronik, hingga kendaraan yang pernah digunakan sebelumnya. Namun sebagian orang masih bertanya-tanya tentang hukum jual barang bekas dalam Islam. Apakah transaksi seperti ini diperbolehkan atau justru dilarang? Dalam fikih muamalah, jual beli barang bekas sebenarnya termasuk transaksi yang sah […]

  • Wali Kota Tasikmalaya Musnahkan Rokok Ilegal

    Wali Kota Tasikmalaya Musnahkan Rokok Ilegal

    • calendar_month Kamis, 27 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 244
    • 0Komentar

    Pemkot Tasikmalaya memusnahkan 5,5 juta batang rokok ilegal untuk melindungi penerimaan negara. Penindakan besar terhadap peredaran Rokok Ilegal Tasikmalaya dilakukan pemerintah daerah bersama Bea Cukai. Sebanyak 5,5 juta batang rokok ilegal dari 114 merek dimusnahkan di Bale Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Kamis (27/11/2025). Nilai potensi kerugian negara mencapai Rp4,1 miliar. Angka itu menunjukkan skala pelanggaran […]

expand_less