Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Nasional » Literasi Keuangan Indonesia 69,57 Persen, Pelajar Disorot OJK

Literasi Keuangan Indonesia 69,57 Persen, Pelajar Disorot OJK

  • account_circle redaktur
  • calendar_month 11 jam yang lalu
  • visibility 21
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, BERITA NASIONAL — Literasi keuangan Indonesia mencapai 69,57 persen pada 2026. Namun, capaian tersebut belum menggambarkan kondisi seluruh kelompok masyarakat karena literasi keuangan pelajar dan mahasiswa hanya 62,72 persen, sementara kelompok usia 15–17 tahun bahkan berada di angka 56,04 persen.

Data tersebut tercantum dalam hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang diumumkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan Badan Pusat Statistik (BPS).

Angka itu menunjukkan satu sisi positif sekaligus pekerjaan rumah. Di satu sisi, tingkat literasi keuangan nasional sudah melampaui target RPJMN 2025–2029. Di sisi lain, pemahaman keuangan pada kelompok muda masih berada di bawah angka nasional.

Literasi Keuangan Nasional Tembus 69,57 Persen

Hasil SNLIK 2026 mencatat tingkat literasi keuangan nasional sebesar 69,57 persen. Sementara itu, inklusi keuangan Indonesia mencapai 93,61 persen.

OJK, LPS, dan BPS mencatat capaian tersebut meningkat dibandingkan hasil SNLIK 2025. Pada tahun sebelumnya, indeks literasi keuangan berada di angka 66,64 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan mencapai 92,74 persen.

Selain meningkat secara tahunan, capaian 2026 juga telah melewati target RPJMN 2025–2029 untuk 2029. Target tersebut menetapkan indeks literasi keuangan sebesar 69,35 persen dan inklusi keuangan sebesar 93 persen.

Namun, capaian nasional tidak otomatis berarti semua kelompok masyarakat memiliki tingkat pemahaman keuangan yang sama.

Justru di titik inilah perhatian terhadap literasi keuangan pelajar menjadi penting.

Pelajar dan Mahasiswa Masih Berada di Bawah Angka Nasional

OJK mencatat indeks literasi keuangan kelompok pelajar dan mahasiswa sebesar 62,72 persen. Angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan capaian nasional 69,57 persen.

Kesenjangan tersebut terlihat lebih jelas ketika data dibedah berdasarkan usia.

Kelompok usia 15–17 tahun memiliki indeks literasi keuangan sebesar 56,04 persen. Sementara itu, kelompok usia 18–25 tahun mencatat 73,32 persen, usia 26–35 tahun 78,70 persen, usia 36–50 tahun 73,81 persen, dan usia 51–79 tahun sebesar 60,01 persen.

Artinya, kelompok remaja berada pada salah satu titik terendah dalam distribusi literasi keuangan berdasarkan usia.

Padahal, pada fase tersebut, seseorang mulai berhadapan dengan berbagai keputusan finansial. Mulai dari menabung, menggunakan rekening, bertransaksi secara digital hingga mengenali risiko produk dan layanan keuangan.

Karena itu, edukasi keuangan tidak cukup hanya mendorong masyarakat menggunakan produk keuangan. Pemahaman mengenai cara menggunakan produk tersebut secara tepat juga menjadi bagian penting dari literasi.

Inklusi Tinggi Belum Berarti Pemahaman Sama Tingginya

Data SNLIK 2026 juga memperlihatkan perbedaan menarik antara literasi dan inklusi keuangan.

Secara nasional, inklusi keuangan mencapai 93,61 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan indeks literasi sebesar 69,57 persen.

Sementara pada kelompok pelajar dan mahasiswa, indeks inklusi keuangan tercatat 92,76 persen, sedangkan literasinya 62,72 persen.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa akses atau penggunaan layanan keuangan tidak selalu berjalan beriringan dengan tingkat pemahaman masyarakat terhadap produk dan layanan tersebut.

Dalam konteks generasi muda, kondisi ini menjadi perhatian tersendiri.

Pelajar bisa saja sudah mengenal rekening, pembayaran digital atau berbagai layanan keuangan. Namun, kemampuan memahami manfaat, risiko, biaya, keamanan dan konsekuensi penggunaan produk tersebut tetap membutuhkan penguatan.

OJK karena itu menempatkan peningkatan literasi dan inklusi keuangan sebagai bagian dari upaya memperkuat pemahaman masyarakat serta mendukung kebijakan dan program keuangan yang sesuai kebutuhan konsumen.

Edukasi Keuangan Menjadi Investasi Jangka Panjang

Perhatian terhadap kelompok muda juga terlihat dalam agenda Hari Indonesia Menabung (HIM) 2026 dan Bulan Literasi Keuangan (BLK) 2026.

Materi OJK yang menjadi dasar pemberitaan menyebut penguatan budaya menabung dan edukasi keuangan sejak dini sebagai bagian dari upaya membangun generasi yang lebih cerdas dalam mengelola keuangan.

Program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR) juga menjadi salah satu instrumen yang digunakan OJK bersama industri jasa keuangan dan pemangku kepentingan untuk mendorong pelajar memiliki rekening serta membangun kebiasaan menabung.

Dalam materi OJK, hingga periode yang dicantumkan, program tersebut mencatat 679 ribu rekening pelajar baru dan menjangkau 122 ribu sekolah. Selain itu, terdapat lebih dari 270 ribu kegiatan Bank Goes to School.

OJK juga mencatat 34 kegiatan edukasi keuangan yang berkolaborasi dengan Sekolah Rakyat dan menjangkau 8.468 pelajar.

Namun, banyaknya kegiatan edukasi tidak semestinya menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan.

Tantangan sebenarnya adalah apakah pengetahuan yang diberikan mampu mengubah perilaku. Pelajar bukan hanya perlu tahu pentingnya menabung, tetapi juga perlu memahami cara menyusun prioritas, mengendalikan konsumsi, mengenali risiko penipuan keuangan digital, serta menghindari keputusan finansial karena tekanan tren.

Tantangan Literasi Keuangan Ada di Generasi Berikutnya

Hasil SNLIK 2026 memberikan pesan yang cukup jelas. Literasi keuangan Indonesia memang meningkat, tetapi kesenjangan antarkelompok masih menjadi pekerjaan rumah.

OJK mencatat kelompok dengan tingkat literasi atau inklusi yang lebih rendah dari angka nasional antara lain penduduk perdesaan, usia 15–17 tahun, kelompok pendidikan rendah, serta pelajar dan mahasiswa.

Karena itu, penguatan literasi keuangan pelajar seharusnya tidak berhenti pada seremoni atau kampanye sesaat.

Sekolah, keluarga, industri jasa keuangan, pemerintah, dan lembaga terkait perlu membangun edukasi yang relevan dengan kehidupan sehari-hari anak muda.

Sebab, generasi yang sejak dini mampu membedakan kebutuhan dan keinginan akan lebih siap menghadapi ekonomi digital.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan literasi keuangan bukan sekadar berapa banyak rekening yang dibuka atau berapa banyak peserta yang mengikuti edukasi. Ukurannya adalah seberapa banyak generasi muda mampu mengambil keputusan keuangan dengan sadar, rasional, dan bertanggung jawab.(Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • dana PEN

    Utang Masjid Al Jabbar Tekan APBD Jabar, Dana PEN Jadi Sorotan

    • calendar_month Rabu, 14 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 205
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Pemerintah Provinsi Jawa Barat menghadapi tekanan fiskal serius akibat beban utang pembangunan Masjid Raya Al Jabbar yang bersumber dari dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Kewajiban pembayaran cicilan utang tersebut kini memengaruhi ruang gerak APBD, sekaligus memicu perdebatan soal prioritas belanja publik dan transparansi pengelolaan anggaran daerah. Masjid Raya Al Jabbar dibangun […]

  • wirausaha muda

    Lomba Wirausaha Muda 2026 Dibuka, Kesempatan Langka untuk Pemula

    • calendar_month Selasa, 23 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 170
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Wirausaha Muda kembali menjadi perhatian di Kabupaten Tasikmalaya. Melalui ajang Lomba Wirausaha Muda, pemerintah daerah membuka kesempatan bagi generasi muda untuk menunjukkan kreativitas, mengembangkan usaha, sekaligus meningkatkan daya saing di tengah persaingan ekonomi yang semakin ketat. Program yang digagas Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Tasikmalaya ini tidak hanya menawarkan […]

  • Leuwi Genteng Ciamis

    Leuwi Genteng Berduka, Polisi Ungkap Dua Fakta Penting

    • calendar_month Selasa, 30 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 149
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Leuwi Genteng Ciamis menjadi perhatian publik setelah satu insiden pada Minggu (28/6/2026) memicu dua peristiwa sekaligus. Seorang pemuda dilaporkan meninggal dunia akibat tenggelam, sementara seorang pengunjung lain mengalami luka setelah terjadi dugaan penganiayaan di lokasi. Peristiwa di kawasan wisata sungai tersebut kini masih dalam penyelidikan kepolisian untuk memastikan seluruh rangkaian kejadian […]

  • pengawasan pengadaan barang”

    Mukena dan Sarung Dikorupsi Pejabat dan Anggota DPRD

    • calendar_month Rabu, 7 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 171
    • 0Komentar

    Kasus korupsi mukena dan sarung Rp1,7 miliar menyoroti lemahnya pengawasan pengadaan barang pemerintah. albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Kasus dugaan korupsi pengadaan mukena dan sarung yang merugikan negara hingga Rp1,7 miliar kembali membuka persoalan klasik dalam tata kelola pemerintahan, khususnya lemahnya pengawasan pengadaan barang dan jasa. Perkara ini kini memasuki tahap persidangan setelah menyeret pejabat publik […]

  • Nasaruddin Umar mundur

    Nasaruddin Umar Mundur Demi Ketum PBNU? Kemenag Tegaskan Hoaks

    • calendar_month Kamis, 27 Agt 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 45
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Ada isu Nasaruddin Umar mundur dari jabatan Menteri Agama demi maju sebagai Ketua Umum PBNU. Kabar tersebut beredar menjelang Muktamar ke-35 NU, tetapi Kementerian Agama menegaskan informasi itu hoaks. Nasaruddin Umar juga menyatakan tidak pernah mengajukan surat pengunduran diri kepada Presiden. Kabar tersebut menarik perhatian karena muncul hanya beberapa hari sebelum […]

  • MBG Santri

    15,6 Juta Santri Masuk Target MBG, Kemenag Kebut Integrasi Data

    • calendar_month Jumat, 24 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 176
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Program MBG santri mulai memasuki fase paling menentukan. Pemerintah kini tidak hanya berbicara soal distribusi makan bergizi gratis, tetapi juga membenahi fondasi utama: data penerima. Tanpa data yang presisi, program bantuan gizi santri berisiko meleset dari target. Sejak awal, program makan bergizi gratis, intervensi nutrisi, dan penguatan gizi santri memang dirancang untuk […]

expand_less