Dewi Siti Samboja Terasa Dekat bagi Citra Pitriyami
- account_circle redaktur
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 11
- comment 0 komentar
- print Cetak

Bupati Pangandaran, Citra Pitriyami saat berperan sebagai Dewi Siti Samboja. (Foto: IG Citra Pitriyami).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HUMANIORA — Dewi Siti Samboja bukan sekadar tokoh dalam cerita budaya bagi Citra Pitriyami. Ketika Bupati Pangandaran itu mendapat kesempatan memerankan tokoh tersebut, ia justru menemukan kedekatan dari sisi lain: sama-sama perempuan yang menghadapi perjuangan dan memiliki tanggung jawab terhadap tanah yang dicintainya.
“Sebagai sesama perempuan, kisah Dewi Siti Samboja terasa begitu dekat,” kata Citra Pitriyami dalam pernyataannya.
Pernyataan itu memberi warna berbeda pada keterlibatan Citra dalam pertunjukan budaya. Ia tidak hanya berbicara tentang karakter yang dimainkan, tetapi juga menghubungkan nilai perjuangan tokoh perempuan dari kisah masa lalu dengan amanah yang sedang ia jalankan di Pangandaran.
Dewi Siti Samboja Hadir di Panggung Pangandaran
Citra mendapat kesempatan memerankan Dewi Siti Samboja dalam drama tari Niskala Gudha Dewi Siti Samboja yang menjadi bagian dari rangkaian Festival & Expo KKN di Alun-alun Parigi, Pangandaran, Minggu malam, 23 Agustus 2026.
Pertunjukan tersebut digarap ISBI Bandung dengan memadukan sejumlah unsur seni, antara lain teater, tari Sunda, karawitan, wayang golek dan seni rupa. Unsur lokal Pangandaran juga menjadi bagian dari pertunjukan.
Bagi Citra, kesempatan itu ia sebut sebagai sebuah kehormatan.
“Suatu kehormatan yang luar biasa diberi kesempatan memerankan tokoh Dewi Siti Samboja,” ujarnya.
Namun, pengalaman tersebut tidak berhenti pada persoalan tampil di atas panggung.
Citra melihat karakter Dewi Siti Samboja sebagai gambaran perempuan yang memiliki keberanian, keteguhan dan kemauan untuk memperjuangkan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
“Sebagai Sesama Perempuan, Kisahnya Begitu Dekat”
Ada satu bagian dari pernyataan Citra yang menjadi kunci untuk memahami alasan kedekatan tersebut.
Ia mengatakan kisah Dewi Siti Samboja mengingatkannya bahwa perempuan memiliki kekuatan untuk bangkit ketika menghadapi ujian.
Perempuan, menurut refleksi yang ia sampaikan, juga mampu berdiri di depan dan memperjuangkan sesuatu yang lebih besar dari kepentingan pribadi.
Pandangan itu membuat kisah Dewi Siti Samboja memiliki konteks baru. Cerita tradisional tidak hanya dibaca sebagai rangkaian konflik antartokoh, tetapi juga sebagai kisah tentang keberanian seorang perempuan menghadapi keadaan sulit.
Karena itu, Citra tidak menempatkan peran tersebut hanya sebagai pengalaman seni.
Ia membawa nilai yang menurutnya masih relevan dalam kehidupan masyarakat sekarang.
Dari Perempuan Pejuang untuk Pangandaran Hari Ini
Perbedaan zaman membuat perjuangan Dewi Siti Samboja dan tugas Citra Pitriyami tentu tidak bisa disamakan.
Dewi Siti Samboja merupakan tokoh dalam kisah budaya. Sementara itu, Citra menjalankan amanah sebagai kepala daerah dengan tanggung jawab pemerintahan yang nyata.
Meski begitu, Citra melihat ada satu nilai yang dapat dipertemukan: kecintaan terhadap tanah yang diperjuangkan dan keinginan menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat.
“Semangat itulah yang ingin saya bawa dalam mengemban amanah sebagai Bupati Pangandaran,” kata Citra.
Pernyataan tersebut menjadi titik penting dari kisah ini.
Citra tidak mengatakan bahwa dirinya adalah Dewi Siti Samboja. Ia justru mengambil nilai perjuangan dari karakter tersebut sebagai refleksi dalam menjalankan amanahnya.
Dengan cara itu, budaya tidak berhenti sebagai tontonan. Cerita masa lalu dapat menjadi bahan perenungan untuk melihat persoalan masa kini.
Ketika Cerita Lama Bertemu Kepemimpinan Perempuan
Keterlibatan Citra dalam pertunjukan juga memperlihatkan bagaimana seni tradisional dapat menjadi ruang pertemuan antara sejarah budaya dan kehidupan masyarakat modern.
Generasi muda dapat mengenal tokoh Dewi Siti Samboja melalui pertunjukan yang memadukan berbagai cabang seni. Pada saat yang sama, masyarakat memperoleh kesempatan melihat kembali nilai yang terkandung dalam cerita tersebut.
Citra sendiri menyebut kisah itu sebagai pengingat bahwa perempuan mempunyai kekuatan untuk bangkit di tengah ujian.
Pesan itu relevan dengan kehidupan sosial yang terus berubah. Perempuan kini hadir di berbagai bidang, termasuk pemerintahan, pendidikan, ekonomi, seni dan budaya.
Oleh sebab itu, kisah perempuan dari masa lalu dapat memperoleh pembacaan baru tanpa harus kehilangan akar ceritanya.
Bukan Sekadar Balas Dendam
Dalam kisah yang diperankan Citra, Dewi Siti Samboja juga berkaitan dengan Anggalarang dan Kalasamudra.
Namun, Citra menekankan bahwa perjuangan tokoh tersebut tidak semata-mata dapat dilihat sebagai persoalan balas dendam.
Ada tujuan yang lebih besar, yakni kemakmuran rakyat.
Sudut pandang itu penting karena mengubah pusat perhatian dari konflik personal menuju kepentingan masyarakat.
Dalam konteks tersebut, keberanian bukan hanya keberanian menghadapi lawan. Keberanian juga berarti kesediaan memikul tanggung jawab ketika kepentingan banyak orang berada di belakang sebuah keputusan.
Nilai itulah yang kemudian terasa relevan dengan pesan Citra mengenai amanah sebagai Bupati Pangandaran.
Menjaga Tanah yang Dicintai
Citra menyampaikan bahwa perjuangan pada masa kini memang memiliki bentuk yang berbeda.
Namun, ia ingin membawa semangat yang sama dalam menjalankan tugasnya, yakni menjaga tanah yang dicintai dan memperjuangkan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat Pangandaran.
Pesan tersebut membuat keterlibatannya dalam pertunjukan memiliki makna yang lebih personal.
Di atas panggung, ia memerankan tokoh dari kisah budaya. Di luar panggung, ia kembali pada tugas sebagai kepala daerah.
Dua peran itu berada dalam konteks yang berbeda. Namun, keduanya bertemu pada satu gagasan yang disampaikan Citra: pengabdian seharusnya memiliki tujuan yang lebih besar daripada diri sendiri.
Pada akhirnya, pertunjukan Dewi Siti Samboja tidak hanya menghadirkan cerita tentang seorang perempuan dari masa lalu.
Bagi Citra Pitriyami, kisah itu menjadi pengingat bahwa keberanian, keteguhan dan kecintaan terhadap tanah yang diperjuangkan tetap memiliki tempat dalam kehidupan hari ini.
Dewi Siti Samboja hidup dalam cerita masa lalu. Namun, pesannya tidak harus ikut tinggal di masa lalu. Ketika keberanian seorang perempuan diterjemahkan menjadi pengabdian, budaya berubah dari sekadar tontonan menjadi cermin bagi siapa pun yang memegang amanah. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar