Kebakaran Pamarican Hanguskan Limbah Serabut Kelapa
- account_circle redaktur
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 3
- comment 0 komentar
- print Cetak

Petugas Damkar Ciamis memadamkan kebakaran tumpukan limbah serabut kelapa di Desa Sukajaya, Kecamatan Pamarican, Minggu (26/7/2026) malam.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
AlbadarPost.com, BERITA DAERAH — Kebakaran Pamarican menghanguskan tumpukan limbah serabut kelapa di Dusun Kertajaga, Desa Sukajaya, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, Minggu (26/7/2026) malam. Kebakaran lahan di Pamarican tersebut diduga dipicu sisa pembakaran sampah yang belum padam sepenuhnya. Dugaan itu mengemuka berdasarkan keterangan awal dari warga setempat, sementara petugas masih memastikan penyebab pasti insiden tersebut.
Kobaran api yang muncul di beberapa titik dengan cepat membesar karena cuaca kering dan tiupan angin. Situasi itu membuat warga sekitar panik lantaran khawatir api merambat ke rumah-rumah yang berada tidak jauh dari lokasi kejadian.
Warga Bergerak Cepat, Damkar Datang Sebelum Api Meluas
Sesaat setelah mengetahui kebakaran, warga segera menghubungi Pos Pemadam Kebakaran dan aparat kepolisian. Laporan cepat tersebut memungkinkan petugas segera menuju lokasi sehingga proses penanganan dapat dilakukan sebelum api menjalar lebih luas.
Dua unit mobil pemadam kebakaran diterjunkan ke lokasi. Petugas Damkar bersama warga serta unsur TNI-Polri bahu-membahu mengisolasi titik api sambil terus menyemprotkan air ke tumpukan limbah serabut kelapa yang mudah terbakar.
Meski menghadapi angin yang cukup kencang, petugas akhirnya berhasil mengendalikan kobaran api. Berkat kerja sama tersebut, api tidak sampai merembet ke kawasan permukiman.
Ketua RW: Dugaan Awal Berasal dari Sisa Pembakaran Sampah
Ketua RW 01 Dusun Kertajaga, Nurdin, mengatakan dirinya menerima laporan dari warga ketika api mulai membesar.
“Saya menerima laporan dari masyarakat ada kebakaran lahan. Saya khawatir api semakin besar karena sekarang sedang musim kemarau,” ujarnya.
Menurut Nurdin, berdasarkan informasi awal yang diterimanya, api diduga berasal dari sisa pembakaran sampah yang masih menyimpan bara kemudian merambat ke tumpukan limbah serabut kelapa.
“Itu limbah serabut kelapa bekas pabrik yang sudah tutup,” katanya.
Ia menjelaskan, limbah tersebut merupakan sisa produksi dari sebuah pabrik yang pernah beroperasi di lokasi itu. Setelah pabrik berhenti beroperasi, material serabut kelapa masih tersimpan di area tersebut.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi yang memastikan penyebab kebakaran. Dugaan mengenai sumber api masih menunggu hasil pendalaman dari pihak berwenang.
Serabut Kelapa Kering Memperbesar Risiko Kebakaran
Serabut kelapa termasuk material organik yang mudah terbakar ketika berada dalam kondisi kering. Pada musim kemarau, material seperti itu dapat mempercepat penyebaran api apabila terkena percikan bara atau sumber panas.
Karena itu, petugas melakukan penyisiran setelah api padam untuk memastikan tidak ada bara yang masih tersisa di bawah tumpukan limbah. Langkah tersebut penting guna mencegah api kembali muncul beberapa saat kemudian.
Beruntung, tidak ada korban jiwa maupun korban luka dalam kejadian ini. Selain itu, rumah-rumah warga di sekitar lokasi juga berhasil diselamatkan dari ancaman kobaran api.
Musim Kemarau Tingkatkan Ancaman Kebakaran Lahan
Musim kemarau identik dengan meningkatnya risiko kebakaran lahan maupun lingkungan permukiman. Rumput kering, dedaunan, hingga limbah organik menjadi lebih mudah terbakar sehingga memerlukan kewaspadaan ekstra dari masyarakat.
Petugas mengimbau warga agar tidak membakar sampah secara sembarangan, terutama ketika cuaca panas dan angin bertiup kencang. Bila pembakaran memang dilakukan, api harus dipastikan benar-benar padam sebelum lokasi ditinggalkan.
Selain itu, masyarakat juga diminta tidak membuang puntung rokok sembarangan serta segera melapor kepada petugas apabila menemukan asap atau titik api sekecil apa pun.
Langkah pencegahan sederhana tersebut dapat mengurangi risiko kebakaran yang lebih besar sekaligus melindungi keselamatan warga dan lingkungan sekitar.
Kebakaran besar sering kali berawal dari bara kecil yang dianggap sepele. Di tengah musim kemarau, kewaspadaan setiap orang menjadi garis pertahanan pertama agar api tidak berubah menjadi bencana bagi seluruh lingkungan. (GZ)
- Penulis: redaktur



Saat ini belum ada komentar