Hampir 2 Juta Penduduk Tasikmalaya, Mengapa Kemiskinan Masih Tinggi?
- account_circle redaktur
- calendar_month Rabu, 22 Jul 2026
- visibility 26
- comment 0 komentar
- print Cetak

Gerbang masuk ke Komplek Perkantoran Pemda Kabupaten Tasikmalaya.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – Penduduk Tasikmalaya terus bertambah dari tahun ke tahun. Namun, di balik pertumbuhan populasi Tasikmalaya yang kini hampir menyentuh dua juta jiwa, masih tersimpan pekerjaan rumah besar. Berdasarkan publikasi Kabupaten Tasikmalaya Dalam Angka 2026 yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Kabupaten Tasikmalaya pada 2025 mencapai 1.946.197 jiwa. Ironisnya, sekitar 185.990 warga atau 10,15 persen di antaranya masih hidup di bawah garis kemiskinan.
Angka tersebut memunculkan satu pertanyaan penting. Mengapa jumlah penduduk terus bertambah, tetapi kemiskinan belum sepenuhnya teratasi?
Jika dihitung secara sederhana, sekitar satu dari setiap sepuluh warga Kabupaten Tasikmalaya masih berada di bawah garis kemiskinan. Fakta ini menunjukkan bahwa pertumbuhan jumlah penduduk belum otomatis menghadirkan pemerataan kesejahteraan.
Hampir Dua Juta Penduduk, Tasikmalaya Memasuki Babak Baru
BPS mencatat Kabupaten Tasikmalaya memiliki 1.946.197 penduduk pada 2025. Dari jumlah itu, 983.509 jiwa merupakan laki-laki, sedangkan 962.688 jiwa perempuan. Rasio jenis kelamin berada di angka 102, sementara laju pertumbuhan penduduk rata-rata 0,79 persen per tahun selama periode 2020–2025. Kepadatan penduduk mencapai 719 jiwa per kilometer persegi.
Di sisi lain, struktur umur memperlihatkan dominasi usia produktif. Kondisi ini menjadi modal besar bagi Kabupaten Tasikmalaya untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi apabila tersedia lapangan kerja, investasi, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Artinya, Tasikmalaya sedang menikmati bonus demografi. Namun, bonus itu hanya akan menjadi keuntungan apabila mampu diubah menjadi bonus ekonomi.
Kemiskinan Menurun, Tetapi Masih Menyentuh Ratusan Ribu Jiwa
BPS mencatat persentase penduduk miskin turun dari 10,23 persen pada 2024 menjadi 10,15 persen pada 2025. Jumlah penduduk miskin juga sedikit berkurang dari 186,8 ribu jiwa menjadi 185,99 ribu jiwa.
Sekilas, tren tersebut menunjukkan perbaikan.
Namun, angka absolutnya masih cukup besar.
Artinya, hampir 186 ribu warga masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar, mulai dari pangan, pendidikan, kesehatan, hingga tempat tinggal yang layak.
Lebih dari itu, garis kemiskinan di Kabupaten Tasikmalaya meningkat menjadi Rp413.178 per kapita per bulan, naik dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp400.148. Kenaikan ini menandakan biaya kebutuhan hidup terus bergerak naik.
Dengan demikian, keluarga yang sebelumnya berada sedikit di atas garis kemiskinan tetap berpotensi kembali masuk kategori miskin ketika kehilangan pekerjaan atau menghadapi lonjakan harga kebutuhan pokok.
Data yang Sering Terlewat, Padahal Sangat Penting
Persentase kemiskinan bukan satu-satunya indikator yang perlu diperhatikan.
BPS juga mencatat Indeks Kedalaman Kemiskinan pada 2025 mencapai 1,54, sedangkan Indeks Keparahan Kemiskinan berada di angka 0,38. Kedua indikator tersebut meningkat dibandingkan tahun 2024.
Maknanya cukup jelas.
Sebagian masyarakat miskin justru semakin jauh dari garis kemiskinan. Selain itu, kesenjangan pengeluaran di antara kelompok miskin juga meningkat.
Karena itu, keberhasilan pembangunan tidak cukup hanya diukur dari turunnya persentase kemiskinan. Pemerintah daerah juga perlu memastikan masyarakat miskin mampu meningkatkan pendapatan secara berkelanjutan.
Karangnunggal Terbanyak, Karangjaya Paling Sedikit
Sebaran penduduk Kabupaten Tasikmalaya juga belum merata.
Data BPS menunjukkan Karangnunggal menjadi kecamatan dengan jumlah penduduk terbesar, yakni 91.650 jiwa. Sebaliknya, Karangjaya menjadi kecamatan dengan jumlah penduduk paling sedikit, yaitu 12.470 jiwa. Perbedaan ini tentu memengaruhi kebutuhan infrastruktur, pelayanan publik, hingga strategi pembangunan ekonomi di setiap wilayah.
Karena itu, pendekatan pembangunan tidak bisa disamaratakan. Wilayah padat penduduk memerlukan strategi berbeda dibandingkan kecamatan dengan jumlah penduduk yang relatif sedikit.
Tantangan Berikutnya Bukan Menambah Penduduk, Melainkan Menambah Kesejahteraan
Bertambahnya jumlah penduduk sebenarnya merupakan peluang besar apabila diiringi penciptaan lapangan kerja, penguatan UMKM, modernisasi sektor pertanian, dan peningkatan kualitas pendidikan.
Sebaliknya, tanpa langkah tersebut, pertumbuhan penduduk justru dapat memperbesar tekanan terhadap ekonomi keluarga.
Data BPS memberikan sinyal bahwa Kabupaten Tasikmalaya memiliki modal pembangunan yang kuat. Kini, tantangan berikutnya adalah memastikan setiap warga memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang.
Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan tidak hanya tercermin dari bertambahnya jumlah penduduk atau menurunnya angka kemiskinan. Keberhasilan sejati lahir ketika semakin banyak keluarga mampu hidup layak, memiliki pekerjaan yang produktif, serta dapat menyongsong masa depan dengan lebih optimistis.
Hampir dua juta penduduk adalah potensi. Namun, potensi itu baru berubah menjadi kekuatan ketika tidak ada lagi ratusan ribu warga yang tertinggal dalam kemiskinan. Itulah ukuran kemajuan yang sesungguhnya. (Red)
- Penulis: redaktur



Saat ini belum ada komentar