Saat Sukses Datang, Mengapa Banyak Orang Lupa Allah?
- account_circle redaktur
- calendar_month Rabu, 22 Jul 2026
- visibility 39
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi seseorang sedang berzikir setelah salat Subuh.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH – Telepon terus berdering. Jabatan baru akhirnya diraih. Usaha berkembang pesat. Rekening perlahan bertambah. Namun, ada satu hal yang diam-diam ikut berubah. Sajadah mulai lebih sering terlipat, zikir tidak lagi sepanjang dulu, dan doa yang dahulu mengalir setiap malam kini hanya sesekali terucap. Fenomena inilah yang disentil dalam tafsir Surah An-Nashr. Surah yang identik dengan kemenangan itu justru mengingatkan bahwa keberhasilan dapat menjadi ujian paling berat bagi seorang hamba.
Ironisnya, banyak orang mengira ujian hanya hadir saat hidup terasa sempit. Padahal, Al-Qur’an menunjukkan sisi lain yang sering luput dari perhatian. Kesulitan memang menguji kesabaran, tetapi keberhasilan menguji kerendahan hati.
Surah An-Nashr turun setelah Allah memberikan kemenangan besar kepada Rasulullah ﷺ melalui Fathu Makkah. Kota yang dahulu menolak dakwah Islam akhirnya terbuka. Manusia masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong. Secara logika manusia, inilah saat yang tepat untuk berpesta atau menikmati kejayaan. Akan tetapi, justru pada momen itu Allah menurunkan perintah yang mengejutkan.
Allah SWT berfirman:
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia masuk agama Allah secara berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima tobat.” (QS. An-Nashr: 1–3)
Perintahnya bukan merayakan kemenangan. Bukan pula membanggakan pencapaian. Allah justru memerintahkan tasbih dan istigfar.
Saat Dunia Bertepuk Tangan, Hati Justru Harus Waspada
Perhatikan kehidupan di sekitar kita.
Ada orang yang dahulu tidak pernah meninggalkan salat tahajud ketika sedang merintis usaha. Setelah usahanya berkembang, rapat pagi mulai menggantikan waktu munajat. Ada pula yang dahulu rajin bersedekah ketika penghasilannya kecil. Kini, setelah hartanya bertambah, alasan kesibukan lebih sering muncul daripada rasa syukur.
Tidak semua kisah seperti itu berakhir sama. Namun, gambaran tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan dapat mengubah arah hati tanpa disadari.
Di era media sosial, tantangan itu bahkan semakin besar. Setiap pencapaian bisa diunggah dalam hitungan detik. Foto kantor baru, kendaraan baru, penghargaan, hingga angka pengikut media sosial sering menjadi ukuran keberhasilan. Perlahan, validasi manusia terasa lebih penting daripada penilaian Allah.
Di sinilah tafsir Surah An-Nashr berbicara dengan sangat relevan. Kemenangan bukan alasan untuk meninggikan diri, melainkan momentum memperbanyak syukur dan memperdalam kerendahan hati.
Mengapa Istigfar Justru Datang Setelah Sukses?
Pertanyaan ini sering muncul ketika seseorang membaca Surah An-Nashr.
Bukankah istigfar lebih pantas dilakukan setelah berbuat dosa?
Para ulama menjelaskan bahwa istigfar dalam ayat ini bukan hanya permohonan ampun atas kesalahan. Istigfar juga menjadi benteng agar hati tidak dikuasai rasa bangga terhadap diri sendiri.
Rasulullah ﷺ memberikan teladan yang sangat indah. Ketika memasuki Kota Makkah sebagai pemenang, beliau tidak datang dengan kepala terangkat penuh kebanggaan. Dalam berbagai riwayat, beliau justru menundukkan kepala sebagai bentuk tawaduk kepada Allah.
Sikap itu menjadi pelajaran bahwa kemenangan sejati bukan ketika seseorang berhasil mengalahkan lawan, melainkan ketika ia mampu mengalahkan kesombongan di dalam dirinya.
Rasulullah ﷺ juga memperbanyak membaca:
سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
sebagaimana diriwayatkan dalam hadis sahih setelah turunnya Surah An-Nashr.
Flexing Boleh Jadi Tren, Tetapi Al-Qur’an Mengajarkan Tawaduk
Budaya modern sering mengajarkan satu pesan sederhana: tunjukkan keberhasilanmu agar dunia mengakuinya.
Sebaliknya, Al-Qur’an mengajarkan agar setiap nikmat mengantarkan manusia semakin dekat kepada Allah.
Allah SWT berfirman:
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ
Artinya:
“Apa pun nikmat yang ada pada kalian, semuanya berasal dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53)
Sementara itu, Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
Artinya:
“Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niatnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dua dalil tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan bukan alasan untuk mencari tepuk tangan manusia. Sebaliknya, setiap nikmat harus menguatkan rasa syukur dan memperbaiki niat.
Surah An-Nashr Ternyata Bukan Sekadar Kisah Kemenangan
Banyak orang membaca Surah An-Nashr ketika berharap pertolongan Allah datang. Harapan itu tentu baik. Namun, pesan surah ini jauh lebih luas.
Surah An-Nashr mengajarkan bagaimana menjaga hati setelah doa dikabulkan.
Ketika usaha berkembang, jangan kurangi sujud.
Ketika jabatan meningkat, jangan kurangi istigfar.
Dan ketika nama mulai dikenal banyak orang, jangan biarkan pujian membuat hati lupa kepada Sang Pemberi Nikmat.
Karena sesungguhnya, kemenangan bukan garis akhir. Kemenangan adalah awal dari ujian yang lebih sunyi, yaitu ujian terhadap hati.
Tidak semua orang gagal karena kemiskinan. Sebagian justru tersesat setelah meraih keberhasilan. Itulah sebabnya Surah An-Nashr tidak mengajarkan cara merayakan kemenangan, melainkan cara tetap bersujud ketika seluruh impian sudah berada dalam genggaman. (Red)
- Penulis: redaktur



Saat ini belum ada komentar